
Yaya menangkup rangahang tegas pria itu dengan kedua tangan nya, ia mulai mencium Arlan dengan sedikit menggebu, ia memejamkan mata, keduanya beradu bibir, Arlan tersentak saat merasakan basah di mengenai bibirnya, yaya-nya menangis? Sungguh?!
Yaya tak sanggup menahan lagi, ia melepas ciuman itu lalu tangisnya meledak begitu saja tepat di hadapan Arlan.
"Hei... Baby, kenapa menangis?" Arlan mengusap air mata gadisnya dengan lembut "baiklah, aku akan mengganti sekretaris ku, okay? Sudah... Cup, cup, cup" Arlan memeluk gadis itu.
"Huaa... hiks, jan-gan diganti, hiks.. Biarkan sa-ja, huu, aku tak mas-salah" ujar gadis itu dengan lucunya membuat Arlan mengulum bibir, gemas sekali menatap gadis yang sedang cemburu ini.
"Tidak masalah? Kamu tidak keberatan dia tetap bekerja dengan ku?"
Yaya mengangguk, ia menyerukan wajah di leher pria itu "Hu'um!" jawabnya bergumam.
"Sungguh? Kamu tidak cemburu sayang?"
Yaya mengangguk "hiks... J-jangan banyak tanya..."
"Kalau dia menggodaku lagi, bagaimana sayang?" tanya Arlan tiba-tiba membuat jantung yaya nyaris copot.
Apa katanya tadi? Lagi? Arlan pernah digoda sebelumnya oleh sekretaris itu?!
"Di goda, hiks.. Lagi?" Tanya yaya, kini ia menghadap wajah pria itu, Arlan mengangguk dengan bibir mengerucut, ia membuat ekspresi wajah nya se menyedihkan mungkin.
"Dia pernah mengajak ku berkencan, dia juga pernah membuka kancing bajunya di hadapan ku" lapor pria itu apa adanya, memang dulu kejadian itu pernah terjadi.
Yaya menatap Arlan dengan raut terkejutnya "sebegitu nya, dia?" tanya gadis itu tak percaya. Arlan mengangguk mantap "dia pernah menawarkan diri, untuk menghisap milik ku" Arlan menunjuk ke bawah dengan matanya.
Yaya mendelik tajam "kamu mau?"
Arlan menggeleng
"sungguh?" tanya gadis itu lagi
Arlan mengangguk "aku tidak akan mau dijamah sembarangan, baby"
"Kalau... Para mantan mu bagaimana? Kalian pernah melakukan yang tidak-tidak?"
Arlan menggeleng mantap "kami hanya berciuman, tidak lebih"
Yaya menunduk "aku ingin pulang" pintanya parau, ia berupaya melepaskan diri tapi ditahan oleh Arlan "kenapa? Pasti merajuk, kan sudah ku bilang, aku tidak pernah bermain wanita, baby"
Yaya menggeleng lemah "yaya mau pulang..." ia menatap Arlan dengan mata berkaca-kaca "eum... Mau pulang" rengeknya seperti anak kecil.
Arlan menggeleng "temani aku, okay baby? Mulai sekarang kamu harus ikut saat aku bekerja, hanya duduk diam, temani aku"
Yaya tak menjawab, gadis itu takut membantah, tapi juga tak mau menerima. Ia memeluk leher Arlan dengan erat hingga pria itu mendongak sesak "mau bobo aja!" Celetuk gadis itu.
Arlan terkekeh geli, ia mengelus sayang punggung gadisnya "bobo di pangkuan daddy? Hm?" tanya nya.
Yaya mengangguk saja, toh jika minta dilepas Arlan tidak akan setuju, bukan?.
"Baiklah, Baby nya Daddy Arlan mau bobo, ya sayang?" tanya Arlan dengan logat menggemaskan nya, membuat yaya diam-diam tersenyum dalam pelukan itu.
"Hubby, tidak keberatan kan? kalau kebas, turun aja" Ucapnya
Arlan tersenyum lebar, akhirnya gadisnya kembali membaik, ia senang sekali dipanggil hubby oleh gadis cantik itu "tidak baby, kamu ini ringan"
...****************...
Arlan tersenyum menatap layar laptop nya, ia tak hentinya mengecupi pucuk kepala gadis yang kini tertidur di pangkuan nya, siapa lagi kalau bukan Yaya.
Rasanya ia jadi beribu kali bersemangat mengerjakan segala nya, ditambah kali ini ada sukacita menyeruak merekah dalam diri pria itu. Yaya-nya sangat lucu, cantik dan menggemaskan, membuat Arlan semakin tergila-gila pada gadis cengeng itu.
Dimana biasanya para mantan pacar Arlan akan memaki juga menampar nya saat sedang cemburu, lain hal nya dengan yaya, gadis itu hanya memberengut, menggigit dan menangis. Arlan itu tipe dominan yang sangat cocok dengan yaya, dengan gadis itu Arlan mendapat segalanya... Cinta, kasih sayang, perhatian, omelan, ceramah, Arlan senang sebab gadis itu selalu berhasil membawanya pada liang bahagia yang mendalam.
Bersama gadisnya, Arlan tahu bagaimana rasanya dicintai dengan tulus, disayangi bak memiliki ibu kandung yang selama ini ia rindukan. Arlan bersyukur bisa bertemu dengan malaikat baik ini, selama nya Arlan akan menyayangi dan menjaga gadis itu sepenuh hati.
"I love you, Ayashya..."
Cup!
Tok! Tok! Tok!
Arlan mengelus punggung gadisnya yang menggeliat "tidurlah sayang, tidak apa-apa" setelah gadisnya kembali nyenyak Arlan memberi ijin orang tersebut masuk.
"Permisi tuan, ini laporan kerja sama baru, yang harus ditanda tangani" ucap Yura dengan pelan, ia cukup mengerti kondisi.
Arlan mengangguk "kau bisa mengambilnya setelah jam makan siang"
"Baik tuan, permisi"
Arlan mengusapi pipi gadisnya, sesekali pria itu mencuri kecupan di kening mulus gadis itu membuat yaya menggeliat tak nyaman hingga akhirnya ia terbangun.
"Hello, baby... Sudah puas?" ucap Arlan menatap gadisnya yang telah menegakkan diri.
Yaya mengangguk, gadis itu menepuk lengan Arlan "lepas"
"Tidak mau!" sahut Arlan ketus
"ih, yaya mau pipis! Awas"
Arlan tersenyum jenaka "mau aku bantu, sayang? aku bisa membuatmu pipis lagi seperti saat di mobil" bisiknya
"Heh!" yaya melotot garang "gak! Udah sana..."
Arlan tertawa, "itu, diujung sana toilet nya"
Yaya mengangguk menatap arah yang ditunjuk Arlan, kemudian ia berlari kecil kesana.
"Jangan berlari sayang, nanti jatuh!" Peringat Arlan, tapi tak didengarkan oleh gadisnya, ia hanya bisa geleng kepala menatap gadis itu "ck! Menggemaskan"
...****************...
Selesai dari toilet, gadis itu duduk di sofa, sengaja menjauhi Arlan. Rasanya pegal duga bila berlama-lama duduk di pangkuan pria itu, yaya jadi heran, ia yang dipangku saja merasa pegal, mengapa Arlan yang memangku nya tidak merasa demikian?
"Baby... Kemari, kenapa duduk disana?!" kesal sekali Arlan menatap gadis itu.
Yaya menggeleng kan kepalanya "disini saja, hubby. Yaya pegal duduk dipangku terus"
Arlan mendengus kesal, ia menatap tajam gadis itu "Baby..."
"Please hubby... Sekali ini saja, ijinkan aku menolak"
Arlan berdecak, ia selalu lemah bila di tatap penuh mohon oleh gadis itu, "baiklah, tapi kau harus memanjakan ku nanti"
"Iya..."
Arlan kembali fokus pada layar laptop nya, ia mengerjakan semuanya dengan teliti dan cepat, sesekali ia menatap gadisnya yang sedang bermain handphone di sofa sana.
"Hubby, ini sudah jam makan siang. Aku lapar"
Arlan mengangguk "sebentar sayang, tunggu sedikit lagi, setelah ini kita makan bersama"
"Baiklah..." yaya mengangkat jempolnya di udara. Arlan terkekeh melihat itu.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!"
Yaya merapihkan posisi duduk nya, ia mengernyit menatap yura yang masuk dengan sebuah rantang yang ia bawa.
"Permisi, tuan. Ini sudah jam makan siang, tadi saya bawa bekal, apa tuan ingin makan bersama?" tawar gadis itu dengan nada manja nya.
Arlan melirik yaya yang menggerutu tidak jelas menatap lantai "Tidak, aku hanya akan makan siang bersama gadis ku" jawabnya dengan lantang membuat yaya menatap ke arah nya.
Arlan tersenyum menatap calon istri nya itu "sudahlah, kau bisa keluar Yura. Dan ingat satu hal, aku sudah memiliki pasangan, berhenti mengganggu ku!"
Yura meremat rantang yang ia tenteng, ia mengangguk kaku dengan bibir menipis kesal, "baik tuan, permisi!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
PIW PIW, HALLO GUYS... APA KABAR? SEMOGA KITA SEMUA SEHAT SELALU YA :)
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN VOTING YAA, JANGAN LEWATKAN CERITA INI, KARENA SETIAP HARINYA AKAN ADA KEJUTAN YANG BUAT KALIAN HAH, HOH, HAH, HOH SENDIRI WKWK
SALAM SAYANG, NUNA~