Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 68



Warning... hati-hati baper ya guys, Nuna mau ingatin buat para dede bocil, mendingan skip part ini ya adik adik, kalo nekat baca ya sudah tidak apa-apa tapi dosa tanggung sendiri ya sayang, papay~


HAPPY READING!!!


...****************...


"Ajarin apa? Yaya bisa masak kok" celetuk gadis itu dengan polosnya membuat Arlan gemas, ia mencium pipi yaya dengan brutal.


"Bukan itu... Hal yang harus kamu pahami, setelah menikah aku ingin kamu bisa menyeimbangi ku, baby"


"Apa?" tanya gadis itu menuntut "Ah, tangan nya!" pekik nya saat Arlan kembali memainkan tangan nya di belakang sana.


Arlan tersenyum, ia mencium gadis itu dengan lembut, menyesap bibir gadisnya dengan penuh minat, membawa yaya masuk dalam kenikmatan yang membuat yaya menjadi lebih tenang sekarang.


"Hhhh..."


Arlan tersenyum menatap gadisnya yang terengah menarik napas "suka?" tanya pria itu tiba-tiba.


Yaya mengangguk, ia tersenyum malu.


Tangan Arlan tiba-tiba masuk ke dalam celana Jogger yang dikenakan gadis nya, yaya memekik ia menggeleng menolak, tapi Arlan mengabaikan itu. Pria itu tersenyum, sesekali ia mencium tangan yaya yang berusaha mencegah pergerakan nya.


"Jangan nakal... Diam, baby"


Arlan sudah bertekat ingin membuat gadis itu semakin jatuh dalam dirinya, mencintai nya, dan juga manja membutuhkan Arlan seorang. Yaya harus merasa candu padanya.


"Ungh!... No!" yaya menggeliat hebat saat jemari Arlan menyusup di celah bawah nya, terus menjalar hingga menyentuh titik sensitif seluruh kaum hawa.


"Sudah basah, baby.Do you want more?.. "


"No! Jangan, please... " Arlan mengangkat tubyh gadisnya agar tangan di bawah sana bisa lebih leluasa menjelajahi milik sang gadis. "Ah, hm... No, Akh!" yaya menjerit saat satu jari Arlan berhasil masuk dalam lubang kehangatan nya. Gadis itu sontak menggigit bibirnya, matanya sudah berkaca-kaca, rasanya sangat aneh.


Malu, kesal, nikmat, dan sedikit ngilu gadis itu rasakan pada miliknya yang sudah kedatangan tamu, jari tengah milik Arlan. Ini gila! Pertama kalinya ada sesuatu masuk ke dalam sana, yaya sendiri belum pernah mencobanya karena memang sedari dulu ia sibuk, dan juga tak tahu bagian mana yang bisa ia colek. Yaya si polos.


"Mmhh..." yaya merinding, ia menutup rapat bibirnya dengan bantuan tangan, ia merasa geli mendengar suaranya sendiri.


"Jangan di tahan, baby... Keluarkan saja, aku mau mendengar suara indah mu itu" Arlan semakin intens memompa jari nya di bawah sana, membuat gadis itu kualahan dan akhirnya ******* manja pun keluar dari mulut gadis itu.


Tempo yang lambat juga tusukan yang kuat, membuat yaya kehilangan akal sehat nya, atas segala nikmat yang ia rasa "Ah... Ouch... Mhh... Ar-lan... Hahh... Please"


"Kenapa sayang?"


"Ouh! Awas, yaya... Yaya, ah... Mau pipis... Ahh, lepaskanhh"


Arlan menyeringai, sepertinya gadis ini sungguh polos "Mau pipis, baby? Hm?"


"I-iya... aw-was..." yaya berusaha melepaskan Diri namun Arlan tetap menahan pergerakan nya "Keluarkan saja, aku menanti nya"


"No! Awas... Ah.." yaya memekik hebat saat jemari itu semakin kencang menghujam di bawah sana, air matanya sudah menetes dari sudut mata, menggambar kan betapa nikmat ia rasakan.


Badan gadis itu bergetar dahsyat, ia melenting saat pelepasan itu terjadi. Yaya memeluk leher Arlan, napasnya terengah-engah seperti habis berlari maraton.


Arlan sendiri hanya tersenyum bangga, akhirnya keluar juga, ia berhasil! Pria itu menarik jemarinya keluar, ia menatap yaya yang masih berusaha mengatur napas "suka, baby?" tanya nya lagi.


Yaya memeluk pria itu. enggan menjawab, sungguh ia malu! Ingin berkata jujur tapi tak mampu, rasanya jantung gadis itu ingin meledak jika mengingat momen gila barusan.


Yaya menatap Arlan saat ia mendengar suara decapan, gadis itu melotot menatap tunangan nya yang sedang menjilati, bahkan menghisap jemarinya yang basah terkena cairan gadis itu.


"A-Arlan... Itu jorok!" yaya menpis tangan pria itu menjauh. Arlan mendelik tak suka "Aku menyukai nya" ucap pria itu membuat yaya jadi salah tingkah di pangkuan nya.


Yaya menatap Arlan dengan tatapan manja nya, ia menggeleng kecil dengan bibir bergetar "Lengket... Tak nyaman" adu gadis itu jujur.


Arlan tersenyum lebar, ia mengecup bibir gadis itu sesaat "tahan sayang, nanti di rumah, aku bersihkan... Okay?"


...****************...


Lan menatap sekeliling, sangat sepi. Apakah kedua pasangan itu tertidur lagi?


"Kasihan, sepertinya mereka memang sangat lelah" gumam Lan menatap ke atas, dimana kamar kedua majikan nya itu berada.


Sedangkan di kamar Arlan, yaya sedang menunduk malu, matanya sudah basah sehabis menangis. Gila! Barusan Arlan meminta nya untuk membuka celana di hadapan pria itu dengan alasan ingin membersihkan milik yaya yang sempat becek karena ulah nya beberapa waktu lalu di mobil.


"Buka, baby... Sini biar aku lap".


"No! Arlan... Jangan gini, yaya malu" Terhitung sudah lebih dari puluhan kali yaya menolak, tapi Arlan tetaplah Arlan. Pria pemaksa yang akan selalu mendapat apa yang ia mau.


"Kenapa harus malu? Aku bahkan sudah memainkan nya, baby..." ujarnya santai sehari mendekati gadis cantik itu.


"Aaa! No, no!" yaya beringsut mundur saat pria itu semakin mendekati nya.


"Ayolah, baby... Sini aku buka kan" Setelah nya pria itu langsung menangkap pinggang langsing gadisnya.


"Arlan! Nanti saja saat sudah menikah, okay?"


Arlan menggeleng "saat menikah, aku tidak lagi melakukan ini, kau akan mendapat yang lebih nikmat"


Yaya tersentak, ia benar-benar kalut, bagaimana ini?. "No, no Daddy... Please, yaya tidak mau, malu daddy" mohon gadis itu amat lucu saat Arlan berhasil mengungkung nya di kasur.


"biasakan saja, baby... Aku ingin mencicipi sedikit, kamu tunangan ku, sayang, minggu depan kita menikah, tak perlu takut... Aku bisa mengendalikan diriku" bujuknya sebisa mungkin menambah stok sabar yang ia punya.


Yaya menangis, ia menggeleng, sungguh takut pada pria di hadapan nya saat ini, kenapa Arlan sangat berubah? Mana Arlan yang selalu memuja dan menghormati nya itu?


"Hey... Don't cry baby... Ini tidak akan sakit, aku hanya akan membersihkan milikmu"


"Yaya... Y-yaya gak mau... Hiks, kenapa dipaksa! Yaya marah! Yaya gak mau cuddle Arlan lagi, gak mau ngomong lagi, gak mau manjain kamu lagi! Huaaa" gadis itu menangis se jadi-jadinya, membuat Arlan terhenyak sendiri.


Gadisnya tak suka dipaksa!


Arlan memeluk gadis itu, yaya memberontak, memukuli bahkan mencakar Arlan di beberapa bagian kulit yang bisa gadis itu jangkau. "Hei... Okay, jangan marah, iya tak usah. Sudah ya?" pria itu mengecup singkat pipi gadisnya yang basah terurai air mata "Sorry... Aku minta maaf ya, sayang? Hm?"


"Hiks... Jahat, Arlan mesum... Yaya anak yatim piatu, jangan dilecehin... Hiks, apa Arlan tak kasihan sama yaya?!" omel gadis itu di sela tangis nya.


Arlan menggeleng "sshh..." jari telunjuk nya tertempel di depan bibir ranum gadis itu. "Maaf... Aku salah, maaf sudah membuatmu bersedih, sayang"


yaya diam, ia mencoba mengatur napas nya yang tersenggal-senggal sehabis menangis. Matanya memerah juga sembab. Ia memalingkan wajah ke arah lain, enggan menatap Arlan saat ini, jujur yaya masih takut dengan sisi baru pria itu yang baru ia ketahui.


"Baby... Jangan marah, lihat aku!" pinta pria itu serak, ia tak suka saat gadis itu mengabaikan nya.


Yaya langsung menurut, membuat senyum Arlan tersungging "Maaf... Okay?" ucapnya lagi, kali ini terdengar sangat pelan dan tulus, yaya mengangguk saja.


"Jangan diami aku! lupakan rencana merajukmu itu, baby"


Yaya mengangguk pasrah, "iya.."


"Good girl, i love you sweety"