
"Om, pamit istirahat duluan ya? Biar besoknya fit." Bang Bengkel lebih dulu naik ke teras rumah.
"Gih, sini Galennya." Ayah mendekati bang Bengkel, ia mencoba membujuk Galen.
Drama saja, anak laki-lakiku sudah seperti biyung. Ia menolak diambil oleh ayah, ia geleng-geleng kepala sangat kencang sekali.
"Ayah kau mau bobo, Bang." Ayah menarik hidung Galen pelan.
Tangisnya pecah, Galen memegangi hidungnya seolah ayah menyakitinya. Ayah sampai garuk-garuk kepala, ia bingung dengan cucu yang paling mirip dirinya ini.
Jika dibiarkan bersama anak-anak bang Chandra, ya Galen dikira orang anak bang Chandra juga. Karena Galen mirip keluarga kembar lima itu, dari model rahang dan sorot mata kejamnya sama seperti ayah. Mungkin cucu-cucunya diberi mirip kakeknya semua, agar kakeknya tidak lupa dengan pembagian yang rata.
Ah, aku jadi ingin tertawa.
"Baru sepuluh bulan, udah drama begini. Yang bener aja sih, Bang?" Bang Bengkel tertawa geli dengan menunduk memperhatikan Galen.
"Yayayaya yayayaya…." Ia mendongak dengan masih memegangi hidungnya.
Ia menunjukkan hidungnya yang tadi ditarik kakeknya. Ya ampun, lucunya.
"Harus dijenggot ini si Arion." Ayah menyerang Galen dengan buas.
Memang drama anaknya. Lihatlah, sekarang ia malah tertawa renyah. Ketika ayah berhenti menciuminya, tangisannya dimulai kembali.
"Ayo sama Makcik." Cani berinisiatif mengajak Galen.
Gelengan kepala yang sangat kencang kembali yang Cani dapatkan dari Galen.
"Bujuk, Ra. Susuin." Ayah menoleh ke arahku yang sejak tadi menonton drama anak laki-lakiku.
Aku mengangguk dan mendekati Galen.
"Ayo, Bang. Ikut tak? Mamah mau panggil nenek, mau panggil makcik kecil, mau panggil bang Kaleel juga tuh. Yuk?"
"Nanananana…." Galen malah memunggungiku, ia memeluk leher bang Bengkel.
"Jangan sampai Kakek paksa nih, Nak." Ayah sudah terlihat setengah marah.
"Mainan aja dulu, nanti dia lengah, aku ke kamar, Om." Bang Bengkel memberikan usulan.
"Ayo, ayo. Di ruang televisi aja." Ayah mengajakku dan Cani.
Galen dibiarkan bermain di karpet, sampai akhirnya tangisnya lepas karena baru menyadari jika calon ayah sambungnya itu tidak lagi di jangkauannya. Akhirnya, ia mendekatiku dan minta ASI padaku.
Kelihatannya anak ini mengantuk, ia mengucek matanya dan bergumam terus ketika ASI. Sudah jadwalnya ia tidur juga, nanti menjelang tengah malam ia pasti terbangun minta ASI kembali.
"Masalah cadar, kata Ayah sih biasakan dulu pakai pakaian besar-besarnya itu, Dek. Biyung yang lulusan pesantren aja, dia lebih betah pakai daster payung. Bukan karena Ayah tak mampu belikan set pakaian besar itu, tapi biyung tak nyaman. Ditambah pas hamil itu, dia pasti tak bisa lihat lantai karena kebesaran perut, takut kesandung. Coba kau biasakan dulu, setelah acara kakak kau, nanti Ayah temani belanja pakaian syar'i begitu." Ayah membuka obrolan, setelah Galen bisa dikondisikan.
"Siapa yang mau bercadar? Cani, Yah?" Aku menepuk-nepuk paha Galen pelan, agar ia mendapatkan kenyamanan.
"Iya, Kak. Boleh kan di kampus pakai cadar?"
Jarak usia kami sekitar tiga tahun kurang. Saat aku usia dua tahunan, biyung sudah mulai ngidam Cani. Jadi tiga tahun kurang, aku punya adik lagi. Aku pun masih punya adik lagi, jenjang usianya malah lumayan jauh. Namanya Cala dan Cali, ia masih di pendidikan dasar. Cali adalah anak susuan biyung, aslinya Cali adalah anak dari pakcik Gavin. Tapi sampai sekarang, Cali tetap mau tinggal di sini. Padahal di rumah orang tua kandungnya, ia menjadi sepuluh bersaudara.
"Boleh, tapi pas awal kan pasti ditanya banyak orang. Cuma ngasih tau aja, sebetulnya itu bukan kewajiban." Karena di pesantrenku dulu juga, tidak ada ustadzah yang bercadar.
Aku pun pernah ingin bercadar, tapi berpikir lagi bahwa aku lebih lama di dalam rumah. Aku tidak pernah keluar pagar rumah orang tuaku, jika memang tidak ada kepentingan yang begitu harus. Jadi, bercadar atau tidak. Sama-sama aku tidak pernah terlihat oleh orang lain, selain mahramku sendiri.
"Iya, Kak." Cani irit berbicara.
"Ya nanti tuh hari Kamis, Ayah temani dulu belanja pakaian besar begitu. Jangan online, tapi langsung di butik aja. Biar kau bisa bedakan bahan yang nyaman digunakan seharian, biar bisa mempertimbangkan juga kan kedepannya?"
"Iya, Yah." Cani memeluknya.
Aku paling benar, jika Cani baiknya di ketiak ayah saja.
"Temenin tidur dulu, Yah," lanjutnya kemudian.
Wajar tidak ya anak perempuan yang sudah baligh, tapi tidurnya masih dikeloni ayahnya dulu? Nanti jika ia sudah lelap, baru ayah pindah kamar dengan biyung. Entah ia pernah mendapatkan kejadian horor atau bagaimana, tapi memang ia sedrama itu juga. Jadi rumah yang ditunjukkan untuknya pun, akhirnya ditempati oleh Bunga karena Cani tidak berani tinggal sendirian.
"Ayo, ayo. Tapi Ayah Isya dulu ya? Ayah ambil wudhu dulu, nanti sholat di kamar kau. Kau udah punya Isyaan belum?" Ayah bengkir dari duduknya.
"Udah, Yah." Cani bangkit dan bergerak ke kamarnya.
Kamarnya berada di sisi kanan ruang keluarga ini, pintu kamarnya berhadapan dengan pintu kamar biyung. Hanya saja memang tersekat ruang keluarga yang cukup besar ini.
"Ra, kau telpon bang Chandra suruh antar biyung pulang," pinta ayah kemudian
"Iya, Yah." Aku bangun dan pulang ke rumahku.
Aku lanjut mengASIhi Galen, dengan bermain ponsel. Seperti yang ayah pinta, aku menghubungi bang Chandra untuk mengantar biyung pulang.
Pesan chat dari bang Bengkel yang baru aku buka, terlihat waktunya dikirim beberapa waktu yang lalu. Hanya seperti ini [😘] tapi membuatku senyum-senyum sendiri. Besok aku sudah satu kamar dengannya, apa yang akan terjadi nanti ya?
Aku masih bermain ponsel, tiba-tiba banyak suara orang ramai mengobrol. Aku melepaskan diri dari mulut Galen, kemudian aku menyusun beberapa bantal agar sulungku ini aman ditinggal.
Ternyata ada pakwa, Bunga, biyung yang tengah mengobrol di depan rumah yang Bunga tempati. Terasnya menyatu, bahkan ada lubang cahaya yang terhubung dari rumah Bunga ke rumahku. Suara obrolan seperti ini, ya pasti terdengar jelas.
"Biyung, Cala sama Cali mana?" Aku keluar dari rumahku, setelah mengintip dari jendela ruang tamu.
"Masih di sana, nanti pulang sama kak Key katanya. Key masih di sana sih, masih nyuapin Kaleel." Biyung menoleh ke arahku.
Anak-anak di sini memang tidak ada batasan untuk makan, sudah malam sekalipun tetap disuapin jika memang belum makan.
"Ya Biyung istirahat tuh, ayah suruh tadi." Aku berjalan ke arah teras rumah Bunga.
"Ya nanti dong. Mentang-mentang besok nikah, orang tuanya suruh istirahat cepat biar pada bugar." Pakwa menahan tawa dengan melirikku.
"Sini kau temenin Biyung, biar ayah kau tak marah. Pakwa mau ngobrol soalnya." Biyung melambaikan tangannya.
Aku menganggukkan kepala dan duduk di samping biyung.
"Galen udah tidur kah?" Biyung menggandeng lenganku meski kami dalam posisi duduk.
"Udah, Biyung. Drama betul, gimana nanti besok?" Aku takut diusir dari kamar oleh Galen.
Aku menciptakan sainganku sendiri. Anak suamiku tidak begitu, tapi malah anakku sendiri.
"Nanti diambil bang Chandra dulu, dia bilang tadi. Kasian pengantin baru, biar fokus dulu." Biyung meledekku, ia bahkan tertawa renyah.
"Wah, udah duluan kali, Biyung. Cuma kan keluarga sini tak tau, apalagi Ra sama-sama di Pulau Jawa kemarin."
Kampret mulut Bunga ini.
"Kau lupa, kalau kita ini tak sama." Biarkan, biar sakit hati sekalian. Rasanya pun aku ingin memakinya, sayang ada biyung di sini.
Aku takut biyungku sedih, jika tahu mulut anak-anaknya bisa menyakiti seperti ini.
...****************...