
"Sudah meninggal, Ra. Kenapa gak nawarin jadi gantinya Harum aja? Ngingetin terus deh." Ia memasang wajah sedih.
Memang sesedih itu kah dirinya? Ah, paling juga akting. Kemarin saja ia mengajakku menikah, padahal usia anaknya baru tiga bulan. Berarti, kuburan istrinya pun masih tiga bulan juga.
"Tak mau, menyedihkan." Aku teringat ulasan curhatannya.
Yang katanya suaminya ini tidak memiliki perasaan padanya, yang katanya suaminya ini tidak membalas cintanya, yang katanya suaminya ini seperti terpaksa untuk menikahinya.
Ah sudahlah, tidak tahu juga masalah orang. Aku mumet sendiri dengan masalahku, aku sampai stress setiap hari. Kehidupanku rasanya dua kali lebih berat selama tiga bulan ini.
"Masa? Bahagia kok, lalalalalala…." Ia merangkulku dan mengayunkan tubuhku ke kiri dan ke kanan.
"Risih loh! Ya ampun!" Aku mendorongnya seketika.
Tidak berpengaruh besar, hanya terlepas saja rangkulannya.
"Masa? Harum gak pernah bilang risih kok. Dia ketawa-ketawa aja, dia senang aja. Masih aja disebut menyedihkan." Ia meninggikan bibir bawahnya.
Ya mungkin, hal itu berubah setelah dirinya sehat. Mungkin karena awal pernikahan bang Bengkel sakit, jadi kak Harum merasa lelah badan dan pikiran.
"Tak tau lah!" Aku meregangkan ototku.
"Gladi resik dulu yuk? Di atas ada kamar." Ia menunjuk ke atas dan tersenyum sumringah.
Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi di Aceh, ditambah dengan ia yang ada di status Bunga. Pasti ada banyak kejadian di sana, termasuk fakta yang tidak aku tahu secara rinci. Kemungkinan juga, ia sudah menikah dengan Bunga.
"Berani-beraninya ngajakin zina!" Aku langsung menghantam tengah-tengah tubuhnya, kemudian mer****nya dengan kuat.
"Argghhh…." Ia langsung menunduk dan memegangi miliknya.
Aku tidak tahu aku memegang apa, tidak terasa juga aku menarik miliknya.
"Kena bijinya, Yang." Ia menoleh dengan meringis.
"Oh ya?" Aku tertawa lepas.
"Ya salam, Yang." Ia masih memegangi miliknya saja.
"Tak berasa." Aku meredam tawaku.
"Orang lagi gak keras, ya gak berasa lah. Kan cuma daging aja." Ia melirikku dan menegakkan punggungnya kembali.
"Coba foto gimana kerasnya." Aku terkekeh kecil dan menyikut lengannya.
Kini, aku mendapat lirikan tajamnya.
"Abis dicomot, sekarang minta foto. Memang aku cowok apakah?" Ia berlagak sombong.
Aku tertawa geli dan meraup wajahnya kembali. Herannya, ia tidak marah wajahnya aku raup berapa kali juga. Coba Syuhada, ia langsung mengamuk.
"Cuci muka dulu ya? Sekalian cuci tangan nih. Awasin Farah, suka mewek kalah ayahnya gak kelihatan di matanya."
Benar juga, Farah sudah menendang tak tentu arah. Ia terlihat panik, saat punggung ayahnya sudah tidak terlihat lagi.
Aku langsung menghampirinya, kemudian mengangkat tubuhnya dari stroller tersebut. Ia terus merengek, sampai akhirnya ayahnya kembali dengan baju yang sudah berganti.
"Kenapa, Sayang? Mamah kok itu, Nak." Bang Bengkel mengambil alih anaknya.
"Jangan ajarkan dulu, belum tentu aku ibunya nanti." Aku tetap membawa kain yang terbawa saat aku menggendongnya.
"Bismillah, pasti. Ayo siri dulu ya ayo, aku berani ambil resiko besar sekarang." Ia memandangku dan mengusap-usap punggung anaknya.
Farah cepat berhenti menangis.
"Ngomong ayam!" Aku memalingkan pandanganku.
"Udah dipesankan kok tadi barang-barangnya, ayo ikut aku ke kota. Kita cari makan siang." Ia merangkulku kembali.
Aslinya dia physical touch sepertinya.
"Bang, sana bawa strollernya. Kek yang bisa makan sambil gendong anak aja." Aku melemparkan tangannya yang nangkring di bahuku.
Farah tidak seperti Galen yang mudah tersenyum dan tertawa, ia seperti itu hanya pada ayahnya saja. Di mobil, ia aku ambil alih. Daripada nanti Farah di belakang, lalu tangan ayahnya malah beraksi mengisengiku.
"Yang, boleh cium gak?" Ia memutar arah di lampu merah, kemudian mencolek pipiku.
"Ya tak boleh, Dodol!" Aku menepuk tangannya yang tadi mencolekku.
"Gemes banget, cantik banget sih." Ia tersenyum lebar, kemudian mengarahkan pandangannya ke arah depan kembali.
"Kek ke Bunga ya?" Entah kenapa, aku ingin mengorek masa lalunya.
"Begini kalau ke Bunga." Ia mengusap-usap pahaku, kemudian meraih tanganku yang tengah menahan tubuh Farah.
Farah bersuara, ia meraih jemari ayahnya yang menggenggam tanganku.
"Megang Mamah Ra, De. Bukan megang Farah." Bang Bengkel mencolek hidung Farah.
Farah menonjolkan kaki dan tangannya tak beraturan, ia senang diguraui ayahnya. Galen pasti girang jika ada di posisi seperti ini, sayangnya dia amat rewel beberapa bulan terakhir.
"Terus, gimana lagi?" Aku masih ingat pembahasan kami.
"Ya selanjutnya dia lah, dia kok yang nyosor aja, bukan aku." Ia melirikku dan tangannya menangkup wajah anaknya, dengan pandangannya fokus ke depan.
Aku kaget, karena Farah tertawa lepas. Bayi enam bulan ini bisa tertawa seperti ini, hanya karena wajahnya ditangkup oleh telapak tangan ayahnya saja.
"Farah tiga bulan ini bolak-balik Aceh loh, Mah. Kuat ya, Dek? Sekali aja ya kejangnya, Adek sehat-sehat terus." Ia berhenti di lampu merah.
Cara mengemudinya lembut sekali. Cara mengemudiku seperti sopir angkot kata saudaraku yang lain, tapi aku merasa enjoy saja.
"Imunisasinya lengkap belum? DPT 1, 2 dan tiga?" tanyaku kemudian.
"Kan udah pas lahiran itu, sama yang buat lengan kanannya punya belang itu." Ia mengusap lengan kanannya sendiri.
Lah? Dasar bapak-bapak.
"Imunisasi DPT 1, pas dua bulan. DPT 2, pas tiga bulan. DPT 3, pas empat bulan," terangku kemudian.
Mobilnya mulai melaju perlahan. "Waduh, Farah belum semua berarti. Nanti sama Mamah ya?" Ia menoleh dan menempatkan tangannya di atas pangkuanku.
Tangannya iseng sekali, aku tidak bisa seperti itu.
Aku langsung menepis tangannya. "Kalau diimunisasi DPT, biasanya demam, Bang." Aku pengalaman dengan Galen.
"Ya jangan deh kalau begitu, Farah demam langsung IGD, ngeri." Ia bergidikan.
"Ya harus imunisasi, Bang. Biar kedepannya dia sehat terus." Aku lupa dengan manfaat imunisasi DPT.
Tapi jika tidak salah, untuk pencegahan penyakit difteri, pertusis dan tetanus.
"Ya udah, Mamah atur aja. Anak Mamah kan itu? Mamah pasti tau yang terbaik untuk anaknya." Ia kembali menoleh dengan menaik turunkan alisnya dan menyunggingkan senyum lebar.
"Hmm, jaga-jaga. Kalau setiap kali demam dia kejang, berarti Ayahnya siap-siap ada di rumah kalau Farah lagi imunisasi DPT." Galen tidak pernah kejang, aku bersyukur. Tapi ia rewel sekali, nangis sampai terbatuk-batuk dan akhirnya muntah.
"Siap dong, lagian ngapain lagi di luar? Orang tugasnya cuma anggremin betinanya." Tangannya langsung beraksi mengusap-usap pahaku kembali.
"Pelecehan loh ini, Bang. Aku patahkan tangan kau sekalian!" Aku tidak bisa diperlakukan seperti ini sebelum pernikahan.
"Iya lah, iya lah. Mancing padahal." Ia terkekeh kecil.
"Mancing? Dikira aku cewek apakah?" Aku merasakan ada tetesan air di tanganku.
Setelah dicek, ternyata Farah ngeces. Bukan karena ia tidur, tapi ternyata karena ia punya gigi baru yang baru tembus gusi.
Ya Allah, kapan Galen keluar gigi? Ia sudah sepuluh bulan, tapi belum memiliki gigi satupun.
"Gak sama kayak Bunga ya? Keren, tambah I love you." Ia mencolek daguku dengan cepat.
Duda ini, astaghfirullah!
...****************...