
"Sudah seminggu ini, sejak tuan pergi, nona sering terlambat tidur tuan" ujar Ani pada Arlan yang memang sedari tadi menanyakan segala tentang yaya padanya.
Arlan mengeratkan rahang nya "Kenapa kau tak menyuruh nya video call padaku!? Dasar bodoh!"
Ani menunduk takut "s-sudah tuan, t-tapi nona menolak, katanya nona tak mau mengganggu pekerjaan tuan, bos"
"Sana, kau boleh pergi"
Ani mengangguk, ia segera pergi dari, meninggalkan tuan bos nya hanya berdua dengan Yaya.
"Hnghh..." yaya meregang kan otot nya, ia sudah bangun dari tidur siang yang cukup memuaskan kali ini.
"Hei" sapa Arlan mengecup lembut tangan gadis itu.
Yaya tersenyum tipis, ia menegakkan tubuh nya, duduk bersender di kepala ranjang "ingin sesuatu?" tanya Arlan
Yaya menggeleng.
"Mau jalan dengan ku?" tanya nya lagi namun kembali dijawab dengan gelengan oleh gadis cantik itu.
Yaya jadi teringat saat Arlan marah, dan pergi tanpa berpamitan padanya. Gadis itu merengut, matanya kembali berkaca-kaca menatap Arlan
Arlan kelimpungan sendiri menatap yaya seperti itu "kenapa? Apa kau sakit?"
"Hng!... Kenapa kau pergi tak memberi tahu ku terlebih dahulu!?" akhirnya yaya mengeluarkan unek-unek nya pada pria menyebalkan itu.
Arlan mengulum senyum, ia menatap yaya dengan pandangan mengejek "siapa suruh kau menyebalkan?"
Yaya menghapus kasar air matanya yang jatuh, entah mengapa ia jadi cengeng sekali saat bersama pria pemaksa ini "Kau yang menyebalkan!" tuding yaya menohok
Arlan menunjuk wajahnya sendiri "aku?"
"Ya! Kau marah karena aku suruh makan malam, dan kau membentak ku!" yaya mengatur napas nya yang terasa sesak, tiba-tiba kejadian malam itu kembali terngiang di kepala nya "Kau meminum alkohol! Dan... Kau pergi sesuka hatimu, sedangkan aku terkurung di rumah ini seperti orang bodoh!"
Arlan terdiam, ia menatap lamat wajah memerah gadis itu, ternyata selama ini yaya memang tersiksa berada di dekat nya. Yaya itu gadis baik, dan juga lemah lembut. Sangat berbanding terbalik dengan dia yang kasar, dan kejam.
"Baiklah, aku salah. Maafkan aku, angel"
Yaya mengangguk "gendong" pinta nya.
Arlan dengan senang hati meraih tubuh mungil itu masuk dalam gendongan nya, ia bergerak ke kanan, kiri menikmati pelukan yaya pada leher nya "Arlan, apa kau punya kekasih?"
Arlan mematung sejenak "kenapa bertanya begitu?" alis nya menukik tajam
Yaya mengukir pola abstrak di leher jenjang pria itu, sesekali yaya bermain dengan jakun nya "Jawab saja" pinta nya memaksa.
"Untuk sekarang, tentu tidak, karena kau masih menolak ku"
Yaya terkikik, membuat Arlan ikut tersenyum "Kenapa tertawa?"
Yaya menggeleng, ia menegakkan badan hingga kini mereka saling berhadapan "kurasa... Aku sudah menyukai mu"
Arlan diam, ia hanya menatap dan mendengarkan dengan baik setiap kalimat yang diucap oleh gadis itu.
"Aku juga masih ragu sebenar nya" bagu gadis itu merosot ke bawah "tapi yang pasti aku senang dan nyaman bersama mu. Meski dilain sisi kau sangat menyebalkan dan pemaksa"
Arlan tertawa mendengar nya "apa kau menganggap aku istimewa?" tanya Arlan
Yaya mengandik bahu "tidak juga" jawabnya santai
Arlan mengangguk "mungkin kau hanya menganggap ku sebagai... Kakak mu?" tebak nya
Yaya menggeleng "meskipun aku anak tunggal, tapi aku tahu bagaimana rasanya bersama seorang kakak, aku punya satu namanya Luis, dia kakak kandung Roma"
Arlan terdiam pikiran nya mulai kemana-mana "apa kalian dekat? Maksudku... Kalian sering bertemu?"
Yaya menggeleng "tidak, kami bertemu sebulan sekali, saat Luis berkunjung mengecek keadaan Roma, itu saja. Kenapa? Apa kau mengenal kak Luis?" Tanya yaya penasaran
Arlan menggelengkan kepalanya "tidak"
Arlan mengangguk "sedikit" jawabnya berbohong.
"Kalau begitu, turunkan aku"
"Tidak. Kenapa minta turun?" tanya Arlan tak suka, ia ingin berlama-lama lagi memeluk yaya, skin to skin, ia butuh charge setelah beberapa hari ini ia sangat kehilangan juga merana merindukan gadis ini.
"kau lelah, Arlan. Sudah turunkan saja" yaya menepuk dada Arlan pelan mengode agar pria itu menuruti nya.
"Tidak, aku tidak lelah jika hanya menggendong tubuh kecil mu ini" ujarnya santai
Yaya berdecih sinis "sudah, aku sudah tak ingin di gendong lagi, ayo sekarang gantian kau yang harus tidur"
Arlan meringis pelan saat kuku yaya mencubit lengan nya, dengan terpaksa pria itu akhirnya menurunkan yaya kembali di atas kasur.
"Sebelum nya, kau harus mandi. Arlan"
Arlan menggeleng "aku sudah mandi sebelum terbang kemari"
Yaya mengangguk saja, jika sudah begini ujung nya pasti akan bertengkar bila diteruskan "tunggu sebentar, aku ingin ke toilet"
"Hm"
Arlan duduk di pinggiran ranjang, ia melepaskan gesper nya, agar tidak terlalu sesak. Pria itu duduk menunggu yaya sembari bermain handphone.
Yaya kembali, gadis itu merangkak naik ke tengah kasur king size nya, ia menatap Arlan yang sedari tadi sibuk dengan ponsel pria itu.
"Arlan?"
"Hm?"
"Kemari" yaya menepuk paha nya membuat Arlan lekas menoleh "apa?" tanya Arlan bingung.
Yaya berdecak "sini, waktu itu kau tidak jadi tidur di pangkuanku karena marah, sekarang—" Yaya terdiam saat Arlan bergerak cepat merebahkan diri menjadikan paha nya sebagai bantalan.
Arlan tersenyum hingga taring nya terlihat, yaya sampai pangling melihat nya, sangat tampan!
Yaya terkekeh kala tangan Arlan meraba angin, ia mengangkat sebelah tangan nya yang bebas "mencari ini?" tanya yaya
Arlan mengangguk, ia mencoba meraih tangan itu, tapi yaya terus saja menghindari nya "yaya.." tegur Arlan dengan suara deep nya.
Yaya tertawa "apa?"
"Sini, tangan mu"
"Kau mau ini?" tanya yaya menujuk tangan nya
Arlan mengangguk "cepatlah aku lelah" titah Arlan tak terbantahkan.
Yaya berdecak, apa yang ia harapkan? Arlan tidak mungkin mau memohon hanya untuk mendapat jari jemari itu. Arlan bukan pria yang manis, yaya harus mengingat itu mulai sekarang.
Yaya tersenyum saat Arlan menangkap tangan nya, pria itu langsung memasukkan jempol yaya ke dalam mulut nya, ia **** seperti bayi yang sedang mengompeng.
"Aku jadi curiga, kalau di kamar mu, ada dot juga kompeng bayi... Hayo, mengaku!" tuding yaya menatap Arlan penuh selidik.
Arlan menggeleng, ia jujur kalau dirinya memang tak memiliki alat mpeng atau apapun itu. Hey dirinya sudah dewasa! Mana mungkin Arlan memiliki alat bayi itu.
Yaya terkekeh-kekeh menatap raut kesal Arlan, tangan nya yang semula mengelus rambut pria itu kini beralih menjawil hidung mancung Arlan "jika begini, kau sangat lucu"
Arlan tersenyum, ia semakin bersemangat mengemut jari gadis itu, matanya ia pejam agar lebih cepat masuk ke alam mimpi.
Yaya tersenyum, gadis itu bersenandung indah berirama slow, ia saat ini persis seperti seorang ibu yang tengah mengelon in anak nya.
"Sudah tidur?" batin yaya.
Gadis itu melepaskan jari nya dari bibir Arlan, berhasil. Berarti pria itu benar sudah terlelap. Yaya perlahan mengangkat kepala Arlan, lalu ia letak kan bantal di bawah leher pria itu menjadi bantalan.
Yaya tersenyum melihat Arlan yang sudah nyenyak tertidur, wajah nya terlihat damai. Ia jauh lebih tampan saat seperti ini. Gadis itu keluar dari kamar nya setelah menyelimuti tubuh Arlan.