
"Udahlah, Ma. Aku mau ngobrolin tentang hal yang lain." Aku bergerak mundur, agar bisa bersandar di tembok.
"Ya udah." Mama Aca mengedikkan bahunya. "Mau ngobrolin apa?" Mama Aca memperhatikan abu rokoknya.
"Pengasuh Galen diminta, Galen tak ada yang ngasuh. Aku rencana tak pakai pengasuh, mau aku titipin ke biyung atau ke Mama aja. Terus, sore nanti aku mau ke rumah bang Wildan, kakak iparnya Hema. Aku masih tak enak, karena Hema milih mendekam di penjara." Aku menatap lurus ke depan.
"Dari kecil sampai besar, biyung sama Mama kau ini direpotkan untuk ngurusin kau. Terus kau besar begini, berharap beban kami berkurang, kau malah titipkan cucu ke kami."
Tak ditampar, tapi sakitnya terasa.
"Logikanya begitu, Ra." Mama Aca mengetukkan puntung rokoknya, agar abunya rontok.
"Asuhlah sendiri, kau tak sanggup untuk handle sendiri ya bayar orang. Kenapa? Ekonomi kau tak cukup? Kerja lah. Tapi pendapatan kau kalah sama kerugian yang kau perbuat kemarin, makanya lain kali pikir ulang kalau mau ngelakuin sesuatu." Mama Aca melirikku dan tersenyum mengejek.
Mama Aca sering membuatku kicep.
"Ma, kasih aku saran. Jangan nyudutin aku terus." Aku menggoyangkan lengannya.
Ia malah tertawa geli sementara waktu.
"Maafin mulut Mama ya?" Mama Aca meredam tawanya.
"Saran terbaik, ambil pengasuh aja. Kau ngerasa sibuk kan? Orang tua kau dan orang terdekat kau, punya kesibukan sendiri. Kami akan maklum, kalau kau keturunan orang tak punya. Kami bakal gotong royong mengurus anak kami, mensejahterakan ekonomi kami. Ini kondisinya kau anak orang kaya, jangan buat diri kau susah dengan sok kuat untuk ngurus anak sendiri sambil kerja. Terus tentang Hema, pasti Hema punya tujuannya sendiri. Orang tak bersalah biasanya sampai nangis kaku menceritakan kebenarannya agak dirinya tidak dihukum, nah ini Hema sebaliknya." Mama Aca nampaknya asyik sekali menikmati rokoknya.
Benarkah sampai secandu itu?
"Baiknya begitu kah, Ma?" Aku masih memperhatikannya dengan seksama.
Mama Aca mengangguk. "Baiknya begitu, Dek. Sementara waktu tak masalah sama Mama, kan ada pengasuh anak-anak Mama juga. Sebenarnya Mama itu tak repot betul, tapi Mama punya bayi besar tukang drama. Ngerengek badan capek minta pijat, perut lapar minta disediakan makanan. Baju rapi udah disediakan, maunya yang belum disetrika, jadi dadakan nyetrika. Ngajakin hubungan suami istri tergantung moodnya, drama keteteran dokumen di kantor. Siapa lagi kalau itu bukan tugas pasangannya? Ngerasa berguna titel sarjana, otak sampai untuk ngurusin bisnis juga." Mama Aca nyengir kuda.
Ternyata tugas istri itu banyaknya mengurus suaminya ya? Apa hanya mama Aca sendiri?
"Ya gitu ya tak apa. Sementara waktu bisa di sini dulu kalau kau sibuk." Mama Aca melemparkan puntung rokok yang kedua.
"Masuk yuk? Mama siapin makan siang untuk kau ya?" Mama Aca berdiri lebih dulu.
"Boleh, Ma." Aku lekas bangkit dan tersenyum lebar.
Dengan semua obrolan tadi, sedikitpun aku tetap tidak ingin untuk mencabut gugatan cerai itu. Biarlah kami berpisah saja, karena lebih baik seperti itu.
Tiba waktunya aku dan ayah ke rumah bang Wildan. Namun, sebelum ke sana kami mampir dulu ke apotek untuk membeli beberapa suplemen kesehatan yang Kal berikan resepnya untuk menunjang penyembuhan ayah.
Ayah sudah tidak demam, tapi rasanya masih seperti sakit katanya. Badan masih lemas, mulut masih pahit dan selera makan berkurang.
"Sekarang bang Wildan usaha apa sih, Yah?" Aku kembali menyetir mobil ayah.
"Kurang tau, Dek. Tapi mau Ayah ajarkan tentang buat batu bata merah, batako, bata ringan, genteng dan semacamnya. Buat barang mentahnya gitu, Dek. Tapi bukan lewat tangan Ayah juga, Ayah punya temen lagi yang bisa ngarahin. Tapi tentu Ayah bayar, masalah uang ya kita tak kenal sekalipun teman juga. Terus untuk Hema, mungkin Ayah kasih aja toko material Ayah."
Aku langsung menoleh cepat pada ayah. Apa katanya? Toko material? Sebesar itu? Sudah memiliki langganan dalam jumlah besar, diberikan pada orang?
"Apa tak terlalu berlebihan, Yah?" Bukan aku pelit, tapi rasanya sayang sekali memberikan pada orang usaha yang stabil dan memiliki peluang tinggi itu.
Ini desa yang baru berkembang. Pembangunan terus ada, sedangkan toko material ayah satu-satunya toko terlengkap dan terdekat untuk mereka.
"Biar Hema tetap dekat keluarganya, pikir Ayah ya kasih usaha yang di sini aja. Pilihannya mahal harganya, kau bisa bebas sekarang bahkan melanjutkan pendidikan kau." Ayah sesekali menoleh ke arahku yang tengah mengemudi.
"Maaf, Yah. Tapi kan aku mau untuk tanggung jawab, sedangkan Hema seolah ambil kesempatan ini. Bukan aku berpikir buruk, tapi apa ini desakan ekonomi jadi buat Hema ambil opsi ini?" Maafkan aku Hema, aku jadi berpikir buruk tentangmu.
"Dari awal Ayah udah nilai itu, Dek. Dia tak minta apa-apa, tapi Ayah yang memberikan. Apa sih yang dia mau? Motor Wildan diganti, karena itu satu-satunya kendaraan Wildan untuk ke mana-mana. Nganter anak, nganter istri, kerja, nganterin Hema berobat. Ibaratnya, motor itu adalah kakinya penghuni rumah itu. Sisanya apa? Sisanya bantu arahkan usaha, bukan meminta usaha. Karena apa dia minta ini? Karena kakak iparnya habis-habisan juga. Si Hema ini pengen nolong kakak iparnya, tapi dia pun tak punya daya apapun. Sedangkan dia merasa bersalah, karena malah merusak motor kakak iparnya. Mudahnya gini aja, dia minta ganti rugi motor itu karena udah rusak akibat tabrakan itu. Memang inisiatif dia, tapi kalau dia tak nyoba, kau tak akan berhenti, meski usahanya gagal. Kek macamnya abang kau, papa Ghifar, mereka minta ganti rugi, tapi tidak secara terang-terangan. Basa-basinya, urusin klaim asuransinya. Hema hanya minta untuk ngarahin kakak iparnya, masalah modal sih katanya Wildan habis jual tanah ke Jasmine. Kembali lagi, harga untuk membayar orang mendekam di penjara itu mahal. Yakin hanya dibayar arahan keahlian khusus? Ayah pikir itu kurang adil, apalagi hukumannya udah terlihat tahunan. Kau bayangin aja, kalau kau bertahun-tahun harus mendekam di penjara? Untung ada Hema yang menggantikan, istilahnya kita bayar jasa dia aja daripada seumur hidup punya rasa tak enak hati sama dia. Jadi, Ayah mikir untuk sekalian kasih lahan usaha dan modal awal untuk Wildan juga. Nanti Wildan sama Hema bisa kerja sama tuh. Wildan bisa naruh hasil usahanya di toko material yang nantinya punya Hema. Hema di awal pun tak minta usaha, tapi dia minta arahkan karena dia habis-habisan karena judi itu. Jadi memang inisiatif Ayah aja, biar kita tak enak hati sama Hema. Istilah kasarnya, jual beli lah. Hema jual jasa, kita membayar jasanya. Impas, tak ada rasa tak enak hati di kemudian hari." Ayah menengadahkan kedua tangannya dan tersenyum lebar.
...****************...