Hope and Wish

Hope and Wish
H&W54. Sudah mengabari



"Mulut kau ke mana-mana, Van!" Pakwa menunjuk ayah dari ujung brankarku. 


"Aku tak akan ke mana-mana, aku perhatikan aja cukup." Ayah hendak bangkit, tapi bahunya ditahan oleh Kaf. 


"Karena kau tak paham sikonnya!" Pakwa terlihat menyeramkan dengan mengeratkan giginya seperti itu. 


"Paham, coba aja tanya anak kau. Han tak mungkin tak cerita ke Bunga juga tentang keadaan Ra, tapi kita tak tau kondisinya kalau Bunga tak mau sendirian. Ya udah aja, silahkan. Aku tak ngeributin di mana Han, aku masih wali anakku kok. Kalau Bunga pengertian, tak mungkin Han sampai ada di playground juga. Kan kelihatan dari situ juga, Bang." Ayah memandang lurus ke depan. 


"Yaaa, mungkin itu inisiatif Han sendiri untuk nemenin Bunga sama Zee." Pakwa seperti tidak yakin dengan pernyataannya sendiri. 


"Iya, inisiatif yang baik padahal tau dia ninggalin istri yang lagi sakit." Ayah seperti menggerutu. 


Aku tidak yakin pakwa mendengar ucapan ayah. 


"Kau tinggal telpon Han aja, itu jadi masalah besar betul untuk kau." Pakwa merogoh sesuatu di saku celananya. 


"Tak perlu, Bang. Dari kemarin aku sampai di sini, Ra langsung pasang infus. Aku udah telpon Bunga untuk kasih tau Han kalau istrinya dirawat di klinik, sampai hari ini Han tak datang, berarti kan anak kau tak sampaikan ke Han. Aku sengaja tak nelpon Han langsung, pengen tau pilihan Bunga kalau aku ngabarin kondisi buruk Ra untuk suami Ra. Kan Bunga milih untuk diam, biar Han tetap bisa jagain anak mereka. Paham kan???" Ayah tersenyum kecut di akhir kalimatnya. 


Jadi? Begitu kejadiannya? 


Pakwa menurunkan lagi ponselnya. Pakwa berniat menghubungi seseorang, mungkin anaknya atau bang Bengkel. 


"Yaaa, kan kita tak tau juga kondisi di sana sampai Bunga milih untuk diam." 


Kelihatan kan ya? Iya, kelihatan memang jika mencari alasan untuk pembenaran terus. 


"Iya, keluar rumah sakit dan di playground kan? Keknya tak terlalu buruk keadaan cucu kau, Bang." Ayah berbicara dengan tidak memandang pakwa, ayah seperti menyepelekan kehadiran pakwa. Entah karena, agar ia tidak terpancing emosi. 


"Aku capek kau jadikan anak aku salah terus, Van. Udah, biar sekalian aku aja yang ngasih tau Han."


Benar saja, tak lama kemudian suamiku sudah berada di ruangan ini dengan napas terengah-engah. Kaf sudah pulang, ia membawa beberapa kantong ASIP untuk Galen. Pakwa pun sudah kembali bekerja di ruangannya, jadi hanya ada aku dan ayah di sini. 


Ayah hanya melirik kehadiran bang Bengkel, kemudian ia lanjut menyeka wajahku dengan tisu basah. Aku barusan muntah, aku demam dan aku merasa perutku tidak baik-baik saja. Dari hasil tes aku tidak hamil, tapi benar terkena demam tipes. 


Mungkin, karena efek saat bulan puasa sering jajan di pinggir jalan. Tapi biasanya pun tidak seperti ini, entah karena memang kesehatanku yang tengah buruk saja. 


"Yang…. Abang telponin Adek beberapa kali gak diangkat." Bang Bengkel berada di sisi lain brankarku. 


"HP di rumah." Aku telat menjawab, karena aku pikir ayah akan membantu menjawab. 


Tapi nyatanya, ayah tetap diam saja. 


"Dari kemarin? Serius ini, Yang? Ya Allah, Yang. Abang minta maaf." Romantisnya keluar, meski tengah ada ayah di sini. 


"Salin dulu, Dek." Ayah mengalungkan tanganku ke lehernya, kemudian punggung ayah tegak. Sehingga, aku dalam posisi duduk seketika. 


"Kamu habis muntah, Sayang? Sakit apa?" tanya bang Bengkel, di tengah ayah membantu melepaskan hijab instanku. 


"Biar aku urus, Yah. Ayah duduk aja, istirahat." Bang Bengkel mencoba mengambil alih pekerjaan ayah. 


"Ini anak Ayah. Anak Ayah lagi sakit, Han." 


Sederhana, tapi ucapan ayah sangat menyindir bang Bengkel. 


"Yah, aku minta maaf. Ra kewajiban aku, maaf aku lalai." Wajah bang Bengkel memelas sekali. 


"Ayah wali Ra, kau tenang aja." Ayah tersenyum manis pada bang Bengkel, kemudian senyumnya lenyap seketika ketika melanjutkan pekerjaannya. 


Ayah berpura-pura. Aku yakin, hati ayah rasanya gondok sekali pada menantunya. Pantas saja, sejak kemarin ayah tak membahas bang Bengkel lagi. 


Bang Bengkel seperti kehabisan akal, ia hanya diam dan mencoba membantu ayah. Aku tidak tahu pasti perasaannya, tapi aku melihat raut tidak enak di wajahnya. 


"Kau tak lanjut nyebokin anak kau dan ibunya anak kau? Lanjutin, kasian mereka sebatang kara. Anak kalian tak punya ayah, hanya punya ibu. Ibunya pun butuh ayahnya anaknya kan? Kasian betul ya?" Ayah lanjut menyerang bang Bengkel dengan perkataannya. 


"Ayah ngomong apa? Aku gak tau kabar Ra, aku pikir dia udah sehat. Kalau aku tau, aku pasti udah buru-buru pulang."


"Ya mending tak tau, jadi tak buru-buru. Lagian kau mikir lah, kau ninggalin istri kau dalam keadaan sakit, terus istri kau tak ada kabar. Kau tak berpikir istri kau mati dalam rumah dan tak ada yang tau? Daripada kau mikir, kalau dia sehat tapi tak ada kabar. Lagian, di jaman sekarang tak ada manusia yang tak pegang HP seharian. Tak mungkin juga dia tak angkat telpon dari suaminya, tak balas chat suaminya dalam kondisi dia sehat dan dia megang HP juga. Kalian baik-baik aja kan? Tak lagi berantem kan? Inisiatif kau pun nol betul, Han. Nomor biyung tak aktif, udah Ayah absen ketujuh adik Ayah untuk nanyain keadaan biyung kau. Nyepelehin itu namanya dan kau lupa putri siapa yang kau sepelehin!" Ayah memejamkan matanya, karena ia tengah membuka kemejaku. 


Bang Bengkel membantu ayah.


Aku memakai kemeja, agar mudah untuk dibuka dan dipakai. Apalagi, saat melewati infusanku. 


"Maaf, gak terpikir, Yah." Bang Bengkel langsung memakaikan kemeja lainnya, ketika ayah tengah mengusahakan meloloskan kemeja lamaku dari selang infus. 


"Iya, karena waktu di sana begitu nikmat. Jadi tak mikirin apapun, terhanyut sih." Ayah terkekeh sumbang. 


Aku tidak mengerti juga pikiran bang Bengkel. Kenapa ya suamiku seperti itu? 


"Aku harus gimana, biar Ayah stop ngomongin ini?" 


"Tak ada yang perlu kau lakuin, Ayah udah bisa nilai baik buruknya kau dari hari ini. Memang tak akan pernah tau, kalau masing-masing dari kita tak tau kondisi yang dirasakan masing-masing. Tapi, dengan opsi kau yang seperti ini, Ayah jadi tau tentang celah jelek kau, Han. Kau menantu baru, tapi menantu lama si Fa'ad aja tak pernah memperlakukan anak Ayah kek gini. Jadi, cukup tau aja." Ayah mengedikkan bahunya dengan menyimpan baju kotorku. 


"Ayah hilang kepercayaan ke aku??" Bang Bengkel terdiam sejenak. 


Aku belum rapi berpakaian, jadi aku berinisiatif memakaikan sendiri, sampai bang Bengkel sadar jika aku kesulitan berpakaian sendiri. 


"Kau pikir aja sendiri, Han. Apa perlu mulut Ayah tambahin lagi, karena kau tak ketemu pikir lagi?!" Ayah menenteng kantong plastik berisikan baju kotorku. 


Ayah ingin ke mana? 


...****************...