
"Ada apa? Gimana?" tanya biyung kemudian.
"BIYUNG…." Tangis kak Jasmine lebih kencang.
"Kak, Jema takut denger tangisan Kakak." Aku masih mencoba memenangkan keponakan perempuanku ini yang bernama Jema Eshal.
"Biyung…. Zee wafat. Epilepsinya kambuh pas main di waterboom." Kak Jasmine menangis tergugu.
Innalillahi.
"Hah? Innalillahi wainnalillahi rojiun. Ya Allah, Zee. Kasian betul kau, Nak." Biyung ikut menangis gemetar sembari memeluk kak Jasmine.
"Ini siapa yang tak punya otak?! Anak punya epilepsi, dititipin sama aku dijaga-jaga tiap waktu, tak pernah dibawa ke tempat bermain air begitu. Sekalinya pergi sama orang tua kandungnya, malah begitu nasibnya. Aku nyesel ngizinin mereka."
Mendengar penyesalan kak Jasmine, hatiku merasa lemah sendiri. Aku keluar dari kamar kak Jasmine, memilih duduk di sofa ruang tamu dengan menepuk-nepuk paha Jema. Namun, tidak terasa air mataku menetes dengan sendirinya. Tangisan ini tidak kukehendaki, tapi aku ikut menyesal sempat diam saja saat dua orang gadis kecil itu dipaksa pergi ikut dengan kedua orang tuanya.
Jika tahu akan begini akhirnya, mungkin aku akan menunda acara mengantukku dan mengajak mereka bermain bersama Galen dan Barra saja di rumahku dengan aku yang rela menjaga. Agar tidak sampai terjadi hal yang tidak diinginkan ini, karena aku merasa kak Jasmine sangat terpukul sampai menangis sejadi-jadinya begini.
Ya Allah, pasangan itu di mana pikirannya? Aku memahami penyesalan kak Jasmine, karena ia sampai berusaha sebaik mungkin mengurus dan menjaga Zee. Ia rela bolak-balik rumah sakit untuk cek up keadaan Zee, meski keadaannya tengah hamil. Untungnya kandungan kak Jasmine kuat, meski di trimester pertama ia mabuk kepayang.
"Ra, telpon ayah, Ra," pinta biyung yang mampu kudengar di sela tangis mereka.
"Iya, Biyung." Aku melangkah pulang dulu, karena aku tidak membawa ponsel.
Aku membawa Jema yang mulai tenang, meski air matanya belum surut. Ia pasti tidak pernah mendengar tangis ibunya yang seperti ini, aku pun sama baru mendengar tangis kak Jasmine sampai histeris seperti ini.
"Hallo, Ayah. Lagi di mana?" Aku berjalan keluar rumah kembali, setelah mendapatkan ponselku.
"Nengok Hema, Dek. Ayah seneng, denger hukumannya dikurangin tiga bulan." Tawa gembira ayah tersampaikan dari suaranya.
Alhamdulillah, jika begitu.
Eh, aku lupa lagi untuk langsung memberitahu ayah tentang keadaan Zee.
"Yah, Han ke sini sama Bunga tadi tuh. Mereka jemput Farah dan Zee, pamit ke bang Chandra mau ke rumah sakit. Mungkin habis pulang dari rumah sakit, mereka langsung ke waterboom. Terus, tiba-tiba epilepsi Zee kambuh. Jadi barusan kak Jasmine dapat kabar buruk, kalau Zee wafat."
Tut….
Panggilan telepon diputuskan dari sana. Aku menerka-nerka apa yang terjadi di tempat ayah, kenapa ayah tidak menyahuti apapun? Kenapa ayah langsung memutus panggilan teleponnya?
Ada kabar baik dari Hema, tapi ternyata berbarengan dengan kabar buruk dari Zee.
"Makcik, mau ke mana?" Barra yang cerewet muncul dari pintu rumah ayah.
"Mau ke rumah makcik Jasmine. Masuk kau sana, nanti Galen ikut keluar."
Mereka pasti ada yang menjaga, tapi sebaiknya mereka di dalam rumah saja. Karena keadaannya tengah sangat membingungkan, kami selalu tidak siap dengan berita duka.
"Makcik mau keluyuran ya???" Ia menunjukku dengan telunjuk kecilnya, pandainya anak seusianya menyudutkan orang dewasa.
"Mana ada!" Aku memasang wajah seram.
Barra tergeletak, kemudian ia menutup kembali pintu rumah ayah itu. Aku segera kembali ke rumah kak Jasmine, agar kehadiranku bisa membantu mereka.
Namun, tak lama kemudian kami bertiga dikagetkan dengan Han yang masuk ke rumah kak Jasmine dengan menggendong Zee.
"Ibu…." Wajah Han terlihat payah dan amat merah.
"TOLOL!" maki kak Jasmine lepas, dengan mendekati anak yang lunglai di pelukan Han.
"Mana ayah, mana bang Chandra, Ra?!" Biyung menggoyangkan lenganku.
"Udah aku kabarin, Biyung." Tadi aku sudah memenuhi perintah biyung untuk menghubungi bang Chandra juga.
"Hubungi pakcik-pakcik kau, Ra. Pakwa Ken juga dihubungi." Suara biyung terdengar panik.
Ya karena di rumah ini belum ada persiapan untuk mengurus jenazah, sedangkan jenazah Zee kecil sudah datang. Anak itu seperti tidur, tapi nyatanya kondisinya amatlah pucat.
"Maafin aku, Kak." Pengasuh Zee bersimpuh di dekat kak Jasmine.
Kak Jasmine langsung memelototi pengasuh Zee. "Kau ke mana aja?!" Suara kak Jasmine bercampur geraman.
"Aku bantuin kak Bunga ke kamar mandi. Kata bang Han, Farah sama Zee biar sama dia aja." Pengasuh Zee terlihat amat merasa bersalah.
"Ra, sana samperin aja apa gimana? Tak ada orang-orang begini, Biyung bingung." Biyung menggoyangkan lenganku kuat sekali.
Biyung seperti lupa aku menggendong Jema.
"Iya, iya, Biyung. Ini aku jalan." Aku bergegas keluar.
Dari satu rumah, berpindah ke rumah lain. Dari kepanikan satu, berubah menjadi kehebohan. Bukan hanya ramai, pembagian BLT kalah ramainya dari kondisi halaman rumah kak Jasmine yang mendadak penuh dengan saudara yang mengurus jenazah cucunya.
"Ayah Hamdan kapan datang katanya, Biyung?" Aku masih menggendong-gendong Jema saja.
Anak ini pasti ingin menyusu.
"Udah lagi di pesawat katanya." Biyung baru datang membeli perlengkapan jenazah bersama mama Aca.
Ayah ke mana ya? Sejak tadi, aku tidak melihatnya.
"Dek, buatkan susu aja untuk Jema. Jangan dibawa-bawa ke sini terus, sana ke rumah Abang aja. Galen sama Barra pun udah di sana semua. Tak usah di sini kaunya, tak ada fungsinya. Kau cuma kepo aja kan? Mondar-mandir tak jelas kau." Bang Chandra meraup wajahku dengan tangannya yang basah.
Dibilang aku tak ada fungsinya katanya.
"Iya, iya." Aku tidak mau mengajak kakakku ribut, karena kondisinya itu tengah repot.
Kebetulan sekali, aku berpapasan dengan mobil ayah ketika berjalan ke rumah bang Chandra.
"Ayah dari mana? Lama betul." Aku memperhatikan jendela mobil ayah yang semakin turun.
"Langsung urus pemakamannya, jadi tinggal langsung dibawa ke sana aja. Pakwa ke sini belum? Dia yang harus gendong soalnya." Ayah menurunkan kacamata hitamnya.
Jema bersuara, ia pasti kenal dengan panutanku.
"Tadi lihat, tak ada pakwa tak ada Bunga. Padahal pas Han pergi itu sama Bunga," jawabku kemudian.
"Ngungsi dulu ya? Ibu lagi repot. Jangan rewel ya, main sama abang He Five." Ayah mencolek pipi gembul Jema.
Sejak tadi tidak melihat Bunga, ke mana ya dirinya? Apa ia drop melihat keadaan anaknya? Aku yakin sih mereka tidak mau anaknya seperti itu, tapi aku tidak mengerti juga apa yang ada di pikiran mereka.
"Kak Jasmine shock betul, Yah. Dia terpukul betul." Karena sampai aku pergi, kak Jasmine masih menangis meraung.
"Ya pastilah, dia yang nimang dia yang nyebokin ibaratnya. Ayah ke sana dulu, mau ngurusin dulu terus nanya ke Hannya." Ayah menutup kembali jendela mobilnya, kemudian mobilnya berjalan perlahan.
Han memang perlu ditanya. Sampai KTPku janda kembali, ia tidak ada suaranya untuk mengembalikanku ke ayah kembali.
...****************...