Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 2



★jangan lupa dukung cerita ini dengan memberi vote dan komen yaaa★


Arlan tersenyum miring melihat wajah pucat yaya, ia yakin saat ini gadis itu tengah menahan malu setengah mati. Setelah ia beritahu segala nya bahwa ia ada di tempat kejadian sekaligus pemilik tempat itu yaya seketika diam, menunduk malu.


"Kau masih mau susu itu?"


Yaya mengangkat pandangan nya, ia dengan ragu menggeleng "tidak usah. Lagi pula aku sudah beli satu kotak tadi" tolak gadis itu "Sudahkan? Aku masih harus bekerja. Maaf untuk keributan di toko mu, aku tak bermaksud membuat masalah"


Pandangan Arlan mengikuti gerak gerik yaya yang akan beranjak meninggalkan nya "Arlan, bisa aku minta tolong padamu?"


Arlan diam, namun tak ayal kepalanya mengangguk menanggapi perkataan gadis itu "tolong biasa saja, maksud ku.. Kita bukan teman, kita hanya saling kenal karena insiden waktu itu. Jangan terlalu perduli kan aku, anggap saja kita tak pernah bertemu sebelumnya"


Rahang pria itu mengetat, tatapan datar nya tiba-tiba memancarkan aura kelam nan menusuk bila dipandang. Yaya beringsut mundur perlahan, gadis itu menunduk sekali sebelum akhirnya ia memilih benar-benar pergi meninggalkan Arlan sendirian disana.



Arlan terkekeh hampa, ini pertama kalinya ia merasakan yang namanya ditolak oleh seorang wanita. Apa gadis itu lahir di jaman purbakala? Apa dia tak tahu identitas terkenal Arlan? Atau mungkin gadis itu salah satu dari sekutu musuh nya?


Arlan menggeram marah, apa kali ini dia akan dikhianati lagi? Ayolah dia sangat merasa senang bisa mengenal sosok Ayashya. Gadis jelita nan baik hati yang ia anggap sebagai malaikat pelindung nya dimalam itu. Namun kenyataan lagi-lagi memaksa Arlan berjalan sendiri. Pria itu memegang pelipisnya, pening seketika merayap di kepala melihat sikap Ayashya yang sangat berbanding terbalik dengan kemarin malam.


"Dia salah satu dari mereka?" gumam Arlan memandang kosong ke depan.



yaya menatap semua mata yang saat ini tengah berbinar begitu silau, ada kilat amarah, curiga, senang, dan harap yang bisa yaya rasakan dibalik tatapan itu.



"Apa kata tuan Roverald? kau tak mempermalukan ku bukan?!"


Yaya menggeleng, ia menatap Bobi "kami hanya saling menyapa, bos"



Seketika suasana mendadak ricuh, semuanya semakin mendekat mengerubungi Yaya bagaikan lalat pengganggu "Kau kenal dengan nya?!"


Yaya menghela napas, ia menggeleng saja, tolong! Ia tak suka dengan atensi berlebihan ini


"Kenapa dia mengajakmu berbincang? Maksud ku, aku bahkan lebih cantik darimu. Kenapa tuan malah memilih kau?"


Yaya mendelik ngeri menatap salah satu rekan nya yang bernama Yona, gadis itu selalu percaya diri di umurnya yang nyaris memasuki kepala tiga. Pantas saja banyak pria yang kabur tak minat dengan nya.


"Entahlah, tanya saja sana. Lagi pula kurasa dia terlalu muda untuk mu Yona" ucap Yaya sebelum akhirnya pergi menghindari kerumunan itu.


Yaya dapat mendengar beberapa rekan nya yang lain terkikik menanggapi ucapan nya, tidak tahu saja yaya kalau saat ini Yona sudah memerah menahan kesal sekaligus malu karena ulah nya.


"sialan kau yaya" Yona mengepalkan tangan nya menatap punggung yaya, entah mengapa yona sangat- sangat tidak menyukai yaya. semenjak gadis itu masuk bekerja di tempat ini, banyak sekali pujian yang muncul, namun bukan untuk nya, melainkan untuk yaya.