
"Buka nih sidik jarinya." Aku menyodorkan ponsel canggihnya.
"Iya, Yang." Bang Bengkel memasang ibu jarinya pada tombol on/off.
Aku langsung menyerang aplikasi chattingnya. Nama Bunga, paling teratas di daftar chatnya. Kemudian, ayahnya dan saudara-saudaraku. Jelas aku langsung membuka room chatnya dengan Bunga, banyak panggilan video atau panggilan telepon yang terlewat dari Bunga untuk bang Bengkel. Tidak sedikit juga chat dari Bunga yang hanya terbaca, tapi mana tahu ia menghapusnya setelah membacanya.
"Kau hapus ya?!" Aku meliriknya sinis.
"Back up data aja, aplikasi chat Abang dicadangkan di Google Drive Abang. Sini, Abang pulihkan dulu." Bang Bengkel mengambil alih ponselnya.
"Sini, aku mau lihat." Aku ingin ia duduk di sampingku lebih dekat.
"Hmm, nih." Ia memperlihatkan layar ponselnya lebih jelas.
Waktu pemulihan data itu berlangsung tak lama, karena koneksinya menggunakan WiFi rumah dan jaringannya stabil. Aku langsung merebut balik ponselnya, setelah pemulihan data berhasil.
Sama, tidak ada balasan darinya untuk Bunga. Tapi muncul kontak dengan nama 'pakcik Gavin, pakcik Ghifar, bang Chandra' di barisan susunan daftar room chatnya. Pesan-pesan dari kontak lain yang terhapus pun, sudah muncul kembali.
"Kenapa dia manggil Abang jadi 'ayah'?" tanyaku dengan menunjukkan salah satu isi pesan Bunga, yang menanyakan keberadaan bang Bengkel.
Dilihat dari tanggalnya, pesan itu dikirim saat Zee masih di rumah sakit. Sepertinya, suamiku yang digadang-gadang oleh Bunga ini menghilang dari pandangan Bunga.
"Gak tau, tapi bilangnya ngajarin Zee." Wajahnya terlihat pasrah sekali.
"Ini Abang ke mana? Sampai dia WA dan lakuin panggilan video berulang?" Panggilan yang tidak terjawab, terlihat dari room chat.
"Ngerokok di bawah, makan, mandi sekalian. Kan sebelah rumah sakit itu pom bensin besar, ada masjid ada tempat istirahat juga."
Masuk akal, aku tak akan mencecarnya.
Chattingannya tidak ada yang mencurigakan, tapi tentu semuanya aku screenshot dan aku kirimkan ke kontakku. Aku melirik suamiku, ia memperhatikan kegiatanku tapi ia tidak protes.
Aku beralih ke daftar panggilan.
Banyak panggilan tak terjawab, waktunya yang aku amati begitu lekat. Bahkan, ada panggilan video terlewat di jam 23.57. Dilihat dari tanggalnya, berarti itu semalam. Kenapa Bunga menelpon suamiku malam-malam? Apa alasan Zee lagi?
Aku tidak lupa untuk melakukan screenshot di daftar panggilan tersebut.
"Ini kenapa nih diangkat?" Aku melihat daftar berwarna hijau.
"Itu kan pas di rumah sakit. Abang kan ngerokok sehari ada empat kalinya, Yang," akunya yang terlihat dari wajahnya itu sangat meyakinkan.
Aku merasa ia sudah tidak punya upaya untuk berbohong lagi. Lagian, untuk apa ia membohongiku?
Setelah mengirimkan semua screenshot daftar panggilan dari Bunga itu, aku langsung beralih ke room chatnya dengan keluarga besarku.
Gila sih, aku baru tahu kalau suamiku ternyata orangnya doyan meminta saran. Ia bercerita masalah kami pada bang Chandra lewat chat, pada pakcik Gavin dan pada papa Ghifar juga.
Isinya begini chatting dengan bang Chandra.
[Ya jangan sakit hati berarti. Udah karakter dia, ya gimana lagi? Karakternya keras, ayah juga keras, makanya dia tak bisa dalam asuhan ayah waktu kecil. Mama Aca telaten didik dia, karena dia bisa lembut dan bisa keras. Kalau dia lagi kumat kerasnya begini, ya dilembutin. Daging sapi aja dimasak lama biar empuk dimakan, kan gitu kan? Kalau keputusannya terlalu nyeleneh untuk permasalahan sepele, contohnya minta cerai. Ya harusnya dikasarin, bukan dipukulin juga. Tapi kau harus lebih kuat bawa rumah tangga kau, jangan turutin apa maunya dia.]
Sepenggal pesan dari bang Chandra berbunyi seperti itu. Pesan di atas sebelah kanan dari bang Bengkel, kemudian sebelah kiri itu balasan dari bang Chandra.
Ada lagi pesan dari pakcik Gavin. Bang Bengkel benar-benar mengetikkan dari awal permasalahan kami, tapi jawaban pakcik Gavin tidak sepanjang ketikan bang Bengkel.
^^^[Kasih saran aku, Pakcik. Aku dituduh ayah mertua aku bersalah juga, padahal aku gak tau apa-apa.]^^^
[Saran terbaiknya, hamilin Ra. Saran untuk masalah Bunga, blokir nomor Bunga.]
...[Kalau aku blokir nomor dia, dia pasti nuduh aku gak bertanggung jawab ke Zee.]...
[Bilang ke Bunga, komunikasi tentang Zee lewat Ra aja, kau pakai alasan nomor kau khusus untuk bisnis kek apa kek. Manipulatif dia itu, Han. Kita belajar tipu-tipu tipis dari dia, karena dia ngajakin baku tipu sama keluarga kita.]
Intinya seperti itu, sepenggal chatnya dengan pakcik Gavin.
Sepertinya bang Bengkel klop dengan papa Ghifar, mereka sama-sama melow dalam chat ini. Malah papa Ghifar adu pengalaman sedih dan adu nasib dalam pesan chat tersebut.
[Sabar, Han. Kau baru segitu, Pakcik dulu di KDRT sama ibunya Kal dan Kaf.]
^^^[Mending Ra gaplok pipi aku sekalian, Pakcik. Daripada diusir, dimaki begini, aku takut sakit hati sama istri sendiri. Aku bukan nyebar aib, cuma rasanya dimusuhi istri sama mertua laki-laki itu sesek banget, Pakcik. Pikiran aku udah buntu, aku takut diceraikan diam-diam. Perjuangin dia setengah mati, tapi aku tak bisa jaga tali pernikahan kita, konyol banget rasanya jadi aku.]^^^
[Bunga sama ayahnya itu sama, keknya itu juga. Tapi sejak ada masalah sama bang Ken, Pakcik udah tak pernah mau tau masalah mereka. Jangan lengah, jangan gegabah kalau berhadapan dengan Bunga. Bunga punya jalan lahir, awas kau tergoda. Kau harus bisa baca situasi dan perhitungkan semuanya dengan matang, karena dari cerita kau tadi, kek ada unsur kesengajaan. Maksudnya, Bunga sengaja beralasan sakit biar kau tak pulang. Intinya satu, dia coba buat kau dan Ra renggang dengan alasan anak kau yang ada di dia.]
^^^[Nah itulah, aku berat ke anak. Bukan aku pengen balik ke Bunga karena Zee, tapi aku khawatir sama Zee dan takut dia gak ketolong tuh, Pakcik.]^^^
Aku, aku sudah cukup menyimak pesan antara bang Bengkel dan papa Ghifar. Benar kok dipanggilnya pakcik, karena papa Ghifar itu adiknya ayah.
Banyak orang yang menyadarkan tentang siapa Bunga, tapi sepertinya bang Bengkel baru melek setelah kami ribut besar ini.
"Nih." Aku mengembalikan ponselnya.
Ia menggeleng. "Udah, pegang aja. Gak apa-apa gak pegang HP selama-lamanya, asal jangan diusir, jangan minta cerai. Udah ngerasa hancur banget, Yang. Diberhentikan kerja, ngerasa gak punya penghasilan, ditambah diusir istri. Abang mau pulang ke mana? Abang udah gak punya ibu dari kecil, gak ada yang peduli Abang, Yang." Ia memelukku dan bersandar di bahuku.
Ya Allah, berat sekali beban di bahu ini. Aku masih letoy untuk menyangganya.
"Hadeh! Lagi apa tuh?!" Aku meronta agar ia tidak berada di bahuku lagi.
Bibirnya terlipat ke dalam, laki-laki ini seperti bocah sekali.
"Jangan dimarahin aja, udah bocor air mata ini hati." Ia menyembunyikan wajahnya di punggungku, dengan tangan yang melingkar melewati dadaku yang tengah ada Galen yang mulutnya masih aktif menikmati ASI.
"Maunya gimana?! Sekali lagi aku tanya, mau maksa ambil Zee atau mau ikuti keinginan mereka? Setengah tahun lagi Zee baru bisa pindah asuh ke tangan kita." Aku ingin cepat sat set, terus tamat ya tamat lah.
Aku emosi sekali membuat novel dengan konflik seperti ini. Darahku terus mendidih rasanya, kurang darah pun jadinya mendadak darah tinggi.
...****************...