Hope and Wish

Hope and Wish
H&W70. Rasa tersinggung



"Bisa mulai dari buat asrama dulu, Pak. Jadi misal Bapak ajukan asrama baru untuk pondok pesantren A, nanti dibantu lagi surat menyuratnya kalau memang Bapak udah matang pengen bangun asrama. Kalau misalkan dadakan bangun pesantren, orang yang tau-tau tentang masa lalu Bapak, yang ada pesantrennya tak laku, karena takut anak-anaknya sesat kalau dimasukin ke pesantrennya Bapak." Kuasa hukum ayah memberikan saran dengan tawa kecil. 


Masuk di akal. 


"Oke, setuju. Ajukan permohonannya dulu, nanti kabarin lagi ya? Pesantren yang dulu Ra mondok aja, soalnya dulu booking kamarnya aja udah kek booking penginapan lima puluh ribu. Penuh semua, padahal jauh-jauh hari udah minta kamar untuk Ra. Mana tau pesantren itu kekurangan asrama, soalnya ada yang ditolak juga dengan alasan asrama penuh." 


Aku melongo saja, ayah mudah sekali memutuskan hal besar seperti ini. Apa karena uangnya sudah tidak tertampung lagi? 


"Siap, Pak." Kuasa hukum ayah menoleh ke arahku. "Silahkan tanda tangan dulu, Kak Ra." Ia memberikan penanya padaku. 


"Oke, di mana?" Aku menunjukkan surat yang tadi aku pegang.


"Di sini, Kak Ra. Yang ini boleh dibaca dulu, terus boleh dibubuhkan tanda tangan lagi kalau udah dipahami." 


Ternyata banyak surat yang harus aku tanda tangani. Kurang lebih satu jam kemudian, aku baru bisa keluar dari ruang kerja ayah. 


Aku memperhatikan suamiku, urat wajahnya nampak murung. Padahal, kita akan ke Jakarta esok nanti. Baru setelah dua minggu di sana, kami diminta kembali untuk mempersiapkan resepsi pernikahan kami. 


"Kenapa, Bang?" Aku mendekatinya yang tengah merokok seorang diri di teras rumah, setelah perutnya terisi makan siang. 


Ia menoleh, kemudian menyisir rambutnya perlahan. 


"Ngerasa sedih aja, segitunya mertua gak percaya. Kalau Abang gak cinta Adek, gak ingat kebaikan mereka, gak nampak kasih sayang mereka ke anak-anak Abang, mungkin Abang nekat bawa pergi istri Abang untuk tetap tinggal di Jakarta aja," ungkapnya dengan asap rokok yang merembes dari mulutnya. 


Ia terbawa perasaan, ia tersinggung dengan sikap ayah. Manusiawi, tapi aku tak mau suamiku membenci panutanku. 


Ayahku tidak jahat. Aku menyakini hal itu dan aku hanya perlu membuat suamiku mengerti. 


"Ini anak usaha ayah yang kau pegang, boleh dibantu Han, tapi tak boleh kau lepas untuk Han." Bang Bengkel menelan ludahnya, terlihat dari jakunnya yang naik turun. "Kenapa? Bukannya suami dan istri itu satu? Kemarin, Abang diberhentikan kerja tiba-tiba. Abang tanya kenapa, apa karena Abang bolos kerja? Tapi kan pas itu masih cuti lebaran, apa Abang harus absen juga? Ayah gak jawab sama sekali. Sampai tiba-tiba ayah Hamdan buka semua, kalau ayah Givan hilang kepercayaan sama Abang gara-gara Abang bermalam di rumah sakit. Abang tuh mikir, harusnya gimana? Anak sakit pun, bukan keinginan Abang. Masalah Bunga gak amanat, itu pun bukan kehendak Abang."


Wah, ternyata ia belum melek juga. Masa iya aku harus ribut lagi tentang masalah kemarin? Eh, tapi jangan ribut lah. Aku tak emosi kok, semalam habis kuras tangki soalnya. 


"Untuk masalah Abang diberhentikan kerja, ayah hilang respect karena Abang tak nanya kondisi aku ke saudara-saudara. Abang kan punya nomornya saudara-saudara aku, Abang pun punya nomor biyung, kenapa tak tanyakan kondisi aku? Aku dibawa ayah ke klinik tuh, udah posisi dehidrasi, Bang. Apa perlu cek CCTV pribadi kita? Biar Abang tau kondisi lemah aku. Sebenarnya, titik yang buat ayah kecewa tuh karena itu. Aku pun ngerasa kecewa sama Abang, karena Abang tak khawatir sama aku," jelasku selembut mungkin. 


Ia memandangku cukup lama, sampai akhirnya ia menghela napasnya. 


"Pikiran runyam, gak terpikir, Yang. Di hari Adek di bawa ke klinik, di hari itu juga Abang dapat penjelasan dari dokter tentang kondisi medis Zee. Maaf Abang lalai, tapi Abang rumit sekali rasanya." Ia meraih tangan kananku, kemudian mencium punggung tanganku cukup lama. 


Bahkan baru terlepas, begitu aku menarik tanganku. Aku mencoba mengerti otak laki-laki, yang katanya hanya bisa fokus ke satu titik atau satu masalah saja. Laki-lakiku manusia biasa, tapi panutanku terlanjur kecewa. 


"Ibaratnya gini, Bang. Ayah itu gelas, terus kepercayaan ayah ke Abang itu air. Gelas itu pecah, karena tiba-tiba yang masuk ke gelas itu es batu berukuran besar dengan ujung tajam. Es batu itu diibaratkan sebagai kekecewaan ayah ke Abang, karena sikap Abang. Terus, gelas itu diperbaiki untuk nilai fungi yang normal. Diselotip kiri kanan, selotip itu diibaratkan surat perjanjian dan penjelasan dari mulut Abang. Meskipun setelahnya Abang tunjukkan semua kebaikan Abang, diibaratkannya air kebaikan Abang ini. Gelas itu terlanjur pecah, jadi airnya tak pernah terkumpul di gelas tersebut, selalu aja bocor, merembes dari sela-sela gelas yang penuh selotip itu. Jadi nilai fungsinya berkurang, meskipun gelas itu terlihat utuh dengan penuh selotip. Asal Abang tau aja, kalimat ayah juga yang buat aku mikir dua kali. Ayah bilang, memang sifat bawaan lahir Abang yang membawa Abang berat ke anak. Sedangkan, Bunga mengambil kesempatan dan menjadikan anaknya itu sebagai alat untuk mengacaukan Abang. Memang kesehatan seseorang siapa yang tau, sifat bawaan lahir pun siapa yang request juga. Yang salahnya di sini, karena Bunga memperalat Abang. Intinya juga, ayah tak benar-benar yakin kalau pas itu Bunga juga sakit. Kalau ayah tak memiliki pendapat kek gitu, mungkin udah aja aku cerai langsung." Aku tetap berharap, semoga suamiku tak membenci ketegasan ayahku. 


"Udah terjadi juga semuanya, yang penting sikap ayah ke Abang masih baik-baik aja. Ayah tak benci Abang, tapi semuanya udah terlanjur begini. Abang mau ngajak ayah musuhan? Abang nyungsep di depan ayah pun, udah pasti ayah tak akan nolongin. Jadilah menantu yang jangan memutuskan silaturahmi antara anak dan orang tua. Masa Abang tega bawa aku dan jauhin aku dari ayah? Dari aku kecebong, sampai aku jadi Ra yang seperti ini tuh karena peran ayah yang besar betul. Abang tau tak, kalau aku itu disebut anak yayah? Dari cerita keluarga besar, aku ini diasuh sama ayah, dibawa ayah kerja dan dibawa-bawa ayah terus? Aku baru klik sama mama Aca, karena ayah punya bayi baru dan mau tak mau aku harus ngalah. Aku tak bisa, jadi tiap hari ngamuk terus kerjaannya. Kebetulan mama Aca punya Nahda, kakak ipar tuh, kan usianya sama. Jadi alasannya main sama Nahda, tak taunya diasuh sampai aku lengket sama mama Aca. Mama Aca itu orangnya kek ayah, karakternya, tegasnya, sikapnya dan otaknya juga. Mungkin karena itu, aku bisa klik juga sama mama Aca. Kalau Abang berpikir lebih jauh, mau ancam ninggalin aku kalau aku tak mau ikut Abang. Mungkin, aku langsung mutusin aja dikembalikan ke ayah sekalian. Aku tau surga aku ada di Abang, tapi suami yang baik itu tak memutuskan tali silaturahmi antara anak dan orang tua. Tandanya Abang tak baik dong kalau kek gitu? Lebih baik ditinggalkan sekalian kan? Toh, kalau jodoh kita tak panjang pun, aku bakal kembali hidup dengan orang tua. Aku tak mau cari gara-gara sama orang tua aku, karena mana tau jodoh kita tak lama." Logikaku bermain, berharap pikirannya terbuka lewat kata-kataku. 


Ia nampak berpikir, semoga saja ia tidak tambah berpikiran jelek tentang ayah. Semoga saja, rasa tersinggungnya itu telah padam. 


...****************...