Hope and Wish

Hope and Wish
H&W65. Niat mengajak



"Abang tak pulang ke ayah Hamdan?" Aku masih berdiri di depan pintu rumah yang tertutup rapat. 


Aku takut melangkah lebih jauh, kemudian tubuh lemahku dimakan olehnya. 


"Sini dulu, Sayang." Bang Bengkel tidak meladeni pertanyaanku. Ia malah menarik tanganku, sampai aku duduk di sofa ruang tamu. 


"Kenapa?" Aku gugup, perasaanku tak menentu di sini. 


"Sekali lagi Abang minta maaf ya? Kita baikan ya?" Ia berlutut di depanku. 


Ia menengadahkan tanganku, kemudian mencium telapak tanganku. Ia membalik telapak tanganku, kemudian mencium kedua punggung tanganku. 


"Abang gak sengaja nyakitin Adek, Abang minta maaf ya?" Ia membawa telapak tanganku untuk mengusap pipinya. 


"Udah, Bang. Bangun, tak perlu sampai kek gini." Aku mencoba membantunya untuk bangun. 


"Dimaafin gak?" Ia mendongak memandang wajahku. 


"Iya, dimaafin. Jangan diulangi lagi, lebih peka lagi, jaga sikap, jaga kepercayaan ayah, jaga kepercayaan aku." Aku merentangkan tanganku, kemudian kami berpelukan. 


"Sekali lagi Abang minta maaf, Sayang." Ia memelukku erat. 


Aku mengusap-usap punggungnya. Hatiku menghangat, aku merasa perasaanku terbalaskan. 


"Aku juga minta maaf, Bang." Aku merasa mendadak cengeng. 


"Abang selalu maafin Adek, tapi Adek jaga ucapan Adek. Abang takut sakit hati sama ucapan Adek." Ia melepaskan pelukannya, aku mendapati matanya basah. 


Aku mengangguk, kemudian aku menekan ujung kelopak matanya. 


"Sholat jamaah yuk? Udah dekat waktu Isya tuh." Bang Bengkel menunjuk jam dinding. "Lanjut ngaji sambil nunggu waktu Isya, Yang." Ia bangkit dari posisinya. 


"Yuk?" Aku berdiri dan menggandeng lengannya. 


Kenapa rumah tangga itu berliku begini sih? Kenapa tidak bahagia saja? Kenapa harus ada konflik dan harus ada respon pasangan yang kurang menyenangkan?


Selepas sholat Isya, aku kembali ke ruang tamu untuk membenahi laptopku. Tak lupa juga, aku mengantongi ponsel suamiku yang tergeletak. Ponselku sudah di kembalikan, ponsel hiu hitam itu ada di atas nakas kembali. 


"Sayang, sini," seru suamiku, yang entah dari mana asalnya. 


"Pengen nonton, Bang." Aku membawa ponselnya dan laptopku ke arah kamar. 


Ternyata, ia sedang ganti baju.


Ia mengenakan celana training berwarna putih, dengan tanpa menggunakan kaos. Kaosnya malah tersampir di bahunya, ia tengah memakai parfum di kulit tubuhnya. 


"Mau ke mana?" Aku duduk di tepian ranjang, setelah menaruh ponselnya di dekat ponselku. 


"Mau di sini, sama Adek." Ia naik ke atas ranjang. 


"Mau apa?" Aku mengoperasikan laptopku. 


"Mau peluk." Ia sudah merangkulku. 


Feelingku, aku akan dimakan olehnya. 


Aku menoleh ke arahnya, ia malah tersenyum manis sampai lesung pipinya terlihat semua. 


"Farah di mana?" Aku teringat anak perempuan berambut jabrik itu. 


"Di ayah, Yang." Bang Bengkel merapatkan tubuhnya padaku. 


"Sana jemput, Bang. Aku udah pulang juga." Aku ingin Farah dijadikan alasan, agar ayahnya tidak menyerangku.


Aku takut ia menggarapku habis-habisan, memang enak, memang ia tidak egois. Hanya saja, badanku sampai lemas esok harinya. Sampai tidak semangat untuk beraktivitas, hanya inginnya rebahan saja. Soalnya pernah kejadian ia menggarapku habis-habisan, itu karena aku haid selama kurang lebih delapan hari. Jadi mau tidak mau, ia yang masih berstatus pengantin baru itu harus libur dulu. 


"Kangen Farah? Mau ditelpon aja?" 


Aku rasa ia memang inginnya Farah menginap. 


"Ya dijemput aja sekalian gitu." Aku menggeaer letak kepalaku. 


"Besok ya? Mau makan apa? Apa mau order makanan?"


Ini jurusnya. Ia selalu menyenangkan perutku dulu, ia selalu membuat moodku bagus dulu. Kemudian, barulah ia menuntaskan kebutuhannya. 


"Udah, nyuapin Galen tuh di piring makan Abang. Ditawarin makan sama kak Nahda, ya udah sekalian nyuapin Galen. Gak pedas juga kok lauknya."


Nah itulah kerennya Galen, ia doyan lauk pauk yang dimasak di rumah. Saat sebulan terakhir ia aku urus pun, ia tidak rewel makan, jadi aku tidak perlu membuatkan makanan khusus untuknya. 


"Makan apa tadi?" Aku sudah fokus menonton film di laptopku. 


"Rendang, sama tumis daun pepaya. Dulu tuh Abang sempat berbinar-binar lihat kak Nahda." Ia terkekeh kecil. 


Aku langsung menoleh cepat mendengar pengakuannya itu. Apa katanya? Ia suka kak Nahda? 


"Kapan?" Aku khawatir ia punya kisah juga dengan kak Nahda. 


"Pas baru pertama kali ke sini, pas Abang masih pakai kursi roda. Pas dia habis lahiran itu loh, Dek. Ibu-ibu baru empat puluh harian, badannya mangkal banget." Ia tertawa renyah seorang diri saja. 


Jelas aku langsung memelototinya. Benar-benar ia ini mata keranjang. 


"Kata Harum, suaminya ganteng, kamu gak ada setengahnya katanya." Ia mereda tawanya. 


Eh, iya. Saat itu ia sudah beristrikan kak Harum. 


"Reflek aja apa gimana?" Aku mulai memahami semua karakternya, ia suka berbagi cerita apapun padaku meski cerita itu membuatku kaget. 


"Terkesima gitu kayaknya, Yang. Lihat biyung, ini istri keberapanya ayah Givan, gitu pikiran Abang. Biyung kecil, awet muda. Heran lagi Abang tuh, pas ayah Givan dipegangin biyung aja, sambil ngerengek 'mas, mas, mau ke mana'." Bang Bengkel menirukan suara lembut biyung. "Sekarang udah biasa lihat mereka cium-ciuman, pegangan, pijat-pijatan." Wajahnya mendekati wajahku. 


Ingin menghindar, tapi leher belakangku ditahan oleh tangannya yang merangkulku. Ingin menolak, aku khawatir jadi dosa. 


"Fit belum, Yang?" Ia bertanya, setelah membasahi bibirku. 


"Baru lepas infusan jam setengah empat, Bang." Aku menunjukkan punggung tangan kiriku. "Dikira-kira aja," lanjutku kemudian. 


"Masih lemes? Atau gak mood?" 


Aku paham, ia ingin menumpahkan rindunya. 


"Ya masih lemes. Mood sih mood aja, kan pasti Abang panasin dulu." Aku tidak ingin menolaknya, tapi aku belum ingin melakukannya. 


Pikiranku belum ada ke arah sana. 


"Eummm, bantuin Abang aja deh. Kasian, belum pulih tenaganya." Ia tersenyum kembali. "Boleh laptopnya di taruh di nakas? Sambil Adek nonton film, gak apa. Abang pengen peluk Adek sambil rebahan." 


Intinya, laki-laki tuh harus. Kasihan pada istri, tapi tetap ingin tersalurkan. 


Aku menuruti keinginannya. Kemudian, ia menarik selimut dan menutupi setengah badan kami dengan selimut. 


"Galen, Ayah nyicip luarnya aja." 


Ia lebih dari pemilik ASInya, ia malah membukanya sendiri. Galen kan mana pernah membuka sendiri. 


"Jangan pakai gigi." Aku meringis, setelah ia berkuasa atas pabrik ASInya Galen. 


"Enak ya?" Ia tersenyum jahil. 


"Kan jadinya keras." Aku melirik ujung dadaku. 


"Iya, pengen aslinya. Aduh…. Enak banget." Ia setengah bangkit dari posisinya, siku tangannya dijadikan penopang tubuhnya. 


"Mana ya pelumas?" Tangannya mencari sesuatu di sela kasur dekat kepala ranjang. 


"Mau ngapain sih?" Aku bingung sendiri dengan kegiatannya. 


"Mau…. Ada deh…." Ia mengedipkan satu matanya, kemudian menurunkan sedikit celananya. 


"Heh, heh…. Malu tak tuh?!" Ia menunjukkan miliknya. 


"Biarin, biar tergoda." Ia terkekeh kecil, kemudian mendekati wajahku. 


"Ya gini sih aku yang kepanasan sendiri. Bisanya ngurut sendiri, tapi ciumin aja aku?" Ia kasihan fisikku, tapi ia tidak kasihan batinku. 


"Jadi gimana? Mau?" Ia tersenyum penuh kemenangan. 


Memang niatnya seperti itu, dasar Handaru! 


...****************...