Hope and Wish

Hope and Wish
H&W32. Niat baik ayah Givan



"Jangan sok paling ngajarin, Van! Kehidupan kau aja gimana?! Kalau istri kau bukan Canda juga, anak-anak kau pasti lebih sial dari kau." Pakwa menunjuk wajah ayah. 


Om Hamdan sampai menurunkan telunjuk pakwa yang mengarah ke wajah ayah mertuanya itu. 


"Nah, tuh paham kalau perempuan itu sangat berpengaruh di kehidupan laki-lakinya. Terus kau punya anak perempuan, kau tak jadikan Canda jadi patokan minimal kah untuk anak perempuan kau?! Aku laki-laki serusak itu, seluruh keluarga pun tau rusaknya aku, tapi bisa ada di titik ini karena punya perempuan kek Canda. Sekali pun Hema rusaknya luar biasa, kalau perempuannya kek Canda mungkin dia bisa berubah. Nah, kau tau anak kau kek gimana, ditambah Hema kek gitu, terus kau cuma kasihan ke Bunga, gitu? Kau tak berpikir, kenapa bisa jadi sedemikian rupa permasalahan ini, gitu? Kenapa? Hema narkotika? Aku pun dulu sama, jenis yang aku pakai lebih bahaya ngerusak malah. Hema judi, aku nongkrong sama teman lihat bola di warung kopi, aku pasti keluarkan uang untuk taruhan. Malah Hema itu tak gila perempuan, tak ngerusak perempuan, tapi dia begitu rusaknya sekarang. Aku bisa berubah sejauh ini, apa iya Hema tak bisa berubah? Pasti bisa! Aku bukan maksud berpikir patriarki, atau menyalahkan pihak perempuan aja. Tapi di kehidupan laki-laki, perempuan itu jantung kehidupannya, Bang. Kau tau sejarah papah sambung aku, kau tau kan cerita ayah kandung aku juga. Mereka berubah jadi lebih baik, setelah dapat perempuan yang bisa bawa mereka jadi lebih baik. Ya papah Adi klik sama mamah Dinda, ayah Hendra klik sama ibu Syura, aku klik sama Canda, sederhananya begitu lah, Bang. Jangan memilih calon istri hanya karena kecantikan, pilihlah yang bisa mendidik anak-anak dengan baik, kelak di masa depan, karena pendidikan pertama anak itu ya dari ibunya. Terlepas dari pernyataan, perempuan baik untuk laki-laki baik, perempuan buruk untuk laki-laki buruk. Karena seburuk-buruknya laki-laki itu, ya pengen dapat istri yang baik. Kenapa bisa disebutkan kek itu? Karena biasanya perempuan dan laki-laki itu punya perasaan karena sering bertemu di satu tempat yang sama, kek contohnya di club malam. Sering tuh dugem bareng, sampai akhirnya menikah. Itu bukan tentang laki-laki buruk dapat perempuan buruk juga, tapi karena mereka berada di satu circle yang sama. Entah laki-laki atau perempuan, aslinya mereka pengen dapat pasangan yang lebih baik dari dia, biar bisa jadi orang tua yang baik untuk anak-anaknya. Terus perempuan yang selalu datang ke kajian, tiba-tiba dapat suami yang suka datang ke kajian agama juga. Itu juga belum tentu karena perempuan baik dapat laki-laki baik juga, karena mereka satu circle dan bisa aja ustadz di kajian tersebut saling mengenalkan mereka dan akhirnya mereka menikah. Jadi, tolong jangan suka tarik-tarik tentang buruknya aku dan keberuntungan anak-anak aku. Sampai detik ini pun, aku masih berusaha jadi panutan yang lebih baik lagi, jadi orang tua yang lebih mampu membimbing lagi. Tugas aku tak akan pernah selesai, anak-anak udah dewasa pun mereka tetap harus digandeng untuk didik cucu-cucu aku itu. Jangan sampai keberuntungan cuma sampai ke tangan anak aku, tapi tak sampai ke cucu-cucu aku. Aku selalu takut, Bang. Aku ikut campur, karena ketakutan aku atas pengalaman hidup aku sendiri. Jangan sampai anak cucu aku dan keturunan aku selanjutnya, ada yang merasakan salah jalan kek mudanya aku. Itu bukan pengalaman yang bisa dijadikan contoh atau pedoman, itu rusak sekali." Ayah menepuk-nepuk dadanya sendiri berulang kali. 


Aku terharu menjadi anak ayah, aku bangga memiliki ayah yang mau berubah lebih baik untuk anak istrinya dan untuk dirinya sendiri. 


"Aku putuskan Zee untuk diasuh Han, biar Bunga punya waktu untuk memperbaiki dan mempersiapkan diri, Bang. Aku sayang sama dia, tapi aku tak mau terlalu manjain dia terus, aku takut dia tetap kek gitu terus, aku takut dia tak bisa berdiri di kakinya sendiri. Mumpung sekarang kau masih hidup, aku masih sehat, ayo kita arahkan dia, sampai dia bisa mampu meraih kebahagiaannya sendiri. Aku tak lagi ngebahas karakter anak, Bang. Tapi aku mengkhawatirkan anak kau itu jadi hama untuk kehidupan orang lain. Bukan aku takut dia merusak rumah tangga Ra dan Han. Jangankan Bunga, Syuhada yang laki-laki aja dibuat berdarah-darah. Aku tak bangga kok dengan tindakan brutal Ra, tapi aku pasti sedih betul kalau anak aku yang berdarah-darah. Selagi dia masih mau jadi anak aku, mau diarahkan dan dinasehati, aku bakal terus kasih yang terbaik untuk dia. Ini bukan untuk anak-anak kandung aku aja, Jasmine sampai ke Bunga pun tetap aku usahakan kehidupan yang terbaiknya, kalau mereka memang mau dinasehati, mau diarahkan dan patuh sama langkah yang aku berikan. Sekarang giliran kau yang jadi orang tua kandungnya, gimana? Apa kau ridho anak kau aku tuntun? Aku tak ngelangkahin kau kok, aku ajak diskusi karena tau kau yang lebih berhak, Bang. Cuma dengan keputusan kau yang selalu berakhir untuk memfasilitasi Bunga dan memanjakan dia lagi tanpa menuntut dan mengarahkan, ya maaf aku tegur karena aku sayang sama dia juga. Dulu selepas Bunga jadi janda untuk pertama kalinya dari pernikahan sirinya, kau arahkan dia pendidikan, tapi kau lepas dan tak kau kontrol. Paham kau lebih repot ke anak-anak spesial kau, tapi bukan berarti anak yang normal harus dikesampingkan terus, sampai akhirnya anak yang normal pun jadi amat spesial dan PR betul sekarang." Ayah sampai terengah-engah karena terlalu banyak bicara. 


Aku sangat mengerti perasaan ayahku sekarang. 


"Ra tinggi gagah, tak aku suruh dia push up tiap hari kok. Key lincah ngejar anaknya, tak aku biasakan dia ikut lomba lari kok. Cani tak betah di pesantren, aku jemput dan aku didik di sini kok. Aku nekannya gimana? Apa aku paksa Cani masuk pesantren yang lain? Tak juga, aku tanya apa yang jadi masalahnya di pesantren dan apa maunya. Key, Ra, Jasmine, Ceysa dan anak mantu yang lain, aku tanya kok mereka condong ke bidang apa, hobi apa dan mau usaha apa? Aku tak maksa Chandra harus buka pertambangan baru, aku tak maksa Zio jaga toko material aku, Bang. Mereka ambil pilihan masing-masing, terus aku arahkan dari minusnya sampai ke nol dan sampai sekarang udah stabil. Kalau memang Bunga kekurangan kasih sayang, ya kasihnya kasih sayang yang jangan berupa usap-usap kepala aja, jangan kasih kemewahan dan kasih suami dadakan lagi, nanti kalau kek kemarin lagi, gimana?" Meskipun ayah emosian, tapi ia masih bisa menyampaikan ini semua dengan baik. 


Tapi herannya aku di sini, kenapa pakwa tidak berpikir sama seperti ayah? Apa memang kadar sayang dari orang tua angkat dan orang tua kandung itu berbeda? 


Aku jadi benar-benar khawatir jika Bunga sampai menjadi hama di rumah tanggaku dan bang Bengkel. 


...****************...