
Yaya terkekeh, "nikah dulu sayang... Baru boleh, okay?" setelahnya ia mengecup kening Arlan penuh cinta, membuat sang empu memejamkan mata menikmati ciuman si gadis.
"Besok kita menikah... Bagaimana?"
Yaya tersentak "yang benar saja? Itu terlalu mendadak, Arlan"
"No Arlan!, call me hubby, daddy or sayang" ujar Arlan dengan tatapan tajam nya.
Yaya mengangguk, ia tersenyum manis menatap pria itu "jangan besok hubby, itu terlalu cepat"
Arlan tersenyum puas "Lebih cepat, lebih bagus"
"Hm... Bagaimana kalau minggu depan?" tawar gadis itu.
"Tidak! Aku sudah tidak kuat baby, setiap hari..." Arlan menunduk dalam "setiap hari aku ingin, kamu" ucapnya kemudian mendongak menatap gadis di pangkuan nya itu.
Yaya diam sejenak, ia terkejut menatap mata memerah Arlan, bahkan semakin lama mata itu kian berkaca-kaca "kenapa jadi cengeng begini?" yaya memeluk kepala pria itu "malu dengan badan kekar mu, sayang" seru gadis itu sedikit terkekeh.
"Aku tersiksa baby, setiap hari aku selalu bermain solo, paling sedikit tiga kali sehari"
Yaya sontak melepas pelukan itu, ia terbatuk entah karena apa "t-tiga?.." gumam nya tak menyangka.
Arlan mengangguk mantap "bahkan terkadang aku bermain sendirian di toilet kantor. Menjijikkan, aku merasa seperti pria haus belaian. Memanggil namamu dan membayangkan kamu—"
"Ssttt!" yaya menutup mulut pria itu dengan telapak tangan nya "lupakan, jangan dibahas lagi"
"Maka dari itu, besok kita menikah, okay?"
Yaya mendelik tajam saat Arlan tiba-tiba memainkan bok*ng nya "hei, tangan mu!"
"Besok kita menikah! Titik!"
...****************...
Arlan tersenyum menatap wajah gadisnya yang sudah terlelap, ia mengecup kening serta pipi gadis itu. Kemudian Arlan keluar dari sana, menuju kamar pribadi nya.
"Tuan"
Langkah Arlan terhenti saat suara Lan terdengar, ia berbalik menatap asisten nya itu "kenapa"
"Ada dua peneror di luar, tuan. Mereka bersenjata"
Arlan berdecak, "kerahkan semua penjaga, lepaskan anjingku" titah pria itu tegas, ia berlari kembali masuk ke kamar yaya, menggendong gadis itu selembut mungkin agar tidurnya tidak terganggu. Arlan meletakkan gadis itu di kamar pribadinya, sebab kamar Arlan merupakan tempat yang sulit di bobol.
"Eungh..." yaya menggeliat saat Arlan berhasil mendaratkan tubuhnya di kasur.
"shh.. Tidurlah baby"
Cup!
Arlan mengelus sayang rambut gadis itu hingga tampak yaya sudah kembali nyenyak. setelahnya Arlan lekas mengunci rapat jendela serta pintu kamarnya, ia berjalan dengan langkah lebar ke lantai dasar.
"Tuan..." Lan menyambut dengan memberikan sebuah senjata api salah satu koleksi Arlan yang bisa ia bawa, Arlan mengangguk menerima nya "awasi semua"
Lan lekas berlari menuju sumber suara, pria bermata sipit itu juga sudah siaga dengan senjata miliknya yang ia pasang di depan. Arlan membiarkan Lan pergi mengecek, sementara dirinya sibuk mengawasi sekeliling tempat ia berdiri.
Woof! Woof!
Arlan menatap ke arah tangga, dimana salah satu anjingnya sedang berlari mengejar seseorang berseragam serba hitam juga topeng kupluk senada yang menutupi wajah nya.
"Satu..." Arlan memejamkan sebelah matanya "dua...", tangan nya terangkat mengeker sosok yang tengah berupaya menyelamatkan diri dari kejaran anjing, dan...
DOR!
"kena kau!"
Arlan menurunkan senjata nya, menatap puas pada lawan yang kalah telak dari nya. Tidak sia-sia ia memelihara anjing, semua terasa lebih mudah.
"Bawa dia!" titah Arlan pada dua penjaga yang berlarian menghampiri sasaran tembakan Arlan tadi, kedua bodyguard itu membopong badan penyusup itu masuk ke ruang bawah tanah.
Arlan tersenyum, ia kembali mengawasi sekeliling nya, kosong dan tenang. Agaknya penyusup yang satu lagi sangat piawai berkamuflase dari pandangan seluruh penjaga.
DOR!
Arlan menoleh ke belakang, ia menatap datar sebuah tubuh berbaju hitam yang sudah tergeletak bersimbah darah "Bagus, Lan" puji Arlan menatap asisten nya itu. entah sejak kapan Lan siaga di sekitarnya.
"Mereka menaruh banyak bangkai di dapur, dan toilet, tuan" Lapor sang asisten membuat Arlan mengernyit samar.
"Bersihkan semuanya, perketat pengawasan"
...****************...
Yaya terkejut, gadis itu lantas terbangun dan langsung bangkit dari kasur "hah?!" yaya menatap sekeliling nya, rasa kaget nya kian bertambah mendapati diri berada di ruangan lain. Seingatnya ia tertidur di kamar nya sendiri, namun sekarang, kenapa bisa ia berada di kamar Arlan?!
Gadis itu kembali tersadar, ia berlari meraih knop pintu "Buka pintunya!" pekik gadis itu sembari berupaya dengan memutar handle sekuat tenaga, namun tiada hasil sebab pintu itu telah di kunci dari luar.
"Apa ini? Kenapa bisa begini?" yaya bergumam lirih, ia sedikit bingung, khawatir juga terkejut, ia yakin kalau suara tembakan yang ditangkap indera pendengaran nya itu nyata.
"Arlan!!!" yaya tak hentinya menggedor-gedor pintu sembari meneriaki nama tunangan nya itu.
"Arlan! Kau baik-baik saja? Arlan!!!!"
Arlan yang memang tengah berjalan kembali menuju kamarnya lekas berlari saat mendengar suara gadisnya. Dengan segera ia membuka pintu dan mendapati yaya, gadis itu langsung memeluknya erat "kenapa mengunci ku?!" pekiknya marah
"Agar kamu aman, baby"
"Aman? Apa maksud mu?"
"Tadi ada tikus nakal masuk ke rumah ini, jadi aku keluar untuk membunuh nya"
Yaya melotot "tikus?!" gadis itu melompat naik ke tubuh Arlan, yang langsung sigap di tangkap oleh pria itu "kunci lagi pintunya!" pinta gadis itu memeluk erat leher Arlan.
"Haha, kenapa kamu sangat menggemaskan sayang?" Arlan mengecup pipi gadis itu beberapa kali "tenang saja, tikusnya telah musnah, sayang... Kita aman darinya"
"Setidaknya untuk saat ini aku akan bersabar" batin Arlan