Hope and Wish

Hope and Wish
H&W81. Cerita dari kak Jasmine



Apa aku harus marah, ketika menyadari bahwa suamiku memberikan perhiasan karena ia takut aku iri dan marah? Aku baru melihat status Bunga setelah pulang dari mengantar suamiku, di situ aku baru tahu jika ia memberikan Bunga sebuah kalung couple. 


Caption dalam foto yang Bunga pajang adalah, kenang-kenangan dari ayah Zee biar selalu ingat Zee. Aku tidak tahu kapan ia membelinya, entah ia sudah mempersiapkan ini semua. 


Aku tidak ingin melangsungkan perdebatan lagi, apalagi jelas suamiku belum sampai tujuan. Aku hanya mengambil bukti tangkapan layar, kemudian mencoba meredam amarahku. 


"Galen, mimi tak?" Aku memasuki rumah ayah. 


"Galen lagi makan sama aku, Makcik." Barra berlari ke arahku dan menunjuk adik kecilnya itu. 


"Kau ada di sini, Bang? Makan yang banyak ya?" Aku mengusap kepala Barra yang memiliki rambut ikal tersebut. 


Ia mengangguk. "Ya, Makcik." Ia berlari lagi menghampiri Galen. 


Galen riang bukan main, sampai nasi di mulutnya sedikit keluar karena ia tertawa dengan membuka mulutnya. Mereka tengah bermain bola basket mini berbahan karet, yang tidak sakit jika terkena lemparannya. 


"Yah, ini kuncinya." Aku melangkah menuju kamar ayah. 


"Ya, Dek," sahut biyung dari dalam kamar. 


Pintu kamar terbuka lebar, jadi aku bisa melihat kedua orang tuaku. Aku jadi teringat tingkahku sampai membuat ayah terbaring di ranjang, dengan kain yang menempel di dahinya. 


Sepertinya, ayahku demam. 


"Ayah, udah periksa belum?" Aku mendekati ranjang mereka, aku tidak tahu jika ayah sakit. 


"Udah, Dek. Tadi Kal sama Kaf ke sini, terus kasih obat." Biyung mengganti kain di dahi ayah. 


"Udah mendingan belum setelah minum obat, Yah?" Aku menyentuh lengan ayah. 


Hangat, tidak begitu demam tinggi. 


"Mendingan."


Tapi aku tidak bisa melihat mendang-mending dari kondisi ayah. 


"Ayah pengen istirahat, Dek. Gih istirahat siang." Ayah mengusirku halus. 


Aku biasanya gampang tertular jika ayah sakit. Mungkin, karena itu ayah langsung menyuruhku pulang. Ayah tidak mau aku sakit. 


"Iya, Yah. Ayah cepat sembuh." Aku menaruh kunci mobil ayah di nakas, kemudian langsung pulang. 


Galen lupa ASI, jika tengah bermain bersama Barra. Bukan saudara kandung, bukan saudara dekat, tapi Barra mau mengalah pada adik kecilnya itu. Tidak seperti anak-anak bang Chandra, yang sifatnya kebanyakan keras dan sungkan mengalah. Alhasil anakku yang kecil selalu dibuat nangis oleh He Five itu. 


Aku malas pulang, toh tidak ada yang harus aku beri makan juga. Aku berniat ke mama Aca untuk mengatur janji ngopi, agar hatiku tidak sesesak ini. Jika ada obat untuk meredakan sesak hati pun, aku akan meminumnya rutin sampai hatiku sembuh. Rasanya sesak sekali menahan gejolak protesku dan semua sifat asliku di depan suamiku. Awal tidak begini, di tengah jalan aku harus rela begini. 


Ini hanya inisiatifku saja. Aku merasa, ini sudah paling tepat daripada aku harus mengumbar protesku dan sifat asliku padanya. Suaraku menang pun tidak, yang ada aku harus rela bertengkar lebih lama dengan suamiku. 


"Ra, Ra, Ra…. Mau ke mana?" Kak Jasmine melambaikan tangannya, menuntutku agar tidak pergi. 


"Bentar, tunggu sini. Kakak mau ngasih sayur untuk ayah dulu." Kak Jasmine buru-buru naik ke teras rumah ayah. 


"Pelan aja, Kak. Jangan buru-buru tuh." Aku khawatir dia jatuh. 


"Ya, Dek." 


Setelahnya, aku mendengar ia bercakap-cakap sedikit dengan Barra. Jam segini, Cala dan Cali tengah madrasah. Ia tidak ada di rumah. 


"Dek, sini dulu." Kak Jasmine menarik tanganku. 


"Ke rumah aku aja, jangan di rumah ayah." Aku khawatir kak Jasmine membicarakan hal yang sensitif, kemudian ayah mendengar dan meradang lagi nantinya. 


"Ayo, ayo." Kak Jasmine seperti tidak sabaran. 


"Kenapa sih, Kak? Kakak tak izin suami?" Aku kaget dengannya yang seperti tergesa-gesa. 


"Izin, tapi izinnya ke ayah. Nanti curiga kalau Kakak ember, kalau Kakak ketahuan lagi ngobrol sama kau." Kak Jasmine menarikku masuk ke dalam rumah, setelah pintu rumahku terbuka. 


"Kenapa tuh, Kak?" Aku lekas menutup pintu rumah, kemudian duduk di sampingnya. 


"Kakak kurang tidur, semalam merem ayam aja. Bayangin aja, di kamar ada Han, ayahnya yang aktif ngobrol. Farah pulas di samping Kakak. Sedangkan pengasuh di ruang tamu sama Zee. Rumah sekamar, anak tiri malah nginep." Kak Jasmine geleng-geleng kepala. 


Aku bisa merasakan rasa tidak nyamannya. 


"Katanya mereka ke tempat Bunga?" Aku menahan sesak kembali, karena menyebut nama yang didatangi suamiku tanpa izinku itu. 


Sudah tahu perempuan itu yang membuat konflik di rumah tanggaku terus. Ia malah inisiatif datang dan memberi kenang-kenangan pada Bunga. 


"Iya, jam sembilanan pergi keluar. Ayahnya itu sampai ngatur napas berkali-kali, pas Han selalu bilang tak enak hati sama Bunga, ngerasa bersalah karena tindakan kau. Kalau Kakak orangnya, Kakak sih nyuruh orang aja Ra. Pengen juga Kakak kek kau, tapi tak berani maju sendiri."


Mendengar ucapan kak Jasmine, aku jadi teringat cerita insiden tambang ayah yang diledakan oleh orang suruhan ibu kandungnya kak Jasmine. Entah diledakan, entah dibakar, tapi kurang lebih kejadiannya seperti itu. Ternyata sifat kak Jasmine kurang lebih sama seperti ibunya, hanya saja bedanya kak Jasmine tidak punya masalah dan dendam dengan orang lain. Dengan keluarga bang Vano pun ia tetap akrab, jatah untuk Varro tetap masuk meski ayahnya masih di penjara. 


"Terus, Kak?" Aku ingin tahu suasana semalam. 


"Terus kata ayahnya, udahan aja kalau ribut terus, kau egonya besar, sedangkan kita udah dikasih tau bagaimana seorang Ra sejak sebelum kau mutusin untuk nikah. Kata ayahnya lagi, kau ini tak siap, tak mampu didik istri kau, bukan caranya begitu hadapin perempuan keras. Di situ, ayahnya kasih tau semua apa yang harus Han lakuin. Tapi kata Han, kenapa aku harus melakukan itu semua, hakikatnya istri kan harus patuh sama suami. Kakak mikir tuh, kalau suami nuntut patuh, istri tak ada yang ngajarin, maka istrinya patuh pun tersesat terus dalam kesalahan. Misalkan contohnya suami minta uang gajinya dua juta udah isi token selama sebulan, sedangkan ada angsuran motor dan lain-lain. Memang istrinya mampu untuk isi token selama sebulan, tapi suaminya gak tau kan kalau istrinya stress setengah mati sampai hutang pinjol demi nutupin semuanya. Kalau akhirnya kebongkar semua, si suami pun tak mau disalahkan," ungkap kak Jasmine dengan pemikirannya sendiri. 


Aku jadi tahu di sini, jika ayah Hamdan menasehati suamiku juga. Aku jadi tahu juga, jika bang Bengkel menginginkan istri yang penurut.


"Tapi tadi bang Bengkel baik betul sama aku." Aku hanya menyimpulkan sendiri saja dari perlakuannya pagi tadi. 


Meskipun permintaan ranjangnya membuatku kurang nyaman, bahkan aku sampai tidak bisa kli**** karenanya. 


"Karena ayahnya itu….


...****************...