
"Dari jam berapa? Kenapa gak ada yang ngasih tau aku?" Bang Bengkel langsung lari ke luar rumah.
Aku pun ikut panik, aku baru melihatnya sepanik ini. Biyung dan ayah ikut ke luar rumah juga. Ayah langsung melemparkan kunci mobil, aku dan bang Bengkel langsung menuju ke klinik pakwa tempat Farah dirawat semalam.
"Jam berapa ya? Aku masuk jam sepuluhan, belum ada kejadian Farah demam langsung kejang." Kurang lebih seperti itu cerita dari biyung.
Tengah malam Farah terserang demam tinggi mendadak, kemudian tak lamanya langsung kejang. Ditambah aku sebelum tidur melihat anak kejang di sosial media, kemudian langsung meninggal tak lama kemudian.
Aku jadi negatif thinking sendiri, aku tak mau jadi takut dengan tanggal anniversary kami, karena ada cerita duka di dalamnya.
"Gak tau, Yang." Skill mengemudi bang Bengkel keluar, ia bisa menggunakan teknik heel and toe.
Seperti pengemudi menurunkan gigi, sekaligus menekan pedal rem dengan telapak kaki dan menginjak pedal gas dengan ujung kaki. Tujuan melakukan heel and toe ini adalah meningkatkan performa mobil saat menurunkan gigi mobil, biasa dilakukan saat melewati tikungan atau jalanan yang perlu mengurangi kecepatan mobil.
Selain ahli otomotif, ia raja di jalanan juga sepertinya. Mungkin ia lupa traumanya karena panik, hingga di jalanan gang begini ia bisa berakrobat.
"Ayo, Yang." Ia keluar dari mobil lebih dulu, setelah parkir asal di depan klinik milik pakwa.
Kenapa ya om Hamdan tidak mengabari bang Bengkel?
Benang bajuku nyangkut di safety belt, aku membutuhkan waktu untuk keluar dari mobil. Lagi pun, bang Bengkel lupa menarik kunci mobil pink ini. Aku membutuhkan waktu untuk mengejarnya, aku membiarkannya pergi lebih dulu.
"YANG!" Laki-laki tinggi itu kembali berjalan ke arahku dan menarik tanganku.
"Kamu gak khawatir sama Farah? Santai banget!" Wajahnya tidak bersahabat.
Ini sifat aslinya.
"Benang baju aku nyangkut." Aku berjalan mengikuti langkahnya, dengan menunjukkan beberapa benang yang rumit ini masih menjuntai di bajuku.
Sepertinya akan sobek, entah ini memang kainnya yang rapuh.
"Mana?" Ia menoleh ke arah tanganku.
"Ini." Pas sekali berada di saku dasterku.
Ia menarik benang di bajuku, dengan tetap melanjutkan langkah kakinya. Itu seperti hal yang mudah untuknya, padahal tadi aku sampai ngotot-ngotot.
"Di mana ruangan anak-anak?" Ia celingukan.
"Di sini, Bang." Aku menunjukkan lorong sebelah kiri.
Ia tetap tidak melepaskan gandengan tangannya pada pergelangan tanganku. Untungnya kakiku panjang, jadi bisa menyetarakan langkah cepatnya.
Kami menemukan ruangan Farah berada. Ayahnya tetap tidak melepaskanku, setelah menemukan brankar Farah dirawat.
"Nak, kok sakit mendadak? Kenapa, Sayang?" Bang Bengkel baru melepaskan tanganku, setelah ia ingin mengusap kepala Farah.
Gadis kecil berusia enam bulan ini tengah duduk di tengah-tengah brankar bayi, dengan selang infus yang terpasang di punggung tangannya. Ia tengah disuapin oleh kakeknya, ia duduk anteng dengan mainan berbunyi di tangannya.
"Adek udah gak apa, Yah." Om Hamdan yang menjawab.
"Adek kenapa, hm? Capek? Jatuh?" Bang Bengkel menempelkan punggung tangannya ke dahi Farah.
Farah memamerkan giginya ke ayahnya, eh tapi ada yang berbeda.
"Tengok, Bang. Gusi atasnya bengkak." Jemariku mengangkat bibir atas Farah.
"Oh, iya. Mau tumbuh gigi lagi, Nak?" Bang Bengkel mencium pipi Farah.
Ternyata jika memiliki anak dengan riwayat kejang, ibaratnya harus sedia payung sebelum hujang. Sebelum demam karena faktor tertentu, tumbuh gigi contohnya, harus cepat-cepat dibawa ke dokter dahulu agar mendapatkan obat dan penanganan.
"Iya, Yah. Maaf ya, Nak? Ayahnya repot sendiri, tapi nanti sore Adek Farah udah dapat perhatian dari Mamah Ra." Bang Bengkel mengusapi air yang tersisa di mulut Farah.
Anak perempuan itu selalu tersenyum untuk ayahnya. Ia nampak bahagia sekali dapat perhatian dari ayahnya, sampai pandangannya tak pernah berpaling dari ayahnya.
"Udah tinggal di sini aja dulu, Han. Kliniknya dekat, obatnya paten. Tuh lihat, udah bringas. Gak ada drama lemes, tapi obatnya gak bisa dihandle asuransi yang kita punya kata stafnya. Jadi beli sendiri, Han. Mahalan obatnya ketimbang biaya kliniknya." Om Hamdan bisik-bisik dan tertawa kecil.
"Gak apa, Yah. Nanti biayanya utang dulu ke ibu sambung aku." Bang Bengkel terkekeh kecil.
"Ohh, bisa. Kakek Hamdan masih mampu ya, Dek? Paham kok Ayah lagi habis-habisan." Om Hamdan seperti meledek bang Bengkel.
"Sembarangan!" Bang Bengkel menyerang Farah dengan ciuman.
Anak perempuan itu sampai tertawa dengan suara keras.
"Udah ngomong ke pakwa belum, Om?" tanyaku kemudian.
"Belum, Ra. Udahlah, biarin aja. Yang penting Farah terurus kok di sini." Om Hamdan mengusap kepala Farah, kemudian memandangku. "Siap-siap gih, Ra. Farah udah boleh pulang, kalau kantong infusnya habis. Yang penting tetap makan, banyakin minum, habiskan obatnya katanya."
Aku merasa canggung berinteraksi dengan Farah, apalagi perhatian anak itu hanya terarah ke ayahnya.
"Sehat ya, Dek? Yang kuat-kuat, nanti berhadapan sama bang Galen." Aku mengajaknya tos boom.
Kok geli aku jadinya? Anak perempuan itu malah mengadu jidatnya ke kepalan tanganku, bukannya mengadu kepalan tangannya juga.
"Ehh, bukan begitu." Bang Bengkel tertawa lepas, begitu juga dengan om Hamdan.
Anak-anak, absurd sekali. Anak perempuan itu sudah tertular virus pamer gusi seperti Galen, ia ditertawakan malah ikut tertawa juga.
Syukurlah, interaksi kecil yang aku berikan ditanggapi olehnya. Aku takut anak itu menangis, kan aku merasa tersinggung nantinya.
"Tos boom sama Ayah, Mah. Nih, Adek perhatiin ya? Sama bang Galen juga nantinya tos boom terus loh, bang Galen bisanya tos boom." Bang Bengkel mengarahkan kepalan tangannya padaku.
"Nih, Dek." Aku menabrakkan kepalan tanganku pelan ke kepalan tangan bang Bengkel.
Eh, ia girang. Ia malah bertepuk tangan. Ah, sudahlah. Yang penting tetap tertawa saja, horeeeee.
"Adek Farah sehat ya? Ayah antar Mamah Ra dulu ya? Siang nanti lihat Ayah berjanji ke Allah ya? Farah saksikan ya? Kalau Ayah ingkar ke Allah, nanti Farah ingatin Ayah ya?" Bang Bengkel menciumi kembali anaknya.
Coba Galen, ia akan siap memakan orang yang menciumnya. Mungkin karena Farah anak perempuan, dicium pun malah terlihat senang.
"Iya, Ayah. Ayah tenang aja, ada Kakek kok di sini. Nanti siang Farah hadir kok, nanti sama nenek Jasmine juga."
Aku terbahak-bahak, mendengar om Hamdan menyebut istrinya nenek. Benar sih, tapi kakakku itu masih dua puluh sembilan tahun dan malah dipanggil nenek.
"Panggil ibu ke kakak kamu nanti loh, Ra." Om Hamdan membuat tawaku semakin bertambah lepas.
"Nanti kita adu antara menantu dan mertua, siapa yang akan menguasai dapur kita." Bang Bengkel tertawa jahat.
"Heh, serius mau serumah? Nanti kita tak bebas loh, Bang." Aku mencoleknya dan berbicara lirih.
"Memang mau ngapain sih?" Om Hamdan merundukkan punggungnya ke arah kami, kemudian berbisik-bisik juga.
Bang Bengkel tertawa malu, kemudian ia menarik hidungku. Ia seperti salting, atau memang langsung berpikir ke arah ranjang.
...****************...