
Yaya menghentak kan kaki nya saat berjalan menuju kamar, ia kesal bukan kepalang sebab mini party yang sudah sedemikian ia persiapkan bersama yang lain nya malah gagal terealisasi kan. Karena apa? Karena ulah Arlan! Pria itu dengan santai nya turun sambil berkata
"Pesta selesai, yaya... Ayo kembali ke atas"
Hancur sudah kebahagiaan semua yang mendengar ucapan tersebut, tak terkecuali yaya, gadis itu menganga kaget ‘selesai apanya?! Bahkan mini party nya belum dimulai sama sekali!’. sempat terjadi aksi nego menego yang dilakukan yaya dan Lan, hingga berakhir cekcok kecil yang berujung tatapan tajam dari pemilik hari bahagia.
"Ck! Tahu begini aku tak perlu repot, sekalian saja aku pura-pura tak tahu serakang ulang tahun nya!" gerutu gadis itu sembari membanting pintu kamar nya.
Arlan berkedip pelan menatap pintu yang menjulang di hadapan nya saat ini, "Yaya? Kenapa pintunya ditutup baby?"
Gadis itu memekik kesal dalam gulungan selimut nya, kenapa harus banyak tanya?! Tinggal buka saja pintu itu, apa susah nya?! Lagi pula pintu nya tidak dikunci - batin gadis itu.
"Baby..." suara berat itu kembali terdengar, mengusik gendang telinga yaya.
Dengan rasa kesal yang masih meradang, gadis itu turun dari kasur, ia berjalan gontai tuk membuka pintu kamar nya lagi. Saat benda persegi panjang itu telah terbuka, tampaklah sosok Arlan yang sudah memasang wajah datar yang sialnya sangat menawan.
"Apa?!" seloroh gadis itu saat Arlan menatapnya dalam diam, "pintu ini bahkan tak terkunci, merepotkan!" dengusnya kemudian dengan suara pelan.
Arlan mengernyit tak suka, gadisnya ini kenapa mendumel terus?- pikirnya.
Ah, jiwa kepekaan pria ini memang harus ditingkatkan lagi, bisa stress lama-lama jika yaya berhadapan dengan manusia kurang peka seperti Arlan.
"Marah karna pestanya batal?" tanya pria itu menebak.
"Pikir aja sendiri!" ketus gadis itu seraya mengeratkan genggaman nya pada handle pintu, "Sudah kan? Sana, aku mau istirahat!" Kemudian gadis itu menutup pintu tersebut rapat-rapat.
Arlan berdecak marah, sebisa mungkin ia menjernihkan pikiran agar tidak meledak di hadapan gadis itu, perlahan tapi pasti ia ikut menyusul masuk ke dalam kamar pujaan hatinya.
"Sudah kubilang sana! Aku mau istirahat Arlan"
Rahang pria itu seketika mengeras, gadis nya kembali memanggil nama, dan Arlan tidak suka itu. "Hubby, not Arlan!" tekan nya
Yaya mengangguk asal, gadis itu kemudian menutup sekujur tubuhnya dengan selimut, merasa malas terus meladeni Arlan yang sangat menyebalkan itu.
"Baby, lihat aku!"
"Hm... Sudahlah, aku mengantuk sekali. Biarkan aku sendiri" jawab gadis itu tanpa merubah posisinya sedikitpun, membuat Arlan semakin naik darah.
Bugh!
Bugh!
kelopak mata gadis itu langsung terbuka lebar, ia pun refleks bangkit dari kasur, tanpa pikir panjang, ia langsung mendekati Arlan yang sudah menggila memukuli tembok.
"SALAH KU APA?!" raung pria itu, tangan nya masih saja beraksi menghajar tembok yang tak bersalah.
"By... Hubby, sudah! HUBBY STOP!!!" Gadis itu tak kalah berteriak guna menyadarkan Arlan, ia memeluk erat perut pria itu dari belakang, dan benar saja Arlan seketika berhenti beraksi gila. Ia segera membalik badan, memeluk erat tubuh gadis itu "salahku apa? kamu sudah mengerjaiku semalaman sampai menangis seperti pria menyedihkan, sekarang kamu pun mengabaikan ku?" Ucap nya serak, jujur kepala Arlan saat ini sangat sakit, ia tak suka diabaikan, terutama oleh gadis itu.
Yaya seketika sadar, gadis itu langsung menggapai wajah sang tunangan, "Maaf, aku kesal tadi, sayang..." ucapnya, kemudian menghujani wajah tampan itu dengan kecupan.
Arlan seketika redam, amarahnya sudah lenyap. ia mengerucutkan bibirnya meng kode agar bagian itu tak terlewatkan. Yaya yang paham langsung saja memberikan kecupan di sana, baru saja hendak menjauh, tangan pria itu bergerak cepat menahan tengkuk gadis nya, ia kemudian menyesap bibir ranum yang selalu menjadi candu nya itu, atas bawah bahkan sampai ke dalam-dalam nya.
Suara kecipak perpisahan itu terdengar sangat nyaring, membuat pipi yaya semakin bersemu. "aku tak mau tahu, hari ini istimewakan aku! Kamu sudah membuat air mataku banyak keluar kemarin, ka—"
Cup!
"Iya, hubby... pasti yaya manjain. Tapi yaya ngantuk, bobo aja dulu, ya?"
Arlan mengulum bibir nya, merasa gemas menatap gadis tercinta nya itu. ia pun mengangguk, "cuddle!"
Gadis cantik itu terkekeh, lantas ia mengangguk "Di kamar yaya?"
Arlan mengangguk cepat. Keduanya langsung berbaring di kasur, yaya tersenyum saat Arlan langsung memeluknya erat, bahkan kini setengah badan kekar itu sudah menindih nya.
Arlan mendongak, menatap wajah yaya, kemudian ia membuka lebar mulutnya "Aaa~"
Yaya sudah bapa betul maksud pria itu, ia tersenyum geli seraya memasukkan salah satu jari jempol nya ke dalam mulut pria tampan itu.
Dalam hati yaya meringis merasakan Sapuan lidah Arlan di jari nya, namun bagaimana lagi? Ia tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kemauan singa jantan ini. "Tidur ya, hubby... mimpi indah, i love you" bisik nya tepat di telinga pria itu, membuat Arlan tersenyum sambil memejamkan mata nya.
"Love you more, baby yaya" ujar pria itu dalam hati, ia tak bisa membalasnya karena mulut itu sedang asyik mengemuti jari jempol kekasih hati nya. Entah mengapa Arlan sangat suka, ia seolah ketagihan menyesap jari jemari lentik gadis itu, rasanya manis dan mampu membuat nya nyaman.
...****************...
Terik cahaya matahari menembus celah gorden yang indah menutupi jendela kamar itu. Yaya terbangun sebab silaunya sinar matahari yang mengganggu kenyamanan nya, ia mengarjap menatap jam dinding "sudah jam tujuh.." gumam nya, gadis itu melirik ke samping, tampak tunangan nya masih terlelap dengan pulas dengan mulut yang sedikit terbuka.
Yaya terkekeh-kekeh, ia mencabut jari nya dari dalam mulut pria itu. Seolah sudah terbiasa, yaya tak lagi merasa jijik merasakan basah pada jemarinya yang semalaman di sesap oleh Arlan. Gadis itu membenarkan letak selimut di tubuh Arlan, tangan nya sesekali naik mengusap alis pria itu "bobo yang nyenyak yah, aku mau mandi terus ke bawah. Jangan rewel ya sayang?" bisik gadis itu seolah Arlan bisa mendengar.
Nyatanya tidak! Arlan jelas tidak bisa mendengar nya sebab pria itu masih tertidur.
Hampir lebih dari dua puluh menit yaya menghabiskan waktu untuk membersihkan diri nya, kini gadis itu telah rapih dan tampak lebih segar dengan balutan dress berwarna cokelat susu yang melekat indah di tubuh proporsional nya.
Gadis itu menyempatkan diri mengecup pipi Arlan sebelum turun ke bawah. biarlah pria itu puas tidur, tampaknya kebanyakan menangis membuat tubuh Arlan jadi sangat lelah hingga tertidur sangat pulas.
Baru saja hendak melangkah masuk ke area dapur, langkah gadis itu terhenti mendengar panggilan dari samping nya. Tampak salah satu bodyguard yang berjaga mendekat dengan sebuah box berukuran sedang berwarna hitam di bawanya.
"Nona, ada paket untuk anda. tadi subuh tiba di depan gerbang, sekitar jam lima, non"
Yaya mengernyit bingung, seingatnya ia tak pernah memesan barang secara online, lalu paket apa itu. "Untuk ku? apa tidak salah?" tanya gadis itu memperjelas, sebab ia yakin kalau ia tak memesan paket belanjaan apapun.
"Benar, non. Ini ada surat diatas, nama Nona. Dan kurir yang mengantar pun menyebut nama anda saat memberikan paket ini, Non"
Yaya akhirnya mengangguk, meski masih bingung akan kondisi saat ini. "Terimakasih, siapa nama mu?"
Gadis itu mengangguk lagi. "iya. terimakasih andiyar, kamu boleh pergi"
Sepeninggal bodyguard botak berbadan kekar itu, yaya diam menatap box di tangan nya. Ingin buka tapi tidak berani, entah mengapa tiba-tiba dirinya jadi cemas sendiri mendapat paket misterius di pagi buta. Pasti ada yang tidak beres.
"Nona, selamat pagi"
Yaya terjengkit kaget mendengar ucapan dari sosok pria yang tiba-tiba muncul dari belakang nya. Itu adalah Lan.
"Maaf saya mengagetkan anda, Nona" sesal pria itu meminta maaf.
gadis cantik itu mengangguk "santai saja. Lan, bisa tolong letak kan ini, di ruang keluarga?" tanya gadis itu sembari menyerahkan box hitam itu pada asisten tersebut.
"tentu saja, Nona. Dengan senang hati" jawabnya tanpa berpikir lama.
"Terimakasih, Lan"
"Sama-sama Nona" sahut Lan yang kemudian pergi menuju ruang keluarga membawa kotak hitam dari sang Nona boss.
Yaya kembali melanjutkan langkah nya menuju dapur, gadis itu tersenyum senang. Bagaimana tidak? Baru saja masuk indra penciuman nya langsung dimanjakan oleh aroma sedap masakan pagi ini.
Semua pekerja juga koki yang melihat gadis itu tersenyum, menunduk hormat sambil memberi sapaan hangat yang membuat yaya semakin bahagia berada di rumah ini.
"Itu gurita?" Tanya yaya yang sempat melirik mini aquarium yang baru saja diangkat masuk ke dalam dapur.
Kepala koki itu mengangguk "benar Nona, hari ini saya akan membuat cemilan modern ala-ala korea. Saya dengar dari asisten Ani, Nona suka menonton drama korea.."
"Ya, aku memang suka akhir-akhir ini menonton film romantis asia, karena dengar itu kalian membeli gurita itu?" tanya yaya penuh antusias.
"Ya, Nona.. Kami harap anda suka"
"Tentu saja! Masakan kalian para koki sangat enak! Lidah ku selalu bahagia, tidak-tidak! Bukan hanya lidah, seluruh tubuh ku juga bahagia! Kalian sangat baik, bekerja dengan tekun, selalu membuat ku nyaman. Terimakasih, semuanya..."
Bukan hanya kepala koki yang tersenyum, semua pekerja yang mendengar penuturan gadis itu ikut bahagia, juga merasa terharu, mereka jadi semakin senang dan bersemangat bekerja di rumah mewah ini. Kehadiran sosok yaya berdampak besar bagi suasana rumah ini.
Yaya mengernyit tipis saat melihat kepala koki menunduk tiba-tiba, ia segera berbalik dan betapa terkejutnya gadis itu saat menatap sosok Arlan yang entah sejak kapan sudah berada di belakang nya.
Pria itu hanya mengenakan kaos biasa dipadu boxer selutut yang semalaman ini dia pakai. Wajahnya masih bengkak, wajah bantal yang sangat menggemaskan di mata yaya. Rambut pria itu pun berantakan, pasti saat terbangun ia langsung pergi mencari keberadaan yaya, cih kebiasaan posesif nya.
"Baby... Kenapa meninggalkan aku?" protes pria itu dengan suara serak nya. Yaya terkekeh-kekeh menatap mata Arlan yang masih bengkak efek kebanyakan menangis "aku bosan di kamar" jawab gadis itu sembari memeluk Arlan.
Pria itu mendelik kesal "bosan? Ada aku! Kenapa bisa bosan? Kamu bosan bersama ku? Hm?"
Yaya meringis menahan malu, bibir gadis itu tertarik mengulas senyuman renyah, ia melirik sekeliling nya secepat kilat, kemudian kembali menatap wajah Arlan "bukan begitu, ayo ikut aku hubby" ucapnya sembari menarik lengan Arlan tuk ikut dengan nya.
Baru beberapa langkah keluar dari dapur, ingatan gadis itu kembali tertuju pada sesuatu yang sempat mengusik nya "hubby," gadis itu menghentikan langkah nya, otomatis Arlan pun juga melakukan hal serupa.
"Kenapa?" tanya pria itu ogah-ogahan, ingat ia masih kesal akan kalimat ‘bosan’ yang keluar dari bibir manis kesayangan nya tadi.
"Apa kamu diam-diam membelikan aku barang secara online?" tanya nya.
Arlan mengernyit samar, seingat nya tidak pernah, kalaupun iya pasti barang itu akan sampai terlebih dulu di tangan nya sebelum diberikan pada gadis ini "tidak, kenapa?"
"Mm..." gadis itu mengangguk kecil, ia menatap serius wajah sang tunangan "ada paket misterius, kata penjaga itu untuk ku, sampai nya tadi pagi... Sekitar jam lima"
"Paket?" beo pria itu yang langsung dibalas anggukan oleh yaya "aku belum buka, karena tak tahu kenapa, aku jadi cemas sendiri tadi" Seru gadis itu.
Arlan mengusap lembut rambut gadisnya "kenapa tak langsung panggil aku?" tanya nya lembut.
Yaya menggeleng "tidak kepikiran, by." jawab gadis itu pelan, ia kemudian menunjuk ke belakang "kotak nya ada di ruang keluarga, tadi aku menyuruh Lan meletakkan nya disana. Ayo kita periksa?"
Arlan mengangguk patuh, tangan kekar itu setia merangkul pinggang kesayangan nya. Mereka terus berjalan sampai akhirnya mereka berhenti tepat di depan meja yang telah tersedia sebuah kotak yang dimaksud sang gadis. Arlan menarik gadis itu berdiri di belakang nya. "Biar aku saja, jika berbahaya. Kamu pergi menjauh, paham baby?" Instruksi pria itu.
Yaya mengangguk "ya" kemudian ia melangkah mundur dua kali, ia senantiasa menatap pergerakan tangan tunangan nya saat membuka kotak misterius itu. Dalam hati yaya berharap semoga isinya tidak berbahaya, "isinya apa, hubby?" tanya gadis itu sedikit berjinjit agar bisa mengintip barang sedikit, namun gagal sebab Arlan langsung menutup kotak itu kembali.
"By? Kenapa? Apa isi nya?" gadis itu mendekat, semakin mendekat sampai kembali bisa melihat wujud kotak itu, namun tidak dengan isinya.
"sepertinya salah alamat, sayang. Isinya keperluan orang dewasa" jawab Arlan sekenan nya.
Kedua alis gadis cantik itu naik "keperluan orang dewasa? Apa isinya hubby?! Jangan membuatku penasaran"
"alat kontrasepsi, sepertinya milik orang lain yang memiliki nama serupa dengan mu"
Yaya bergidik ngeri "buang saja hubby, yaya tak mau lihat!"
Arlan mengangguk "benar, itu menjijikkan. Anak kecil tidak boleh melihatnya"
"Hei! Siapa anak kecil yang kamu maksud?!"
Arlan terkekeh "ya jelas kamu!" jawabnya sambil tergelak kencang, mencoba mencairkan suasana.
"Hais... sok dewasa! Walaupun aku belum pernah nana ninu, tapi di sekolah aku juga belajar ya hubby! Ingat, biologi itu pelajaran favorit ku"
Arlan semakin tertawa kencang "iya.. Haha iya, iya"
Merasa semakin kesal, gadis itu akhirnya pergi meninggalkan Arlan sendirian di sana sambil menggerutu "cih, lihat padahal jika di kamar dialah yang seperti bocah minta kenyot jempol! Jempol ku pula!?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
LOHALOOO SIAP DPT CRAZY UP DR NUNA??? eits jangan lupa like nya dong. jangan diem-diem bae