Hope and Wish

Hope and Wish
H&W91. Sudut pandang mama Aca



"Ra, kau tuh punya hak untuk mempertahankan suami kau. Bukan malah menerbangkannya lebih tinggi, sampai kau lupa kalau kau kehabisan benang karena mengulurkannya terus. Setelah kau nekat tabrak Bunga, terus kau lepasin suami kau? Kau tolol ya? Mempermalukan diri sendiri aja. Pasti di sana Bunga ngomong kek gini, dia ngejekin kau. Kau sampai buat aku celaka begini, ternyata kau buang juga laki-laki yang kau jaga sampai buat aku celaka itu." Mama Aca menirukan suara orang di akhir kalimatnya. 


"Asal kau tau ya, Dek. Mama pun pernah dikasih talak tak langsung sama almarhum ayahnya Nahda, katanya kau tak akan aku jemput lagi. Itu kondisinya saat Mama di rumah orang tua Mama dan Mama selalu alasan untuk ikut tinggal di rumah orang tua dia. Mama turunin ego Mama, Mama merengek minta dijemput dan manut tinggal di orang tuanya sementara sampai dia percaya sama Mama lagi. Karena memang tak nyaman di sana, tidur tak nyenyak, jadinya Mama sakit. Tapi Mama tetap tuh tunjukin tanggung jawab Mama sebagai istri yang berbakti dan bisa ngurus dia, meskipun dalam kondisi sakit. Sampai akhirnya dia udah bener-bener percaya ke Mama, kasihan ke Mama, akhirnya kita mutusin untuk nempatin rumah KPR Mama yang sempat dikontrakin. Dia mulai paham kalau Mama tak nyaman tinggal di mertua, ngehnya dia soalnya kalau Mama sakit dan sementara pulang ke orang tua Mama dan dia ikut, Mama sembuh, pulang lagi ke rumah mertua, sakit lagi. Akhirnya kita rembukan dan sepakat untuk nempatin rumah Mama sendiri. Kan lumayan sih rumah dikontrakin tuh, Dek. Jadi yang harusnya Mama bayar cicilan, jadinya ada yang handle. Bukan sih orang yang ngontrak yang bayar cicilan, tapi uang dari rumah yang dikontrakin itu untuk bayar cicilan rumah. Kan waktu itu suami Mama cuma guru honorer, yang gajinya tak sampai lima ratus ribu, sedangkan dia larang Mama kerja. Mama usahakan suami Mama tetap dia, kalau dia tak wafat pun, Mama tak akan ganti suami. Dalam agama aja talak itu diatur sampai sedemikian rupa, ada talak satu sampai tiga. Terus kau perempuan yang baru ditalak sekali, langsung gas pengadilan agama dalam semalam. Talak satu aja dikasih jarak bebas rujuk dalam waktu tiga kali haid. Kalau kalian berhubungan suami istri aja, udah batal itu talak satunya. Kau dalam semalam langsung proses cerai, kau sampai ngalahin aturan agama dan pengadilan agama." Mama Aca geleng-geleng kepala. "Suami yang tak ngasih nafkah aja, setelah tiga bulan barulah ada hak istri untuk menggugat cerai suami. Begitu aja ada jarak waktunya, nah kau dalam semalam langsung tebas aja." Mama Aca membuang napasnya dengan asap rokoknya. 


"Jadi, aku salah?" Aku rasa percuma, karena Han selalu merespon Bunga. 


"Tak lagi nyari siapa yang salah dan siapa yang benar, tapi kalau kau tetap ngalahin aturan agama dan pengadilan agama, kau tak akan pernah punya suami yang tetap. Nikah buru-buru, cerai buru-buru." Mama Aca memalingkan wajahnya. 


Apa ia marah padaku? 


"Jadi?" Aku memperhatikan mama Aca dengan lekat. 


"Ya udah lanjutin aja, barangkali kau malu kalau akhirnya cabut gugat cerainya. Terus stop dekat-dekat laki-laki, kalau baper sendiri begitu. Baper itu tak harus langsung nikah, Dek. Wajar perempuan kebawa perasaan dengan sikap laki-laki, karena memang selemah itu perasaan kita kalau ada yang mengerti tentang kita. Udah, matengin dulu pola pikir kau. Mama kira di pesantren segala macamnya diajarkan, Dek. Termasuk tentang perceraian begini tuh. KDRT, oke diterima gugat cerai. Nah ini, masalah kek gini, dalam semalam langsung gugat cetai." Mama Aca menggosok hidungnya dan melemparkan puntung rokoknya. 


"Permasalahan aku kompleks, Ma. Lagian, dia duluan kok yang talak aku." Aku memperhatikan asap yang masih mengepul dari puntung rokok yang dilempar tersebut. 


Aku hanya bisa diam, jika dibandingkan masalah itu ya memang masalahku tidak ada apa-apanya. Namun, nyatanya aku amat tersiksa dengan sikap Han terhadap Bunga. 


"Mainan laki-laki itu resikonya besar, suka sama laki-laki itu resikonya ngalah, udah pengen hidup bersama laki-laki itu resikonya banyak. Kalau papa kau bukan anak bibinya Mama, ekonominya tak menunjang, *****kasa**nya meragukan, mungkin Mama tak akan seberani ini ambil resiko untuk mulai berumah tangga kembali. Punya suami itu capek memang, tapi tak punya suami lebih capek karena Mama harus cari nafkah sendiri." Mama Aca memulai rokoknya yang kedua. 


"Kita pernah ngerasain rasanya jadi janda. Untuk diri Mama sendiri sih, kata Mama ya rasanya tak enak. Apalagi Mama bukan orang berada dan biasa hidup seadanya sebelumnya. Tak ada suami, anak tak ada yang bantu urus. Tak ada suami, kita kelaparan nafkah batin. Tak ada suami, perut kurang kenyang, sandangan kurang pantas rasanya. Meski punya suami itu capek betul, serasa punya banyak bayi, tapi enak punya suami, karena satu-satunya teman setelah berumah tangga tuh ya suami kita. Mama cuma lagi cerita aja, tak lagi nyuruh kau gagal cerai. Cuma nanti setelah kau niat untuk punya suami lagi, ingat-ingat lagi cerita Mama ini. Meski papa kau orangnya agak drama, tak masalah untuk Mama selagi dia bisa jadi pasangan hidup yang nyaman dan bertanggung jawab. Sifat baik buruknya dia, udah bawaan dia dari lahir, itu resiko kita yang mau hidup menua bersama dia. Kau tak toleransi dengan hal itu, mau sampai kapan kau kawin cerai terus? Tentang Bunga dan anak mereka, kan kau tau dari awal. Sama halnya Mama yang tau kalau papa kau pernah pacaran sama biyung kau dan tau sedikit tentang kenangan mesum mereka. Terus Mama harus gimana? Minta cerai? Tak lah, Mama udah dikasih tau di awal kok. Maklum? Ya harus maklum lah, toh mereka tak ngulangin kisah mesum mereka. Papa pun punya anak dengan perempuan lain juga, ada Kal dan Kaf."


Aku memiliki cela untuk bertanya. 


"Kalau kondisinya Mama tau kisah mesum mereka ternyata terulang, gimana?" Ini adalah kasusku. 


"Kenapa? Mau nyamain dengan kondisi tabrakan kemarin? Terbukti mesumnya gimana? Apa saat itu Han lagi menikmati dada Bunga? Atau lagi foto bersama dengan pose cium pipi? Mama sensitif juga kalau bawaannya mantan pacar suami. Tapi kondisinya, suami Mama menghormati kakak iparnya yang merupakan mantan pacarnya. Mantan pacarnya itu juga, memang tak pernah melakukan tindakan melenggak-lenggokkan badannya di depan suami Mama. Jangan tanya gimana Mama kalau suami Mama mesum sama biyung kau, karena udah pasti dibuat almarhum sama ayah kau. Lepas itu, Mama rebut sekalian ayah kau dari biyung kau. Puas kau?! Jangan kasih ibarat yang tak mungkin terjadi, Ra. Mata kau pun melotot saat kejadian Han dipeluk Bunga, kau tau kondisi aslinya gimana, bukan Han sengaja berbuat mesum. Selebihnya dari masalah itu, ya memang kau aja yang tak bisa pahamin sudut pandang suami kau." Mama Aca mengatur napasnya. "Tapi Mama percaya, demi gengsi kau yang setinggi gengsi ayah kau. Mama yakin, kau tak akan pernah cabut gugatan cerai kau." Mama Aca melirikku, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain. 


...****************...