Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 58



Yaya tersenyum sendu menatap Arlan yang baru saja terlelap, hampir dua jam lamanya pria itu memeluknya erat dengan tangis tanpa suara. Begitu ngilu hati yaya saat mendapati Arlan se rapuh itu, Arlan sangatlah malang.


Yaya hendak turun dari kasur, namun pergerakan nya langsung di rasakan oleh Arlan, pria itu memeluk erat lengan yaya agar gadis nya tak bisa kemana-mana. Padahal Arlan sedang tidur, tapi jiwa rewelnya sangat ketara.


Jadilah yaya memilih diam, ia menatap wajah tampan Arlan yang masih tertidur itu, tangan nya terangkat mengusap sayang kening mulus Arlan, pasti Arlan lelah dibayang-bayangi kelamnya masa lalu.


Tak terasa mata gadis itu malah ikut terpejam, hingga akhirnya mereka kembali terlelap bersama.


...****************...


Yaya menggeliat saat sinar matahari yang amat terik masuk melalui celah gorden kamar itu, ia menatap sekitaran mencari handphone nya. Gadis itu menganga saat menyalakan benda pipih tersebut, sudah jam sembilan pagi!


Yaya beralih mengambil ponsel Arlan, ia mengirimkan satu pesan ke nomor Lan, untuk pergu menuju tempat tinggalnya dan meminta baju ganti gadis itu pada Ella.


Yaya duduk, ia menatap Arlan yang masih pucat terlelap. Panas pria itu tak kunjung hilang, ia bergegas menuju toilet guna membasuh wajah agar lebih segar. Setelah nya yaya berkutat di dapur dengan semua bahan masakan yang tersedia.


Nyaris setengah jam berlalu, gadis itu tersenyum menatap meja makan yang sudah di isi dengan berbagai macam makanan, ada kue kering spesial buatan yaya, da juga ikan tepung saus asam manis, Nasi beserta sayuran nya.


Yaya mencuci tangan nya, lalu ia pergi menuju kamar. Gadis itu tersenyum menatap Arlan yang ternyata masih tertidur. Ia mendekat, mengelus sayang pundak berotot pria itu "Arlan.."


Arlan terusik, perlahan matanya terbuka, ia mengusap kepala nya yang terasa pening "Yaya?" Arlan merabai bagian sebelahnya yang kosong.


Yaya tersenyum, ia mengecup pipi pria itu "im here! Ayo makan, kamu belum sarapan" ucapnya.


Arlan mengangguk, pria itu duduk di kepala ranjang, dengan pandangan sayu nya. Dapat yaya lihat wajah bantal itu terlihat murung, ia berinisiatif memberikan kecupan lagi, namun kali ini di bibir pria itu.


Arlan melirik gadisnya, ia tersenyum "aku mau morning kiss" pinta Arlan sembari menarik tengkuk gadisnya.


Suara decapan keduanya begitu jelas terdengar, sangat menggoda dan menggairahkan. Arlan sampai merinding karena akhirnya ia kembali bisa menikmati bibir gadis itu. Lidah nya tak tinggal diam, ia mengajak lidah gadisnya berperang di dalam sana. Dunia serasa milik berdua.


"I love you" bisik Arlan setelah ciuman itu selesai.


Yaya mengangguk, ia menduselkan hidungnya dengan hidung mancung milik Arlan "Love you too!"


Arlan tersenyum cerah, bahagia sekali dirinya saat gadis itu mau membalas ungkapan cinta darinya "


...****************...


Arlan tersenyum lebar, perutnya sudah dia isi dengan banyak sekali makanan. Bukan nya rakus, hanya saja masakan Yaya sangat lezat di lidah Arlan, tidak gombal memang begitu nyatanya.


Ingat kan? Yaya itu gadis yang hidup.sebatang kara, dia sering bekerja juga memasak untuk dirinya sendiri agar lebih hemat uang, jadilah sekarang gadisnya itu sangat jago memasak.


"Terimakasih sudah mau memasak, untuk ku" ucap Arlan dengan tulus.


Yaya mengangguk ia ikut tersenyum "kamu harus lekas sembuh, okay?"


"Tidak, lebih baik begini saja" tolak Arlan diluar dugaan


Arlan terkikik "kalau aku sembuh, nanti aku tidak akan bisa merasakan dimasaki setiap pagi seperti ini sama kamu, kamu juga gak akan memperhatikan aku"


Yaya memutar bola mata nya malas "alasan mu tidak masuk akal. Sudah, sini piring nya"


"Aku bantu!" ucap Arlan menolak saat gadisnya hendak mengambil piring bekas makan nya.


Yaya menggeleng heran melihat Arlan yang sudah berlari ngibrit menuju wastafel tuk mencuci piring nya "ada-ada saja"


"Kemari, biar aku cuci sekalian" Arlan mengadahkan tangan nya saat gadis itu telah berdiri di samping nya.


"Terimakasih, calon suami ku rajin sekali" ucap yaya menggoda pria itu. Terbukti! Telinga Arlan langsung memerah seperti tomat.


"Calon suami? Sudah siap?" tanya yaya saat Arlan bergegas membasuh tangan nya, ia selesai mencuci semua piring kotor di sana.


Yaya tersenyum geli menatap Arlan yang hanya diam saja, wajah pria itu datar namun pipinya memerah sampai ke telinga "Calon suami? Apa ada yang sakit? Kenapa wajahnya merah begini?" Yaya menangkup pipi Arlan lalu mengelusnya lembut.


Arlan memggeram rendah "jangan menggodaiku terus sayang" Protes nya.


"Kenapa? Aku tidak menggoda, aku hanya bertanya calon suami ku"


Arlan menampilkan smrik nya, ia menggendong gadis itu ala koala lalu membawanya menuju kasur. "Minum obat dulu, okay?" ucap yaya saat keduanya sudah berbaring di atas kasur.


Arlan mengangguk "suapi aku!"


"Manja!" decak yaya menjawil hidung mancung pria itu sambil terkekeh.


Selesai meminum obatnya Arlan dan yaya memilih duduk di ranjang sembari menonton si kotak kuning kegemaran yaya. Mereka menonton nya lewat ipad milik Arlan.


"Kenapa kamu sangat menyukai kartun?" tanya Arlan, pergerakan nya tak berhenti mengecupi leher jenjang gadisnya. Sesekali ia memberikan tanda di leher itu.


"Karena... Tidak tahu" yaya mengangkat bahu nya acuh "aku hanya suka. Mereka bisa menghibur ku" ucap yaya jujur.


Arlan tersenyum, gadisnya ini sungguh sederhana, hanya dengan menonton kartun saja ia bisa merasa terhibur? Sederhana sekali memang yaya ini.


"Apa kamu masih betah di sini?" tanya Arlan sedikit berhati-hati.


Yaya menggeleng "entahlah... Aku nyaman di sini, tapi lebih nyaman lagi kalau di indo"


Arlan mengangguk "jadi.. Kalau kita pulang besok, bagaimana?"


"Tentu! Aku ingin pulang, bertemu dengan Roma juga meimei, mereka pasti sama rindunya dengan ku"


Arlan terdiam, bagaimana jika gadisnya tahu kalau selama ini dua gadis itu telah ia siksa habis-habisan? Dan bagaimana jadinya kalau yaya mendengar fakta bahwa Luis telah mati di genggaman nya?


"Sayang, bisa kita bicara serius?"