Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 60



Arlan memeluk erat tubuh gadisnya, tadi Lan baru saja menyusun banyak sekali cemilan di sebuah meja lipat yang ia taruh di samping ranjang. Semua itu perintah Arlan.


Arlan bingung bagaimana cara membujuk gadisnya itu, yaya marah besar, bukan merajuk. Arlan takut, jujur saja ia tak mau gadisnya pergi lagi.


"Eungh..."


Arlan mengerjap, ia melepaskan pelukan eratnya dari badan gadis itu, ia memberikan ruang bagi yaya agar bisa me rileks kan otot.


Yaya diam, gadis itu menatap Arlan lama, tanpa suara dan tanpa ekspresi. Jujur Arlan tak suka di tatap hampa seperti itu, ia lebih suka melihat yaya merengek atau menangis ribut di hadapan nya. Tidak dengan keterdiaman seperti itu.


"Sayang? Maaf aku udah bikin kamu marah... Jujur aku juga menyesal"


Yaya masih saja diam, gadis itu bergerak hendak duduk di pinggiran ranjang, namun Arlan lebih dulu mengangkat gadis itu di atas pangkuan nya "kita bicarakan baik-baik, okay?"


Yaya berdecih sinis, apa katanya tadi? Bicara baik-baik? Apa dia lupa kalau dirinya telah membunuh orang lain? Apa guna nya lagi bersikap baik?!


"Jangan begini, kesabaran ku tipis, yaya" Ucap Arlan pelan, pria itu merapihkan rambut gadisnya ke belakang telinga.


Yaya mencoba mengatur nafasnya yang sangat sesak, tenggorokan nya sakit serasa di cekat. Ingin sekali dirinya berteriak di depan muka Arlan tapi... Apa guna nya? Ia pun sudah lelah menghadapi pembunuh yang sialnya ia cintai itu.


"Kau egois!" yaya berujar lirih.


Arlan diam, ia menatap lamat wajah gadisnya yang mulai menangis lagi, namun kali ini tanpa makian seperti sebelum-sebelumnya. Yaya menangis pilu, tampak sangat tersakiti, isakan nya begitu lirih menyayat hati.


"Aku bersumpah akan memperbaiki segalanya, aku akan meminta maaf pada Roma, aku akan menggantikan posisi Luis, jangan begini sayang... Aku tak suka, sudah menangis nya"


"Kau gila?! Luis tak bisa di gantikan dengan mudah! Dia itu kakak kandung Roma! Mereka sudah saling menyayangi sejak kecil! Dengan seenak hati kau memisahkan mereka! Kau pembunuh!"


Arlan mengangguk "aku memang jahat, aku akui itu. Tapi... Bisakah kamu membantu ku sekali saja? Aku ingin berubah, untuk mu. Jujur aku juga menyesal telah membunuh Luis yang ternyata bukan orang yang menyembunyikan kamu, bisa saja saat ini aku membunuh Gabriella di hadapan mu—"


"STOP! berhenti! Ku mohon berhenti!" yaya menangis histeris, ia bahkan menutup telinga nya bak seseorang yang sedang ketakutan.


Arlan seketika terdiam, pria itu merasa sangat sedih menatap gadisnya begini. Ini semua salah nya. "aku gegabah. Aku kejam, maaf..." Arlan memeluk erat gadis itu, ia memberikan kecupan pada gadisnya berusaha tuk menenangkan.


Sepertinya besok mereka akan batal pulang ke Indonesia, melihat keadaan yaya yang masih shock berat seperti ini, Arlan tidak mungkin memaksa gadisnya. Kali ini Arlan sudah bertekad kuat untuk merubah diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


...****************...


Lan menyajikan makanan yang baru saja ia beli, pria itu menyiapkan makan malam untuk Atasan nya, ia sedikit bingung melihat kondisi Nona nya yang tampak kacau. Ingin bertanya, tapi lebih baik jangan... Ia hanya bawahan, tak sebaiknya mencampuri urusan atasan nya.


Lan menunduk hormat "makanan sudah siap tuan, saya permisi" ia beranjak keluar tanpa menunggu jawaban dari Arlan sebab ia paham saat ini Arlan sedang tidak ingin berkata apapun.


Arlan mengelus pundak gadisnya yang sedari tadi memunggungi pria itu. "Kita makan dulu, ya sayang?" ajak Arlan penuh kelembutan.


Yaya yang terkejut refleks mengalungkan tangan nya di leher pria itu. Ia diam tak memberontak. Jujur saja, menangis ber jam-jam membuat gadis itu jadi lemas kehabisan tenaga. Kepalanya pusing, perut nya perih keroncongan, dan matanya juga terasa berat.


"Duduk, dan makan lah, okay?"


Cup!


Arlan mengecup penuh kasih pipi gadisnya, kemudian ia duduk tepat di samping yaya. Arlan mengernyit tak suka karena yaya sama sekali tak menyentuh makanan milik gadis itu, Arlan berdehem, ia dengan cepat menghabiskan makanan miliknya sebelum akhirnya pria itu memilih untuk menyuapi yaya makan.


"buka mulut nya" Arlan mengarahkan sendok berisi nasi juga lauk pauk di depan bibir gadisnya yang terkatup rapat.


Arlan berdecak, gadis itu seperti mayat hidup. Yaya tidak menolak juga tak menuruti nya, kini gadis itu justru menunduk dalam, enggan menatap diri nya.


"Yaya? Hei..." Arlan meletakkan sendok juga piring tersebut kembali di atas piring. Yaya melirik Arlan yang sempat mengusak wajahnya kasar, pria itu tampaknya sedang emosi, tapi biarlah! Yaya juga lebih emosi sekarang.


"Ayo... Makan, ya?" Arlan menangkup kedua pipi gadisnya, ia mengecupi wajah yaya mulai dari pipi, hidung, mata, kening, hingga bibir gadis itu pun ia lahap.


"Hngg...., huaaa!" yaya menangis kencang saat ciuman keduanya terlepas. Gadis itu memukuli Arlan dengan tak santai.


Arlan yang mendapat seragan mendadak begitu hanya bisa mengaduh "awh.. Ah, ssskk! Yaya" Arlan menangkap tangan mungil yang sangat kuat memukuli nya itu. Agresif sekali gadisnya ini.


Bibir yaya bergetar, matanya kembali bercucuran air "hhuuu...." ia menangis menatap Arlan dengan pandangan kecewa nya.


Arlan memeluk gadis itu, tak henti ia mengelusi punggung gadisnya berusaha menenangkan "maaf... Jangan menangis terus, sudah... Okay, kamu boleh hukum aku. Apapun, kamu boleh melakukan nya padaku"


Yaya menggeleng, ia bukan tipikal manusia kejam seperti Arlan, mana tahu dia cara menghukum seseorang, memangnya dia hakim?!


Yaya menangis dalam pelukan itu, merasa belum puas akan emosi nya, yaya kembali menggigit dada Arlan, tidak sekuat tenaga tapi cukup membuat otot pria itu terasa nyeri.


"Sshhh!" Arlan tersenyum geli menatap gadis nya, dari sekian banyak cara kejam, hanya ini yang mau gadisnya lakukan tuk menghukum dirinya? Ahaha ingatkan Arlan untuk tidak tertawa! Bisa bahaya.


Hampir dua puluh menit berlalu, yaya kini sudah tidak menangis lagi. Gadis itu mendongak menatap Arlan "g-gendong..." cicit gadis itu


Arlan tersenyum lebar, gadis manja nya kembali! Ini yang Arlan suka dari gadis cantiknya itu "mau di gendong, sayang? Hm?" Arlan mengecupi pipi gadis itu, kemudian ia mengangkat gadisnya dalam gendongan ala koala di tubuhnya.


Yaya menyenderkan kepalanya di ceruk leher Arlan, sesekali gadis itu mendumel kesal dengan napas sesenggukan nya. Sangat menggemaskan di mata Arlan!


Arlan berjalan pelan kesana kemari agar gadis nya bisa merasa nyaman, bahkan kini pria itu turut menepuk-nepuk pantat yaya lembut persis seperti seorang ayah yang sedang menenangkan gadis kecilnya.


Yaya diam saja dalam pelukan itu, tatapan matanya kosong, pikiran nya berkelana jauh entah kemana. Sungguh tak disangka Arlan bisa berbuat hal se gila ini, membunuh Luis yang tak bersalah hanya karena mencari keberadaan nya yabg kabur dari genggaman lelaki itu.


"Kamu belum makan, kita makan di luar saja, mau baby?"