Hope and Wish

Hope and Wish
H&W42. Menengok Farah



"Diajari tuh nanti, Ra. Ya Allah, Han." Ayah hanya bisa geleng-geleng kepala. 


Si pelaku pun hanya bisa tertawa malu. Orang kota yang benar-benar kota, aku jadi memikirkan Farah yang dibuat tanpa bismillah. 


"Iya, Yah." Aku menganggukkan kepala. 


"Siap-siap pulang, Dek. Kau pindah kamar dulu di samping kamar Ayah." Ayah berlalu pergi lagi. 


"Oke, Yah." Kamar itu pun aku tempati saat aku baru menikah dengan Syuhada. 


"Yang, udah haid belum?" Bang Bengkel membisikkan hal itu padaku. 


Aduh, aku langsung deg-degan. 


"Udah selesai pas pulang ke sini tuh, haid pas masih di Cirebon." Aku menjawab lirih, karena pakwa masih di sampingnya. 


Kami langsung pulang, lanjut dengan kesibukan masing-masing dan berlanjut dengan makan malam bersama. Galen dibawa pulang oleh bang Chandra, ia mengatakan agar aku memiliki waktu dengan bang Bengkel. Farah pun tetap bersama kakeknya, meski tadi ia berada di pangkuanku. Om Hamdan pun mengatakan agar kami memiliki waktu, sementara Farah ia ambil alih. 


Aku sebenarnya merasa tidak enak dengan kak Jasmine, aku harus berbicara padanya tentang anak perempuanku itu yang selalu ada di rumahnya. Om Hamdan sih pasti tidak keberatan, tapi kan kak Jasmine tengah butuh perhatian suaminya. Meski jelas tadi, kak Jasmine pun sudah terlihat jauh lebih sehat dan kuat. Ia bahkan hadir di pernikahan kami, ia ikut berfoto saat kami foto besar keluarga besan. 


"Bang, izin mau ke rumah kak Jasmine dulu ya?" Aku mendekatinya yang tengah merokok di depan teras rumah kak Key, ia tengah mengobrol bersama suaminya kak Key, bang Fa'ad.


Ia memandangku, kemudian menganggukkan kepalanya. Aku langsung balik badan dan melangkah pergi. Tidak membutuhkan waktu lama, karena rumah kak Jasmine berada di belakang rumahku. 


"Assalamu'alaikum…." Aku mengetuk pintu rumah yang rapat ini. 


"Waalaikumsalam, Dek. Buka aja." Kak Jasmine menyahuti, sepertinya ia tengah berada di ruang tamu. 


Aku menarik gagang pintu ke bawah, kemudian mendorong pintunya. Kak Jasmine sedang rebahan di kasur lantai yang dipindahkan di ruang tamu, meja yang tidak ada di sini. Ruangan terasa sesak, karena kasur lantainya berukuan besar. 


"Cantik, belum tidur?" Aku menyapa Farah yang berada di samping kak Jasmine. 


"Belum." Kak Jasmine memang kurang ramah padaku, tapi aslinya ia sangat berisik. 


Ia cerewet, kosa katanya banyak sekali setiap harinya jika pada ayah dan biyung. 


"Suami kau mana, Kak?" Aku kan jadi berpikir bahwa Farah dititipkan ke nenek tiri. 


"Ada, lagi cuci piring sama cuci dot. Keluyuran kau? Suami kau nyari nanti." Ia melirikku, tontonan televisinya saat ini adalah tentang keajaiban dunia. 


"Udah bilang, Kak. Kakak udah sehat? Farah rewel tak?" Aku duduk di atas kasur lantai setinggi sejengkal tangan ini. 


Ini adalah kasur busa yang bisa dilipat, berupa potongan busa dan kain yang elastis untuk ditekuk. 


"Tak tau, Dek. Sama kakeknya terus, ini aja Kakak baru bangun tidur pas dari acara kau itu. Udah enakan badannya, tapi jadinya ngantuk terus." Kak Jasmine berbaring menyamping menghadap Farah dan menghadapku juga, kemudian ia mengusap kepala Farah. 


"Memang tak dengar tangisnya?" Aku mengambil beberapa mainan Farah yang tertindih oleh tubuh Farah, aku takut badannya jadi sakit karena ia menindihi mainan. 


"Tak dengar, Dek. Pas kejang aja tak tau-tau, tak dengar gaduh, atau heboh gimana. Pas bangun mau pipis, eh bang Hamdan tak ada di rumah. Kakak telpon malam-malam tuh, katanya lagi di klinik, Farah kejang, tapi udah baik-baik aja katanya." 


Farah berbaring menyamping, kemudian ia tengkurap dan mengambil mainan yang sudah aku kumpulkan. Rambutnya seperti filter, lurus dan tidak beraturan. Aku selalu ingin menertawakannya, karena memang ia selucu itu dengan rambutnya. 


"Berarti kalau lagi demam itu harus ada yang nungguin ya, Kak?" Aku mencoba merapikan rambut itu, ketimbang tertawa. 


"Harus, Dek. Kakeknya sih ngomong begitu, harus ada yang melek. Kejangnya itu tak lama, setelah kejang juga badannya langsung lunglai dan langsung adem juga demamnya. Tapi kalau tak segera dibawa ke tempat kesehatan kan, ya bahaya." Kak Jasmine menepuk-nepuk part belakang Farah. 


Kemarin ia tidak memiliki sosok orang tua perempuan satu pun, sekarang ia langsung punya dua. Ada kak Jasmine, neneknya. Ada aku, ibu sambungnya. 


"Kak, selama Farah di sini ngerepotin tak?" Aku bertanya dengan pelan dan hati-hati. 


"Ya tak lah, Dek. Memangnya kau, makannya banyak. Lagi sakit juga dia anteng loh, digolerin begini tuh ya anteng. Cuma kan kakeknya sengaja gendong, peluk, biar demamnya turun, demamnya pindah ke kulit kakeknya gitu."


Aku sudah merasa khawatir dengan anak perempuan ini, ia harus dijaga ekstra sekali. Aku tidak mau ia sampai kenapa-napa, aku tidak mau menyesal dan aku tidak mau disalahkan. 


Ternyata semua laki-laki di rumahnya itu sama ya? Tidak betah dengan kaos.


Namun, karena sifatnya aku menantu. Om Hamdan pasti malu, jika ia tidak memakai kaos di depanku. 


"Iya, lagi nengok Farah dulu." Aku mengusap dagu anak perempuan ini, air liurnya penuh. 


Ia benar-benar ingin tumbuh gigi. 


"Farah gak apa, tenang aja, Ra." Om Hamdan sudah muncul kembali. 


Jangan om deh, ia sudah jadi ayah mertuaku. Aku akan berlatih memanggilnya ayah juga, sama seperti bang Bengkel memanggil ayahku. 


"Iya, Yah." Aku menunduk dan mencium Farah, anak perempuan itu langsung mendongak dan berkedip lucu. 


Mungkin ia heran, karena orang asing ini menciumnya. Maaf ya, Farah. Aku kurang pendekatan denganmu, tapi pasti aku akan menjadi ibu yang terbaik untukmu. 


"Gih istirahat, udah jam sembilan." Ayah Hamdan mengusir lembut. 


"Mamah pulang dulu ya, Dek? Nanti malam besok kita bobo bareng." Aku mengajaknya berdialog. 


Entah ia mengerti tidak, tapi ia tertawa kecil dan kemudian menggosok wajahnya. 


"Nanti aja, Ra. Jarak semingguan sih, toh Ayah masih tinggal di sini juga."


Aku teringat dengan Varro, ia dan pengasuhnya sampai tinggal di bangunan sebelah. Benar, di rumah yang ditunjukkan untuk Ceysa. Karena Ceysa tinggal di desa sebelah, di area sawitnya. Ayah pasti memikirkan bangunan ini, karena penghuninya semakin bertambah banyak dan membutuhkan privasi. 


"Ya gimana baiknya aja, Yah." Aku sebenarnya keenakan anak-anak ada yang ngurus, tapi rasa tidak enak hatiku lebih besar. 


"Mamah pulang dulu ya, Dek? Capek kakinya, habis foto-foto." Aku mencolek hidungnya dan bangkit. 


Farah berbalik ter***tang lagi, ia menggosok hidungnya dan memperhatikanku. 


"Dadah, Mamah." Kak Jasmine membimbing tangan Farah untuk melambai padaku. 


"Dadah, Farah cantik." Farah sebenarnya cenderung manis, ia berlesung pipi dan kulitnya eksotik. 


Aku berjalan kembali ke rumah, cukup sepi tapi pintu depan belum dikunci. Bang Bengkel sudah tidak ada di depan rumah bang Fa'ad, ia pasti sudah di kamarnya. 


"Eh, dari mana?" Aku berpapasan dengan ayah yang akan masuk ke kamarnya sendiri dengan membawa segelas air putih. 


"Dari Farah, Yah. Biyung udah tidur?" Aku berbasa-basi saja. 


"Udah, tuh. Udah dengkur keras dari tadi, kalau kecapean tuh ngorok." Ayah membukakan pintu kamarnya. 


Benar, suara dengkuran biyung sampai terdengar dari pintu kamar. 


"Tidur gih, Dek." Ayah masuk lebih dulu ke dalam kamar. 


"Iya, Yah." Aku menuju ke dapur dulu, untuk cuci kaki di kamar mandi belakang, kemudian aku mengambil air minum sebotol kaca. 


Aduh, aku deg-degan lagi untuk masuk ke kamar. Aku jadi grogi sendiri, aku takut diminta berjalan dengan melepaskan satu persatu pakaianku. 


"Bang, udah lelap?" Aku memperhatikan laki-laki yang berada di bawah selimut itu. 


Lesung pipinya tidak terlihat, karena ia tidak dalam kondisi tersenyum. 


Apa ia masih sakit? Matanya pun terpejam rapat. 


...****************...