
Selesai dengan acara makan siang, keduanya langsung bergegas kembali ke kantor, itu semua atas permintaan yaya, padahal tadi Arlan sudah membujuk ingin mengajak gadis itu belanja atau sekedar berburu kuliner di pinggiran kota, tapi yaya tidak mau.
"Lebih baik kita langsung ke kantor, hubby. Kerjaan mu pasti banyak, jangan merepotkan diri hanya untuk aku"
Begitu katanya, gadis itu bersih keras tidak mau diajak quality time, padahal jarang sekali Arlan mau mengajaknya bersenang-senang diluar. Huh, memang dasarnya yaya itu gadis polos yang introvet, jarang sekali dia mau diajak keluyuran. Tapi berkat itu Arlan jadi bahagia, karena ia tak perlu repot mengekang gadisnya yang akan berujung pada pertengkaran nantinya.
"Yaya, aku ingin berbicara serius kali ini"
Arlan berucap saat keduanya telah tiba di perusahaan nya, pria itu pun telah memarkirkan mobilnya di tempat biasa, tempat parkiran khusus yang dia buat tuk kendaraan pribadinya seorang.
Yaya menoleh, dengan tangan gadis itu membuka seat belt yang sedari tadi meliliti badan nya. "tentang apa?" tanya nya
Arlan menatap lamat wajah jelita itu, ia menegak Saliva nya yang terasa tercekat, ia masih ingat saat dimana yaya menggerutu, dan tertunduk lesu dengan raut sedih nya. Ia benci melihat itu, dan ia ingin tahu, apa penyebab semua itu, apakah dirinya? Atau bukan.
"Tadi, sebelum kita makan siang, apa kamu sedang memikirkan sesuatu? Ada yang mengganggu pikiran mu, baby?
Yaya menggeleng, sebisa mungkin gadis itu menyembunyikan sedihnya di hadapan pria ini "tidak, aku... Mungkin saat itu aku hanya lapar?" Jawabnya sembari mengelus lengan Arlan "jangan khawatir, hubby" ucapnya menenang kan.
Arlan menggeleng "jujur, jawab aku dengan jujur!" pinta pria itu, kini ia bahkan telah berhasil mengangkat tubuh gadisnya duduk di pangkuan nya.
Yaya tersentak, lagi dan lagi ia merasa ada yang mengganggu di bawah sana, tapi ia berusaha abaikan itu "aku jujur, tidak bohong, hubby"
Arlan diam sejenak, matanya menelisik netra gadis itu, mencari kejujuran yang sama sekali tak ia dapat "kamu bohong, baby... I can see it" ucapnya datar, sungguh jiwanya tak tenang bila gadis itu tak berterus terang, ia takut yaya berpikiran macam-maca dan berujung membencinya lagi.
Yaya diam, tiba-tiba sesak menusuk hatinya saat bayangan beberapa waktu lalu terputar kembali di kepala, saat Arlan berbincang dengan sekretaris sexy nya, dan cara gadis itu mengajak Arlan makan bersama. Sakit!
Arlan mengusap lembut pipi gadis itu, mata tajam nya menatap dalam netra sang gadis "jujurlah, agar aku tahu, aku tidak bisa tenang kalau kamu menutupinya... Jujur baby, aku ini calon suami mu 'kan?"
Gadis itu mengangguk, sial! Sikap manis pria ini membuat nya ingin menangis saja, "Kamu menyayangi ku, baby?" tanya Arlan dengan lembut, dan yaya langsung mengangguk, "kamu mencintai ku, tidak?" lagi, yaya menjawab dengan anggukan kepala.
Arlan terus menatap wajah itu. Ia busa menangkap mata gadisnya yang sudah memerah, siap untuk menangis kapan saja. Ah! Jadi semakin tidak tenang saja dia. "Kalau sayang, kalau cinta padaku. Ayo jujur, katakan apa yang kamu pikirkan? Ada hal yang mengusik mu, baby?" Bujuk pria itu lagi.
Kalah! Yaya akui ia tak sanggup lagi, tanpa bisa di cegah ia mengangguk "eum..." ia merengek kecil, bibirnya bergetar dengan mata yang sudah basah, saat ia ingin memeluk leher pria itu, Arlan justru menahan nya terlebih dahulu "Jawab dulu semuanya, katakan padaku, lalu boleh peluk. Okay?"
"Huaaa!"
Dan tangis itupun pecah sudah, yaya menangis tepat di depan wajah Arlan. Ia gak perduli bagaimana rupa nya saat ini, yang jelas ia ingin menangis dan mengakui segala kegusaran hatinya pada pria itu. "Aku, takut..."
Arlan mengernyit "takut kenapa, baby?" tanya nya langsung.
Yaya mengatur napas nya, "Hiks, apa... Apa suatu saat nanti, hubby akan pergi? Hubby akan meninggalkan aku? apa hubby akan tergoda dengan gadis cantik di luaran sana?"
Arlan diam, ia menatap lekat wajah gadisnya yang sudah memerah keseluruhan terutama di bagian mata dan hidung nya.
Arlan menggeleng pelan, jujur ia sangat kesal dengan pikiran konyol gadis ini, bagaimana ia bisa meninggalkan malaikat nya ini? Arlan tidak akan sebodoh itu.
"Kamu bukan pacarku, kamu tunangan ku, baby... Jelas ku berbeda dengan semua mantan kekasih ku, mereka hanya sebatas pacar, tapi kamu?" Arlan mengecup kilat bibir gadis itu "kamu beda, sayang... Kamu itu segalanya untuk ku, tidak akan ada kata pisah! Kamu akan ku nikahi. Jadi berhenti berpikir yang tidak-tidak"
yaya mengangguk lemah "tapi kita kan tak tahu, bisa saja suatu— mmpph!"
Arlan yang gemas langsung memangut bibir cerewet itu, membungkam nya dengan ciuman dalam nan menuntut, sedikit kasar dari biasa nya, tapi tidak menyakiti gadisnya.
Keduanya sama-sama memejamkan mata, yaya akhirnya bisa meredakan kesedihan nya dan Arlan yang berhasil menghilangkan kesal dalam kepala nya sendiri. Ia benci saat yaya menebak-nebak sesuatu yang mustahil ia lakukan. Sudah sejauh ini dan Arlan tak mau banyak masalah lagi, ia mau segera memiliki yaya seutuhnya, membina rumah tangga yang harmonis dengan segala cinta dari keduanya.
Arlan melepaskan ciuman itu saat yaya mencubit lengan nya dengan kuat, ia menatap wajah memerah gadis itu, yaya berantakan, rambutnya yang semula rapih kini tidak lagi, bibirnya juga bengkak akibat ulah pria itu, ah sangat menggoda di mata Arlan "jangan berpikir yang tidak-tidak, aku tak suka itu, baby. Kamu selamanya milik ku, dan aku milik mu. Kita akan terus bersama, paham?!"
Yaya mengangguk patuh "boleh peluk? Yaya mau peluk hubby, please" pinta nya dengan puppy eyes yang mengkilat indah, membuat Arlan tak kuasa untuk menolak.
"Peluk lah, aku milik mu, baby"
Gadis itu mengangguk, "Arlan milik Yaya" ucapnya serak, kemudian setelah itu mereka langsung berpelukan, yaya memejam erat, menghirup dalam aroma maskulin dari tubuh Arlan yang selalu memabuk kan nya.
"Janji padaku, kamu tidak boleh lagi berpikiran buruk seperti itu, baby? Aku tak akan pernah berpaling dari mu, karena apa?...." Arlan mengecup pipi gembul gadis itu "karena kamu cinta ku, malaikat ku, kamu segalanya"
Yaya mengangguk "i love you, hubby"
"Love you more, Ayashya ku"
***
"Lan, apa kau punya kekasih?"
Lan yang sedang mengelap jam tangan nya lantas menoleh, ia tersenyum menatap calon Nyonya bos nya yang sejak tadi dia temani di mansion ini, tentu atas perintah Arlan.
"Punya, nona. Namanya Emely. Dia cindo (China+pribumi) seperti ku"
yaya mengangguk paham "Pasti dia cantik..., dimana dia sekarang?"
"Dia kuliah di Korea, Nona. Ah, membicarakan nya membuatku jadi rindu"
Yaya menepuk bahu Lan dua kali "maafkan aku, Lan, aku hanya penasaran"
"Tidak masalah nona, memang kami sudah hampir dua tahun tidak berjumpa, rindu ini bukan masalah besar untuk ku"
Pria itu menunduk dalam, entah mengapa rasa sedih seketika menyelimuti hati nya.