Hope and Wish

Hope and Wish
H&W76. Pasal 310 UU No 22 Tahun 2009



"Bawa, Han. Bawa dulu! Jangan pulang ke rumah dulu. Sini Zee, biar tak dikira kalian bawa kabur Zee." Bang Chandra mengambil alih Zee, kemudian menodorongku agar ikut suamiku. 


"Bang, nitip Farah sama Galen. Pengasuhnya baru datang besok pagi." Bang Bengkel menggandeng tanganku. 


"Iya, udah. Tenang aja, banyak orang kok." Bang Chandra menepuk pundak bang Bengkel. 


"Jangan telepon atau WA ke aku." Hema mengusap punggung bang Bengkel, bersamaan ia melangkah memutari mobil untuk ikut bersama mama Aca. 


"Ayo, Yang." Bang Bengkel menarik kembali tanganku hingga aku masuk ke dalam mobil bang Chandra. 


"Ya Allah, Yang. Abang gemeteran semua, gimana nanti kalau dipolisikan?" Bang Bengkel memutar mobil bang Chandra yang sedikit rusak pada bagian depan. 


"Aku tak peduli, aku tak masalah dituntut tanggung jawab." Aku memalingkan pandanganku dari orang-orang yang kembali pulang ke rumah-rumah mereka. 


Jika teman pakcik Gavin yang berjualan ubi dan singkong itu dijadikan saksi, pasti ia tahu semuanya. 


Di perjalanan kami hanya diam, sampai akhirnya mobil ini berhenti di sebuah penginapan pinggir kota. Ia langsung masuk ke parkiran, kemudian langsung cek in tanpa meminta persetujuan dariku. 


"Rumit, Abang jadi mikirin gimana Adek ngadepin anak-anak." Bang Bengkel menghela napasnya dan menggeleng berulang. 


"Kenapa ke anak-anak? Abang kiranya aku gimana?" Aku duduk di tepian ranjang, memperhatikannya yang berjalan ke sana ke mari. 


"Gak tau." Ia duduk di sofa single, kemudian memijat pelipisnya. 


Ia menarik napasnya. "Abang ngerasa gak buat kesalahan, tapi dibuat trauma kembali. Baru-baru ini loh Abang berani pakai mobil lagi. Ngerasa gak selingkuh, gak berkhianat, tiba-tiba ditabrak gitu aja."


Ia memandangku lama, karena aku masih diam aja. "Maksudnya gimana, Yang? Bertindak senekat itu boleh, kalau Abang ngeladenin Bunga. Abang tau tadi posisinya salah, tapi Abang gak balas tindakan Bunga. Kondisinya pun Abang lagi bawa Zee, gak bisa ngelak dari tindakannya di tempat yang sempit begitu. Kamu harus tau, Abang tadi cuma ajak Zee pergi. Tapi Bunga ngejar dan langsung minta antar pulang, pas Abang udah dekat mobil. Mau gak percaya, terserah. Udah terserah aja, Abang cinta tapi takut kalau seumur hidup cara Adek nunjukin cintanya sekejam itu. Udah kemarin shock denger kata-katanya, sekarang dibuat kaget dengan tindakannya. Gak bangga Abang sama tindakan Adek tuh. Selain bisa nyelekain Abang, Adek bisa buat Zee dan Abang bahaya."


Aku hanya diam, aku sadar aku bersalah tapi aku bertindak seperti itu karena aku marah pada kondisi itu. Aku ingin menyingkirkan seseorang yang berniat merebut suamiku. Aku pun kecewa, karena suamiku hanya diam ketika Bunga memeluknya. 


"Memang pasangan pas, udah paling bener sana nikahin Bunga." Aku bertopang dagu, menatap lurus ke depan. 


"Terserah mulut kamu, Yang." Ia bergerak menuju kamar mandi. 


Tidak ada komunikasi lagi, ia hanya diam seharian meski kami makan bersama. Ketika tidur pun, ia hanya diam menopang kepalanya sendiri dengan dua tangannya. Aku bingung, karena ia terus diam. 


"Bang." Aku memilih untuk berbantal lengannya. 


"Hmm…." Ia memutar tangannya, kemudian mengusap kepalaku. 


"Kenapa diam aja? Abang marah?" Aku memeluknya dan menghirup aroma tubuhnya. 


"Gak, Yang." Napas beratnya terdengar lagi. 


"Kenapa diamkan aku? Kenapa berpikir aku nyelakain anak-anak kita?" Aku mengusap-usap dadanya. 


"Abang kenapa gak nolak Bunga?" Aku memegangi rahangnya, menariknya agar menghadapku kembali. 


"Belum juga ada kesempatan untuk nolak, Abang udah ditabrak duluan. Terus harus gimana Abangnya? Apa harus teriak-teriak biar Bunga gak jadi masuk ke mobil pink? Malu, Yang. Pasti semua orang panik, kalau mulut laki-laki ribut tuh." 


Matanya benar-benar basah. 


"Jadi aku salah besar di sini?" Aku mengusap pipinya dengan ibu jariku. 


"Gak tau." Ia melepaskan tanganku dari wajahnya. "Abang tidur duluan." Ia memilih untuk memunggungiku.


Ya ampun, ia kira aku tak membutuhkan penenang? Ia malah membiarkan tidurku tanpa pelukannya. 


Datang di tiga harinya, sikapnya tetap banyak diam. Ia berubah padaku, bahkan ia tidak meminta hak biologisnya yang biasanya rutin ia pinta sehari sekali. 


"Abang jemput ayah di lobby dulu." Ia keluar dari kamar hotel. 


Ayah siapa? Ayah Givan atau ayah Hamdan? Setelah tiga harian tidak ada kabar dari rumah karena kejadian itu, kini tiba-tiba ada yang datang mengunjungi kami? Bahkan, rencana untuk ke Jakarta pun gagal seketika. Benarkah aku terlalu ceroboh karena rasa cemburuku? 


"Assalamualaikum…." Bang Bengkel datang kembali, bersamaan dengan ayah Givan. 


"Wa'alaikumsalam." Aku langsung mendatangi panutanku dan memeluknya. 


"Hema ditahan, kemarin pagi dijemput. Kakaknya ke rumah, kakaknya panik. Mereka tak sekaya dulu, ditambah adiknya berurusan dengan hukum yang jelas nilai materinya tak sedikit." Ayah mengusap-usap kepalaku, dengan mengatakan hal itu. 


Kok bisa Hema? 


"Kenapa Hema dipenjara?" tanya bang Bengkel kemudian. 


"Kena pasal 310 UU No. 22 Tahun 2009. Kalau kondisi Bunga akhrinya wafat, dia bisa dipenjara enam tahun dan denda dua belas juta. Bukan masalah dendanya, tapi Hema dituduh dan bodohnya dia mengakui." Ayah memijat kepalanya, kemudian duduk di sofa single. 


"Aku yang ngelakuin, Yah," akuku cepat. 


"Ayah tau, semua keluarga yang ada di sana bilang ke ayah kalau kau yang melakukan. Tapi tak bisa merubah sesuatu, karena Hema ngakuin kesalahan kau itu dilakukan dirinya saat polisi jemput." Ayah menatap lurus ke depan, wajahnya memerah dan pandangnya kosong cenderung sedih. 


"Kau anak perempuan, Ra. Kenapa harus berurusan dengan polisi terus? Ayah harus gimana?" Suara ayah bergetar, kemudian ayah memalingkan perhatiannya dan berjalan mondar-mandir. 


"Memang gak ada sidang, Yah? Memang langsung diputuskan kalau pelakunya Hema? Aku gak pengen Ra dipenjara, Yah. Tapi gak tega juga sama Hema karena harus mengakui sesuatu yang gak diperbuatnya." Bang Bengkel memperhatikan ayah yang mondar-mandir di hadapannya. 


"Ayah pun bingung." Ayah berjalan ke arah jendela. "Mau tak mau, lihat kondisi Bunga dulu. Dia sadar sebenarnya, dilihat dari mata normal sih sehat dan utuh. Tapi patah kaki, dia pun ngeluh sakit perut terus. Kalau dia sehat kembali, sebenarnya bisa kekeluargaan aja. Tapi nampaknya pakwa Ken tak terima, jadi Ayah pun bingung sendiri. Entah dia dengar belum dari mulut Bunga, kalau yang melakukannya itu kau. Cuma berurusan sama mereka sulit juga, sekalipun kau ungkapin apa motif kau melakukan hal ini." Ayah memandang wajahku. "Memang tuh karena apa, Ra? Kenapa kau sampai gelap mata begini?" Ayah mendekatiku. 


...****************...