Hope and Wish

Hope and Wish
H&W47. Hina menghinakan



"Ra puasa keknya kaget betul ya? Apa lagi ngidam?" Pakwa bertanya, tapi pertanyaannya menyinggungku. 


Entahlah, mungkin sifatku seperti ayah yang tersinggungan. 


"Pakwa lupa ya aku keluaran pesantren?" Aku menjawab dengan tertawa ringan. 


Kasar ya? Kenapa senyumnya langsung hilang? 


"Belum ngidam, Pakwa. Doain aja secepatnya," timpal bang Bengkel dengan menyertakan lesung pipinya. 


Kita yang merencanakan untuk menunda kehamilan itu, tapi kenapa jawaban bang Bengkel seolah ia begitu mengharapkan bayi baru dan keadaanku seolah tidak bisa memberi. 


Kok aku jadi ingin mengamuk begini?


"Pernikahan itu bukan pasti punya anak, Pakwa. Kalau pengen punya anak, tak nikah juga bisa kok. Tapi aku pengen bahagia, punya anak kembali itu rezeki yang luar biasa," ucapku langsung. 


Semua mata menatapku. Bunga, Hema, pakwa, bang Bengkel, pakcik Gavin dan papa Ghifar. 


"Yang…." Bang Bengkel mengusap-usap lututku. 


Aku meliriknya, kemudian aku memandang balik para mata yang masih menatapku itu sampai mereka memalingkan pandangan mereka masing-masing. Ini karakterku, aku diajarkan adab dan sopan santun sejak kecil. Tapi aku tidak suka jika ditatap dengan penghakiman seperti itu, aku bukan terdakwa. 


"Kenapa, Sayang?" Bang Bengkel merangkulku, kemudian ia menyandarkan kepalaku ke lengannya. 


Kegagahannya tidak berkurang, ia tidak kurus dan ia tidak jadi pendek sekarang. Ia biasa saja sejak menikah denganku, tidak ada perubahan fisiknya selain rambutnya yang dipangkas ulang kemarin sore itu. 


"Tak apa." Aku pun tidak mengerti suasana hatiku. 


"Mau jalan-jalan setelah ini? Mau healing ala-ala selebgram? Ayo…." Ia mengusap kepalaku. 


Entah ini iming-iming, agar aku semangat untuk mengasuh Zee, anaknya dengan Bunga. Eh, tapi kenapa aku berpikir seperti ini? Apa aku termakan ucapan saudara-saudaraku? 


"Tak usah, Bang." Aku melepaskan diri dari rengkuhannya, aku memilih untuk bersandar di tembok. 


Ayah datang, tapi tidak membawa Farah. 


"Mana Farah, Yah?" Bang Bengkel langsung mempertanyakan buah cintanya itu. Oh tentu ia cinta dengan istri terdahulunya, ia pernah mengatakan bahwa ia tidak akan menikah lagi jika ibunya Farah tidak wafat. 


Aduh, kenapa aku berpikiran seperti ini lagi? Aku terkesan seperti iri dengan orang-orang yang hadir sebelum kehadiranku. 


"Sama kakeknya, keluarga almarhum ibunya nelpon katanya." Ayah duduk mengapitku dari bang Bengkel, ia membuka selembar surat yang berada di tangannya. 


Itu sebenarnya tidak berfungsi, Bunga sudah mengakuinya. Tapi bang Bengkel tetap ingin pembuktian pada keluarga kami, khususnya pakwa, agar sebutan ayah biologis itu kuat untuknya. 


Aku berpikir jahat, bahwa ia butuh pengakuan dan diakui. 


"Ini, Bang." Ayah memberikan pada pakwa setelah membukanya. 


"Bunga masih masa iddah, pihak pesantren tak nerima Bunga." Pakwa mengatakan hal itu, saat tengah membaca selembar surat dari rumah sakit besar itu. 


Apa maksudnya? Apa ia harus lebih lama tinggal di samping rumahku? Apa harus lebih lama lagi aku bertetangga dengannya? 


Apalagi maksud ayah mengatakan hal ini? Jadi harus setahun lagi aku bertetangga dengan Bunga? 


"Setelah cuti lebaran, nanti diurus, Yah. Kemarin keadaan aku tak memungkinkan, Yah. Mohon maklumnya." Hema memandang ayah, kemudian ia menundukkan kepada. 


Ia terkesan merasa bersalah pada ayah. 


Ayah hanya manggut-manggut, ia menoleh padaku dan memandang sekelilingnya. 


"Golongan darah pun ikut Han." Pakwa Ken berdecak dan menggelengkan kepalanya. 


Kenapa? Takjub? Kan memang Zee anaknya. Andaikan aku bisa berbicara seceplas-ceplos itu. 


"Aku gak tau, Pakwa." Bang Bengkel fokus menatap ke arah ayah dari mantan teman ranjangnya itu. 


Aku dulu sudah kurang akrab dengan Bunga, karena ia terkesan hanya ingin dengan bang Chandra saja. Ditambah lagi, ia salah satu masa lalu suamiku dan ia juga sering mencoba meledekku. Jangankan diledek, dipandang pun aku sudah tersinggung parah. 


"Kau tak akan tau, Han. Itu kehendak yang direncanakan, jangan tuntut hal itu juga ke Yang Kuasa, Yah. Coba tanyakan ke anaknya, kenapa dia percaya diri sekali kalau suaminya menerima hasil orang lain?" Hema memandang bang Bengkel, kemudian mengalihkan perhatiannya pada pakwa dan Bunga. 


"Selama ini aku diam, tapi makin bingung dengan diri kau, Bunga. Aku yang kemungkinan ODGJ, tapi kau udah pasti ODGJ keknya." Hema tertawa sumbang. 


"Kemarin kita diskusi bertiga, kau banyak diam. Sekarang banyak orang, kau berani ngomong. Pengen dapat simpati orang-orang kau?!" Nada bicara pakwa naik di akhir kalimat. 


"Apa yang harus aku bilang? Ayah tawarkan rujuk kan? Terus aku harus bilang apa selain jawab tak? Apa aku harus bilang, terimakasih dan kita mulai dari awal lagi?" Hema terlihat memiliki kekuatan di sini. 


Entah karena ia sudah ditangani serius oleh pihak yang memang ahlinya menanganinya, saat kemarin-kemarin kan memang ia masih dalam pengaruh obat-obatan. 


"Kalau kau tak mau ambil kesempatan itu, ya kau tak harus banyak bicara begini." Bunga menambahkan pendapatnya untuk menghakimi Hema juga. 


"Hei, aku diberi kesempatan? Tidak kebalik, Nona?" Tawa garing Hema lebih membahana. 


"Dikasih gratis pun, model p***k sell free services kek kau tak akan aku terima. Jangan paling tersakiti, dari awal udah aku ceraikan kau, karena kau berhak bahagia. Aku ceraikan bukan untuk rujuk dengan cerita yang lebih runyam! Kau aja nuntut atas semua yang harus kau dapatkan dari aku, jangan harap aku bisa setulus itu nerima anak hasil orang lain itu." Emosi Hema terlihat dari rona wajahnya yang berubah merah kehitaman. 


"Maksud kau apa hina anak aku, Heh?!" Satu buah air mineral kemasan gelas dibanting ke lantai yang terlapisi karpet tebal ini, hingga airnya membasahi orang-orang dan karpetnya juga. 


"Idih, orang anaknya sendiri yang menghinakan dirinya sendiri." Hema sepertinya sangat puas meledek Bunga, sampai Bunga hanya mampu tertunduk. 


"Pindah sini, Hem." Ayah menepuk tempat di sebelahnya, aku tetap diapitnya oleh bang Bengkel. 


Hema menurut, ia mengangguk dan langsung pindah tempat. 


"Kita udah dewasa ya? Kita buka obrolan orang dewasa, masalah hina menghina kita lanjut kalau jumpa di gang aja." Ayah menepuk pangkuan Hema dengan wajah serius. 


Aku tahu ayah hanya bercanda, buktinya bang Bengkel, pakcik Gavin dan papa Ghifar tertawa. Kami keluarga besar sudah sama-sama tahu, jika candaan ayah memang sedikit ekstrim. 


"Jadi gimana, Bang? Maksudnya bagaimana nih, tentang Bunga yang belum resmi cerai, tentang dia yang bahkan belum dapat masa indahnya, sama hubungannya dengan mengasuh Zee? Apa Zee tetap harus di Bunga sampai semua proses itu selesai? Gitu kah maksudnya? Terus kenapa, dari pas mereka nikah, Canda ngomong setelah Han sama Ra nikah, Bunga mau dipondokin ya? Setelah alasan bulan puasa, libur lebaran dan cuti lebaran, jadi rencana Bunga dipondokin ditunda lagi sampai proses cerai dan iddah selesai?" Ayah langsung melontarkan pertanyaan komplit yang mendesak pakwa. 


Aku yakin itu sebuah desakan, teguran dan diingatkan kembali atas semua ucapan yang sudah ia ucapkan sebelumnya. 


...****************...