Hope and Wish

Hope and Wish
H&W69. Surat-surat penting



"Dek, pakai pengasuh dua. Pakai auto debet dari rekening Han, non kontrak dan bisa ikut kemanapun kalian pergi." Ayah menjejer selembar kertas bertanda tangan suamiku dari tangannya. 


"Terus ini surat perjanjian keluarga. Berkaca dari kasus Vano, berkaca dari kasus tante Novi dan pakwa Ken, Ayah punya kekhawatiran tentang menantu baru di sini. Mungkin, untuk Hamdan, bang Fa'ad dan menantu perempuan pun berlaku juga. Ini baru perjanjian perorangan, antara Han dan Ayah, nanti sama kuasa hukum kita dibuatkan list untuk para menantu yang melakukan perjanjian dengan Ayah dalam satu lembaran bermaterai. Terus, anak usaha Ayah yang kau pegang, boleh dibantu Han, tapi tak boleh kau lepas untuk Han. Ngerti tak? Kek mama Aca aja, dia bantuin pekerjaan papa Ghifar, tapi dia tak pernah ngantor." 


Aku lekas mengangguk. 


"Terus…. Ini surat pembagian harta Ayah. Tapi ini berlaku kalau Ayah meninggal ya? Aset Ayah disebutkan semua di sini." Ayah menunjukkan lembaran baru, kemudian menunjukkan satu persatu daftarnya. "Sebenarnya, Ayah tuh klik sama kau untuk pegang dua tambang Ayah itu. Katakanlah, ini kepala usaha Ayah. Cuman, kau bersuami." Ayah melirik ke arah bang Bengkel. 


"Ya salam, Yah. Masa harus anaknya jadi janda lagi?" Bang Bengkel langsung terlihat frustasi. 


"Ish, kau nih! Dengerin dulu!" Ayah memukul pangkuannya sendiri, ia pasti gemas dan ingin menjitak bang Bengkel. 


"Iya maaf, Yah." Bang Bengkel menganggukkan kepalanya. 


"Abang kau tak hadir hari ini, dia lagi punya pekerjaan penting. Tapi dia udah setuju dan setor tanda tangan di atas materai." Ayah menunjukkan tanda tangan bang Chandra. 


"Jadi, maksudnya?" Aku masih belum mengerti jelas. 


"Jadi, ya satuan. Kau yang di Sorong Papua, abang kau yang di Kalimantan. Tapi ini berlaku, kalau Ayah udah meninggal." Ayah memberikan surat itu. 


Aku menggapainya dan belum sempat melihat isinya. "Duh, ya udah Ayah jangan meninggal-meninggal, nanti aku repot urus usaha Ayah." 


Ketahuilah ayahku tercinta, aku tidak gila hartamu. Aku takut kehilangan peranmu, ketimbang kehilangan masa jayamu ini. 


Ekspresi ayah, 😯. Ekspresi bang Bengkel, 😳. Kemudian, begini ekspresi kuasa hukum ayah 🤨. 


"Ada lagi yang begini, tak mau repot dia." Kuasa hukum ayah geleng-geleng kepala. 


Ia keturunan batak, mirip-mirip Hotman Paris lah. 


"Ra, ini untuk nanti. Bukan untuk hari ini, paham tak?" Sepertinya ayah mengira aku bodoh. 


"Iya, paham. Terserah Ayah lah! Aku bukan malah senang." Aku bersandar pada sofa, dengan melihat isi surat tersebut. 


Komplit, ada nama kak Key sampai Cali di sini. Cucu pertama dari masing-masing anak pun dituliskan di sini, jadi nantinya jika aku sudah berkuasa dan aku meninggal, nantinya diturunkan ke Galen. 


Pabrik itu ada di daerah Pekanbaru, dengan berkantor di Bali. Biasanya yang kantornya terpisah begini, awalnya pasti ilegal. Entah karena dulunya bukan ayah yang menjadi pemilik, jadi ayah itu membeli satu pabrik utuh dengan karyawannya juga. 


"PT. CMF ini ilegal ya?" Aku melirik lurus ke arah ayah. 


"Resmi lah, sembarangan!" Ayah langsung membalas tatapan tajamku. 


"Ini anak usaha Ayah? Biasanya kalau anak usaha Ayah itu belakangnya pasti ada nama 'Berintan', ini tak ada." Aku menunjukkan usaha dengan nama pewaris kak Key. 


"Jadi dulunya CMF itu usaha mamah Fira yang menjadi distributor resmi dari pabrik tisu lain. Karena termakan waktu, distributor ini oleng karena pemasarannya kurang. Karena Ayah mikirin posisi anak sulung Ayah yang digeser oleh bang Chandra itu, jadi Ayah buat pabrik pengolah kertas tisu. Dari pohon, sampai jadi lembaran besar kek triplek tuh diolah di situ. Cuma karena Ayah keteteran sendiri, Ayah percayakan ke mamah Fira dari proses nol sampai stabilnya. Izin, segala macam, transport dan karyawan, dia semua yang urus. Dari lembaran triplek kertas itu, dikirim ke Bali dan diolah jadi macam-macam tisu. Dari tisu wajah, dapur, toilet, tisu basah, sampai dikemas dan dipasarkan di Bali juga. Mamah Fira udah sakit-sakitan, kakak kau tak mau ke sana. Fa'ad sebulan sekali tak nentu, tetap orang Ayah lagi yang dipekerjakan. Intinya, niat awalnya memang PT itu untuk kakak kau karena kau tau sendiri dia ada pun tak dianggap kasarnya. Ayah mikir buruknya dulu, takutnya anak Ayah pada nakal nguasain usaha Ayah, terus jadinya kakak kau kelimpungan soal materi. Kan jangan sampai begitu. Anak Ayah hidup enak, dia dan anak asuh Ayah yang lain pun setara enaknya."


Ayahku bijak sekali, memikirkan semua anaknya. Ingin rasanya aku meminjam ibu jari semua orang, kemudian mengacungkannya pada ayah. 


"Sampai ke Bunga pun dapat gitu, Yah?" Alis bang Bengkel naik sebelah. 


"Saham dapat, di rumah sakit ayahnya. Sebenarnya saham itu milik kakek dan neneknya Ra, Ayah kan milih tak dapat apa-apa, jadi katanya perhatikan aja saham-saham yang mereka tanam. Ayah sih ridhonya ya saham aja lah, ayahnya Bunga sombong, jadi males sendiri."


Waduh, aku jadi penasaran. 


"Jadi setiap bulannya, hasil saham itu masuk ke Bunga?" Enak sekali jika begitu, ia tidak bekerja apapun dan ia dapat hasil uang saham. 


Jika nitip saham satu atau dua juta, untungnya kisaran ratusan ribu. Tapi misalkan nilai sahamnya mencapai miliar uang, bahkan triliun, apa tidak kenyang kita memakan hasil dari sahamnya saja? 


"Tak, masuk ke Ayah dan Ayah tak pakai juga. Sebenarnya, Ayah tuh takut makan uang hasil bagian Ayah tuh. Ayah bertanya-tanya, sebenarnya ini diributkan tak sama saudara-saudara Ayah?Sebenarnya rumah yang abang kau tempati, diikhlaskan tak sama saudara-saudara Ayah? Sebenarnya ladang yang abang kau olah, dibahas tak sama saudara-saudara Ayah? Sampai uang hasil saham itu, Ayah benar-benar pisah di rekening khusus dari saham rumah sakit pakwa kau itu." Ayah bertopang dagu, dengan siku di pahanya. 


"Tak lah, Pak. Kan itu disetujui semua pihak. Saudara-saudara Bapak pun udah pada kaya-kaya semua. Kalau Bapak mikirin uang orang tua Bapak, Bapak mikirin tak bahwa modal awal usaha Bapak dari orang tua? Apa itu diributkan oleh saudara-saudara Bapak? Tapi kan ternyata itu semua udah dibagi rata, bukan cuma Bapak yang disongkong orang tua Bapak, tapi semua saudara-saudara Bapak. Bukan Saya sok tau, tapi kan ayah Saya yang menjadi kuasa hukum almarhum bapak Adi. Semua urusan surat menyurat milik beliau, bahkan masih aman di tangan Saya. Pakai tinggal pakai aja, Pak. Orang meninggal udah tak mikirin harta dunia mereka lagi, yang penting Bapak yang jadi anaknya tuh jangan pakai uang hasil orang tua untuk hal-hal buruk." Kuasa hukum ayah buka suara. 


Ohh, jadi ayahnya bapak ini adalah kuasa hukum kakek Adi. Turun temurun ternyata. 


"Ehh, jadi kepikiran pengen bangun pesantren. Gimana menurut Bapak?" Ayah menjentikkan tangannya dan melihat ke arah kuasa hukumnya. 


...****************...