Hope and Wish

Hope and Wish
H&W24. Di kamar bengkel



"Gak harus bertetangga kok, kita bisa pergi setelah bawa Zee. Tapi balik lagi, kuasa terbesar ada di tangan om Givan." Bang Bengkel mulai mengunyah makanannya. 


"Kalau aja Bunga betah di rumah ayahnya, tak akan tuh dia tinggal di lingkungan kami. Ayah cuma tak enakan aja, Bunga terkesan minta pertolongan untuk diberi hunian sementara. Ngapain kan gitu ngadu ke ayah, kalau dia tak betah di rumah orang tuanya? Kan jadi ayah tak enak sendiri, mana rumah ada yang kosong. Kalau ngitung anak, ayah tuh kekurangan hunian untuk anak-anaknya." Aku sangat mengerti perasaan tidak enakan ayah saat Bunga bercerita hal itu. 


"Katanya mau ditaruh di pesantren, Yang." Giliran dirinya yang lahap makan. 


"Ya kan mungkin itu nanti setelah Zee udah Abang bawa." Aku melirik makanan dan mencicipi sepotong daging dari piringnya. 


Enak, tapi sayang yang punya piringnya melirik. 


"Caera," gumamnya lirih. 


"Pelit kau!" Aku menarik otot hidungku, aku memasang muka jelek. 


"Adek ambil dagingnya, dagingnya tiga potong aja." Ia tertawa menunjuk isi piringnya. 


Iya sih. 


Aku jadi ikut tertawa, karena daging yang menjadi lauknya tidak sebanding dengan nasinya. Lucu juga penyajian seperti ini, tapi jelas jadinya kekurangan lauk. 


"Bener tadi di empal gentong aja ya?" Ia berbisik-bisik. 


"Lauknya rasa kecap semua." Aku menambahkan pendapatku tentang resto ini. 


"Iya," sahutnya dengan menahan tawa. 


Kalian seperti ini tidak, jika makan di tempat makan dan rasanya jauh dari yang diharapkan? Aku dan bang Bengkel sefrekuensi, karena terus berkomentar dalam suara rendah.


Kami tengah berjalan-jalan di mall, mencari sesuatu yang menarik mata. Farah masih pulas di stroller, ayahnya dengan setia mendorong perlahan. 


"Bang, beli MPASI instan untuk Farah aja yuk?" Aku bukan orang yang menyukai fashion terkini, aku tetap pede saja dengan penampilanku yang katanya seperti bu Hj. 


Tapi sejauh ini bang Bengkel tidak pernah komplain tentang style pakaianku. Aku tetap terlihat mahal, meski memakai pakaian murah. Begitu kata ayah, jadi aku pede saja. 


"Caranya gimana sih, Yang?" Ia masih celingukan mencari sesuatu. 


"Ya kek nyeduh kopi sachetan aja, tapi airnya jangan banyak-banyak. Tanggal berapa Farah lahir?" Setidaknya, harus pas enam bulan. 


"Tanggal lima, Yang. Bulan ini nih genap enam bulan."


Waduh, sudah kelewat lima hari. 


"Ya udah MPASI aja tak apa, nanti aku contohin. Beli alat makannya juga, Bang." Aku menemukan counter perlengkapan bayi di mall ini. 


Aku memilihkan barang yang dibutuhkan Farah, sayangnya memang tidak ada bubur bayi instan di sini. Bubur bayi sih, di minimarket juga dapat. Mungkin nanti sekalian pulang saja. 


Setelah bang Bengkel membayar, aku langsung mengajakku pulang. Aslinya, aku bukan orang yang suka di tempat keramaian seperti ini. Aku lebih suka di jalanan, atau anteng di rumah. 


"Ke bengkel Abang, Yang. Ajarin dulu buat bubur bayinya."


Kasihan juga Farah, jika menjadi malpraktik ayahnya dalam membuat bubur bayi. Aku langsung mengiyakan, kemudian naik ke lantai dua bengkel usahanya itu. 


Cukup nyaman, ada kamar tidur dan sofa. Kamar mandi di kamar ini pun ada, sayangnya memang ruangan bersebelahan dengan kantor bengkel ini. 


"Air panas, Bang." Aku membiarkannya bersenda gurau di ranjang dengan anaknya. 


"Dispenser aktif, Yang." Terdengar juga gelak tawa Farah. 


Anak perempuan itu rupanya sangat dekat dengan ayahnya. 


Aku mengambilkan air panas dan air dengan suhu ruangan. Kemudian, aku juga mengambil mangkuk yang sudah dicuci. 


"Bang, perhatiin. Ini air panas, ini air dingin, ini bubur bayinya satu sendok makan aja dulu." Aku membawanya ke tepi ranjang. 


"Oke, siap. Diperhatikan nih." Ia langsung mengalihkan perhatiannya. 


Jika Galen awal saja menggunakan aturan, setelah satu bulan kemudian ia langsung makan bebas di waktu apa saja. Bahkan, aku sudah menyambungnya dengan buah yang digiling halus. 


Terakhir seminggu yang lalu, ia sudah makan nasi. Tapi ia bisa kok mengunyah, biarpun belum ada giginya. 


"Oke, Yang. Terus gimana lagi?" Ia mengamatiku dengan seksama. 


"Aduk, sampai adonan selembut ini. Jangan terlalu encer, jangan terlalu k****." Karena kemarin ia hanya minum susu formula, pasti pencernaannya kaget jika langsung mengolah tekstur yang terlalu k*****. 


"Oke, Sayang. Sini, coba disuapkan. Kamu yang gendong dia, Abang suapin." 


Aku langsung bertukar tugas, aku memberikan mangkuk itu padanya. Kemudian, aku langsung mengangkat tubuh Farah. 


Rambutnya sudah mulai rata, tapi lebih panjang rambut yang di depan. Panjangnya masih tidak rata. 


Sesuai gambaran saat seperti pada Galen, Farah juga menyemburkan makanan yang baru masuk berbarengan do'a yang dilafalkan ayahnya tadi. Bang Bengkel tertawa geli, ia sudah seperti melihat kartun yang lucu. 


Sampai akhirnya makanannya habis, Farah langsung bersendawa dan merengek ingin pindah pada pelukan ayahnya. Farah yang kenyang dengan sosok ayahnya, ia digendong dan ditepuk pelan punggungnya sambil dinyanyikan lagu islami oleh ayahnya. 


Farah seperti tengah coba ditidurkan. 


Eh, ini kan di kamar. Ada ranjang, sepi, suasana mendukung karena mendung. Kalau Farah tidur, pasti giliran aku yang dikerjai oleh bang Bengkel. 


"Bang, aku pulang ya? Kerjaan aku belum beres." Hanya alasan, padahal sebenarnya aku bisa saja mengerjakan pekerjaanku malam nanti. 


Ia memutar punggungnya. "Hubungi Abang, kirim alamat tempat tinggal kamu." Ia berjalan ke arahku. 


"Boleh, ya?" Aku kira, aku akan dilarang untuk pulang. 


"Boleh, paham kok. Apa mau diantar?"


Ah, pikirku kasihan Farah ingin terlelap. Masa mau diajak perjalanan lagi? 


"Tak usah, Bang. Aku naik taksi online aja." Aku bingung, karena ia merentangkan tangannya ke arahku. 


"Mau apa?" Aku mengerutkan dahiku. 


"Peluk sedikit, kenapa?" Ia sudah melakukannya. 


Farah menoleh ke belakang, ia melihat ke arahku. 


"Tak boleh loh, Bang." Aku merasa wajahnya mendekati pelipisku. 


"Gak ada om Givan ini, boleh aja lah." Ia merengkuh pinggangku dan mencium pelipisku. 


Aku sudah diam saja atas perlakuannya. Namun, otakku masih berjalan. Aku masih bertanya-tanya, mungkin begini kali ya awal mulai terjadinya perzinahan. 


Adanya kesempatan, adanya perasaan, adanya perlakuan laki-lakinya. 


"Kenapa? Lagi?" Ia memandang wajahku, setelah melepaskan tubuhku. 


"Aduh, udah mumet aku. Baiknya Abang telpon ayah deh, bilang aja tak sengaja ketemu aku gitu. Ra minta cepat akadnya, tak usah tunggu habis lebaran gitu." Aku merengkuh lengannya. 


Ingin pulang, tapi malah betah karena pelukan sekilas tadi. Padahal tadi hanya peluk pamitan saja, tidak lama dan tidak begitu berarti. Tapi aku tersentuh, pikiranku terlanjur kotor, tubuhku terlanjur nyaman. 


"Masa Abang yang bilang? Coba kamu bilang sendiri ke om Givan, berani gak?"


Nah itulah, aku takut. Aku khawatir ayah berpikir jauh ke mana-mana, aku takut kena putusan ayah lagi. 


"Cium, Yang. Ngadep sini." Ia berbisik ke telingaku. 


Aku paling tidak bisa ada orang yang berbicara langsung ke telingaku sampai menempel begini, otakku langsung error dan imanku langsung melemah. 


...****************...