Hope and Wish

Hope and Wish
H&W36. Pencerahan biyung



"Ya kan memang kau di Cirebon ya, Dek?" 


Biyung membuatku bingung saja. 


"Ya terus memang kenapa, Biyung?" Jika bukan ibuku, rasanya aku ingin meninggikan suaraku saja. 


"Bunga kan di Bekasi kan kemarin? Jelas beda lah, Cirebon sama Bekasi," terang biyung yang membuatku langsung menghela napas. 


Perkataanku bukan ke arah situ. 


"Canda…. Apa alasannya kau dipesantrenkan?" Pakwa mengalihkan pembicaraan. 


"Tak ada yang ngurus, tak ada yang perhatian. Tiap pagi nih dari zaman SD, bangun tidur tuh udah ada uang kisaran lima belas ribu di atas meja makan. Di zaman aku, itu uang besar nilainya. Sarapan nasi uduk, seribu masih dapat. Jadi dari bangun tidur, sampai mandi, sampai berangkat sekolah itu ngurus sendiri. Terus, pergi beli sarapan sendiri. Kadang makan di sekolah, berangkat paling awal, Bang. Dari kelas tiga SD, sampai kelas enam begitu terus. Jadi sampai besar pun, bingung uang banyak untuk apa. Pas punya suami kena krisis ekonomi, biasa pegang uang lebih terus, dadakan pegang uang harus irit-irit, kaget di situ. Nah, yang lima belas ribu itu untuk sehari. Di rumah itu, bibi aku cuma masak nasi. Aku beli lauk sendiri dari uang lima belas ribu itu, Bang. Makan siang, makan malam, aku harus mikirin lauk. Aku juga jajan dari uang itu, Bang. Kadang tuh kepengen gitu kek temen, makan dulu nak, mandi dulu nak. Aku ketemu keluarga cuma pas pagi, sama pas malam mereka pada pulang dari peternakan. Aku tak disuruh nyapu ngepel rumah kok, tapi aku gabut dan aku nyapuin tiap hari. Orang kesepian aja gimana, Bang? Main terus, di rumah gulang-guling sendiri. Makanya aku happy jangan di pondok pesantren, kalau pulang lebaran malah sedih. Malah pas udah usia SMA, aku milih lebaran di kawasan pondok. Kumpul di rumah kyai, makan besar di sana. Di asrama sendirian, kadang sama satu atau dua orang yang dari luar pulau aja." Biyung bercerita tanpa ekspresi sedih. 


Kok bisa ya biyung dipesantrenkan tapi tidak sedih jauh dari keluarga? 


Saat baru masuk pesantren, setiap mau tidur aku menangis karena keputusan ayahku itu. Hingga sampai di empat puluh hari, ayah boleh menengokku, ayah buka semua jika ia khawatir kalau aku tidak memiliki ilmu sebagai pedoman hidupku. Seiring bertambahnya usiaku, aku mengerti kok maksud baik ayahku. Apalagi aku merasa paling beruntung karena ayah tidak pernah telat menjengukku, atau mengirimkan keperluan bulanan untukku. 


"Memang di pesantren dapat perhatian? Terurus?" Tangan Bunga dicandak oleh pakwa, mungkin agar Bunga mendengarkan ocehan biyung. 


Zee ya ada di pangkuan pakwa, anak perempuan itu anteng mengedot di pelukan kakeknya. 


"Dapat perhatian dong, sakit ya ditanya temen-temen, ditanya sama ustadzah karismatik, itu tuh yang bangunin santri kalau Subuh. Bukan terurus mandi dimandikan juga, tapi kan digebrak-gebrak terus suruh ini itu. Tiap hari tak pernah ngerasain itu semua, terus akhirnya ada yang nyuruh ini itu. Eh keterusan, disuruh-suruh sampai sekarang." Biyung terkekeh kecil. 


"Kau pun sama Ra?" Pakwa mengalihkan perhatiannya padaku. 


"Aku pondok pesantren modern, ada bell tiap jam bangun. Kalau pas turun kamar jumlah tak sesuai, ustadzah langsung cek dan lihat keadaan santri yang masih tidur itu. Kalau pas bulan puasa pakai terompet kencang betul, kami para santri biasa sebut terompet sangkakala." Aku ikut bercerita juga. 


"Tapi enak di pesantren?" Pakwa memandangku dan biyung bergantian. 


"Enak kok, hidup teratur. Tak mikirin beban apapun, jajan tinggal jajan, makan tinggal makan. Hafalan wajar lah, tak bisa tak dipenjara juga." Biyung menepuk lenganku dan tertawa renyah. 


Bawa-bawa penjara segala. 


"Di pesantren modern, ada ekskul juga. Diajarkan bela diri, atau ekstrakurikuler yang lain," tambahku kemudian. 


"Itu sih untuk yang sekolah umum aja, Dek. Pas biyung udah kuliah, udah tak ada ekskul. Tapi enak dalam pesantren, ketimbang lepas pesantren tuh. Mana ada drama mabuk laki-laki lagi." Biyung mentertawakan dirinya sendiri. 


"Aku sih tak begitu." Aku ikut tertawa. 


"Tapi mabuknya pas udah jadi janda," terang biyung seperti itu. 


"Banting harga ya, Ra?" Bunga terkekeh kecil. 


"Tak juga, dapat Civic Turbo kok." Biar saja ia panas hati sekalian. 


Limited edition sepertiku disamakan dengan best seller sepertinya. Aku bukan menjadi seperti iblis yang membanggakan diri sendiri, tapi harusnya yang jadi manusianya ini jangan mengejekku terus. 


"Dimuliakan ya, Nak? Biyung yang seneng, anak perempuan maharnya tinggi-tinggi." Biyung mencubit pipiku, kemudian ia tertawa renyah. 


Pakwa sampai terkekeh geli dengan tingkah biyung, ia seperti gemas dengan anak kecil. 


"Kalau dia bertanggung jawab, kan tak mungkin tuh Zee sampai aku bawa pulang. Biyung sih mandang mahar, tak mandang tanggung jawab. Syuhada aja tak bertanggung jawab kan? Sekalipun dia kasih mahar tinggi."


Memang mengajak gelut ini perempuan. 


"Makanya Syuhada aku depak, Bunga. Nanti kalau hamil pun, aku bakal ngakuin anak dia aja, biar dia bertanggung jawab terus. Coba kan kau ngakuin, orang kau ngakunya telat. Galen yang bukan anaknya aja, ini kita udah ngebahas biaya pendidikan loh." Aku bertutur lembut dan mengembangkan senyumku. 


"Kelihatan bertanggung jawabnya kok, Dek. Zee aja udah dijamin dari susu formula, pakaian, perlengkapan makannya. Tiap bulan tuh kakeknya antarkan, Hannya soalnya sering ada di Jakarta sih." Pakwa sepertinya tidak menyadari, jika anaknya itu tengah meledekku.


Bunga langsung kicep, ia tidak lanjut berkicau lagi. 


"Kenapa nanyain pesantren, Bang? Hana memang mau masuk pesantren?" Biyung memecahkan suasana yang tidak enak ini. 


"Bunga, Dek. Menurut kau gimana ya? Dia tak mau, sedangkan Givan maksa. Abang pikir, ada benarnya juga." 


Ah, mending jika pikiran pakwa terbuka. 


"Ya baguslah, di lingkungan baru banyak yang tak terduga, biasanya ngasih semua yang kau harapkan dari lingkungan lama. Mana tau, dapat jodoh di pesantren juga. Banyak kok yang udah umur masih di pesantren juga, biasanya ngabdi di kyai."


Kenapa meminta pencerahan pada biyung ya? Biyung kan kadang bijak kadang tidak. 


"Kenapa itu bagus? Aku dijauhkan dari dunia modern, aku dibatasi dari lingkungan luar, aku dilarang untuk ketemu anak, aku tak boleh kumpul bareng keluarga." Bunga nampak menunjukkan protesnya. 


"Kumpul keluarga kok kalau ada yang meninggal."


Tepuk jidat, biyungku banyak tidak nyambungnya. Aku curiga biyung jarang makan makanan yang bergizi, pasti kecil ia makan beli lauk ampas tahu terus dari uang lima belas ribu itu. 


"Hei, Biyung." Aku menyikut lengan biyung. 


"Hmm?" Biyung menoleh ke arahku. 


Ia tidak sadar rupanya. 


"Hari besar boleh pulang kok, kek lebaran dan cuti sekolah," terangku agar suasana tidak bertambah absurd. 


"Canda, kita nanya serius. Coba kau kasih pencerahan ke Bunga, kasih nasehat. Jangan buat mata jadi berkedut gini." Pakwa seolah lelah hati saat mengatakan hal itu. 


Biyungku memang paling tidak tahu sikon. 


...****************...