Hope and Wish

Hope and Wish
H&W58. Ditegur mertua



Malam harinya, ayah mertuaku mengunjungiku bersama istrinya. Farah tidak bersama beliau, mungkin ia bersama ayahnya. 


"Loh, geger Ra sakit tuh kirain bed rest total di dalam rumah. Ayah gak dengar kabar kamu dirawat gini." Ayah Hamdan mendekati brankarku, dengan kak Jasmine yang langsung mengeluarkan barang bawaannya ke arah ayah. 


Kak Jasmine menata makanan dan buah-buahan di atas meja bersama ayah. 


"Udah mau sembuh juga, Yah." Aku tahu ayah pasti tidak memberi kabar burukku ke banyak orang, karena ayah paham semua orang bisa panik jika mendengar kabar buruk. 


"Sakit apa katanya, Ra?" tanyanya kemudian, dengan duduk di kursi dekat brankar. 


"Demam tipes katanya sih." Entah tekanan batin. 


"Kok bisa?" Dahi ayah Hamdan berkerut. 


"Tak tau juga, Yah." Aku mengalihkan perhatianku pada ayah dan kak Jasmine. 


"Han pulang ke Ayah, katanya disuruh kamu."


Ohh, kedatangannya rupanya ingin menegurku. Bukan benar-benar ingin menengok keadaanku. 


"Iya, sekalian Ayah proses cerai pun tak masalah. Aku baru tau kalau anak Ayah kurang tegas, padahal dia anak laki-laki dan anak semata wayang. Gimana tuh nanti dia lanjutin usaha Ayah nanti? Gimana tuh nanti dia bawa rumah tangga kami nanti?" Mungkin aku menantu yang berani dan kurang sopan. 


"Sembarangan, ini adeknya." Kak Jasmine melirikku sinis dan mengusap-usap perutnya. 


"Nah, tuh. Dia punya Adek yang usianya seanaknya. Kalau orang tuanya udah wafat, gimana dia mau ngurus adiknya juga? Orang ngurus istri aja tak becus, pantas aja ribut nikah buat anaknya ada yang jaga." Pikiranku semakin buruk tentang suamiku sendiri.


"Kok mulutnya gitu sih, Ra?" Ayah Hamdan menoleh dan mengerutkan dahinya. 


"Coba Ayah raba gimana anaknya, jangan malah negur aku begini. Aku tak mungkin ribut, kalau dia tak salah." Aku melirik ke arah ayah, ayah diam saja dengan mulutku yang berisik ini. 


"Bingung mau ngomong juga, memang gimana permasalahannya dari cara pandang kamu?"


Wah, aku curiga jika suamiku mengatakan kebenaran yang berbeda pada ayahnya. 


"Aku minta dia tegas, aku minta dia ambil Zee untuk kami urus, atau lepasin Zee sama Bunga sampai urusan Bunga selesai. Tapi dia malah tak mau ributin tentang hak asuh Zee, jadi ya lebih baik kita pisah sementara aja dulu. Memang anak Ayah itu ngomong apa? Dia ngadu apa?" Aku hanya mengambil poin pentingnya saja. 


"Mirip ngomong kayak gitu, Ra. Cuma dia buka tentang apa yang dia rasakan, dia ungkapin unek-uneknya. Yang katanya, Ra berani suami, takut keceplosan ngomong jelek, takut masalahnya tambah besar kalau nemenin dia. Ayah pun ke sini disuruh dia, katanya tengokin Ra, gimana keadaannya sekarang katanya."


Kenapa mirip? Aslinya memang ia mengatakan apa? 


"Dia ngomong apa, Yah? Jangan mirip, aslinya dia ngaku permasalahannya gimana?!" Ingin tidak ngegas pun, nada bicaraku pun tetap naik satu oktaf. 


Tidak salah juga, tapi kurang tepat. 


"Ya maksudnya selama Zee ada di Bunga, dia tak harus selalu ada untuk Zee. Aku, Farah dan Galen tuh perlu dia urus juga. Jangan mentang-mentang aku banyak saudara, anak banyak yang megang, aku udah besar jadi mandiri, jadi dia tak urus kami. Jatah Zee, nengok Zee sih tak masalah. Tapi tak harus dia di rumah sakit berhari-hari, lupa pulang, lupa anak istri. Yah, dia pergi itu sebenarnya udah tau kalau aku lagi demam tinggi. Tapi dia tega sama aku, sepelein sakitnya aku, pergi tak pulang-pulang dan tak cari tau tentang kabar aku karena HP aku mati. Bunga diamanatkan untuk sampaikan ke bang Bengkel tentang aku sakit pun, tak disampaikan. Malah kata bang Bengkel, Bunga sakit jadi dia tak bisa ninggalin Zee. Aku jelas sakit, dia ikut sakit. Drama betul, pandai betul nahan suami aku biar tak pergi. Dia buat aku meradang lagi, karena siang tadi itu mereka ke playground. Abis terapi, terus jalan-jalan bertiga bagai keluarga bahagia ke playground. Aku lemas di rumah sakit, dia happy-happy sama mantan ranjangnya. Dia dapat istri  model kak Harum lagi, istrinya bisa-bisa mati lagi. Anak Ayah itu tak ada otak, dia malah marahin aku dan bentak aku, dia nyangka aku tak ngertiin dia, padahal dia yang lalai dan dia yang salah. Cerai hari ini pun aku tak takut, Yah. Tak malu aku jadi janda! Status istri bukan untuk diinjak-injak, dia harus melek kalau derajat aku dari dulu disangga sekuat tenaga Ayah aku. Jangan sampai punya gelar istri dia, harga diri aku langsung hilang. Anak Ayah itu cerita tak kalau dia bersikap demikian ke istrinya? Bisanya ngadu aja, tak berani jujur." Aku orang sakit yang mendadak sehat karena terbakar emosiku. 


Suaraku masih lantang, tapi herannya aku tidak diperbolehkan pulang sejak tadi. Memang seburuk apa kondisiku? 


"Tuh, Yah. Ronaldowati Ayah tuh, kalau marah tak pandang orang tua." Kak Jasmine tersenyum samar dan melirik ke ayah. 


Ayah Hamdan pun menoleh ke belakang, memperhatikan ayah dan kak Jasmine yang saling melempar pandangan itu. 


"Anaknya pantas jadi kepala keluarga, Yah," celetuk ayah Hamdan, menantu yang merangkap menjadi besan. 


"Calon direktur utama Company Putra Tunggal Berintan itu." Ayah terkekeh kecil. 


Aku tersinggung, karena mereka malah merespon santai ucapan panjangku. 


"Aku ngomong serius, kalian malah bercanda!" bentakku cepat. 


Mereka semua terkejut, kak Jasmine mengusap-usap perutnya, sedangkan ayah Hamdan dan ayah mengusap-usap dadanya. 


"Maaf, maaf. Yah, nanti Ra pulang minta diobrolin lagi aja, mau nyampurin juga bingung. Yang laki-lakinya nyangkanya begini, yang perempuannya pengennya begini." Ayah Hamdan memandangku dan ayah bergantian. 


"Udah males, terserah aja." Ayah mengedikkan bahunya. 


"Kok gitu? Kita orang tua kan nengahin baiknya." Alis ayah Hamdan menyatu. 


"Karena baru tau kalau Han begini, udah terlanjur kecewa. Lagian, cocok kok Han sama Bunga. Jadi khawatir juga, takutnya Ayahnya Han juga gitu." Ayah melirik ayah Hamdan, kemudian menaikkan satu alisnya. 


Benar, bisa-bisa aku dan kak Jasmine menjadi janda secara bersamaan. 


"Apa yang buat Ayah kecewa ke Han? Ayahnya Han sih udah tua, egonya gak setinggi anaknya. Dari awal juga, aku udah bilang ke Han untuk gak perpanjang masalah anaknya Bunga. Kenapa dia laki-laki harus serepot itu bertanggung jawab, padahal yang jadi perempuannya gak mau ditanggungjawabi. Cuma namanya orang tua, sana-sini ya mendukung aja. Anak muda cenderung nekat, malah takut gak terarah kalau dilepas." Ayah Hamdan seperti melamun, ia pasti tengah mengingat kisah lampau. 


"Dari awal, berarti dari sebelum sama Ra?" Ayah terlihat tertarik untuk menyimak cerita ini. 


"Iya, pas dia belum nikah sama Harum. Pernah kasih saran, untuk udah aja. Orang Bunganya kabur kok, dia hamil dan dia kabur. Semua akses komunikasi ditutup, tapi Han yang gila cari Bunga ke sana ke mari. Berhenti nyari Bunga itu pas dia kecelakaan. Alibi ngembangin usaha, dia di Cirebon pun malah cari informasi tentang Bunga, karena dia tau Bunga kelahiran Cirebon. Seberat itu dia ke keturunannya, karena katanya kasian anak kalau ibunya itu Bunga. Ke keluarga Harum pun ribut lagi, sebelum benar-benar boleh bawa Farah. Entah egonya, pola pikirnya, atau rasa sayangnya yang perlu diarahkan. Yang jelas, pas itu aku takut dia gak terkontrol, makanya milih dukung dia." Ayah Hamdan mengusap wajahnya, kemudian melamun lagi.


Ia pun pasti lelah memiliki anak seorang Handaru. 


...****************...