Hope and Wish

Hope and Wish
H&W18. Undur diri



"Ya mungkin memang ibunya Om yang gila, tapi sampai tua memang begitu. Meja digebrak kalau ngobrol di meja makan, wastafel dilempar benda, kalau habis makan tak dicuci. Lebih terurus rasanya setelah punya papah sambung, dia sayangnya tulus dan mungkin kasian sama Om karena punya ibu agak gila. Tapi tak apa, itu ngerubah cara pandang tentang seorang orang tua sambung. Mereka tak seburuk cerita orang-orang di luar sana." Ayah mengukir senyum samar. 


Waktu aku kecil pun sering diajak ke ladang oleh kakek Adi. Aku BAB ya ia ceboki, aku makan ya disuapin, aku rewel ya ditenangkan. 


"Aku tetep pengen sama Ra, Om. Om gak yakin sama aku? Coba kasih tau aku, aku harus gimana, biar Om percaya sama aku." Bang Bengkel menyentuh dadanya sendiri. 


"Yang penting orangnya tak punya masa lalu dengan keluarga kami, udah itu aja. Apa kau bisa?" putus ayah dengan cepat. 


"Kalau kayak gitu, aku mundur aja ya, Om? Aku gak bisa ngerubah masa lalu aku, aku gak bisa ngerubah kejadian yang pernah aku lewati sama Bunga kemarin. Kalau kejadian itu terjadi di masa depan, aku bisa untuk mencegahnya. Tapi masalahnya, kejadian itu udah terjadi, udah terlewat. Tapi, ya udah ya? Aku gak bisa maksa. Mungkin aku balik dulu ke Jakarta kali ya, Om? Biar Ra terbiasa dulu untuk jauh sama aku kembali."


Lihatlah, ayah dengan kejamnya menganggukkan kepalanya. Aku hanya bisa merapatkan mataku dan memandang ke arah lain, aku harus biasa tanpanya mulai hari ini. 


"Pulanglah, ayah kau akad, kau bisa datang lagi. Nanti masalah anak Bunga, biar dibahas nanti. Karena dia sendiri lagi punya masalah besar." 


Tadi ayah membiarkan kami membuat kesepakatan dalam perjanjian. Namun, sekarang malah memutuskan semuanya. 


"Baik, Om. Aku hargai keputusan, Om." Bang Bengkel mencium tangan ayah, kemudian ia beranjak pergi. 


Aku tak bisa memandangnya, karena aku begitu cengeng sekarang. Aku hanya bisa menatap ke arah lain, karena hanya dengan cara seperti itu aku bisa kuat. 


"Logikanya dipakai, Dek. Tadi cari kesepakatan aja, dia nampak kali egoisnya. Segala anak dibawa semua, Galen juga. Ayah tak akan pernah setuju, Dek." Ayah merangkulku dan mengusap-usap punggungku. 


"Mungkin dia cuma takut, Yah." Aku tidak memiliki jawaban juga untuk itu. 


"Sholat, minta petunjuk. Secepat itu dia datang minta kau sama Galen, Ayah tak mampu nilai dalam waktu dekat. Dia nampak buru-buru, kek ada sesuatu yang dia kejar. Syuhada aja ada setengah tahunannya bolak-balik ke sini, dia belum genap seminggu udah cepat minta diberi keputusan. Paham anaknya tak ada yang urus, tapi baby sitter resmi cuma lima jutaan, udah bisa jadi perawat khusus bayinya juga. Dia ke sini itu kek pakai peribahasa, sekali dayung, dua sampai tiga pulau terlampaui. Dia pengen dapat istri, dapat baby sitter, dapat anaknya yang di Bunga juga. Kalau ayahnya dia sih, dari awal memang udah pernah ngomong ada serius sama Jasmine." 


Aku melirik ke arah ayah. "Dia memang mau datang secara alami ke sini, Yah." Aku menghela napasku. 


Sebelumnya, belum pernah aku buka. 


"Maksudnya gimana?" Ayah menyatukan alisnya. 


"Om Hamdan nanya Bunga, dia juga nanya kenapa belum dapat kabar apapun dari sini. Apa ke sana sini aja katanya tuh. Tapi aku bilang, di sini lagi damai, jangan ganggu kedamaian di sini. Misalpun datang, ya dengan cara alami. Terus bang Bengkel inisiatif untuk lamar aku, kan alami dia datang ke sini karena keperluan lain. Biar kedamaian Bunga tak terusik, biar itu jadi urusan setelah dia di sini," ungkapku kemudian. 


"Astaghfirullah….!" Tarikan dan hembusan napas ayah sudah terlihat jelas emosinya.


"Kau dimanfaatkan, Ra!" Ayah seperti ingin mencubitku, tapi tidak sampai dilakukannya. 


"Aku tau, Yah. Aku pun nantinya bakal manfaatin dia." Aku memberanikan diri memandang ayah. 


Matanya hampir copot. 


"Manfaatin gimana? Kita punya banyak orang kepercayaan, tenaga dia tak terlalu dibutuhkan!" Ayah membentakku seketika. 


"Manfaatin jadi suami," jawabku tanpa takut sedikitpun dengan ekspresinya. 


"Ya ampun….!" Ayah geleng-geleng kepala. 


"Ra, dia dapat durian jatuh kalau jadi nikah sama kau. Dia yang beruntung, karena tinggal menikmati apa yang udah kau punya. Kau bilang kau manfaatin dia untuk jadi suami kau? Jangankan dia, Ra. Laki-laki baik pun bakal merasa amat beruntung dan tidak merasa dimanfaatkan untuk jadi suami kau. Kau terlalu berharga untuk dijadikan barter hal yang kek gitu." Napas ayah ngos-ngosan seketika. 


Benarkah? Aku banyak kekurangan, apa benar laki-laki di luar sana merasa beruntung memilikiku? 


"Kau mau tinggal di mana? Mau pegang usaha yang di mana? Udah, Ayah tak mau dengar pembahasan tentang Han lagi." Ayah memijat pelipisnya. 


Semoga, itu hal yang mudah. 


"Janji tak datangin Han lagi?" 


Tanpa ragu, aku langsung mengangkat tanganku ke atas kepala. "Aku janji, Yah. Tapi kalau kejadian kita bertemu, itu bukan rencana aku dan bukan juga aku ingkar janji."


Kepercayaan ayahku di atas segalanya, meski aku sedikit kecewa karena keputusannya. Mungkin, memang aku yang bodoh di sini. 


"Gih, istirahat. Besok berangkat sama kakak ipar kau, kau di sana sama bang Zio juga."


Aku mengangguk mantap. "Aku siap, Yah." Meski nyatanya aku ingin menangis. 


Sudahlah, aku cengeng sekali jika sudah menyangkut perasaan. Paling baik, mungkin sebaiknya aku fokus pada pekerjaanku dulu. 


"Tak usah datang ke pernikahan kak Jasmine, nanti Ayah sampaikan bahwa kau lagi sibuk di sana." 


"Iya, Yah. Aku siap-siap istirahat dulu, biar paginya fit." Aku membereskan laptop, bolpoin dan selembar kertas. 


Jadi, kenangannya hanya ini? Hanya kertas yang baru bertuliskan 'Saya Handaru Albundio, berjanji'. Sudah, hanya seperti itu saja. Tapi, aku memilih untuk menyimpannya. 


Apa seperti ini rasanya patah hati? Bekerja pun, rasanya sulit fokus. Aku tidak pernah merasakan cinta sebelum pernikahan sebelumnya, apa seperti ini rasanya cinta itu?


Rasanya aku ingin memberinya kabar, tapi aku tak mau kehilangan kepercayaan ayah. Rasanya aku ingin memberitahunya bahwa aku ada di Cirebon sekarang, tapi aku tidak mau ia mendatangiku. 


Namun, terpikir lagi. Apa mungkin ia akan menghampiriku kala aku memberikan kabar itu? Apa mungkin ia ingin memperjuangkanku, sedangkan ia sendiri pernah mengatakan bahwa dirinya tidak mau melangsungkan drama untuk hal seperti itu?


Ah, sudahlah. Mumet sekali rasanya, aku harus melepaskan beban pikiranku ke jalanan yang aman. 


"Kakak Ipar, boleh nitip Galen?" Aku berbicara pada istrinya bang Zio. Ia, anaknya dan dua pengasuh ikut kami ke Cirebon. 


Kami menempati rumah nenek Dinda, yang sebelumnya pernah ditempati oleh anak dari kakaknya nenek Dinda. 


"Boleh, Dek. Memang kau mau ke mana? Jangan sendirian, ajak abang kau." Ia perempuan yang lembut seperti biyung. 


Ia juga amat pendiam, sehingga ia tidak pernah mengajak obrolan di awal jika tidak diajak berbicara lebih dulu. 


"Tak usah, Kakak Ipar. Aku paling ngemall kok." Tidak juga, entah aku ingin ke mana. 


"Ya udah, ati-ati ya?" Ia tersenyum padaku. 


Aku mengangguk dan keluar dari rumah. Toh, Galen sudah lelap juga. Aku harus pulang sebelum pukul sebelas malam, karena waktunya Galen meminta susu jam segitu. 


Sirkuit balap mobil di Cirebon. 


Aku menuliskan kata kunci tersebut di Google. Naasnya, tidak ada. Namun, nama bengkel milik bang Bengkel muncul di daftar tempat terdekat yang mendekati pencarian dengan kata kunci tersebut. 


Masa iya aku harus main ke bengkelnya?


...****************...