Hope and Wish

Hope and Wish
H&W22. Kejadian di sana



"Bang, empal gentong itu aja." Aku menunjuk tempat makan yang parkirannya amat penuh. 


Empal Gentong H. Apud. 


Orang Cirebon pasti tahu, karena jelas amat menonjol pengunjung di sini. 


"Aduh, ramai banget. Pengen sambil pacaran, Yang." Ia melewati rumah makan itu begitu saja. 


Ya ampun, pacaran katanya? 


"Di sini berani ngajak pacaran, toel-toel. Di Aceh kek yang iya alim." Aku meliriknya sinis. 


"Ah, masa? Di sana ayahnya merhatiin aja." Ia memalingkan wajahnya ke arah lain. 


"Di sana yuk, Yang? Coffee shop sih, mau gak?" 


Ternyata ada tempat yang menarik perhatiannya.


"Iya, atur aja."


Setelah sampai di sana, ternyata ramai juga. Bahkan, kami tidak mendapatkan tempat duduk. Hingga aku inisiatif untuk makan di pinggir jalan saja, tapi ia menolak. 


Katanya, "aku biasa makan pinggir jalan, ngedate pertama pengen di tempat makan yang agak mewah."


Hmm, ia ingin jalan-jalan kali ini berkesan. 


"Nih, di sini aja." Aku menunjukkan suatu tempat yang aku dapat dari Google. 


Segala Farah menangis, jadi harus menepi karena ayahnya membuatkan susu dulu. Sudah enam bulan, ternyata Farah belum kunjung MPASI juga. 


"PRnya banyak betul untuk mamah barunya. Belum DPT, belum MPASI, nanti ayahnya pun ikut ngem***g juga." Aku berkomentar, setelah akhirnya menemukan tempat makan tujuan kami. 


Sekarang Farah sudah lelap di strollernya. 


"Sayang gak sih, Yang? Kok ngomongnya gitu?" Ia nampak tertunduk sedih. 


"Gimana mau sayang, orang Abang aja ngilang tiga bulan terakhir?" Aku menunggu pesanan kami diantarkan. 


"Kan lagi usaha, Yang. Makanya ngajakin makan di tempat yang nyaman, pengen ngobrolin masalah ini." Ia melirik dan menunduk kembali. 


Ia seperti seorang anak yang tengah dimarahin ibunya. 


"Apa?" Aku bersedekap tangan. 


"Udah ajukan tes DNA, sampel udah diambil, Yang." Ia tersenyum lebar dan meraih tanganku. 


"Jangan buat aku ilfeel loh, jangan pegang-pegang aku terus." Aku pura-pura menangis dan menarik tanganku. 


"Awas ya kalau nanti kamu yang pegang-pegang aku, nanti kamu rasain mulut aku ngomong gitu." Ia menyipitkan matanya. 


"Tak akan!" Lagian, kenapa juga aku harus memeganginya? 


"Lanjut gak nih ceritanya?"


"Oke, oke. Sok lanjut." Aku menerima minuman yang diantarkan lebih dulu. 


"Heran tau, ada Hemanya di situ. Tapi Bunga pas ditanya ayahnya, dia langsung ngaku kalau Zee itu darah daging aku." Matanya membulat, ekspresinya dapat sekali saat mengatakan hal itu. 


"Terus? Terus?" Aku ikut tak sabar menunggunya bercerita secara gamblang. 


"Kena shock apa gimana gitu om Kennya, ditangani langsung sama Kal kalau gak salah. Anak sulungnya om Ghifar tuh, yang perempuan tuh." Ia memandangku yang tengah menyeruput es teh. 


Aku mengarahkan straw ini ke mulutnya. "Iya, Kal. Dia udah pulang?" Kal tengah mengemban pendidikan spesialis kalau tidak salah. 


"Udah, Yang. Terus tuh, jeda sebentar. Om Givan ambil alih obrolan, sementara om Ken lagi dibaringkan dan diberi pertolongan pertama."


Wah, ada ayah nih dalam obrolan itu. Pasti semua orang kena cepak jedernya ayah. 


"Hemanya gimana pas Bunga bilang kalau Zee anak Abang?" Aku penasaran dengan kondisi Hema. 


"Iya sok cerita." Aku sudah celingukan menantikan makan siang. 


"Pas itu, katanya om Ken nyariin Bunga. Jadi Bunga masuk ke kamar, nemuin ayahnya. Di situ Hema masih diam aja, entah masih efek n**meng, atau memang dia juga kaget dengar fakta itu. Om Givan nanya tuh, gimana sih kamu diam aja. Ya kurang lebih kayak gitu lah bahasanya."


Aku mengangguk merespon ceritanya. 


"Kata Hema, ya udah yah kayak gitu aja. Ya kami bingung dong, kayak gitu gimana kan? Aku tanya, gitu gimana, tujuan aku untuk ambil Zee dan aku asuh. Jawaban Hema kelihatan banget gak sayang Zee, tapi gak paham juga gimana arah perasaan dan pikirannya saat itu. Karena ekspresinya bengong gitu loh."


Aduh, terpotong-potong. 


"Cerita lah yang lengkap!" pintaku cepat. 


Ia terkekeh kecil. "Oke, oke. Nah, terus…. Hema jawabnya, ya udah ambil aja. Aku berekspektasi bahwa dia marah dan melarang Zee dibawa, tapi malah sebaliknya. Terus di situ dia nambahin juga, daripada sama ibunya. Kaget kami semua, ayah, om Givan, aku, bang Chandra, cuma bisa lempar pandang aja. Kan kebetulan kami semua lagi ngumpul di rumah bang Chandra, terus kata om Givan sini ngumpul dulu diobrolin."


Ceritanya muter-muter, seperti mengambil point-pointnya saja. Tidak dari awal sampai akhir, tapi modelnya diacak diambil pembahasan yang pentingnya saja. 


"Kau buat aku mikir, Bang." Aku menghela napasku. 


"Ya salam, Ra." Ia mengusap dadanya sendiri. 


"Kok manggil aku Ra?!" 


Cup…. 


Ia mencuri kecupan ringan di pipiku, kemudian ia memalingkan pandangannya begitu saja. 


"Abang!!!" Aku langsung menarik daun telinganya, kemudian memukuli pahanya. 


Ia terkekeh geli. Ia mengambil opsi untuk memelukku, bukan menahan seranganku. 


"Jadi, nanti seumur hidup bakal begini kalau Abangmu ini cerita? Hm? Jadi besok-besok Abangmu ini gak boleh manggil 'Ra', lagi? Ketagihan ya dipanggil 'sayang'?" Wajahnya sangat dekat dengan wajahku. 


Untungnya tempat makan ini sepi. 


"Tau ah! Abang nyebelin betul!" Aku melepaskan pelukannya, kemudian memunggunginya. 


Aku tersipu dengan caranya. 


Bodohnya aku lagi, dicium malah tersipu. Apa awalnya seperti ini para pezina terhanyut rasa? 


Aku harus cepat-cepat sholat taubat. 


"Kapan sih nikahnya? Bilang ayah, siri aja dulu gitu." Aku baru menoleh ke arahnya, setelah merasa jantung ini cukup tenang untuk menghadapinya. 


Ia memamerkan giginya, tapi tidak terdengar suara tawanya. 


"Udah lamaran, Yang." Ia berbicara lirih dan amat jelas. 


"Hah? Serius? Kapan?" Aku sampai menggenggam tangannya dan seperti memijitnya karena sangat sulit mengekspresikan perasaan senangku.


"Udah, serius. Lebaran pulang, setelah lebaran kita fitting baju dan segala macam. Mau langsung acara, kata biyung mau bulan puasa, Ra pasti gak bisa ngurusin sahur."


Ah, biyung. Kan aku jadi malu. 


Tapi benar juga sih. Dulu saat punya suami, bulan puasa pun aku selalu order makanan. Mungkin saat itu aku belum terbiasa mengurus suami, karena sebelum bulan puasa aku menikah. Jadi, merasa kaget. 


"Kok ayah tak ngomong apapun ya?" Aku tidak mengerti, kenapa ayah mengizinkan tanpa meminta persetujuanku. 


"Abang bilang ke om Givan, keputusan Ra tergantung keputusan om. Terus, disetujui pas kemarin abis ajukan tes DNA itu."


Kembali ke permasalahan Bunga. 


"Tunggu dulu, Bang. Kan Bunga udah ngaku kalau Zee memang darah daging Abang, tapi kenapa Zee tak bareng di sini sama Farah?" Aku menunjuk Farah yang masih pulas di stroller tersebut. 


"Jadi begini….


...****************...