
"Itu bukan apa-apa untuk ku" jawab Arlan datar, baginya itu hanya susu murahan yang tak pernah sekalipun ia cicipi.
Yaya mengangguk "ya sudah. Untuk ini..." yaya menggoyangkan kantong plastik itu "terimakasih banyak"
Arlan mengangguk "apa kau langsung masuk kesana?" cegat Arlan saat yaya hendak keluar.
"Tentu saja, kenapa?"
Arlan menggeleng, ia sendiri bingung dengan sikap nya. Entah mengapa ia tak mau berpisah dengan yaya.
"Kau langsung beristirahat kan?" tanya nya lagi yang langsung diangguki yaya.
"Hu'um, aku akan tidur dua jam, lalu kembali bersiap untuk kerja"
Alis Arlan menukik tajam "kerja lagi? Kau akan kembali ke restoran itu?"
Yaya menggeleng "ah, kau tak tahu ya... Aku bekerja di dua tempat, pagi aku bekerja di restoran, dan di saat petang aku akan bekerja di pabrik tas dekat sini" ujar gadis itu memberi tahu.
"Kau tidak lelah bekerja terus-terusan?"
Kening yaya mengerut "kenapa kau ini? Sudahlah itu urusan ku, lagi pula kalau tak bekerja dari mana aku dapat uang? Kau pikir aku bisa menciptakan uang kapan saja?" dengus gadis itu mulai jengah menatap Arlan.
Entah mengapa Arlan terlalu kepo kali ini.
"Bekerja padaku saja, mau?"
Yaya langsung menggeleng, lagi-lagi himbauan ketiga teman nya terngiang memberi peringatan keras agar gadis itu membatasi diri "tak perlu. Aku senang dengan pekerjaan ku ini"
Arlan menghela napas kasar "Sepuluh juta per bulan, apa itu cukup?" tawar nya begitu menggoda jiwa matre yaya.
"Se-sepuluh? Pekerjaan apa itu?"
Arlan menyeringai tipis menatap wajah cengo gadis itu "menjadi asisten ku, bagaimana?"
"Kau mengejek ku?!"
Arlan terkejut mendengar pekikan gadis itu. ia menatap wajah yaya yang sudah memerah, jelas sekali gadis itu marah padanya.
Yaya berdecak "sudahlah, aku malas meladeni mu. Kalau hanya ingin menjelekkan ku, sana aku tak punya banyak waktu" Yaya membuka pintu hendak keluar namun kembali urung saat tangan nya di genggam oleh tangan kekar milik Arlan
"Sekali saja. Menurut, bisa?" ujar pria itu berusaha sabar
Yaya merinding merasakan aura kelam yang tiba-tiba tercipta disekitarnya "aku sudah punya kerjaan Arlan. Dan berhenti mengurusi ku, kau bukan siapa-siapa ku!"
"Aku hanya perduli padamu!"
Yaya berdecak saat beberapa pejalan kaki menatap kepo kearah nya, ia kembali menutup pintu mobil, memilih menyelesaikan masalah ini terlebih dulu agar bisa segera meninggalkan Arlan.
"apa mau mu?" tanya yaya ketus
"Kau tinggalkan Pekerjaan mu itu"
Yaya tersenyum paksa "dan bekerja padamu?" tanya nya yang langsung diangguki Arlan "tak mau! Aku tak mau Arlan, jangan memaksa ku!"
"kau akan sakit, kau sangat jarang sarapan! Dan tadi siang pun kau hanya makan siang dengan roti murahan! Apa kau mau menyiksa diri mu?!"
Yaya diam, dalam hati ia merutuki Arlan yang entah kenapa bisa mengetahui semua itu "bukan urusan mu" .
"Baiklah... Kalau itu memang mau mu"
Yaya mengernyit mendapati Arlan tak lagi memaksa nya "sudah kan?"
Arlan melirik dengan sebelah alis yang terangkat, kemudian ia menganggukkan kepalanya.
Yaya menghela napas lega "kalau begitu, aku masuk. Dan, kau berhati-hati lah saat mengemudi"
Melihat Arlan hanya mengangguk, gadis itu pun bergegas pergi sebelum hal yang tak ia suka kembali terjadi. Arlan itu sungguh aneh, pikiran nya susah di tebak, Yaya harus berhati-hati saat di dekat nya.
Arlan tak berkedip melihat kepergian gadis itu. "dasar keras kepala" gumam nya dengan seringai tipis menghias wajah tampan itu.