Hope and Wish

Hope and Wish
H&W97. Kabar tak terduga



"Ini udah dari sore kemarin begini terus, makanya kami rujuk," ungkap pak polisi yang memencet bel untuk memanggil pihak dokter secara berulang. 


Jadi, kondisinya separah ini? 


"Maksudnya, efek dari kecanduannya itu begini?" Aku mengeratkan pelukanku pada Hema, aku takut ia jatuh dari brankar. 


"Iya, bisa dibilang." Pak polisi membantuku untuk meyangga tubuh kejang Hema. 


Ia tidak kunjung sadar. 


Tak lama kemudian, Hema langsung ditangani. Saat aku menjenguknya kembali, ia malah sudah pulas. 


Alhasil, aku boro-boro mengobrol dengannya. 


"Yah, ayo pulang aja." Aku merasa sia-sia untuk menjenguknya. 


"Gimana ya caranya hukumannya biar bisa lebih ringan? Ayah tak tega lihat dia begini, sedangkan dia pun butuh perawatan intensif." Ayah menatap pintu ruangan Hema yang tertutup rapat. 


"Ayah udah ngomong sama om Vendra?" Karena ialah jembatan paling mutakhir untuk permasalahan hukum. 


"Masalah kita ini pihak yang bersalah." Ayah mulai melangkah dan aku mengikutinya. 


"Apa aku tukar tempat aja sama Hema?" Rasa tidak enak hati itu muncul kembali. 


"Tukar tempat gimana? Ini bukan permainan, Dek."


Benar juga, apalagi ini menyangkut dengan hukum yang berlaku. 


"Ada tugas tak? Kau mau diantar dulu ke mana atau tak?" Ayah menggiringku masuk ke dalam mobil. 


"Tak ada, Yah. Mau cek Galen ke rumah sakit, Yah. Aku kepikiran terus karena dia belum tumbuh gigi sama sekali, padahal mau genap setahun." Aku merilekskan punggungku. 


"Sama siapa? Jangan sama laki-laki baru lagi, jangan mainan laki-laki dulu, Dek." Sebuah peringatan keras dari ayah keluar. 


"Tak, Yah. Sama bang Chandra, dia mau kontrol gizi Barra." Aku pun tidak pernah memikirkan laki-laki lain. 


Aku anteng dengan ponselku, seperti kebiasaanku sebelumnya yang selalu melihat-lihat status orang lain. Kak Jasmine sepertinya sudah bisa menyesuaikan diri dengan dua anak perempuan itu, ia sekarang sering memposting foto dua cucunya dengan senyum sumringah. 


Namun, tiba-tiba sebuah chat masuk darinya. 


[Dek, bisa nyuruh kakak ipar sama bang Zio ke sini tak? Kakak udah WA, belum ada respon. Tolong sampaikan ya?] 


Kak Jasmine tahu saja jika aku tengah bermain ponsel. 


[Ada apa memang, Kak?] balasku cepat. 


"Kak Jasmine WA, Yah. Suruh bang Zio sama kakak ipar ke sana." Aku langsung melapor pada penguasa keputusan. 


Aku tidak mendengar lanjutan ucapan ayah, karena aku shock mendapat balasan dari kak Jasmine. 


[Usaha Han kena musibah, ayahnya mau langsung terbang ke Jakarta. Kakak kerepotan urus cucu-cucunya.]


"Yah, Yah…. Tengok ini." Cepat-cepat aku menunjukkan isi pesan chattingku pada ayah. 


"Apa, Dek? Bilang aja, Ayah lagi fokus nyetir." Pandangan ayah terbagi. 


"Usaha Han kena musibah katanya, Yah," ujarku cepat. 


"Musibah apa? Bukannya lagi direhab?" Ayah menoleh sekilas, pandangannya kembali ke depan. 


"Aku tanyakan dulu." Rasa kaget itu ada, rasa khawatir itu ada. 


Aku takut ayahnya Farah tidak baik-baik saja. 


[Musibah apa, Kak? Gimana keadaan di Jakarta?] tanyaku dalam balasan pesan untuk kak Jasmine. 


Beberapa foto masuk dari kak Jasmine. 


[Bengkel yang lagi direhab, kebakaran. Han bantu nyelamatin stok barang, tak taunya dia kena kobaran api. Ini karyawannya yang WA ayahnya, nomor Hannya tak aktif.] 


Foto yang dikirimkan kak Jasmine tersebut adalah foto usaha yang sepertinya di cabang Kebayoran Baru terbakar habis, kemudian foto lainnya adalah Han yang dalam perawatan rumah sakit dan terpasang alat-alat medis. Bagian yang tidak tertutupi selimut itu terlihat, seperti luka melepuh berwarna gelap. 


Ya Allah, Handaru. 


Ia tidak peduli dengan perceraian kami dan tidak mengurusku sama sekali, ia kini malah mendapat kemalangan. 


"Yah…." Aku menunjukkan layar ponselku pada ayah. 


Ayah melihat sekilas, kemudian menepikan kendaraannya. Lalu, ayah langsung mengambil alih ponselku. Selepas itu, ayah mengembalikan ponselku dan ia turun dari mobil dan sibuk dengan ponselnya. 


Ayah menelpon beberapa orang, terbukti dari ia mengangkat dan menurunkan ponselnya. Ia pun berjalan mondar-mandir seperti dalam kebingungan. 


Apa yang harus aku lakukan? Kami sudah resmi bercerai dan kami sudah memiliki status baru, tapi rasa khawatirku tidak bisa ditutupi karena ia bukanlah orang yang sudah pergi lama seperti ayahnya Galen. 


Dikatakan tidak peduli, rasanya aku ikut panik melihat kondisinya. Dikatakan aku membencinya, rasanya aku takut kondisinya memburuk. 


Apa ia mendapat kemalangan seperti ini, karena ia tak kunjung memulangkanku pada ayah? 


"Yah, kita harus gimana?" Aku turun dari mobil dan menghampiri ayah. 


...****************...