Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 7



"Berhenti menatapku! Dan fokus lah menyetir"


Arlan terkekeh, ia mengangguk patuh "as you wish my angel"


Yaya memutar bola mata jengah, lagi-lagi pria itu menyebut nya malaikat. Arlan sungguh berlebihan.


"Kau ingin membeli sesuatu?"


"Tidak"


"Sungguh? Apa kau tak ingin membeli cemilan, mungkin? Kalau kau mau, kita mampir ke toko ku sebentar"


Yaya terdiam menimang tawaran menggiurkan itu, setelah beberapa detik berpikir akhirnya ia mengangguk, lagi pula yaya memang sedang ingin memakan snack dan beberapa kaleng soda tuk memberikan self reward hari ini.


"Boleh, aku ingin beberapa makanan ringan"


"Bagus" gumam Arlan tersenyum puas, ia langsung menancap gas menuju toserba miliknya yang tak jauh.


"Tunggu, aku ikut denganmu" ucap Arlan mencegah yaya yabg hendak meninggalkan nya.


Yaya menutup pintu mobil berbarengan dengan Arlan, mereka berjalan beriringan memasuki toserba itu "Selamat datang Tuan"


Yaya berdecak dalam hati, sedari tadi para pekerja di tempat itu tak henti-hentinya menyapa Arlan, sampai membungkuk pula.


"Pilih apa saja yang kau inginkan" Ucap Arlan seraya melirik sekitar nya, ia mengangguk sendiri melihat barang dagangan di toko ini tertata rapih dengan stok melimpah.


"Jangan bilang kau mau membayari ku?" tebak yaya tepat sasaran, Arlan dengan cepat mengangguk "tentu, pilih lah semaumu"


"Ah, baiklah. jangan menyesal kalau kau bangkrut" ujar yaya mengibaskan tangan nya.


Arlan terkekeh, ia menangkap tangan mungil itu "kau tak mungkin sanggup memoroti ku, Angel"


Yaya menepis tangan Arlan "yaya! Namaku YAYA berhenti panggil aku dengan sebutan anehmu itu, Arlan!"


"Haha, baiklah.. Baiklah, sana belanja, aku akan menunggu di depan"


Yaya berdecak malas menatap pria itu, ia beralih melirik rak berisi berbagai makanan ringan yang sangat ia gemari. Mumpung ia di traktir, apa salahnya yaya memborong semua kesukaan nya?


"Ini, ini, dan... Hm, ini!" yaya dengan semangat empat lima memasukkan segala yang ia mau ke dalam troli.


Ada snack, biskuit, roti sobek, susu, soda, dan masih banyak lagi, yaya tak berhenti bersenandung riang sembari memilih barang yang ia mau.


"Ah, iya! Mie instan!" yaya mendorong troli nya menuju bagian lain, ia dengan senang memborong berbagai farian mie instan dan beberapa sosis segar.


"Ah, ini sudah sangat banyak.." yaya menunduk menatap isi troli nya, seketika ia malu, saat ini ia persis seperti wanita tak tahu diri.


"Eh!" yaya terpenjat kaget, ia menatap sosok wanita di sebelahnya.


"Maaf nona, saya tak bermaksud membuat kaget, maaf"


Yaya mengangguk menatap pekerja yang menunduk memohon ampun padanya "eh, sudah jangan begitu. Tak masalah"


Pekerja itu mengangguk "nona butuh bantuan?" tanya nya sebab ia tak sengaja melihat yaya berhenti sambil bergumam tadi.


"Tidak, aku sudah selesai.."


Pekerja itu mengangguk "butuh saya bantu dorong ini?" ia menunjuk troli itu dan yaya langsung menolak.


"Aku bisa sendiri, tapi... Apa menurut mu ini terlalu banyak?" tanya yaya sedikit berbisik.


Pekerja itu tersenyum "ah, tak masalah nona. Lagi pula toko ini milik tuan Roverald, kekasih anda"


Yaya membelalak "eh? Tidak bukan begitu"


"Kenapa lama sekali?"


Kedua wanita itu terjengkit kaget mendengar suara Arlan yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang mereka.


pekerja tadi menunduk sebelum akhirnya pergi menghindari bos nya itu.


"Ah, t-tidak, aku..." yaya bingung sendiri ingin berkata apa.


Arlan mengangguk "aku?" desaknya menuntut kelanjutan.


Yaya meremat jari jarinya sendiri, gadis.itu maju mendekati Arlan dengan pandangan tertunduk "Arlan..." Panggilnya pelan.


Arlan berdeham singkat, tangan nya menarik dagu yaya agar pandangan mereka bertemu "hm?" Arlan mengulum bibirnya saat menatap wajah yaya yang sudah memerah "kenapa?" tanya nya bingung.


Jari lentik yaya menunjuk ke troli "apa itu terlalu banyak? Aku, kalap tadi" cicit gadis itu menatap takut wajah Arlan.


Pria itu tersenyum, dengan gemas ia mengecup pipi Yaya.


"Eh?" mata gadis itu membola, menatap nanar wajah Arlan yang baru saja mengecup pipi nya.


"hanya itu?" tanya Arlan dengan santai seolah tak terjadi apapun barusan.


Yaya mengangguk, ia berlalu meninggalkan Arlan beserta belanjaan nya. Gadis itu sungguh marah saat Arlan dengan lancang mencium pipi nya, meskipun hanya di pipi, tetap saja ia tak suka di cium sembarangan!


"Dasar pria aneh! Aku benci dia!"