
"Ya udah, nanti pakai tabungan aku untuk bangun usaha Abang yang baru." Aku mencoba tidak egois.
Sebenarnya, aku berat jika benar-benar selamanya harus tinggal di Jakarta. Kota besar, bagaimana nanti caranya aku mendidik anak-anakku? Di sini didikan wajar saja pun, rata-rata anak-anak masih rutin mengaji dan Subuh pun ramai anak-anak ikut sholat. Di sana bagaimana? Aku takut tidak bisa mendidik anak di kota yang sangat modern itu.
Ia menggeleng. "Gak usah, Yang. Pegang aja uang Adek, nikmati sendiri hasil pengabdian Adek ke orang tua. Abang bisa sabar untuk nabung dan buka cabang baru, toh semua pendapatan dari usaha Abang gak habis untuk makan kita bersama sehari-harinya kan? Adek keberatan gak kalau uangnya disisihakn dan ditabung untuk bangun usaha baru?" Ia menggenggam tanganku dan mengapitnya di tengah-tengah telapak tangannya.
Rokoknya sudah padam dan ia lemparkan begitu saja.
"Tak, Bang. Tau sendiri, cuma beberapa juta aja untuk kebutuhan kita bersama." Aku sudah melamun, memikirkan harus lama di Jakarta.
Aku memang bukan wanita modern, tapi aku yakin jika keimananku mampu bertahan di sana. Namun, jika aku harus mendidik anak di tengah kota yang modern itu caranya bagaimana? Sedangkan, aku sendiri sejak kecil hanya hidup di dalam pondok besar orang tuaku saja. Aku takut keimanan anak-anakku rapuh di kota besar itu, aku takut anak-anakku terjebak pergaulan bebas.
"Nih, contohnya hari ini aja. Pagi-pagi, kita sibuk urus dapur dan anak. Siang udah kenyang semua, anak udah tidur semua. Abang ngapain? Apa tidur lagi? Atau ngamer lagi? Keluyuran main ke saudara, ya malu, karena mereka lagi pada sibuk dengan pekerjaannya." Ia bertopang dagu.
Aku jadi tidak enak sendiri padanya. Sepertinya, aku harus mengobrol dengan ayah dari hati ke hati. Aku cinta suamiku, aku tidak mau suamiku murung terus.
"Abang istirahat dulu gih. Aku mau cek anak-anak dulu, sekalian mau pump ASI." Ini hanya alasan, aku ingin mencari kesempatan untuk mengobrolkan dengan ayah tanpa membuka tentang perasaan suamiku.
"Tuh kan? Adek aja punya kegiatan." Ia melirikku, kemudian ia bangkit.
"Ibu Jasmine ada di dalam?" Bang Bengkel menunjuk ke rumah ayah.
"Iya tadi sih ada, Bang." Aku mencoba mengingat keberadaan kak Jasmine.
Tadinya aku melihat ia tengah repot di dapurnya biyung. Katanya, ia tengah membuat frozen food untuk Varo. Sebagai bekal nanti, karena ia akan ke Singapore. Peralatan dapurnya tidak selengkap biyung, jadi ia membuat makanan frozen tersebut di dapur biyung.
"Abang ke ayah Hamdan ya?" Ia langsung berjalan ke pintu penghubung halaman sebelah.
"Iya, Bang." Aku langsung mengambil ancang-ancang untuk kembali ke rumah ayah.
Namun, ayah masih sibuk berbicara dengan kuasa hukumnya. Biyung sibuk membantu kak Jasmine, jadi aku tidak memiliki teman berbagi cerita.
Aku punya ide, baiknya aku bertukar pikiran dengan mama Aca saja. Mama Aca no bocor-bocor seperti biyung. Ia rapi menyimpan cerita apapun. Toh, Galen dan Farah pulas di ranjang Cala dan Cali.
"Ihh, masih di sini sih?" Aku kaget melihat Kal yang tengah memeluk mama Aca di ranjang mama Aca.
Kata ART mereka, mama Aca ada di kamarnya. Jadi, aku langsung naik dan masuk ke kamarnya.
"Iya lah, cuti lebaran." Ia melepaskan mama Aca yang tengah bermain ponsel di ranjang itu.
"Ya, Ma?" Kal seperti memohon pada mama Aca.
"Iya silahkan aja Mama sih, sana izin sendiri ke papa kau. Berani tak kau?" Mama Aca melirik gadis di sebelahnya.
"Siapa temennya? Bawa sini dulu." Mama Aca bangkit dan melepaskan tangan Kal dari perutnya.
"Ya kan alesan, Ma. Aku pengen sendirian aslinya, Ma. Kalau sama temen tuh jadinya nungguin temen dandan, ini itu tunggu-tungguan terus."
Aku merasa yang dibilang Kal benar juga. Tapi jika sendirian kan rasanya kurang seru, apalagi jika liburan. Sudah pasti akan sedikit sulit untuk untuk mendapatkan foto candid.
"Iya, iya. Ngomong sendiri ke papa kau, nanti Mama bantuin." Mama Aca terlihat risih diganggu oleh anaknya, seperti ayah.
"Asyik…. Makasih, Ma. Aku setor absen online dulu." Ia langsung berlari pergi, bertepatan saat aku duduk di tepian ranjang.
Mama Aca menghela nafasnya dan melirikku. "Apa lagi ini? Nikah sebulan kurus kering."
Aku terkekeh kecil, kemudian menempati tempat Kal tadi.
"Memang Mama tetep gemoy setelah nikah?" Aku berselonjor dan memangku sebuah bantal.
"Tambah gemoy malah, makanya papa kau hampir selingkuh." Mama Aca tersenyum kecut.
Sebenarnya papa Ghifar benar tidak hampir selingkuh? Apa benar karena perubahan fisik istrinya? Aku tidak yakin papa Ghifar demikian, makanya sering menganggap bahwa cerita itu adalah omong kosong belaka.
"Aku kenapa ya kurus begini, Ma?" Aku memandang lurus ke depan.
"Kau kenapa? Apa masalah kau?" Mama Aca melepaskan ikat rambutnya, kemudian menyisir rambutnya dengan jemarinya.
"Kemungkinan, masalah aku cuma kelelahan. Tapi nih, Ma. Suami aku lagi tersinggung sama sikap ayah, aku takut dia benci ayah. Sebaliknya, kalau aku cerita ke ayah, malah khawatir ayah benci suami aku. Aku tetap mereka akur dan baik-baik aja, tanpa rasa tersinggung ataupun lainnya." Aku langsung mengungkapkan keresahan hatiku.
"Jangan apa-apa aduin ke orang tua, selagi masalah kau sama suami tak melibatkan kekerasan dan kau bisa ngatasin sendiri, ya selesaikam aja sendiri. Jangan manja, Ra. Masalahnya, kau tau sendiri gimana tegasnya ayah kau. Biarpun Nahda apa-apa mewek ke Mama, tapi Mama ngerasain sendiri rasanya orang tua campur tangan. Jadi, Mama sarankan biar Nahda sampaikan ke suaminya dengan halus. Mama pun tak perlu besar-besarkan meski kesal juga, karena Mama ngerasain sendiri tak enaknya direcokin orang tua. Paling ya, ngobrol tipis aja sama abang kau. Entah tersinggung tidaknya abang kau, tapi Mama bermaksud agar abang kau berpikir lebih baik. Masalah apapun yang Nahda adukan, tak Mama ceritakan ke papa Ghifar. Karena khawatirnya dia tak terima, khawatirnya dia berbuat tegas karena ketakutannya sendiri. Memang masalahnya apa? Udah sampai sejauh apa masalahnya?"
Aku langsung bertindak cepat untuk bercerita dari awal sampai akhir. Hingga akhirnya mama Aca manggut-manggut dan diam sejenak.
"Ikut suami itu tak buruk rasanya, Dek. Mama ngerasain sendiri kok." Mama Aca mengusap-usap dagunya.
Posisinya ada di depanku, bersila dan memeluk sebuah bantal dengan rambut tergerai.
"Tapi aku takut di Jakarta, Ma. Aslinya tuh, aku tak mau di sana. Tapi gimana? Aku tak mau suami aku tambah berpikir buruk tentang aku." Muram sudah wajahku sekarang.
"Kenapa takut? Kau cuma perlu datang dan menyesuaikan. Kau pernah cerita tentang kediaman dia yang di perumahan dan nyaman itu kan? Yakin tak betah? Kau jangan bayangin Jakarta yang dekat sungai, jangan bayangin pesisirnya, jangan bayangin rumah depan jalan, jangan bayangin macetnya. Kau kan di rumah aja, kau tak akan makan kondisi di luar rumah tentunya. Jangan takut sama takdir Allah loh, bagaimana nanti, ya udah serahkan aja ke Allah. Kau jalanin aja hari ini dan rencana untuk besok. Biarkan mengalir apa adanya, tak harus memikirkan ketakutan dari sekarang." Mama Aca menyentuh tanganku.
...****************...