
"Adek cinta banget ya sama ayah, sampai susah ngungkapin rasa cinta Adek untuk Abang?" Ia memandang mataku amat dalam, kemudian ia mengalihkan pandangannya pada rokok yang kedua.
Ia bapernya seperti biyung. Ia terlihat gagah dan tegas, tapi aslinya membuatku stress setiap hari. Tidak terlihat tanda-tanda galaknya jika berbicara tentang perasaan, hatinya rapuh sekali.
"Beda, Bang. Beda cinta ke orang tua sama cinta ke pasangan itu. Cinta ke ayah, cium pun ada adab kesopanannya." Aku mencium lehernya sekilas. "Begini tak boleh kalau ke ayah, ke pasangan boleh."
Ia menoleh perlahan, dengan tatapan bodoh dan mulut melongo. Beberapa saat kemudian, senyum malunya langsung terukir. Ia seperti dedek-dedek baru baligh yang baru merasakan dicium pacar haramnya.
"Ngomongin cinta, kita tak bisa pukul rata semua objek. Karena banyak rasa yang amat berlebihan, terus disebutnya cinta. Terlalu sayang ke anak, terkesan cinta ke anak. Terlalu mengabdi ke orang tua, kadang disebut cinta ke orang tua. Terlalu tulus ke pasangan, biasanya disebutnya bodoh itu, Bang." Aku memasang wajah serius.
Ia terkekeh geli dan langsung merangkulku dan mencium pipiki, leherku diapit kuat olehnya karena ia berulang kali menciumi pipiku.
"Tenang, Bang. Ayah aku tak terlalu kolot tentang kebahagiaan anaknya, menantunya selingkuh pun ayah pasti diam ke anaknya. Tapi jangan harap ayah hanya diam, karena kalau udah ketahuan ayah udah pasti hidupnya tak tenang. Kasus aku kemarin pun, aku kok yang maksa gugat cerai. Ayah minta untuk gugat surat perjanjian pernikahan aja, biar dia kena sanksi atau denda. Tapi biar komplit kata aku, sekalian aja gugat perjanjian pernikahan dan gugat cerai, jadi prosesnya tak lama. Ehh, tak taunya dianya lebih parah kena KDRTnya. Ya senjata makan tuan, aku pula yang kena sanksi. Coba kan kalau nurut ayah sedikit aja? Coba kan kalau sabar sedikit aja? Saking pengen sat setnya, sampai tak mikirin resiko yang berbalik ke diri aku sendiri. Mungkin karena ayah udah banyak pengalamannya, jadi paham langkah yang harus diambilnya. Nah aku? Ego aku masih besar, pengen sih sekalian buat mati ayahnya Galen pas kejadian KDRT itu terjadi." Gara-gara tidak menuruti ayah, aku jadi merasakan dinginnya sel tanpa alas tidur dan selimut.
Di sel tidak diperbolehkan adanya selimut, karena selimut bisa dijadikan perantara bunuh diri. Pernah ada kasus sarung untuk selimut, malah dijadikan untuk menggantung lehernya sendiri. Ini di penjara yang pernah ada jejak kakiku di sana, entah peraturannya beda di penjara lain.
"Jadi ceritanya kapok gitu? Jadi mau nurut aja ke ayah?"
Kenapa nada bicaranya seolah menyudutkanku?
"Lagian, mana ada sih orang tua yang menjerumuskan anaknya? Apa salahnya nurut? Orang cuma tanda surat perjanjian aja. Abang kalau tak setuju, ya bilang pas di ruangan ayah tadi tuh." Akh rasa kekesalannya belum surut.
Mental kerupuk ya memang dirinya.
"Tapi udah tau bakal jadi pengangguran begini, abis resepsi sampai kita punya anak pun di Jakarta aja ya? Abang malu di rumah aja, gak merasa keren dan gak merasa hebat. Ya oke jaman sekarang bisa ngantor di rumah, cari uang pakai HP. Tapi Abang laki-laki yang udah biasa kerja, Yang. Takut diledekin, takut ditanya 'ada di rumah, Han?'. Harus jawab apa coba? Iya aku pengangguran gitu? Atau, aku bos besar gitu? Prettt…. Usaha gak seberapa aja ngarep banget dipanggil bos. Okelah anak masih kecil-kecil begini, uang segitu kebanyakan. Tapi anak masuk TK aja, pengeluaran kita udah beda. Belum lagi kalau Farah punya adik lagi. Galen, Zee sama Farah itu masuk sekolahnya bareng bisa dibilang. Okelah, Farah beda satu tahun. Tapi coba dilihat bulannya, cuma beda beberapa bulan aja." Ia meluruskan kakinya di anak tangga teras, kemudian memijat lututnya sendiri bagai kakek-kakek.
"Abang masih tersinggung?" Aku merasa konflik rumah tangga silih berganti terus.
Kapan kami hidup cocok dan bahagia?
"Abang punya harga diri, dengan Abang ngebantu usaha yang dipegang Adek, terkesan Abang bawahan Adek. Abang kepala keluarga, di semua konflik, okelah perempuan selalu menang. Tapi untuk pencari nafkah, apa Abang harus mengalah juga? Adek cantik, bisa menghasilkan uang sendiri, nanti mikirnya gak butuh laki-laki yang cuma bisa diam di rumah ngasih makan ikan channa. Kalau memang harus bersabar begini, kan sampai kapan? Empat usaha Abang jadi anak usaha ayah, Abang gak mikir panjang, karena fokus urus Farah. Sekarang Farah ada yang jaga, bahkan pakai pengasuh, Abang ngapain dong? Yakin kita mau enak-enak di kasur terus? Yang umum-umum aja lah kita jadi manusia, masa iya kerjaannya ngamer terus? Kan banyak aktivitas lain, kan kehidupan terus berjalan. Adek enak, tetap masak, tetap giling baju. Abang ngapain? Apa harus jemur baju tiap hari? Apa harus keliling nyuapin Galen tiap hari? Abang paham, Abang orang tuanya dan harus andil dalam kehidupan anak-anaknya. Tapi Abang malu di rumah aja, Yang. Nanti Galen udah TK, ditanya temennya 'ayah kamu kerja apa?'. Jawab apa coba anak kita? Ayah aku pengangguran. Gitu?" Ia menoleh ke arahku dan memandangku lama.
Aku jadi bingung, inginnya bagaimana sih?
"Ayah tetap pengen kerja sama ayah? Aku omongin ya?" Aku menyimpulkan ini, dari semua rangkaian katanya.
"Gak usah, katanya udah gak percaya. Pokoknya kita di Jakarta, Abang buka cabang baru. Nanti cabang itu Abang pegang sendiri, biar ada kerjaan untuk Abang. Adek tetap pengen ngabdi ke orang tuanya gak apa, bisa kerja dari rumah. Tapi Abang tetep pengen pagi berangkat, sore pulang. Ngasih nafkah yang nyata, Abang kerja, harga diri Abang aman, Galen dan adik-adiknya pun gak bakal jawab ayahnya pengangguran. Abang gak lagi ngancem, boleh silaturahmi ke orang tua. Tapi gak mau lama-lama di sini, Abang malu. Bang Chandra yang omsetnya udah ratusan juta aja, dia tetap kerepotan kerja kok. Jam tiga pagi udah urus bongkaran, nanti lanjut kerja ini itu. Dzuhur pulang, Ashar dia sibuk di laptop. Bang Fa'ad, tetap ngajar tuh. Profesi dia tak hilang, meski istrinya pewaris pabrik besar. Bang Zio bukan lagi, ngabdi ke orang tua juga, usaha dia tetap terkontrol. Nah, Abang gimana? Mending sibuk kerja di kolong mobil, daripada harus seharian di rumah meski akhir bulan hasil usaha masuk rekening. Biarpun pakcik Ghava kantornya dekat rumah, tapi dia tiap hari konsisten ada di tempat kerjanya, gak di rumah terus. Hal-hal begini, gak usah ditembusin ke ayah. Ini masalah intern, yang bisa kita pecahkan sendiri. Kemauan Abang gak muluk-muluk, Abang pengen harga diri Abang kembali. Pekerjaan laki-laki, sama dengan harga diri. Makanya laki-laki disebut tulang punggung, pencari nafkah, karena itu harga dirinya dan kewajibannya. Pendapatan Adek untuk Adek sendiri, Abang gak bakal ngakuin hasil bayaran Adek dari hasil anak usaha ayah. Uang Abang, ya untuk keperluan kita semua. Abang serahkan, ini loh nafkah dari Abang, hasil jerih payah tulang punggungmu. Gak bakal sedih Abang, Yang. Malah senang, senang karena Adek tetap pakai uang Abang untuk kebutuhan kita bersama dan terkesan Adek nungguin pendapatan Abang. Dengan Abang bekerja dan menuhin kebutuhan kita bersama, tandanya Abang mampu dan ngerasa bangga dengan diri sendiri. Lelahnya terbayar, harga diri gak hilang, hubungan kita tetap kayak manusia normal." Tangannya bergerak, ekspresinya bermain, emosinya dapat.
Apa ayahku melukai harga dirinya, sampai ia tersinggung sedemikian rupa?
...****************...