Hope and Wish

Hope and Wish
H&W25. Berkunjung pagi



"Udah, udah." Aku menjauhinya. 


Ia malah terbahak-bahak. "Ohh, jadi seperti itu caranya. Oke, baiklah."


Yang aku suka darinya, ia tidak memaksa. Ia masih menghargaiku, hanya saja memang aku yang lemah iman saja. Segala nemplok pada dirinya saja tadi. 


"Aku pulang dulu, Bang." Aku memilih untuk mencium Farah. 


Farah kira aku menggurauinya, ia senang aku menciumnya. Ia sudah enam bulan, jelas sudah bisa merespon. 


"Iya, Sayang." Bang Bengkel mengangguk dan mengantarku turun sampai ke depan tempat usahanya. 


Ia pun menemaniku menunggu taksi online itu datang. 


Karena kejadian itu, membuat tidurku terganggu dan kesulitan untuk tenang. Aku pun gelisah terus menerus, hingga akhirnya aku lelah sendiri. 


Sebaiknya, jangan menemui bang Bengkel setelah ini. Itu berbahaya untuk imanku sendiri. 


Pagi-pagi sekali, di hari Minggu ini bang Bengkel malah datang berkunjung. Mentang-mentang ia sudah dapat alamat tinggalku, ia langsung action saja. 


"Bang Zionya mana, Kak?" tanyanya pada istrinya bang Zio. 


"Masih di Jepara. Kau mau ngajakin Ra keluar?" 


"Gak, Kak. Aku mau main aja di sini." Bang Bengkel tersenyum padaku. 


Argghhh, aku yang ingin dimainkan rasanya. 


"Ohh, oke. Buka aja pintunya. Tinggal dulu ya? Lagi repot di dapur soalnya." Kakak iparku langsung pergi ke belakang kembali. 


"Video call." Ia tengah berusaha mengeluarkan ponselnya. 


Farah celingukan melihat sekelilingnya, ia sepertinya butuh menyesuaikan diri dengan tempat baru. Tidak seperti Galen, yang hebring di mana saja. 


"Semalam tak bisa tidur, Bang." Aku menyeka keringatku, kemudian aku menggeser tempat dudukku ketika layar ponselnya sudah diangkat. 


Ia melangsungkan panggilan video dengan kontak bernama 'om Givan'. 


"Ketebak, s*ng* ya?" Ia terkekeh geli, dengan mempersiapkan penampilannya menunggu panggilan video tersebut diterima. 


"Sok tau!" Aku menepuk pangkuannya. 


"Tau, Yang. Nampak dari matanya juga." Ia menoleh padaku dan tertawa renyah. 


Ia sepertinya suka membuat pikiranku kotor. 


"Hallo…."


Aku langsung menegang, melihat wajah ayah yang terlihat jelas di layar ponsel bang Bengkel. Namun, Farah malah mengeluarkan suaranya. Ia sepertinya senang, melihat wajah tegas mafia tambang itu. 


"Hallo, Cantik. Main sini, Nak." Ayah seperti tidak menyadari keberadaanku. 


"Om, Ra mau ngomong nih katanya." Bang Bengkel malah memberikan ponselnya padaku. 


Aduh, aku gugup. Aku berjanji pada ayah, jika aku tidak akan menghampiri bang Bengkel. Tapi kan aku tidak tahu, jika ia ada di bengkelnya. 


"Yah, minta maaf. Aku tak main ke Bang Bengkel kok." Aku meliriknya, sembari fokus memandang ayahku di layar ponsel. 


"Iya, Dek. Han udah bilang, kau tenang aja. Dia pun izin mau ke kau pagi ini. Kau udah makan, Dek?" Tumben sekali ayah berbicara lembut, pasti moodnya tengah bagus. 


Jadi, bang Bengkel pun izin ke ayah jika ingin berkunjung? Attitudenya keren sekali untuk anak kota sepertinya. 


"Udah, Yah. Ayah udah makan? Galen udah makan?" Anakku merepotkan mereka pasti di sana, karena Galen belum memiliki pengasuh sendiri. 


"Udah. Tuh Galen, Dek. Tak paham lagi sama biyung kau, pagi-pagi cucu dikasih ASIP beku, mentang-mentang udah disuapin."


Aku melongo bodoh ketika kamera itu diputar ke belakang. Aku bisa melihat biyung tengah membelah kangkung, sedangkan Galen duduk di depannya dengan makan ASIP beku dari kantong plastik khusus ASIP. 


"Dia anteng, Yah?" Aku khawatir dia rewel. 


"Kau pikir dia bakal nyari ibunya? Selagi ada orang yang dia kenal, dia tak bakal ngamuk nyari kau."


Pedas, bukan? Tapi begitulah ayahku. 


"Aku keteteran, Yah. Minta carikan pengasuh bayi, Yah. Aku bisa bayar kok." Permintaanku ini sudah sejak tiga bulan yang lalu. 


"Nanti, Ra."


Aku tidak tahu alasan ayah, tapi ia memang selalu mengatakan hal itu. Ia pun yang mengusulkan agar Galen diantarkan ke sini, dengan dirinya sendiri dan biyung yang mengurus. 


"Yah, aku minta disirikan aja dulu aja." Senyum bang Bengkel begitu lebar, mendengarku mengatakan hal itu. 


"Han pun semalam bilang begitu, Kak. Kau udah diapa-apain sama dia, sampai kau kalap pengen nikah siri?"


Bang Bengkel tertawa lepas, ia paham motifku meminta nikah siri. 


"Diapain katanya? Kok diam aja?" Bang Bengkel menyenggol lenganku. 


"Udah dihamili, Yah!" Aku sengaja berkata bohong. 


Namun, bang Bengkel lebar lepas tertawa dari sebelumnya. Bukannya malah panik, karena bisa saja ayah langsung menghakiminya. 


"Memang mau gitu, belum nikah dihamili? Ayah tau karakter kau, Dek." Ayah bisa-bisanya masih santai saja, padahal mulutku sendiri yang mengatakan hal itu. 


"Udah pengen dibuat hamil, Om. Gitu aja sederhananya," jelas bang Bengkel, dengan melongok ke arah layar ponsel. 


"Sepuluh harian lagi bulan puasa, habis lebaran kan udah urus daftar KUA dan resepsi. Sebulan lah, sabar."


Masalahnya, aku tidak bisa sabar jika ia ada di sampingku seperti ini. 


"Iya kan udah sebulan lagi juga, aku di sini siri aja dulu ya? Nanti resepsi ya gampang, sekalian itsbat nikah," ungkapku yang terus membuat bang Bengkel terkekeh. 


"Jujur sama Ayah, Han ngomong apa? Dia janjikan apa? Dia ngerayu gimana?"


Apa ya? Aku tidak dirayu saja meleyot begini. 


"Nah iya, Yang. Katanya mau buat surat perjanjian juga, kita belum pikirkan juga," tambah bang Bengkel kemudian. 


"Ya udah sih, dibuat gampang aja. Surat perjanjiannya tak boleh cerai kalau tak toxic, gitu aja." Aku sudah tidak mau ribet-ribet, yang penting jadi dengannya. 


"Jawab Ayah, Dek," pinta ayah kemudian. 


"Yah, ngertiin aku lah, Yah. Lemah iman aku tuh, tak diapa-apakan saja begini, apalagi kalau dirayu dan segala macam." Mungkin minusnya aku salah satunya ini. 


Untungnya, tidak ada lelaki yang berani menggodaku. 


Tawa duda itu lepas kembali, pengakuanku seolah membuatnya menang. 


"Han, kau ngomong apa ke Ra?" Ayah bertanya pada bang Bengkel. 


Bang Bengkel mengambil alih ponselnya, ia menjauhkan jaraknya karena Farah berusaha ingin meraih ponsel tersebut. "Gak ngomong apa-apa, Om. Cuma cerita-cerita aja selama aku di sana, kan dia gak tau soalnya. Di antara kita, kemarin gak ada komunikasi sedikitpun. Tapi aku percaya aja dia aslinya nungguin aku juga, jadi gak salah aku perjuangkan kemarin."


"Kenapa kau yakin Ra mau sama kau? Responnya tak terlalu berlebihan menurut Om." 


"Sorot matanya beda pas lihat aku dan pas lihat yang lain, itu buat aku yakin kalau nantinya aku gak akan disia-siakan sama Ra. Setidaknya, aku cinta ke orang yang cinta sama aku. Biar gak kejadian lagi yang kayak dulu-dulu." Ia melirikku dan mengulas senyum. 


Diberi pandangan dan senyum seperti itu saja, aku langsung tersipu. 


"Memang kau yakin, kalau nanti sikap kau ke Ra tak akan sama kek perempuan yang dulu-dulu itu? Kalau cuma awalnya aja, gimana? Kek waktu kamu tertarik ke Bunga, awalnya kau menggebu-gebu. Setelah kau paham sepak terjangnya, kau akuin sendiri kalau kau berat hati meladeninya."


Jadi, bang Bengkel cerita semua tentang yang ia rasakan dulu pada Bunga? Memang bagaimana? Aku tidak pernah tahu perasaannya dulu pada Bunga. 


...****************...