Hope and Wish

Hope and Wish
H&W74. Adu banteng



Ayah Hamdan muncul. Lalu mobil pink itu baru pergi, setelah ayah Hamdan masuk ke mobil pink tersebut. Tapi aku tetap curiga, aku takut suamiku menawari Bunga yang sudah berjalan di depan mobilnya itu. Apalagi kan mereka searah, nanti malah mengulas kisah lama lagi. 


Aku mencoba tidak berprasangka buruk. Sekalipun menawari, aku harap tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Aku mencoba menyenangkan hatiku sendiri dengan belanjaan kosmetik yang aku tenteng ini, tak lupa dengan koleksi hijab segitiga dari merek favoritku. 


"Dek, singgah dulu beli ubi, singkong di depan toko material ayah kau. Di temennya pakcik kau itu, siapa tuh namanya?" Mama Aca masuk ke dalam mobilku kembali. 


"Lupa lagi aku tuh, yang bapaknya dia suka ngulak jahe di pakcik Gavin tuh ya?" Aku memperhatikan mama Aca yang membenahi posisinya. 


"Iya itu, mampir dulu ke sana"


Ah, kebetulan sekali. Pikirku, sekalian melihat bagaimana ngopi-ngopi ala suamiku. 


Rasanya tidak sabar, aku ingin cepat melihat bahwa ia bisa aku percaya. Masalahnya ini Bunga, dengan Zee yang menjadi alasannya melulu. Aku khawatir suamiku masuk ke dalam tipuan Bunga tanpa ia sadari, lalu ayah tau dan akan lebih marah lagi. 


Sepanjang perjalanan, mama Aca terus bercerita tentang anak-anaknya. Aku tidak mengerti dengan Kal, kenapa ia menolak mentah-mentah sebuah pernikahan terus menerus. Mama Aca berpikir bahwa memang Kal terlalu muda, tapi papa Ghifar yang panik dengan usia Kal. Kata mama Aca, papa Ghifar khawatir bahwa anaknya seperti tante Novi. 


Dari kejauhan, aku melihat suamiku berjalan dengan menggendong Zee ke arah mobil pink yang terparkir di depan toko material ayah. Namun, hatiku memanas melihat Bunga lebih dulu masuk ke dalam mobil pink. Apa mereka berencana ngedate lagi? 


"Mama beli ubi sama singkong dulu ya?" Mama Aca turun dari mobil, setelah mobil putih gagah ini berani. 


Entah mama Aca sadar tidak, jika tadi suamiku masuk ke mobil bersama Bunga. 


Kaca mobil itu putih bening, karena ayah tidak mengizinkan kaca mobil dilapisi kaca film yang amat gelap. Jadi, aku bisa melihat isi dalam mobil tersebut. 


Pasti suamiku tidak tahu mobil papa Ghifar yang aku kendarai ini, pasti Bunga pun tak sadar karena larut dalam kesenangan hatinya mendapatkan momen bersama suamiku lagi. Aku terus memperhatikan, suamiku datar saja saat Bunga bersiap dengan sabuk pengamannya dan Zee tetap pada bang Bengkel. 


Kaca jendela di sisi suamiku pun diturunkan, entah karena alasan apa. Tapi dengan begitu, aku bisa melihat jelas mobil di seberang jalan yang posisinya sedikit lebih maju dariku. Mobil kami berhadap-hadapan, tapi aku di sisi kiri jalan, sedangkan mobil itu di sisi kanan jalan. 


Bunga lebih dulu membenahi hijabnya, bahkan sampai terpampang jelas rambutnya sebelum ia mengenakan kembali. Apa yang ada di pikirannya? Apa ia berpikir suamiku akan tergoda? 


Tiba-tiba, tindakan selanjutnya membuat darahku langsung mendidih. Bukan lagi terbakar cemburu, rasanya aku ingin membakar keduanya saat tiba-tiba Bunga memeluk bang Bengkel dan bersandar mesra pada dada bang Bengkel. Apa saat di rumah sakit kemarin, mereka sering melakukan hal ini? 


Aku sempat melihat Zee memandang ke wajah ibunya cukup lama, sampai akhirnya lampu mobil pink bagian kanan itu aku hantam dengan mobil putih gagah ini. Aku gelap mata, aku tidak bisa melihat milikku dinikmati oleh orang lain.


Suara tubrukan keras terdengar. Aku dengan cepat memundurkan kendaraanku, setelah membuyarkan pelukan mesra itu. Aku sudah tidak memikirkan ganti rugi, aku sudah tidak memikirkan bagaimana rasanya penumpang yang ada di mobil kecil itu.


"Ra…. Ra…." Mama Aca berteriak memanggil namaku berulang kali. 


Aku tuli karena tekadku untuk melenyapkan satu keluarga angan-angan itu. Hanya satu harapanku, aku tidak ingin membunuh anak kecil yang sedang diuji sakit itu. 


Orang-orang dari dalam toko material berhamburan, mereka lekas mendekati mobil pink tersebut. Termasuk, ayah mertuaku juga. 


Bang Bengkel sudah lolos, ia keluar dari mobil tersebut dengan menggendong anak perempuannya itu yang menangis lepas. Ia mudah untuk meloloskan diri, karena sepertinya ia belum sempat untuk memakai sabuk pengaman. Tanpa pikir panjang, aku langsung menginjak pedal gas tanpa kira-kira, meski sebelum menghantam mobil pink itu, aku mendengar ada sesuatu yang menghantam mobil papa Ghifar ini. 


Brakkkkkkk….


Kap mobil pink itu penyok parah, mobil pink itu sekarang tersudutkan ke tembok dengan perempuan yang kesulitan melepaskan sabuk pengamannya. 


Ini bukan inginku, tapi Bunga seolah memaksaku untuk melenyapkan nyawanya. Aku penuh didikan dan akidah agama. Namun, saudaraku ini menghancurkan semua akal sehatku. 


Brakkkkk….


Aku kembali beradu banteng dengan mobil pink yang sudah tak berdaya itu. Raungan Bunga terdengar lepas, karena kap mobil itu dan kap mobil yang aku kendarai saling menempel. 


Aku mulai bermain dengan gigi mobil kembali, bersiap untuk mundur untuk menghantam kembali mobil pinkku yang sudah hancur pada bagian kapnya. 


Brakkkk….


Aku yang tidak memasang sabuk pengaman, langsung terhuyung ke samping kiriku begitu mobil putih ini dihantam sesuatu dari samping. Aku mencoba menstabilkan posisi dudukku, sebelum aku sadar ternyata mobil putih ini ditabrak dari samping pada bagian pintu kedua. Hantamannya tidak begitu terasa pada posisiku, karena bagian belakang dan tengah yang ditabrak oleh seseorang. 


Saat aku memandang ke depan, aku sudah melihat Bunga yang tengah diselamatkan oleh orang-orang. 


Ke mana suami bajingan itu? Aku celingukan, sampai akhirnya pintu mobil ini terbuka dari luar dan tanganku ditarik oleh seseorang. 


"INGAT SUSAHNYA KELUAR DARI PENJARA, RA!!!" Kakak laki-laki menarik paksa diriku dengan wajah murkanya. 


Aku tidak pernah melihat dirinya semurka demikian. 


"Bawa ke klinik, sini." Mama Aca menggeser posisiku, ia mengambil alih mobil suaminya yang sudah rusak di bagian depan. 


"Ya Allah, Yang." Suamiku mendekatiku dengan mengusapi air matanya. 


Yang terluka Bunga, aku yang malah ia dekati. 


"Reset CCTV aja, Bang." Hema membukakan pintu mobil putih ini, ia membantu membawa Bunga masuk ke dalam mobil papa Ghifar. 


"Bawa pergi, Han. Ini mobil aku." Bang Chandra melemparkan kunci mobilnya pada bang Bengkel. 


"Abang, aku mampu untuk tanggung jawab atas perbuatan aku." Aku tetap berdiri, meskipun bang Bengkel berusaha menarik tanganku ke arah mobil bang Chandra yang terparkir melintang. 


Ternyata mobil yang menabrak mobil yang aku kendarai tadi, adalah mobil bang Chandra. Sepertinya, kakak laki-laki itu yang melakukan. 


"Lepas kontrol atau gimana ini, Bang?" Warga mulai berdatangan, membantu kerusuhan ini jadi tambah rumit dengan orang-orang. 


"Iya, tadi karpetnya nyangkut. Aku tak sengaja nabrak mobil pink itu," aku Hema, dengan menunjuk karpet dalam yang mama Aca injak. 


Aku terdiam, aku butuh waktu untuk memahami pengakuan Hema. 


"Ya kali aku bunuh istri sendiri. Aduh, maaf sayang aku tak sengaja nabrak kau." Hema pura-pura sibuk untuk menutupi kaki Bunga, karena rok Bunga tersingkap. 


Hema menabrak Bunga? Kapan? Bukannya aku ya? 


...****************...