Hope and Wish

Hope and Wish
H&W20. Bawah kolong



Kakiku gatal, aku ingin menendang tulang keringnya itu. Ia muncul dari kolong bagai tak punya dosa, bahkan senyumnya seolah baru saja mendapatkan penghargaan piala citra. 


"Dipakai strollernya, makasih ya?" Ia menunjuk ke arah etalase barang. 


Aku mengikuti arah telunjuknya. Farah ada di sana, dengan memegangi dotnya sendiri. 


"Hmm." Aku bersedekap dada. 


"Sini diajarin betulin…."


"Aku bayar kau, silahkan kerjakan tugas kau!" Aku langsung memotong ucapannya. 


"Oke, Nona." Ia masuk kembali ke dalam kolong. 


Aku menghampiri karyawan yang tadi mengantarku. "Bang, mana customer servicenya?" Aku ingin membicarakan tentang upgrade mesin dan segala macam. 


"Di sebelah sini, Mbak." Ia mengantarku kembali. 


Maaf, Farah. Aku tengah mode galak sekarang, aku tidak bisa mengajakmu bergurau. 


"Kak, aku pengen bagian dapur pacu dan kabin mobil aku diubah lebih racy. Terus, jok depan diganti model bucket seat lansiran Recaro SRG. Terus, setir juga diganti pakai nardi dan tuas persneling dari K-Tuned."


Namun, ia malah larak-lirik ke sana ke mari. 


"Boleh perlahan, Mbak. Sekalian aku catat."


Astaga! 


"Kau ngerti tak yang aku omongin?!!" Aku menggebrak meja berlapis kaca ini. 


Ada lagi pekerja seperti ini? 


"Kenapa sih, Cantik? Lama ya gak dikeluarkan?" Laki-laki berkemeja kotor itu berjalan ke arahku. 


Sok akrab lagi dirinya ini. 


"Aku pengen bagian dapur pacu dan kabin mobil aku diubah lebih racy. Terus, jok depan diganti model bucket seat lansiran Recaro SRG. Terus, setir juga diganti pakai nardi dan tuas persneling dari K-Tuned!!! Karyawan kau ngang ngeng ngong terus!!!" Aku menunjuk dirinya. 


"Oke, maaf ya? Mari ke sini aja." Ia mempersilahkan jalan untuk aku lewati. 


"Mesin berkode L15A ini gak bisa naik lagi kapasitasnya, ini udah dimaksimalkan. Tapi jujur aja, daripada diperbaiki, lebih baik diganti dengan type kakaknya mesin ini." Ia mengusap body mobilku. 


"Mesin berkode K24A, masuk kan?" Aku tetap bersedekap tangan. 


"Oke, siap. Perlu ganti silinder head, accelerator valve Porsche 996, K-Tuned injector 1000cc, sama sistem pendinginan juga."


Aku langsung mengkalkulasinya, ini sudah seperti membeli mobil jenis LCGC lagi. 


"Ya udah, sekalian aja ECUnya juga." Ya sudahlah, daripada meninggalkan mobil ini. 


Aku tidak mau melepas mobil ini, atau membuat mobil ini berkarat di gudang. 


"Motocross M130 ECUnya, hasilnya mobil ini punya tenaga ekstra 203 dk hingga totalnya punya 323 dk. Kalau asli bawaan mobil ini, cuma 120 dk." Ia mengacungkan dua ibu jarinya. 


"Total sekarang." Aku menoleh ke belakang, mencari keberadaan kursi tunggu. 


"Baik, Nona." Ia menunduk dan menempatkan tangannya di depan dadanya, kemudian ia undur diri. 


Aku mengambil minuman dingin di lemari pendingin yang tersedia, kemudian aku memutar pandanganku untuk mencari kursi tunggu.


Aku sudah mendapatkan kursi tunggu. Aku memandang Farah dari jauh, ia anteng dengan memainkan dot botolnya yang sudah kosong. 


Ke mana kakaknya itu, si Zee? Kenapa ia tidak bersama adiknya? 


"Ini, Nona." Bang Bengkel menghampiriku dan memberikan sebuah nota. 


Tertulis semuanya, dari nama barang dan tipenya juga. Namun, total harganya membuatku melongo. 


Dua ribu rupiah. 


Bayar apa ini? Parkir mobil saja lima ribu kok. 


"Dua juta?" tanyaku dengan menunjuk kertas ini, pasti ia salah nulis. 


"Seperti yang tertera, Nona."


Aku risih menyebutnya 'nona', sudah seperti apakah saja. 


"Maksudnya gimana?!!" Jelaslah suaraku langsung meninggi. "DP dulu atau gimana?" lanjutku kemudian. 


Melawak! 


"Kau pikir?!!" Aku geram sekali di sini. 


"Aku pikir, sebaiknya kita jemput Galen. Dia kaget, dia gak terbiasa minum ASI yang diperjuangkan jauh." 


Aku langsung membuang muka. Moodku kenapa semakin bertambah hancur? Aku tiba-tiba memikirkan Galen, aku rindu seminggu tanpanya. 


"Udah, jangan ke mana-mana! Berapa?!" Aku kembali menoleh ke arahnya dengan menunjuk kertas yang aku peroleh darinya. 


"Aku gak ke mana-mana kok, lagi berjuang aja. Aku yang berapa? Free dong, tetap gratis, asal mau aja." Ia menaik turunkan alisnya dan tersenyum lebar. 


Detik itu juga, aku langsung meraup wajahnya. Emosi sekali aku padanya, rasanya aku ingin memakinya segala macam nama binatang. 


Ia tertawa lepas dan mencandak tangan kananku yang mendarat di wajahnya tadi. "Maaf, maaf, maaf. Aku minta maaf ya?" Ia langsung memelukku dan menenggelamkan wajahku di dada lebarnya. 


Aku mendorongnya, mencoba melepaskan tindakannya. Namun, tangisku malah lepas seketika. Yang tadinya aku meronta, aku kini memegangi punggungnya agar ia tetap menyembunyikan wajahku yang penuh air mata. 


"Maaf, Nona Cantik. Nanti dikeluarkan dengan rutin kok, biar gak marah-marah lagi. Nanti lebaran pulang ya? Kita atur semuanya." Ia mengusap-usap punggungku. 


Aku teringat kemeja telur asinnya yang terkena noda oli dan segala macam. 


Aku langsung mendorongnya. "Awas, baju aku kotor nanti." Aku malah menangis sembari berbicara. 


Ia melepaskanku dan tergelak parah melihat wajahku. Aku merasa malu ditertawakan olehnya, jadi aku memeluknya lagi untuk menyembunyikan wajahku yang belum membaik dari tangisku. 


"Nanti dibelikan baju juga, maaf ya udah buat bajunya kotor? Sok nangis, kita kuras dulu air matanya, setelah bensin dikuras di jalanan kemarin."


Aku yakin ia pasti tahu penyebab mobilku rusak berat. 


"Kenapa ke sini, Bodoh?!" Aku memukuli punggungnya pelan. 


Aku tidak mungkin benar-benar menyakitinya. 


"Kek yang kamu bilang, karyawannya ngang ngeng ngong. Mana dikomentari di ulasan yang di google lagi, kan jadi buruk rating tempat usaha aku. Mau dibenahi yang ngang ngeng ngongnya, kalau gak bisa ditraining kembali ya kemungkinan gak perpanjang kontrak." Ia menarik daguku untuk mendongak melihatnya, kemudian aku mengusap air mataku dengan ujung kelingkingnya. 


Karena hanya jari itu yang bersih. 


"Bau tangannya!" protesku kembali. 


"Biarin, biar tau profesi suaminya nanti." Ia tetap melanjutkan membersihkan wajahku. 


"Aku tak suka cara kau!" Tiba-tiba aku teringat foto yang Bunga pajang. 


"Terus diusap pakai apa? Pakai l****?" Ia menjulurkan benda tak bertulang itu. 


"Dodol!" Aku tertawa geli dan melepaskan lengannya yang mengapit leherku. 


"Di sebelah ada Mixue, yuk?" Ia sudah melepaskanku. 


Aku merogoh ponselku dan mulai berkaca. Aku tidak cemong kok, hanya saja memang wajahku memerah. 


"Tak suka es krim." Aku suka minuman dingin, tapi minuman dingin seperti es krim memiliki rasa yang berat menurutku. 


Membuat efek seperti kenyang. 


"Waduh, padahal aku punya." Ia tertunduk melihat resletingnya. 


Beda lagi arahnya. 


"Dari tadi tuh pikirannya kotor terus!" Aku beringsut memberi jarak dengannya. 


"Oh, iya dong. Tidak ada siapapun yang menegurku di sini, HA-HA-HA-HA…." Ia tertawa jahat dengan mendongakkan wajahnya. 


Dengan cepat aku meraup wajahnya, menghancurkan tawa jahatnya itu. Ia tiba-tiba langsung meleleh dan bersandar di lenganku. 


"Kangen…." Ia memijat lenganku. 


Duh, belum apa-apa sudah risih sekali. 


"Sana lah sama istri kau!" Aku menarik tanganku sampai terlepas dari tangannya. 


Aku mengedarkan pandanganku, para karyawannya sedang sibuk bekerja dan tidak ada yang menonton kami. Namun, si bayi kecil itu mengeluarkan sedikit suara dan memamerkan gusinya. 


Ia senang melihat ayahnya bertingkah seperti ini? 


...****************...