Hope and Wish

Hope and Wish
H&W76. Kesepakatan dari ayah



Ayah hanya menggelengkan kepalanya, setelah mendengar ceritaku. 


"Aku temenin sampai kasusnya selesai, Yah. Jadi aku harus gimana? Baiknya gimana?" Bang Bengkel mengambilkan air mineral kemasan botol sedang untuk ayah. 


"Nanti kita temuin Hema." Ayah memandangku. "Ayah tak paham kenapa dia ngakuin hal itu." Ayah membuang napasnya. "Ayo siap-siap, Ayah tunggu di lobi." Ayah keluar lebih dulu dari kamar inap sederhana ini. 


Aku harus berbicara apa pada Hema? Aku jadi tidak enak hati padanya. 


"Ayo, Yang," ajak bang Bengkel, setelah mengambil ponselnya dan dompetnya. 


"Iya." Aku hanya membawa baju kami yang sudah dilaundry. 


Aku dan bang Bengkel mendadak membeli pakaian, karena kami tidak memiliki baju ganti. 


Sesampainya di rutan, aku dan ayah saja yang bisa menemui Hema. Karena hanya diizinkan dua orang, jadi bang Bengkel mengalah. 


Bisa-bisanya Hema tersenyum sumringah, entah ia bahagia bertemu kami atau memang ia mencoba membuat kami percaya bahwa ia baik-baik saja di sini. Percayalah, di rutan tidak ada kebahagiaan. Stress yang ada, memiliki banyak waktu tapi tidak leluasa bergerak. 


"Gimana, Yah?" Ia mencium tangan ayah, kemudian tos boom denganku. 


"Ish, pungo! Kau yang gimana?!" Ayah menekan suaranya. 


"Tak gimana-gimana sih, Yah. Di rumah, makan tidur. Di sini pun sama, Yah. Bang Wildan ngajuin informasi tentang pengobatan aku, malah dikira aku dalam pengaruh narkotika pas nabrak. Aku minum obat dari psikolog pas mau tidur, jadi siang ya hidup normal. Masalah aku kan lebih ke gangguan tidur, Yah. Cuma panik aja kalau turunin dosis, soalnya tubuh sampai gemetaran," ungkapnya kemudian. 


"Tapi kau tak nabrak, Hem!" Aku menggebrak pelan meja ini. 


"Shtttt…. Shtttt…. Tak usah dibahas, aku tak masalah ada di sini. Yang penting…. Masalah ini nutup, udah itu aja. Tapi dengan Bunga sakit tuh, kau bisa ambil kesempatan untuk ngasuh Zee. Terus kalian jadi keluarga yang bahagia deh." Ia merentangkan tangannya dan tersenyum lebar. 


Agak gila ini orang. 


"Tapi kau tak bahagia!" Aku merambat kesal padanya. 


"Aku rasa, aku bisa fokus untuk kesembuhan aku di sini. Pas keluar, aku haus perempuan. Lama kan tak nampak perempuan di sini? Terus liar lagi deh aku, normal lagi. Restart hidup." Ia tersenyum lebar sampai kelopak matanya menonjol semua. 


"Mana bisa begitu!" Ayah menjitak kepala Hema pelan. 


"Mana tau, Yah. Ini udah keputusan aku, tinggal Ayah dukung aja. Kalau bisa, mohon bantu biar ringan hukumannya. Aku tak masalah dikurung enam tahun juga, yang penting kakak perempuan aku tak nangis aja. Bukan aku menuntut timbal balik, tapi untuk sekarang bantu bang Wildan aja, Yah. Ajarin basic apa gitu, sekarang dia sampai jual-jualin tanah untuk pengobatan adik iparnya ini. Obat yang bagus, tak tercover asuransi. Aku udah pernah bilang, nanti aku ganti kapan-kapan. Mereka sih tak minta diganti, tapi aku ngerasa nyusahin terus. Bang Wildan udah berkorban banyak materi, ibaratnya selama aku di sini itu masa tenang dia dari masalah hidup aku. Aku makasih betul sama Ayah, kalau Ayah bisa kasih basic ke bang Wildan. Kasian, anaknya tiga. Biar pas aku pulang, bang Wildan udah jaya lagi dan bisa bantuin aku untuk naik tangga materi lagi." 


Aku mengerti maksud Hema. Ia seperti ingin menjauh dari keluarganya, karena ia merasa merepotkan keluarganya melulu. Sedangkan ia tidak punya apa-apa sekarang untuk kebutuhannya dan perutnya, tapi jika di penjara kan ia tetap diberi makan. 


Ia ingin ayah membantu bang Wildan, karena ia ingin kakaknya itu tidak jatuh miskin karena mengcover obat-obatannya selama ia di penjara. Jika ia pulang pun, ia bisa membayar hutang-hutangnya pada kakak iparnya itu, bilamana kakak iparnya sudah dalam kondisi ekonomi stabil. Ia yakin kakak iparnya tidak pelit ilmu padanya, jadi ia bisa naik lagi dan bisa membayar hutang-hutangnya pada kakak iparnya. 


"Nanti di persidangan, kau bisa katakan kalau Ra pelakunya. Masalah ilmu basic, jangankan kakak ipar kau, kau pun Ayah bakal modalin. Cuma masalahnya di sini, ini bukan perbuatan kau. Nanti repot lagi masalahnya, kalau pada akhirnya Bunga buka suara kalau Ra yang nyelakain dia." Ayah memandangku sejenak. 


"Tak akan, Bunga tak akan buka suara. Kalau dia buka suara, dia bisa kena hukum balik, Yah. Sebelum CCTV dihapus, aku lihat di situ Bunga yang meluk Han duluan. Bang Chandra punya duplikatnya, Yah. Ayah bisa lihat di situ secara jelas. Pas di perjalanan aku ngobrol sama dia. Pelakunya aku, bukan Ra. Kalau kau buka suara tentang Ra, otomatis kau yang kena balik karena kau kena hukum syariat atau UU yang udah diatur." 


Ternyata Hema memberi ancaman untuk Bunga. 


"Udahlah, tak usah dipikirkan. Nikmati aja masa-masa kalian, Ra. Aku juga nikmati ada di sini kok." Ia mengulas senyum kembali. 


"Motif? Kau kira aku ambil kesempatan dalam kesulitan? Tak ada motif, Ra. Rasanya pengen aku balik ke Bekasi, biar tak malu sama bang Wildan. Tapi aku tak ada yang ngasih makan di sana, kalau di sini kan dikasih makan." Ia menaikturunkan alisnya. 


Benar kan dugaanku? 


"Kau pengen Wildan punya basic? Kau pengen dibantu untuk lunasi hutang kau di Wildan?" Ayah mengulurkan telapak tangannya. 


Hema mengangguk, ia melirik tangan ayah dan meraihnya. Kemudian, langsung menciumnya. 


"Mau langsung pulang, Yah?" tanyanya terdengar polos. 


Sepertinya salah maksud di sini. 


"Heh! Salaman, dodol! Kenapa malah salim?" Protes ayah kemudian. 


Nah kan, benar? Aku jadi tertawa geli di sini. 


"Ohh…." Hema cekikikan. 


"Aku pengen punya basic juga. Kalau Ayah ajarkan ke bang Wildan, nanti juga bang Wildan ajarkan ke aku. Kalau masalah uang, bisa juga aku jual satu-satunya rumah di Bekasi untuk lunasin hutang ke bang Wildan. Tapi kan nanti aku tetap miskin kalau tak punya basic, aku tak punya usaha dan aku tak punya keahlian apapun." 


Menurutku, pemikiran Hema panjang. 


"Oke, sepakat. Ayah ngucapin terimakasih sama kau, semoga kah lekas sembuh di sini." Ayah mengulang mengulurkan tangannya. 


"Sepakat apa, Yah?"


Aku merasa Hema dodol karena banyak minum obat-obatan psikotropika. 


"Abang kau dikasih modal, basic. Kau dikasih satu usaha jadi, dikasih basic dan ilmu untuk menjalankannya biar tetap stabil."


Aku melongo mendengar kesepakatan yang ayah berikan untuk Hema. 


"Heh? Aku hutang aja, nanti sukses aku bayar lah semua hutang-hutang aku. Modal untuk bang Wildan tak usah, dia kan mau jual tanah." Hema banyak menawar, padahal kesempatan emas menurutku. 


"Kau berisik betul!" Ayah menatap sengit pada Hema. 


"Hei, Ayah. Aku bukan kerabat Ayah, aku cuma mantan menantu angkat. Santai sedikit tak apa, Yah. Aku paham, masalah uang, kita tetap orang lain." Ia menggelengkan kepalanya lembut, dengan memperagakan tangannya seperti ombak air. 


Apa lagi maksudnya? 


"Plus, diusahakan hukuman paling lamanya lima tahun dan dendanya Ayah cover. Deal…." Ayah langsung meraih tangan Hema. "Sepakat ya? Ayah sama Ra balik dulu. Cepat pulih, oke?" Ayah mengetuk tangan Hema ke meja, sebelum akhirnya bangkit dari kursi kayu ini. 


Hema seperti kebingungan. Ia menatapku dan ayah bergantian, sampai akhirnya kami pergi dan ia tetap diam saja. 


Ia belum mencerna semuanya. 


...****************...