
Yaya mengelus dada nya, ia memegang kedua pipi nya "Aaaa!" pekik nya tertahan, ia merasa kini telah menjadi gadis binal, ah! Kebiasaan si Arlan selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan!
Gadis itu langsung berlari keluar dari kamar itu, ia duduk di sofa sembari menunggu Arlan yang sedari tadi tak keluar juga dari dalam toilet. Sedang apa pria itu? Kenapa
sekali?
"Bahkan ketika aku pup... Tidak akan selama itu" gumam yaya bergidik ngeri, kepalanya mulai memikirkan hal yang bukan bukan saat ini.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Arlan keluar dari dalam sana. Wajahnya tampak memerah juga peluh yang membasahi sekujur tubuh nya.
Gadis itu dengan sigap berlari menuju lemari, ia mengambil kaos baru untuk dikenakan tunangan nya itu "ini, pakailah"
Arlan mengangguk patuh, ia memakai kaos tersebut, warna putih sangat cocok untuk tubuh nya.
"Baby..." Arlan tiba-tiba memeluk gadis itu dari belakang, ia menyerukan wajah nya di ceruk leher sang gadis.
Yaya menegang, suara Arlan-nya sangat serak dan berat, pria itu semakin menempelkan tubuh keduanya hingga sesuatu yang keras terasa mengenai bok*ng sintal milik yaya "Dia tak mau tidur, aku pusing..." adu Arlan sedikit mengeluh, pria itu semakin kuat menempelkan miliknya di belakang gadis itu agar yaya tahu bagaimana tersiksa nya dia saat ini.
"Arlan..."
"Dia rewel, setiap ada kamu"
Tenggorokan gadis itu tercekat, jantung nya berdebar ricuh, tangan dan kaki nya terasa dingin, yaya ingin lari, sangat merinding terjebak di situasi gila seperti ini.
"K-kenapa melapor padaku? I-itu harusnya jadi privasi mu! " sentak nya tak habis pikir.
Arlan menggelengkan kepalanya, "hiks... It's hurt" serunya seperti anak kecil yang sedang merengek pada sang ibu.
Yaya tercengang, mulut nya sampai terbuka lebar sekali. Arlan menangis? Hanya karena horny?! Astaga! Yaya segera menjauh, gadis itu mencoba kabur, ia takut jika Arlan akan hilang kendali dan berbuat macam-macam padanya.
"Baby... No, disini temani aku!" Arlan dengan cekatan menangkap gadis itu, yaya berdecak padahal sedikit lagi ia nyaris bisa membuka pintu, tapi Arlan sangat jauh lebih cepat seperti cheetah.
"Selesaikan dulu dirimu! Baru mendekati ku, okay? jangan begini, aku takut Arlan sungguh" yaya berucap saat pria itu masih saja memeluknya erat, bahkan kini yaya bisa merasakan Arlan menggesekkan miliknya, entah pria itu sengaja atau tidak, yang jelas yaya risih!
"Ok, kita pulang ya? Kita pulang ke rumah... Lalu menikah, aku—"
"Akh!.... Okay! Okay! Ayo pulang!" yaya memekik kaget saat tangan besar itu memainkan bok*ong nya di belakang sana. Yaya sebenarnya ingin marah, tapi... Ia takut kesalahan serupa akan terulang, ingin membebaskan Arlan... Ia juga tak mau direnggut kesucian nya dalam konteks se..x bebas.
jadi dengan mantap yaya menerima, ia siap di nikahi, dan ia akan siap menjadi istri dari pria mengerikan itu.
...****************...
"Kenapa tersenyum begitu? Kau sedang membayangkan siapa?!" interogasi yaya saat mereka sedang melaju di dalam mobil.
Dua jam yang lalu mereka telah tiba di Indonesia, keduanya menyempatkan diri untuk makan bersama di sebuah restoran mewah langganan Arlan, tentu saja atas ajakan serta paksaan dari pria itu.
Arlan terkekeh geli, ia menggeleng "Aku bahagia sayang, karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang suami untuk mu"
"Hhh... Aku harap setelah sah, kau tidak hanya menginginkan aku sebagai pemuas mu, semua ada aturan nya. Ada hak juga kewajiban yang harus bisa di laksanakan" terang gadis itu dengan tegas membuat Arlan tersenyum bangga menatap gadis pintar nya itu.
"anything for you baby... Semua kewajiban akan aku selesaikan, dan hak mu akan kamu dapat. I love you"
Arlan mendelik tajam "i love you!" Ulangnya
Yaya memutar bola mata nya "yeah... Me too"
"Angel...."
"Iya! I love you too!"
Arlan tersenyum. ia menepikan mobil di pinggir jalan, dengan santai nya pria itu mengangkat sang gadis naik ke atas pangkuan nya "Sayang... Kenapa? Aku tidak mau di pangku" yaya berusaha menolak.secara halus, takut pria itu tersinggung dan berujung marah.
"No! Jangan nakal, duduk diam. Okay?" Arlan mencengkram erat pinggang gadis itu agar tak bisa pergi kemanapun.
yaya mengangguk pasrah, jika begini Arlan pasti sedang manja-manja nya, tidak bisa di tolak. Jika di tolak, maka bersiap akan ada aksi gila yang akan dilakukan Arlan sebagai bentuk protes nya.
Mobil kembali melaju, Arlan fokus menyetir, sesekali pria itu mendaratkan kecupan basah di leher gadis nya, saat yaya menggeliat minta dilepas, Arlan tidak segan mer..emas bokong sintal gadis itu dengan sebelah tangan nya.
"Aaaa!" yaya merengek, ia ingin marah tapi tak berani, Arlan sangat seenaknya menyentuh tubuh gadis itu, membuat yaya merasa tak nyaman.
Remasan lembut kembali terasa di belakang sana, Arlan tersenyum saat gadisnya melenguh manja "aih... No, no! Jangan nakal tangan nya, sayang" yaya berucap seperti anak kecil agar pria itu luluh, itu jurus andalan nya agar Arlan mau menurut.
"Kenapa tidak boleh? Aku suka ini.." Arlan kembali meremat kuat dua bulatan bagian belakang gadisnya membuat yaya memekik tertahan, wajah gadis itu sudah memerah, matanya sayu dengan bibir bawah yang di gigit.
"Eungh... Jangan nakal!" pekik gadis itu menatap garang wajah Arlan dengan bibir mengerucut, membuat Arlan tak tahan untuk tidak mengecup bibir itu.
Mata gadis itu berkaca-kaca, Arlan kali ini sangat aneh, mesum dan sulit di atur. Yaya tidak suka!
"Mm..." gadis itu mendongak menatap tunangan nya, Arlan seketika terdiam, ia menepikan kembali mobil di pinggir jalan yang sepi.
"Hei... Kenapa menangis? Hm?" Arlan menatap lamat wajah gadisnya yang siap meledakkan tangis, yaya masih menahan hingga wajah itu sangat merah seluruhnya. Ia menarik jari Arlan yang sempat mengelus pipi nya, lalu ia menggigitnya sebagai pelampiasan kekesalan nya terhadap pria itu.
"Sshhh..." Arlan mendesis saat gadis itu menggigit kuat jadi telunjuk nya "lepas sayang... Kamu menyakiti ku"
Yaya diam, gadis itu melepaskan jari Arlan dari mulutnya. Ia merasa ciut seketika, takut dimarahi Arlan karena telah menggigit nya "hhuu... Tangan nya nakal, jangan di pegang-pegang itunya yaya..." gadis itu akhirnya menangis, mengeluarkan keluhan nya pada Arlan yang hanya tersenyum tipis memperhatikan nya.
"itunya apa? Aku memegang apa mu?" tanya pria itu menggodai gadisnya.
Yaya kembali merengek seperti anak kecil, ia memeluk kuat leher pria itu "Jangan... hngg..." yaya kembali menangis saat merasakan tangan besar itu kembali memainkan bok*ng sintal nya.
"Aku menyukai nya, sayang" bisik Arlan tepat di telinga sang gadis.
"Yaya ngambek ya?!" ancam gadis itu kembali menatap mata Arlan dengan berani.
Arlan mengandik acuh "terserahmu saja, intinya mulai saat ini, aku akan mengajari kamu banyak hal, aku yakin kamu pasti menikmati nya"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Buat yg minta plus plusable... Nih Nuna kasih 😭. walaupun sebenarnya agak ngeri sendiri pas ngetik, but it's ok... 😳 I CAN DO IT lmao
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN YA CINTAKU... LOP YUU