
"Nah, kan? Makanya jangan nikah dulu." Kaf duduk di tepian brankarku.
"Takut berzina," sahutku pelan.
Kaf dan ayah memandangku, sepertinya mereka mendengar suara pelanku.
"Tapi kata mama tuh, Ra. Kalau udah terikat pernikahan, mau lanjut pendidikan tuh susah. Makanya kak Kal nolak nikah terus, sampai jadi sehebat sekarang titelnya. Padahal ia belum telat ya? Tapi tetep males nikah jadinya. Nanti setelah selesai Syawalan mau di ruqyah di Dataran Tinggi Riau. Kau mau sekalian diruqyah tak, Ra?" Kaf menahan tawa, ia meledek.
"Dia setannya," jawab ayah dengan serius.
Mata Kaf membulat, lalu ia manggut-manggut. "Iya ya? Aduh, lupa lagi. Memang waktu nenek dan kakek meninggal, kita semua pada kesambet di kuburan karena banyak pemakaman hari itu juga. Si Ra kan tak sakit, tak kenapa-napa juga tuh, Yah. Bang Chandra sampai bolak-balik rumah sakit, Ayah yang kokoh terpercaya aja sampai dirawat di rumah sakit kan? Kekurangan cairan. Dia sehat-sehat aja, Yah. Temannya setan, jadi di kuburan lama-lama dia tak kesambet." Ekspresinya serius sekali.
Aku mencoba memukulnya dengan selembar kertas hasil tes darah. Tapi aku keburu tertawa, hingga akhirnya kami bertiga tertawa bersama.
"Dulu waktu gedung kelas enam pas kalian SD dibongkar aja, pada kesurupan masal. Kau pun kena juga pas itu, Kaf. Tapi Ra yang kepo, malah tak kesurupan. Ayah panik, dapat kabar langsung buru-buru ke SD kalian. Padahal Ayah kurang tidur," tambah ayah yang semakin membuktikan bahwa aku temannya setan.
"Kalau menurut medis nih, Yah. Kesurupan itu refleksi kegagalan yang sedang terjadi dalam berbagai bidang kehidupan. Maka pada prakteknya, aku jadi heran kalau kesurupan dikait-kaitkan dengan makhluk halus. Menurut medis, kesurupan bisa dijelaskan secara rasional. Kesurupan adalah gejala kejiwaan. Tapi tak aku paham lagi, kenapa kesurupan bisa masal. Nah kan?" Kaf membuatku berpikir.
"Tapi dalam Islam, setan itu kan memang ada. Memang Ayah pernah nemu orang sering kesurupan, terus jadinya planga-plongo, terus katanya setannya betah di badannya, terus jadinya gila. Medis tak salah, tapi Islam biasanya sumber informasi medis loh." Ayah menjentikkan jarinya.
Pembahasan apa saja, di keluarga kami tetap nyambung.
"Orang yang berguru juga tuh, Yah. Berguru kek punya ilmu kebal atau perdukunan lainnya, kan bisa gila juga kalau tak sungguh-sungguh katanya." Dokter satu ini selain doyan ngomong, ia suka mengobrolkan apapun.
Kaf dan aku sering diledek lantaran kami sudah besar, tapi perkataan kami kurang jelas. Bahkan, Kaf pernah diledek oleh sepupu yang lain. Jika aku, ada yang meledek pun dirinya pasti jadi korban tinjuanku.
"Kau punya ilmu apa?" Pertanyaan ayah langsung membuat Kaf melamun.
"Nah itu, aku cuma tau tentang medis. Aku tuh konyol betul, Yah. Aku tuh nonton film dewasa biar punya wawasan niat awalnya, tapi karena capek ngapain materi jadinya tuh aku ketiduran. Kebetulan lagi di rumah, papa kan cek tiap anak-anaknya tidur. Si video itu belum selesai, mana headsetnya kecabut dari portnya lagi. Jadi Ayah bayangkan dramanya papa, hebohnya rumah dan mama Aca yang selalu santai saat anak-anaknya dimarahin." Kaf menghela napasnya dengan memasang wajah ngenes.
"Itu sih ceroboh namanya, boro-boro mau c*** itu sih." Tentu saja curhatan Kaf menjadi bahan tertawaan ayah.
"Pas lepas perjaka pertama, nol betul skill. Mungkin karena itu pacar aku ninggalin aku, makanya sampai sekarang aku insecure kalau mau mainin cewek. Rencana nikah juga mau sama yang alim-alim aja, biar tak komplain kalau aku kurang pengalaman. Kek sama Cani, gitu kan? Atau kek sama Gwen. Model Rere, Athaya, Kanaya, atau Aruna sih, udah pada modern, khawatir aku yang kalah." Kaf melirik ayah dan terkekeh dengan menutupi mulutnya.
"Ish, jangan salah loh. Yang alim biasanya yang doyan dienakin. Sekalinya dia tau itu enak, ketagihan bisa kau tak boleh keluar kamar." Ayah tersenyum miring.
Ya seperti aku.
"Memang tak bisa kalau sama-sama belajar?" Kaf berjalan memutar, kemudian mengambil buah di nakasku.
"Jaga suami tuh, Ra." Kaf tersenyum miring dengan mengacungkan jarinya padaku.
Ah, aku semakin khawatir dengan suamiku.
"Tenang, kau berharga, Ra." Ayah mengusap-usap bahuku.
"Kemarin aku ikut seminar, Yah. Tentang banyaknya kasus perceraian itu karena apa, iseng aja aku ikut karena di gedung sekolah aku seminarnya. Dari sekian banyaknya kasus, itu datang dari istri. Jadi, istri yang menceraikan suaminya. Macam-macam kasusnya, ada yang selingkuh, ekonomi, KDRT, ribut sama mertua dan ipar, bahkan ada yang karena anak. Jadi pola asuh mereka itu tak sama, cekcok terus karena istri maunya harus diasuh seperti ini dan itu, sedangkan si suami pengennya diasuh dengan cara lain. Diselidiki semua kasus itu, ditarik dari semua permasalahan, intinya cara satu, Yah. Katanya, si istri ini tak menerima dan suami tak mau memperbaiki. Sebetulnya tak melulu istri tak bisa terima, ada juga suami yang kasusnya tak terima dalam beberapa faktor permasalahan tertentu. Jadi aku mikir, kalau suami dan istri itu nerima, ya keknya rumah tangga adem-adem aja. Suami pengangguran, istri inisiatif jadi TKW. Ya yang ikhlas gitu kan? Jangan malah dikirim surat cerai si suaminya ini."
Aku dan ayah tergelak di akhir cerita Kaf. Tidak lucu, tapi memang faktanya jika perempuan bekerja itu memang akan serombong itu. Termasuk pun aku sebenarnya, tapi sekarang untungnya aku tidak bekerja.
"Gus Miftah tak ngelarang perempuan bekerja, tapi dia takut istrinya bekerja. Karena katanya, dicarikan uang aja istri tetap berani ke suami, apalagi kalau dia cari uang sendiri. Sejak dengar ceramah itu, Ayah ngeduluin ngomong ke nenek kau biar usaha biyung, Ayah aja yang pegang. Takut, Ayah." Ayah tertawa renyah.
"Ehh, serius Ra sakit? Kaget Pakwa lihat nama kau di daftar nama pasien."
Tawa ayah lenyap, begitu juga dengan aku dan Kaf yang menimpali tawa ayah. Aku kaget dengan pakwa yang tiba-tiba muncul.
"Iya, demam tipes katanya." Ayah yang menjawab pertanyaan ayah.
"Kok tak kasih tau Han, Ra? Tau kau sakit, Han tak usah anterin Zee ke playground untuk terapi khususnya."
Jika memang singgah juga ke tempat yang private, doaku akan langsung menyesuaikan. Jika bang Bengkel macam-macam, ia akan celaka. Jika memang ia masih selamat, maka tanganku sendiri yang akan mencelakainya jika ada bukti yang valid.
"Biarin, anak cucu kau lagi butuh sumbangan tenaga. Aku masih mampu urus anak perempuan aku kok, aku masih walinya." Ayah mengusap kepalaku yang terlapisi hijab.
"Kok kau ngomongnya gitu, Van? Kau tau sendiri ada Zee di antara Bunga dan Han." Pakwa menutup pintu ruanganku, kemudian melangkah lebih dekat ke brankarku.
"Iya, antara kau dan Ria pun ada anak. Kau tak pernah tau Kirei sakit, Ria tak butuh sumbangan tenaga dari kau."
Aku tak bangga dengan mulut kasar ayah, tapi aku merasa serangan ayah sangat tajam.
"Ya itu sih karena Gavin ngehalangin. Terus juga, kalau kita tetanggaan pun ya tak akan tau kalau tak dikasih tau. Memangnya, aku paranormal?" Tidak salah pembelaan pakwa, tapi sewajarnya orang tua tahu kabar anaknya.
"Ya tak salah juga kalau cari tau kabar anak, toh Gavin tak pernah blokir akses komunikasinya. Tak ada beda kau sama anak kau itu, Bang. Bedanya, Bunga ingin disumbang. Sedangkan kau, dari awal memang udah dibuang."
Kaf sampai langsung berpindah ke belakang ayah, ia memijat bahu ayah seolah memberi semangat ayah untuk lanjut menghabisi pakwa.
...****************...