Hope and Wish

Hope and Wish
H&W84. Pergi ke wali



[Abang udah maafin Adek. Ini Abang masih di bandara, baru aktifin HP.] balasannya pun sederhana sekali. 


"Ini, Ma." Aku menunjukkan isi pesan bang Bengkel, dengan aku tetap mengemudi. 


"Mama yang balas ya?" Mama Aca mengangkat ponselku yang berada di tangannya. 


Aku menoleh sekilas. "Balas apa?" Aku takut mama Aca menuliskan kata-kata yang berlebihan. 


"Semoga kita jadi lebih baik lagi." Mama Aca fokus pada ponselku. 


"Iya, tak apa." Menurutku, kata-kata itu aman. 


"Iya, Sayang. Abang mau perjalanan ke rumah dulu, nanti dikabarin lagi katanya, Ra." Mama Aca mengatakan hal itu, setelah beberapa saat terdiam. 


"Ya udah." Aku tetap fokus menyetir, mama Aca pun memberikan ponselku padaku kembali. 


Namun, sampai malam harinya ia tidak membalas pesanku. Sedihnya lagi, aku tidak bisa menelponnya karena keterangannya terus memanggil. Padahal, pesanku masuk dan ceklis dua. Yang artinya, nomornya aktif. 


Sejenak aku ingin istirahat, aku iseng membuka status orang-orang. Ehh, malah status Bunga muncul di urutan teratas, yang artinya terbaru. 


Wow, panggilan videonya discrenshoot dan dipamerkan. Wajah dirinya terpampang bahagia, wajah bang Bengkel dan dua gadis kecil yang menjadi penghangat hubungan mereka itu. 


Aku sudah tidak mau pusing lagi, intinya aku harus hidup normal meski tengah ada badai seperti ini. Tanpa pikir panjang, aku mengambil tangkapan layar status Bunga kembali. 


[Maaf baru bales, Yang.] balas suamiku, setelah aku selesai mengambil tangkapan layar status Bunga. 


Ia tidak membubuhkan alasannya kenapa tidak meladeniku. Entah karena kekesalanku, atau emosiku yang sudah naik kembali. Aku langsung mengirimkan hasil tangkapan layar dari status Bunga pada suamiku itu. Yang pertama, tentang kalung itu. Yang kedua, tentang panggilan video yang terhubung dengan tiga orang itu. Suamiku, Bunga dan satunya mungkin nomornya ayah Hamdan. 


Aku tidak menuliskan apapun, aku tidak membubuhkan sepatah katapun pada pesan dengan dua foto hasil tangkapan layar tersebut. Sesak memang sudah aku rasakan kembali, aku lebih milih untuk duduk, bersandar pada kepala ranjang dan mengatur napasku. Aku mencoba menerapkan saran dari seseorang yang aku temui bersama mama Aca itu.


[Kita cerai aja, apa-apa dipermasalahkan. Kan tau sendiri, ada Zee di antara Abang sama Bunga.]


Aku memejamkan mataku rapat setelah melihat isi pesan tersebut. Talak satu ya? Lewat ponsel? Tidak gentle sekali. Aku mengscrenshot pesan dari suamiku itu, agar ada buktinya jika ia berniat menarik pesannya. 


[Baik, diproses.] aku tidak pikir panjang, aku langsung mencari buku nikah kami. 


Untungnya, buku nikah ini di dalam brankas dan ia tidak tahu pinnya. Jadi aman dan tidak dibawa pergi olehnya. 


Panggilan telepon darinya masuk seperti kereta api. Baru juga berhenti, datang kembali panggilan telepon darinya. Aku jadi bingung ingin menghubungi kuasa hukum ayah, karena telepon darinya tidak berhenti-henti. 


Ingin menangis rasanya, tapi sesak di hati ini seperti me****n bulat-bulat kekecewaan yang aku dapat. Aku tidak menahan air mataku, tapi rasanya air mata begitu sulit keluar dari pelupuk mataku meski rasanya sudah amat terkumpul di sana. Bibirku rapat, aku takut tangis lepasku tiba-tiba pecah di kesendirian malamku ini. 


Apa aku harus berlari ke ayah dengan membawa buku nikahku? Tapi ayah tengah sakit. Eit, tunggu dulu. Aku punya wali yang lain, ada bang Chandra. Aku tidak boleh melangkahinya, apalagi langsung ke om Vendra dan saudara ayah dari kakek Hendra yang satu nasab dengan ayah yang merupakan waliku juga. 


Aku melangkah cepat, tidak memperdulikan dinginnya malam dan daster batik tipisku. Bibirku masih rapat, aku fokus menatap ke depan ke objek rumah yang akan aku datangi malam-malam begini dengan buku nikahku dan panggilan telepon yang terus berulang itu. 


Baru juga aku melepaskan sandal di rumah bang Chandra, panggilan telepon darinya berhenti. Jadi aku bisa cepat masuk ke galeri ini menunjukkan tangkapan layar yang sudah aku ambil, untuk ditunjukkan pada bang Chandra. 


Napasku tersengal-sengal karena emosiku dan langkah cepatku. Aku tidak ingin seperti ini, tapi kenyataan rasanya selalu tidak memihakku. Aku tadi tidak mengatakan apapun, aku hanya mengirimkannya bukti tangkapan layar saja. 


Ketemu, aku langsung berjalan masuk sebelum akhirnya melihat notifikasi di bar aplikasi. Bahwa, ayah Hamdan mengirimkan pesan menanyakan tentang keberadaanku, karena aku tidak ada di rumah katanya. 


Pasti tidak ada, karena aku langsung lari ke rumah waliku setelah ayah. 


"Bang Chandra." Aku memasuki rumah mewah nan megah ini. 


"Heh, kaget." Bang Chandra tersentak kaget, karena ia duduk di sofa dekat pintu. 


Bahkan, sampai piringnya hampir loncat dari pegangannya. 


Aku terkekeh kecil, tapi tiba-tiba tangisku pecah dan aku langsung memeluk dirinya yang tengah mengunyah makanan itu. 


"Hei, kenapa kau?" Bang Chandra seperti bingung saat aku memeluk dada bidangnya yang tidak tertutupi kaos itu. 


"Aduh, bentar, Dek. Abang lagi makan sambal pete, pedes ini." Bang Chandra menggeser posisiku, kemudian ia meraih sesuatu di atas meja. 


"Makcik, Galen udah bobo?" Langkah cepat dan suara anak kecil itu terdengar mendekat. 


Aku tidak ingin membuat makhluk kecil itu menanti sebuah jawaban. Aku mengubah posisi wajahku, kemudian aku menghapus air mataku. 


"Galen udah bobo, Bang Barra. Abang tak bobo?" Suaraku bergetar, saat menjawab pertanyaan anak kecil yang tidak tahu kondisi hatiku itu. 


Urat wajah ceria Barra berubah, saat melihat air mataku tak terbendung lagi. Aku lekas menyembunyikan wajahku di dada kakakku kembali, tapi aku merasa ada makhluk kecil yang memeluk kakiku dan menumpukan kepalanya di pangkuanku. 


"Makcik jangan sedih kalau Galen tidur, aku tak nangis kalau Galen tidur. Aku ikut tidur aja, atau tidur-tiduran aja kalau Galen tidur. Apa Makcik mau main sama aku? Makcik capek ya keluyuran terus, mau main sama Galen ya? Una juga gitu kalau capek keluyuran, nangis dulu baru mau mainan lagi." Suara anak laki-laki itu seperti menggambarkan perasaan sedih juga. 


Una adalah bundanya. Kak Nahda dipanggil bunda oleh anak-anaknya, tapi Barra kecil hanya bisa mengucapkan una. Hingga ia bisa berbicara lancar, ia latah memanggil ibunya itu una. Alhasil, semua anak-anaknya memanggil dirinya una. 


"Makcik pengen main sama Yayah dulu, Barra boleh bobo duluan ya?" Bang Chandra berbicara pada sulungnya itu. 


"Aku nungguin Yayah, aku mau bobo sama Yayah." Ia merengek manja. 


Ia tidak memperkeruh suasana, ia hanya anak kecil yang tidak mengerti apa-apa. Aku harus banyak maklum, karena kakak laki-lakiku pun memiliki keluarga kecil di samping menjadi waliku. 


"Boleh, tapi Bang Barra pipis dulu, sikat gigi, cuci kaki dan cuci tangan sama Sus dulu. Tuh, Susnya nungguin di belakang Abang."


Aku melirik sedikit, untuk melihat keberadaan pengasuh Barra. Memang ada tak jauh dari tempat Barra, ia tengah memperhatikan Barra yang tengah diberi perintah kecil oleh ayahnya itu. 


"Iya, Yayah. Makcik jangan sedih, Galen nanti bangun lagi tak lama juga. Nanti dia minta es mimi." Barra melepaskanku, ia menatapku sendu. 


Aku merasa anak laki-laki ini memiliki perasaan yang sensitif. 


"Iya, Sayang." Aku mencoba tersenyum padanya, meski akhirnya aku menyembunyikan wajahku kembali ke dada bidang kakakku yang sepertinya baru pulang bekerja karena aroma tubuhnya khas keringat lelah sekali. 


...****************...