
***Tok! Tok! tok***!
Dua orang pria tampak berdiri dengan berbagai macam ukuran plastik yang di dominasi ukuran besar berdiri di depan pintu kamar kost wanita bernomor 9.
ceklek....
"Selamat malam, maaf mengganggu waktu nya. Nona, kami ditugaskan mengantar belanjaan yang tadi nona tinggalkan"
Yaya terkejut mendengar hal itu, astaga bagaimana ini?! Yaya tidak punya uang banyak, bagaimana caranya membayar belanjaan sebanyak itu?
"Maaf, aku tak jadi membeli itu semua"
Kedua pria itu tersenyum ramah, "ini perintah tuan Roverald, nona. Beliau menyuruh kami mengantar barang ini semua untuk nona"
"Dan kalau nona menolak, kami bisa kena amukan bos, mohon diterima saja non" sahut pria yang satu lagi ikut menambahi.
Yaya termenung sejenak, ia menatap bergantian kedua pria itu dan barang-barang di lantai "berapa tagihan nya?" tanya yaya dengan gugup.
"Tidak perlu nona, ini sudah dibayar lunas oleh tuan bos. Jadi nona hanya perlu menerima nya saja"
Dalam hati yaya berhembus lega "yasudah, tolong bawa masuk ke dalam" yaya membuka lebih lebar pintu kamar nya, gadis itu ikut keluar hendak mengambil barang berukuran kecil yang sanggup ia masukkan ke dalam kamarnya.
"Terimakasih" ucap yaya dengan tulus seraya tersenyum.
Kedua pria itu mengangguk "sama-sama nona"
"Oh iya! Hampir saja kelupaan..."
Yaya menatap bingung salah satu pria itu yang sedang mengeluarkan sebuah handphone dari saku celana nya "ini, tuan berpesan, tolong masukkan nomor handphone nona di situ"
Kening gadis itu mengerut "untuk apa? Aku tak sembarangan memberi nomorku"
Sontak kedua pria itu mendadak kaku, mereka takut misi kedua dari tuan bos mereka gagal terpenuhi hingga berujung pada kalimat pecat.
"I-itu ponsel milik tuan, bos. Kata beliau nona harus memasukkan nomor nona ke dalam sana agar tuan bisa menghubungi nona"
"Kami mohon, nona. Kalau nona menolak... Kami bisa dipecat kapan saja oleh bos"
Yaya tetap menggeleng "maaf aku tak mau"
"Nona, kasihanilah kami, aku hanya anak rantauan nona.. Ibu ayahku sudah sangat tua, kalau aku tak bekerja, bagaimana aku bisa mengirimi mereka uang?" bujuk salah satu dari kedua pria itu sampai bersujud pada yaya.
"Eh! Bangunlah! Jangan berlebihan, aku bukan Tuhan yang bisa kau sembah!" sentak yaya, sungguh emosi nya sangat mudah terpancing saat menyangkut Arlan dengan segala sikap dominan pria itu.
"Nona, kami sungguh minta tolong..."
Yaya menimang sejenak, ia tak tega melihat dua pria itu sedari tadi sibuk memohon padanya hanya karena perintah Arlan itu. "Tidak! Bilang pada bos kalian, kalau mau nomor ku, dia lah yang harus meminta langsung pada ku"
Kedua pria itu terdiam, raut gundah di wajah keduanya masih terpampang jelas "nona, bisakah nona ikut kami menjumpai, tuan bos?"
Pria yang satu lagi mengangguk "benar! Tuan bos pasti tak percaya kalau kami yang mengatakan itu"
Yaya menggeleng, ia tak mau lagi bertemu dengan Arlan. Ini sudah malam, dia butuh istirahat sebelum besok kembali menggilai pekerjaan nya "rekam saja, aku tak mau berjumpa pada dia"
Kedua pria itu mengangguk setuju, seorang diantaranya lantas membuka handphone miliknya sendiri dan langsung merekam suara yaya. Setelah siap, kedua pria itu langsung menunduk pamit, mereka lega karena yaya sudah berjanji akan melindungi keduanya dari ancaman pecat Arlan.
Yaya menutup pintu kamar nya, ia langsung membuka semua kantong plastik, dan menyusun segala belanjaan nya di satu keranjang besar tempat biasa ia menaruh kain.
"Dasar pria aneh! Aku benar-benar tak menyangka ada manusia modelan sepertinya hidup di bumi ini"
Selesai dengan kegiatan susun menyusun yang memakan waktu juga tenaga, yaya langsung membantingkan tubuhnya diatas kasur kecil kesayangan nya. Tak perlu waktu lama gadis itu sudah melesat menuju alam mimpinya.