
"Ribut gimana ke keluarga almarhumah, Bang?" Kak Jasmine rupanya tertarik mendengar cerita ini.
"Pengen didik anak sendiri, tapi ayahnya Harum gak ridho. Katanya, kamu dikasih kepercayaan untuk bahagiakan Harum aja gak bisa. Malah selama hamil, Harum sakit-sakitan terus. Si Han balikin lagi, tapi dia sampai wafat itu gara-gara pulang ke orang tua. Aku jadi gak enak sendiri sama keluarga Harum, mereka pun ngerasa kehilangan pastinya." Ayah Hamdan memandang istrinya dari jauh, karena kak Jasmine duduk di sofa.
"Kalau belum ada ketegasan bang Bengkel yang belum terlihat, aku tak ridho dia pulang ke rumah. Terserah, Farah mau dia ambil atau mau tetap sama aku. Aku tak akan bawa anak, tapi dia kan kerjaannya alasan anak terus." Misalkan pisah rumah ini memakan waktu lama, aku akan segera memproses pernikahan kita di pengadilan agama.
Untuk apa memiliki hubungan toxic selama itu? Aku berhak bahagia meski sendirian juga. Karena dapat suami yang begini, aku jadi merasa bahwa karakter suami itu tidak akan jauh beda dari laki-laki sebelumnya.
"Kenapa kamu keras banget, Ra? Kamu udah muak punya suami Han?" Ayah Hamdan bertanya lembut.
"Bukan muak sama orangnya, tapi sama sikapnya. Jangankan aku, Ayah pun terlanjur kecewa sama dia. Kenapa dia tak lanjutin hidup sama anak-anaknya aja?! Kenapa harus punya istri, kalau tujuannya punya istri cuma mau dapat anak dan ada yang ngasuh anaknya?!" Aku bingung sendiri, jika tidak ada orang bersangkutan begini. Khawatirnya, malah kurang tersampaikan pada bang Bengkel.
"Udah lah, Yah. Nanti aja bahas ini itunya, nanti aja kalau ada bang Bengkelnya." Aku menarik napasku.
Aku heran, kenapa aku bisa punya suami yang kurang tegas begini?
"Ayah pengen nengahin, Ra. Biar ketemu titik tengahnya, biar Han gak harus keluar dari rumah kamu. Kamu udah gak butuh Han? Kamu udah gak sayang sama dia? Bulan lalu, kalian sepakat untuk hidup bersama. Masa jarak satu bulan, kalian begini?"
Jadi, ayah Hamdan ingin aku menarik ucapanku.
"Intinya gini aja, Yah. Sampaikan ke bang Bengkel, kasih keputusan yang tegas. Ambil Zee, atau agak tega sama Zee. Bukan tak anggap dan tak peduli Zee lagi, tapi cukup kasih jatah dan nengok Zee aja, itu pun dengan catatan harus dengan aku. Kalau dia pengen ngikutin keputusan pakwa dan Bunga, sebulan dia tak ada keputusan, aku lanjut proses cerai aja, Yah." Mungkin aku terlalu gegabah, tapi aku tidak mau permasalahan seperti ini terulang kembali.
"Ra, mentang-mentang udah ngerasain cerai itu mudah, sampai ketagihan." Kak Jasmine seperti memberiku peringatan, tapi dengan nada lembut.
"Udah, udah. Fokus ke kesehatan Ra dulu aja, masalah nanti, diselesaikan nanti. Tinggal sampaikan ke Han kek gitu aja tuh." Ayah berjalan ke arahku.
"Iya, Yah. Ayah nasehatin Ra untuk pikir ulang keputusannya, nikah itu bukan untuk cerai." Kak Jasmine berjalan ke arahku juga.
"Iya, Dek." Ayah tersenyum padaku, kemudian mengusap kepalaku.
Ayah berada di sisi kiri brankarku, sedangkan ayah Hamdan berada di sisi kanan brankarku.
"Pulang yuk, Dek?" ajak ayah Hamdan pada kakakku yang menjadi istrinya itu.
"Iya." Kak Jasmine berdiri di samping suaminya. "Yah, mau dipanggilkan siapa untuk nemenin Ayah di sini?" tanyanya dengan memandang ayah.
"Tak usah, Dek. Udah malam juga, Ayah sama Ra pun mau tidur." Ayah mengusap kepalaku lagi.
Kasih sayangnya terasa sekali dari usapannya di kepalaku.
"Pamit pulang dulu, Yah. Assalamualaikum." Ayah Hamdan membawa kak Jasmine pergi.
"Waalaikumsalam." Aku dan ayah menjawab bersamaan.
"Kuras ASI dulu, Dek. Terus tidur ya tidur, tak usah mikirin ini itu. Pasti ada jalannya, kau tak perlu begadang untuk mikirin ini." Ayah mengambilkan alat otomatis itu.
"Iya, Yah." Aku meraih alat tersebut dan memasang alat tersebut dari selimut yang menutupi tubuhku.
Aku di rumah sakit sekitar empat hari, aku ingin segera sampai rumah, karena ingin mencekik suamiki sendiri. Bayangkan saja, selama aku di sana ia hanya berani datang di luar ruanganku saja. Kemudian, ia mengetuk pintu dan memanggil ayah yang menemaniku untuk memberikan makanan atau mengambil ASIP untuk Galen.
Dengan permasalahan kami yang belum selesai, ditambah lagi ia menghindar. Rasanya aku benar-benar ingin mencekiknya, rasanya aku benar-benar ingin menarik-narik tubuhnya.
"Tinggal di Ayah dulu aja ya, Dek?" Ayah mulai memarkirkan kendaraannya di halaman rumahnya.
"Aku di rumah sendiri aja, Yah. Ayah sering-sering tengokin aku aja." Pikirku dengan mengambil pilihan ini, usaha bang Bengkel untuk berbaikan denganku semakin terlihat.
Karena jika aku di rumah ayah, aku khawatir berbatas oleh privasi ayah dan biyung dan jam tidur mereka.
"Ohh, kangen Han?" Ayah melirikku, setelah ayah selesai parkir dengan posisi mundur.
Memang rasa kangen itu ada, tapi aku terlalu gengsi untuk mengakui. Apalagi, kondisi rumah tangga kami yang sedang tidak baik-baik saja begini.
Aku hanya menggelegang. Aku melihat pergerakanku, kemudian ia keluar dari mobil. Aku pun membuka pintu mobil, meskipun akhirnya ayah bergegas untuk merangkulku.
Aku kuat, meski tubuhku jauh terlihat kurus. Aku seperti kehilangan setengah bobot tubuhku karena menikah dan sakit kemarin. Bukan karena menikahnya, tapi sepertinya aku kaget karena tiba-tiba menjadi istri dan ibu dari dua orang anak. Sedangkan saat dulu aku dan Galen tidak memiliki aturan, sedangkan saat setelah menikah aku harus rutin mandi wajib, harus siap bangun untuk sahur juga.
Yang tadinya ingin puasa Syawal pun, akhirnya tidak tersampaikan karena aku sakit.
"Galen di mana ya, Yah?" Aku dan ayah berjalan ke arah pintu rumahku.
"Tak tau, nanti Ayah cari. Galen biar sama abang kau dulu, kau kuatin fisik kau dulu. Nanti Ayah suruh biyung kirim makanan. HPnya aktifkan, biar apa-apa enak nelpon Ayahnya. Ayah tak akan nelpon duluan, takut ganggu kau tidur." Ayah mengantarku sampai ke kamar.
Ponselku mana ya? Tidak ada di tempat semula.
"HP aku tak ada, Yah. Bantu cariin." Aku panik dengan ponsel gaming dengan harga belasan juta itu.
Bukan sembarang ponsel itu. Dari aplikasi perbankan, web saham, data perusahaan ayah, ada di ponsel itu semua. Aku adalah orang yang hanya memegang satu ponsel, tidak dikhususkan untuk pribadi atau pekerjaan.
"Tadi di mana?" Ayah ikut celingukan.
"Di sini." Aku menepuk nakas ini.
"Apa dibawa Han kah? Nanti Ayah telpon." Ayah memaksaku untuk duduk dahulu di tepian ranjang.
Sudah sekian lama hidup tanpa ponsel, ditambah ponselku tidak ditemukan di rumah. Buat panik saja, aku langsung berkeringat dan merasa sehat untuk mencari keberadaan ponselku.
"HP aku tuh mati, Yah." Rasanya percuma, jika ayah menelponnya.
"Ya hallo, siapa ini?" Ayah berbicara dengan seseorang di ponselnya.
Apa itu pencuri ponselku?
"Ohh, Ra nyari HPnya." Ayah menggaruk alisnya.
"Baik-baik, jangan pancing keributan!" Suara ayah seperti memberikan peringatan.
"Ya." Ayah menurunkan ponselnya.
"HP kau di….
...****************...