Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 28



Arlan mendengus kasar "kau ini, tidak peka sekali!" gerutu pria itu kembali mengemut jari yaya, mengabaikan segala omelan gadis itu terhadap nya.


"Arlan! Dengar aku tidak!?"


Arlan diam, ia memejamkan mata nya rapat, ia mengelus lengan yaya yang bertengger di dada pria itu.


"Arlan!"


"Arlan!"


Yaya menarik jari nya tiba-tiba hingga jemari itu terlepas dari mulut Arlan. Pria itu berdecak marah, ia menatap bengis wanita itu "kembali kan" ia membuka mulutnya, kode agar yaya kembali memasukkan jemari gadis itu ke dalam sana.


"No! Kau harus makan terlebih dulu" tegas yaya.


"Aku sudah tak lapar, yaya" tekan nya menggeram, emosi Arlan mulai terpancing. Ingatkan yaya kalau pria itu bukanlah pria yang lembut, Arlan si mafia kejam nan emosian.


Yaya sedikit takut mendengar gerakan rendah pria di pangkuan nya itu, tatapan nya sangat tajam membuat nyali yaya tersentil bergetar takut "tapi kau harus makan"


Arlan bangkit dari sofa itu, ia berdecak marah. Ia melangkah lebar hendak keluar, yaya yang meilhat itu langsung mengejar Arlan, yaya tersentak, langkah nya terhenti saat Arlan dengan bringas memukul tembok kamar nya.


"ARLAN!" Yaya memekik heboh, lihat lah, sekarang tangan itu sudah memerah nyaris terluka karena ulah Arlan sendiri.


"Dengar yaya, aku benci di atur! Dan kau selalu saja membuatku emosi. Jangan ikuti aku, jika kau tak mau aku berbuat kasar padamu!"


Brak!


Arlan membating pintu kamar hingga kembali tertutup rapat. Meninggalkan yaya yang shock berat menatap kepergian nya. Lagi, sisi lain Arlan yang belum yaya ketahui sudah terlihat.


"Kau memang gila, Arlan"


...****************...


Yaya berjalan keluar dari kamar nya, saat ini sudah jam sembilan malam. Entah mengapa gadis itu tergerak ingin memeriksa keadaan Arlan.


Ia hanya khawatir, ingatlah yaya itu gadis yang baik sekali hati nya, ia tak mungkin bisa tenang saat melihat Arlan meledak seperti tadi, ia pasti sangat khawatir pada pria pemaksa itu.


"Dimana dia?" tanya yaya pada salah satu bodyguard yang lewat.


Pria bertubuh kekar itu menunduk hormat "Maaf, Siapa maksud anda, nona?" tanya pria itu.


Yaya melirik name tag di dada kiri pria itu "Reno?"


Pria itu mengangguk "dengan saya, Nona. Ada yang bisa saya lakukan untuk anda, Nona?" Reno menunduk hormat


Yaya mengangguk "Reno... Dimana Arlan?"


Reno mengernyit, namun setelahnya ia paham "Tuan Roverald berada di ruang kerja nya nona"


"Sedang bekerja?" tanya gadis itu


Reno menggeleng "saya juga kurang tahu tentang itu, maaf nona"


"Oh, baiklah. Boleh antarkan aku ke ruangan Arlan?"


...****************...


Yaya meletakkan telunjuk nya di bibir, mengisyaratkan Lan agar tetap diam, tidak menyapa nya.


"Arlan ada di dalam, kan?" tanya nya berbisik


Lan mengernyit bingung, ia melirik kilat pada Reno yang hanya mengangguk mengode agar Lan menurut saja pada Nona mereka itu.


"Benar, Nona" bisiknya "apa anda ingin masuk?"


Yaya mengangguk "tapi... Aku takut mengganggu nya" bisik yaya semakin pelan, untung saja telinga Lan selalu rajin di bersihkan, jadi pria itu masih dapat mendengar dengan jelas.


Lan menggeleng "tuan sedang tidak sibuk, Nona. Beliau sedang minum, tadi"


Yaya mematung sejenak "alkohol?" tanya nya


Lan mengangguk, ia kemudian menunduk hormat "saya pamit nona, ada pekerjaan yang harus saya lakukan"


Lan yang paham lantas tersenyum ramah "nama saya, Lan. Nona"


"Ah, iya.. Jaga dirimu baik-baik Lan"


Lan tersenyum ia mengangguk sebelum akhirnya pria itu pergi dengan rasa hangat di hati nya. Ini pertama kalinya ada atasan yang perhatian pada bawahan sepertinya


"Ingat, Nona milik tuan. Kau bisa lenyap jika menyukain nya" bisik Reno.


Lan tertawa "aku masih ingin hidup, ren"


...****************...


*Ceklek*....


Ctash!


Yaya terkejut bukan main.


"kenapa kau lancang, masuk tanpa mengetuk pintu!"


Yaya menatap punggung lebar itu, Arlan berucap tanpa berbalik badan saat ini. gelas kaca telah pecah dibanting pria itu.


"M-maafkan aku" ucap yaya gemetaran


Arlan tersentak mendengar suara indah itu. Ia segera berbalik badan dan, benar saja... Sudah ada yaya sedang berdiri di ambang pintu ruang kerja nya.


"Kenapa kau kemari" tanya Arlan ketus, nada nya sangat tegas dan berat.



Yaya menatap pria itu, ia meremat piyama motif beruang nya gugup "A-aku tak bisa tidur" cicit yaya jujur, ia tak tenang melihat Arlan saat murka, ia bahkan tak bisa tidur hanya kerena membayangkan betapa marah nya Arlan tadi.


Arlan bersedekap dada, ia menaikkan sebelah alisnya, menatap yaya datar "lalu?"


Yaya menunduk, ia memilih jari nya, perlahan gadis itu melangkah mendekati Arlan. Semakin ia dekat yaya mencoba menatap pria itu takut-takut. Ia takut tiba-tiba di pukul seperti tembok kamar nya.


"Maaf" cicit yaya menatap wajah pria itu, namun tak di gubris oleh Arlan.


"Arlan..." yaya menarik-narik ujung kemeja pria itu agar sang empu mau menatap nya "maaf, aku salah... Aku telah banyak melakukan hal yang kau benci, dan tadi... Aku hanya mau kau makan, agar tak sakit" ucap yaya gugup setengah mati, pasalnya Arlan hanya diam menatapnya dalam.



Yaya mendapat ide bagus, ia memeluk erat tubuh Arlan berharap pria itu luluh kembali. Yaya memejamkan mata saat bau alkohol menyeruak dari tubuh yang ia peluk itu.


"Lepaskan!"


Yaya tersentak, ia sampai refleks melepas pelukan nya pada pria itu, yaya menatap nanar wajah Arlan yang masih saja datar, sepertinya Arlan benar-benar marah.


"Arlan..." yaya mendongak, menatap pria itu dengan mata berkilau mulai berkaca-kaca "kau sungguh marah dengan ku?" Tanya nya dengan suara bergetar.


Arlan mendengus, ia menatap sejenak wajah gadis itu sial! Ia tak suka saat yaya akan menangis, rasanya ia tak tahan ingi memeluk erat gadis menggemaskan itu.


"Hum?" tanya yaya bergumam lirih, air matanya sudah menetes tanpa diminta, ia menatap Arlan yang enggan menatap balik dirinya


"Jangan bersandiwara lagi, yaya. Sudah cukup aku kau bodohi selama ini dengan air mata palsu mu itu!" ucap Arlan menatap tajam wajah gadis itu.


Yaya menggeleng, sakit. Lagi-lagi sakit saat Arlan membentak nya seperti itu "yaya sungguh minta maaf" bibir yaya bergetar mengucapkan kalimat itu. ia sungguh meminta maaf.


"Pergi lah, aku lelah. Jangan ganggu aku"


"Hiks" yaya menunduk


Arlan menatap pias yaya yang sedang terisak sembari mengusap air mata nya dengan punggung tangan gadis itu. "Kau tidak tuli kan?" ujarnya ketus berbanding terbalik dengan hati nya yang ikut bersedih menatap yaya terisak pilu seperti itu.


Yaya menggeleng "yaya dengar..." ia menghapus air matanya cepat, kemudian kembali mendongak "jangan lewatkan makan malam mu hiks.." yaya meremat kuat ujung piyama nya "yaya sayang Arlan" cicit nya kemudian berbalik berjalan menjauhi tempat itu.


Arlan mematung, ia tak percaya dengan yang baru saja ia dengar. Tapi, tidak! Bisa jadi yaya mengatakan itu agar ia bisa dipermainkan lagi oleh gadis itu, Arlan tak mau.


Memang ia sadar kalau disini, hanya dirinyalah yang terikat cinta pada wanita itu, dan yaya tidak memiliki rasa sama sekali pada nya.