Hope and Wish

Hope and Wish
H&W60. Penilaian ayah



"Dia tak sopan betul bawa-bawa HP aku." Aku langsung bersedekap tangan. 


"Udah tuh, namanya juga suami istri. Punya privasi apa sih memangnya? Kau punya pacar? Kan tak juga. Kau belum tau HP Ayah dijajah biyung tiap kali Ayah tidur, tak masalah Ayah sih, toh biyung tak ngerti caranya mainan m-banking." Ayah terkekeh kecil. 


Jangan bilang, ayah melupakan masalah dengan bang Bengkel. 


"Ayah kok masih nyebut dia suami aku? Ayah masih ridho punya menantu kek dia?" Aku tidak mau ayah memaafkan kesalahan bang Bengkel. 


"Kalau anaknya masih doyan, gimana? Dulu waktu Vano ketahuan juga, Ayah tak campuri terlalu dalam. Tapi dia sadar diri, langsung balikin kakak kau ke Ayah tanpa sepengetahuan kakak kau." Ayah membuang napasnya perlahan. "Tapi udah tau Han kek gitu, Ayah tak akan kasih dia kepercayaan besar. Dia pun udah tak kerja sama Ayah, pas Hamdan pulang dari nengok kau, Ayah bilang untuk sampaikan ke Han biar tak usah berangkat kerja lagi ke Ayah. Kalau dia ambil ASIP juga, nanya kenapa sih yah, kenapa begini begitu. Ayah tak jawab, masih dongkol di sini." Ayah menekan ulu hatinya. 


"Siapa bilang aku doyan?!" Aku langsung bersuara lantang. 


"Halah, sembuh sih doyan lagi dah tuh." Ayah melirikku sinis. 


"Ayah kok gitu? Ayah tak mau bantuin aku untuk buat dia tegas?!" Aku malu disudutkan oleh ayah begitu. 


"Bantuin, pasti. Yang penting kau sehat aja, biar punya tenaga untuk menampar kenyataan. Tapi kalau dicermati, di keluarga kita itu tak ada sifatnya yang selembut Han. Kenapa Ayah bilang dia lembut? Karena ditegasin begini, ia malah ngadu. Perasaannya tuh lembut, hatinya mudah kacau. Bukan lembut tutur katanya kek papa Ghifar, tapi hatinya tuh tak bisa dipaksa dan ditegasin begini. Dia tuh keknya harus ditemenin tuh. Apa ya bahasanya? Eummm…. Ayo aku temenin ngambil Zee, contohnya begitu. Nyalinya tak besar gitu lah. Kek waktu kita pertama kali ke rumah dia itu kan? Waktu kita cari alamat Bunga dan Hema itu. Kan dia kek mau nangis, pas kita bertiga datang. Di mana-mana, laki-laki itu tak mau pegang anak. Bukan tak mau juga, apa ya ibaratnya? Ayah jadi bingung sendiri." Ayah menggaruk kepalanya. "Tak mau ngemong tuh, Dek. Kek Ayah gini kan, ngemong ya tak lama. Kita harus kerja, ditambah pegang anak, keknya tak mampu gitu loh. Tapi dia nekat ambil anak, dengan cuma punya ayah aja, sampai rela bagi tugas, meskipun hidupnya tetap keteteran. Udah pribadi dia yang kek gini, jadi ya tak bisa disalahkan juga, bawaan dia lahir udah dapat sifat yang kek gitu. Cuma tentang keputusan ambil Zee atau lepas Zee sementara, dia ini harus ada yang nemenin majunya. Orang ayahnya aja cerita, Han nangis begitu sampai ke rumah. Ayah ngerasa kau tak jahat betul, berarti memang karakter dia lembut hati. Pikir Ayah sih gitu, Dek. Cuma gimana baiknya kata kau aja, yang jelas Ayah pasti lebih cermat menilai Han setelah tau sifatnya begini. Yang pertama contohnya, ya tak kasih dia kepercayaan besar lagi. Kalau dia bisa diarahkan, diperbaiki dan kau nerima sifat dia itu, lanjut sama kau ya tak masalah. Soalnya Ayah ngerti, kalau anak Ayah memang cinta sama suaminya. Masa Ayah paksa pisah? Kan jahat betul Ayah. Kalau memang masih diperbaiki, ya perbaiki. Coba temenin dia seperti yang Ayah maksud, kalau memang kau masih mau baik-baik cari jalan tengahnya rumah tangga kau sama dia. Kalau kau rela batin kau tersiksa dan biarin harapan kau sirna, ya biarkan aja keadaannya tetap kek gini, karena tak lama pun rumah tangga pasti hancur kalau ada masalah yang belum selesai dan tak satu rumah." Ayah bersandar di kusen pintu kamarku yang terbuka lebar. 


Diam-diam, ternyata ayah mengamati juga. Aku teringat sepenggal perlakuannya, memang karakternya seperti yang ayah katakan. 


Galen pernah sehari semalam mengamuk, saat pertama kali Farah pindah bersamaku. Ia tidak ridho ada anak lain yang aku dekap, ia marah dan ia meluapkan kemarahannya dengan menangis tanpa henti dan menolak bersamaku. Selama amukan Galen berlangsung, ya ayah sambungnya itu yang telaten meredakan amukan Galen. Bermacam-macam cara dilakukan, bahkan aku tahu ia sampai tidak tidur karena anak laki-lakiku terbangun jika diturunkan dari dekapannya.


Cuma kan bagaimana ya? Kalau dia mengulangi lagi seperti itu bagaimana? Tapi jika Zee bersamaku, rasanya tak mungkin ia masuk ke perangkat Bunga. Tapi takutnya, Bunga malah sering datang ke rumah dengan alasan anaknya ada di sini. 


Aduh, masalah lain saja nantinya. 


"Dek…. Dari awal kan udah Ayah bilang, jangan laki-laki yang punya skandal sama keluarga besar kita. Lah, kau kan maksa. Kalau kau lupa, malah kau minta disirikan. Ini baru start ibaratnya, yakin langsung putus hubungan dengan Han? Kan laki-laki dengan skandal itu yang buat kau menggebu-gebu untuk berumah tangga lagi. Ayah tak maksa untuk kau bertahan, tapi menurut Ayah ini masalah tak terlalu besar. Ayah yakin kok dia langsung datang tanpa ada drama main ke playground dulu, kalau dari awal dia dikasih kabar kau sakit. Dia termakan drama Bunga, tapi keknya dia belum termakan selang****** Bunga. Tapi coba Ayah sudutin nanti malam, pengen tau reaksinya kalau disadarkan." Ayah manggut-manggut dengan manatap lurus ke depan. 


"Disadarkan apa, Yah?" Aku masih memperhatikan ayah dengan lekat. 


"Disadarkan, bahwa dia terperangkap permainan Bunga dengan alasan anak. Nanti Ayah bolak-balik, kau tak perlu pikirkan itu. Udah istirahat aja, besok kalau enakan badannya, ganti sholat-sholat yang udah kau tinggalkan. Ayah pulang dulu ya? Udah mau Maghrib ini."


Aku pulang sore hari, wajar sekarang sudah akan Maghrib. 


"Iya, Yah." Rasanya aku belum mengantuk, aku ingin hiburan dengan menonton film di laptopku. 


"Nanti lepas Maghrib Han ke sini, sekarang dia masih nyuapin Galen di rumah abang kau. Kau mau makan, tinggal ke biyung aja ya? Barangkali biyung lupa antar makanan." Ayah meninggalkan pintu kamarku. 


"Iya, Yah." Aku memijat lututku dan bangkit untuk berjalan-jalan di kamar. 


Bang Bengkel tengah menyuapi Galen katanya? Ia masih ingat tanggung jawabnya sebagai ayah sambungnya Galen? 


Aku mengecek dapur dan ruang laundryku. Semuanya bersih, semuanya tertata rapi. Padahal saat di klinik, aku teringat nasi yang berjamur di magicom. Sekarang nasi itu sudah tidak ada, magicom sudah bersih dan kosong. Entah biyung, atau kak Key yang mengurus rumahku. Karena ayah pernah mengatakan, bahwa kak Key ia minta untuk menutup jendela rumahku dan mematikan beberapa lampu rumahku. 


Aku berjalan ke ruang tamu, aku menata laptopku, speaker tambahan dan cooling pad agar laptopku tidak panas meski menonton film berjam-jam. Tidak lupa, aku mengeluarkan beberapa buah yang masih layak makan dari lemari pendingin. 


Aku kangen menonton film bersama kak Nahda dan Cani, kami sama-sama suka menonton tapi terbatasi karena status kami. Cani yang masih single jadi sungkan datang ke rumahku, karena aku bersuami kembali. 


"Assalamualaikum, Mamah Ra. Sehat, Mamah Ra?" 


Aku menoleh cepat pada tamu yang tahu sandi pintu rumahku itu. Tamu itu langsung masuk ke dalam rumah, dengan anak laki-laki yang memamerkan gusinya itu. 


...****************...