
Yaya menatap Arlan yang sudah tertidur pulas, gadis itu beranjak turun dari kasur, ia membawa buah yang sempat di belinya tadi menuju dapur.
Yaya tersenyum, apartemen ini sangat bagus fasilitas nya, perlengkapan nya pun lengkap, alat memasak disini sangat bagus membuat yaya jadis semangat ingin memasak.
Gadis itu membuka lemari pendingin, disana terdapat banyak botol bir, hanya itu, tak ada yang lain. Yaya mendengus sebal, Arlan sangat suka minuman berarkohol ternyata.
Tangan cantik itu mengambil semua bir dari dalam kulkas, ia membuangnya langsung ke dalam tong sampah, sangkun banyaknya minuman itu yaya jadi bingung ingin dikemanakan lagi.
Yaya mengingat sesuatu, ia beranjak keluar, ia tersenyum melihat Lan yang rupanya sedari tadi tetap berdiri tegap di depan pintu "Lan, bisa bantu aku?"
Lan mengangguk "tentu, nona" Pria itu memberikan sebuah kartu akses unit milik Arlan pada yaya agar gadis itu leluasa keluar masuk apartemen Arlan.
Yaya yang paham langsung menerima kartu tersebut, "Buang semua bir di dalam sana, aku tak mau melihat minuman itu lagi"
Lan melotot, minuman milik tuan nya itu bukan sembarang bir, harganya mahal sekali, rasanya pun pastinya enak "k-kenapa di buang, nona? Nanti tuan bos bisa marah"
Yaya mengandik bahu acuh "jika kau mau, minum saja, tapi ingat! Aku tak suka ada pemabuk di sekitaran ku!, singkirkan saja minuman itu, biar Arlan jadi urusanku"
Lan mengangguk patuh, ia pun bergegas menjalankan perintah nona nya dengan senang hati.
***
Arlan mengerjap pelan, ia melirik sebelahnya yang kosong, "Yaya?!" pria itu langsung mencabut asal infus di tangan nya hingga darah mulai merembes keluar dari kulit pria itu, ia tak perduli.
Kakinya melangkah menuju lemari, ia mencari jaket juga kuci mobil nya. Pasti yaya nya kabur lagi, itu dalam pikiran Arlan.
Yaya yang sempat mendengar namanya dipanggil langsung menghampiri Arlan "Mau kemana?" tanya gadis itu bingung.
Pergerakan Arlan terhenti, ia menatap gadisnya lalu berlari memeluk tubuh itu "kenapa tidak ada saat aku bangun?! Aku kira kamu pergi lagi". Seru nya
Yaya mengelus punggung lebar itu "aku sedang memotong sayur di dapur" ucapnya memberi tahu.
Arlan melepas pelukan itu, yaya kaget menatap tangan Arlan yang berdarah "kau?! Ck, astaga Arlan!" ia mendesah frustasi, ia berlari menuju pintu, membuka nya dan langsung manggil Lan yang senantiasa berdiri di depan "Masuk!"
Lan mengernyit saat dirinya dibawa menghadap Bos besar nya "kenapa, Nona?"
"Baik nona"
"Tidak! Aku tidak mau diobati dia, memangnya aku pria apaan?!" Arlan bergidik ngeri membayangkan Lan mengusap tangan nya dengan kapas
"Arlan, jangan membantah! Aku ingin memasak, jika kau nakal aku akan benar-benar meninggal kan mu"
"TIDAK" pekik Arlan tak terima "baiklah aku tak akan mengganggu mu" ucap pria itu akhirnya.
Yaya mengangguk "bagus. Diam disini sampai aku selesai, paham?!"
...****************...
"Ini kotak obat nya, tuan" Lan memberikan koyak p3k pada Arlan
"Sudah, pergilah" Arlan mengusir Lan
Lan menunduk bingung "tapi tuan, saya harus—"
"Pergilah! Aku bukan bocah yang harus kau obati!"
Lan akhirnya menurut, ia pergi kembali melanjutkan tugasnya berjaga.
Tak berselang lama Arlan pun selesai mengobati luka di tangan nya, tak begitu serius memang, cuma darah nya saja yang yak berhenti menetes.
Ia melirik ke arah dapur, aroma masakan mulai tercium membuat rasa lapar nya tiba-tiba muncul. Ingin sekali ia menghampiri gadisnya yang sedang memasak tapi ia takut kalau gadis itu nantinya marah.
Arlan diam, ia memilih duduk di sofa menunggu kekasih tahi nya kembali. Ia melirik cincin pertunangan yang masih ia kenakan dan tak pernah ia lepas itu. Apakah yaya mau kembali mengenakan cincin yang sama?
Arlan mengingat saat dimana ia pertama kali bertemu dengan gadisnya itu, di tengah dingin dan gelap nya malam, di dalam suasana mencekam, gadisnya muncul dan membantu nya, yaya si malaikat penolong Arlan.
Arlan tersenyum kala mengingat hari itu, yaya sangat khawatir, ia bahkan memeluk Arlan saat peluru sialan itu dicabut dari kakinya oleh Roma. Berbicara soal Roma, Arlan jadi teringat jika gadis itu masih ia sekap di ruang bawah tanah perusahaan nya, ah ia jadi tak enak hati. Tapi mau bagaimana lagi?
Arlan mengambil handphone nya, ia menghubungi seorang anak buah yang ia tugaskan menjaga sekaligus menyiksa Roma dan meimei "Lepaskan mereka, berikan pengobatan terbaik. Siapkan satu kontrak di rumah sakit ternama, buat Roma bekerja disana! Dan gadis satunya lagi... Kau tanya apa maunya dan turuti!"