
Di dapur, ayah memperhatikanku yang ikut repot di dapur setelah adzan Subuh ini. Bang Bengkel masih sholat, ia telat bangun, tapi tidak telat sholat Subuh.
Sebagai permulaan yang baik, aku akan membuatkan sarapan yang enak.
"Badan pada capek, Mas." Biyung meregangkan lehernya.
"Buat sarapan aja, nanti istirahat. Apa mau dipanggilkan tukang pijat, sekalian untuk Ra."
Aku menoleh, aku mendapati ayah tengah memandangku dengan seksama. Biasanya tidak malu, tapi pandangan ayah menelisik sekali.
"Han kasar?"
Tuh, kan? Ayah sudah memberikan satu pertanyaan ke arah itu.
"Tak kok, Yah." Aku pura-pura sibuk dengan perbumbuan lagi.
"Ya masa baru sehari nikah udah KDRT, kan tak mungkin." Biyung hanya melirik ke arahku.
"Bukan gitu maksudnya, Canda." Suara ayah masih mengalun lembut.
"Jejak Han ganti-ganti perempuan, sering berpikir bahwa titik masalahnya ada di dia."
Bahkan, pikiranku tak sejauh itu.
"Aku belum tau pasti, Yah. Semoga aja tak." Aku jadi memiliki kekhawatiran sendiri.
Mana ia sudah amat candu untukku lagi.
"Pagi semuanya, pagi Bidadariku." Suara suamiku memenuhi dapur.
Diberi kesenangan, ia bertambah seceria ini.
"Pagi, Menantu." Biyung menyahuti dengan ceria.
"Yah, minta rekap hasil bulanan. Mau ngasih tau ke Ra." Bang Bengkel menuju ke meja makan.
Aku mendengar suara kursi yang ditarik juga.
"Heem, nanti dikirim ke email," sahut ayah kemudian.
"Mau teh atau kopi?" Aku menoleh ke arahnya.
Ia masih memakai baju koko dan sarung.
"Bisa milih memang? Kirain sedikasihnya aja." Ia terkekeh kecil.
"Boleh minta, asal mintanya baik-baik. Jangan kek nyuruh budak," celetuk ayah kemudian.
"Oke, deh." Ucapannya seperti belum selesai. "Sayang, minta tolong bawain air putih hangat ya? Soalnya kalau minum teh atau kopi dulu, nanti makannya gak masuk. Keburu kenyang." Lembutnya suara itu mengalun.
"Oke, siap." Aku langsung meninggalkan pisau dan talenan.
Aku lebih dulu cuci tangan, sebelum akhirnya berpindah ke dispenser air panas.
"Kau jangan kasar ke Ra, Han." Ayah menegur, saat aku menaruh air hangat di depan bang Bengkel.
Bang Bengkel mendongak melirikku, kemudian ia menahan tawa. "Ra yang minta, Yah."
Mataku membulat.
"Ayah tuh, buat malu aja." Aku merengek dengan menutup wajahku dan duduk di kursi samping bang Bengkel.
Tidak cuma bang Bengkel, ayah pun tertawa geli.
"Jadi anakku yang gatal? Ya ampun." Ayah menggelengkan kepalanya berulang.
"Tapi keren, Yah. Aku kasih empat jempol, dia keren jaga marwahnya." Bang Bengkel menunjukkan dua ibu jarinya.
"Alhamdulillah, seneng Ayah dengernya." Ayah tersenyum padaku.
"Jangan diledekin terus." Aku bersedekap tangan dan manyun pada ayah.
"Ayah nanya, Cantik. Ayah khawatir, Ayah takut." Ayah menepuk dadanya sendiri.
"Halah, sendirinya juga suka kasar." Biyung membuat ayah mingkem seketika.
"Canda, makan! Kau mau sakit?! Anak kau siapa yang bimbing, Bodoh! Kau mau jadikan aku jadi duda?!" Biyung bertolak pinggang ke arah kami semua.
"Padahal, cuma tak cocok sama lauknya aja. Tapi drama betul Ayah kau itu, Ra." Biyung balik badan dan geleng-geleng kepala.
Semudah itu ia meledek suaminya.
"Ya kau aja drama betul, kenapa tak bilang tak suka lauknya? Kenapa harus drama sampai tengah malam tak makan-makan, terus ngerengek aku lapar. Maksudnya apa?!" Ayah sedikit menggeram.
Bang Bengkel tertawa kecil dan melirikku.
"Tapi mending deh, Biyung. Ayah cuma kasar mulutnya aja," tambah bang Bengkel kemudian.
"Wah, apa? Suka gaplok-gaplok, apalagi kalau d****," jawab biyung yang membuatku dan bang Bengkel semakin menahan tawa.
"Ya justru itu enaknya, Canda. Buktinya kau jadi cepat keluar. Coba tanya Han, perempuan digaplok part belakangnya itu cepat keluar." Ayah membuat bang Bengkel langsung kehilangan tawa lirihnya.
"Kok ke aku nanyanya, kan jadi malu." Bang Bengkel menggaruk kepalanya.
"Memang, Han?" Biyung berjalan ke arah meja makan, dengan membawa tulisannya yang sudah jadi.
Ah, aku ingin masak jadi ikut duduk.
"Ya memang begitu sih biasanya," sahut bang Bengkel malu-malu.
"Makan ini aja dulu, Dek. Kau buat makan siang, Biyung capek katanya." Ucapan ayah menahanku bergerak.
"Iya sok makan, Dek, Han."
Aku dan bang Bengkel jadi tidak sungkan, karena diperintahkan oleh biyung juga. Satu persatu adik-adik keluar kamar, tak lupa Cani mengingatkan janji ayah untuk ke butik hari ini.
"Yang, Abang kehabisan baju," bisik bang Bengkel amat lirih.
"Waduh, ya udah aku nyuci dulu. Pakai baju koko sama sarung aja dulu, jam sepuluh juga udah kering kok." Aku membereskan bekas makan kami.
"Iya, Yang." Bang Bengkel menuangkan air lagi di gelasnya.
"Coba ke Farah, ke Galen, Bang." Aku teringat dua bocil itu.
"Oke."
Aku melirik ke arah jam, sudah setengah enam pagi juga. Tapi ya memang sih, di sini jam tujuh pagi juga masih berkabut. Jam lima itu, di sini baru Subuh.
Aku lupa izin, jika aku akan berolahraga setelah mesin cuci berputar. Belum juga berlari jauh, suamiku sudah mencariku dengan motor matic milik bang Fa'ad.
Ada Galen di dekapannya, bang Bengkel mengemudi dengan satu tangannya.
"Yang, Abang nyariin." Ia menyatukan alisnya.
"Iya lupa izin." Aku cengegesan. Kadang lupa jika bersuami lagi, padahal aku baru mencuci bajunya.
"Ayo pulang, nih gendong Galen. Farah masih tidur tadi, malah jadi gak enak karena bangunin ayah."
Begini ya punya suami lagi, baru juga lari pagi sebentar sudah dijemput. Perhatian sih, aku senang. Tapi aku harus memikirkan untuk mengatur waktu, agar aku sempat untuk berolahraga. Aku sudah terbiasa soalnya, jadi merasa ada yang kurang jika tidak dilakukan.
"Yang, nanti temenin beliin baju ya? Atau belikan online aja, Abang tak pilih merek kok. Yang penting punya baju ganti." Motor matic ini melaju ke arah rumah.
"Oke, Bang."
Sesampainya di rumah, bang Bengkel mulai menunjukkan tabel pendapatannya yang dikirimkan oleh ayah. Ini bukan hasil satu usaha, tapi empat usahanya. Jelas hasilnya besar, menurutku pun itu terlalu besar untuk kebutuhan rumah tangga.
"Bang, sambil ngumpulin untuk buka cabang. Aku ambil seperlunya aku aja." Aku mulai mengkalkulasi perut kami berlima, aku, suami dan tiga anak kami.
"Gaya hidup Adek kan wah, apa cukup segini sambil ngumpulin?"
Aku langsung mengkerutkan dahiku. "Memang dipikirnya gimana, Bang? Aku kalau di rumah, ya malah tak pernah makan di luar. Sesekali aja ngebakso, seblak, mie ayam, tak tiap hari. Cuma kan memang aku ada tambahan suplemen untuk ASI, aku minum susu UHT rutin juga. Stok ya untuk aku, Galen kan minum susu aku. Paling untuk Farah sama Zee kan, nanti kita mulai stok susu formula, diapers ya ditambahin. Aku tak gila pakaian, masalahnya Abang keberatan tak kalau aku pakai daster rayon tiap hari? Pakaian anak-anak pun tak sampai dua juta satu stel kek anak artis juga, setelan kemeja rayon Galen yang ini aja seratus ribu dapat tiga. Nyaman, pantes-pantes aja, dia gerak pun bebas. Farah sama Zee juga diratakan gayanya kalau udah di tangan aku sih, untuk sehari-hari di rumah ini. Cuma, nanti aku ajari mereka kerudungan tiap hari. Biar kek Cani gitu nanti besarnya, mana tau mau pakai cadar nantinya. Cani dari bayi, udah dibiasakan kerudungan." Aku ingin mendidik anak-anak perempuanku, seperti cara ayah membiasakan anak perempuannya dengan kerudung lebih dulu.
"Hmm, masalah anak-anak atur aja. Tapi Abang request….
...****************...