
Arlan terkekeh, ia mengangguk mengakui jika benar dirinya adalah pemaksa. Namun mau bagaimana lagi? Jika tidak memaksa, yaya mana mungkin akan mau bertahan di sisi nya bukan?
"Kau beruntung yaya, aku tak memperlakukan mu seperti orang lain" ujar Arlan menatap penuh wajah gadis itu dari samping.
Yaya mendelik tak suka, ia bergeser manjauh dari Arlan, dan sialnya Arlan justru ikut bergeser hingga yaya terhimpit ditengah kepala ranjang dan tubuh kekar Arlan.
Gadis itu menatap datar wajah pria di sebelah nya, terjadi keheningan beberapa saat sebelum akhirnya Arlan membuka suara "aku ada urusan.. Kau beristirahat lah, jangan menunggu ku. Paham?"
Yaya berdecak malas "siapa juga yang mau menunggu?" gumam nya. Tapi beberapa saat kemudian yaya mencekal tangan Arlan ia mendongak menatap Arlan yang sudah berdiri hendak pergi.
"Kau, mau kemana? Apakah lama?" tanya yaya
Arlan tersenyum miring "Hm... Kemungkinan aku pulang besok pagi" ujarnya
Yaya mengernyit namun tak ayal ia mengangguk "kau mau bekerja lagi?" tanya nya
Arlan mengandik acuh "aku ingin melepas penat ku"
"Melepas penat?" Satu alis yaya naik menatap penuh curiga.
Arlan mengangguk "aku hanya ingin ke bar, sayang. Apa kau mau ikut dengan ku?"
Yaya sontak melotot horor, dengan cepat ia menolak "aku tak akan mau masuk ke tempat haram itu"
Arlan tertawa, ia mengangguk paham "kau gadis yang baik... Ternyata aku benar telah memilih mu" satu tangan Arlan terangkat mengusap kening yaya yang mengerut samar.
"Arlan... Bolehkah aku keluar kamar ini? Aku bosan" yaya menatap Arlan penuh binar "aku hanya ingin berkeliling melihat-lihat rumah mu"
Arlan terdiam sejenak, tangan nya menjulus tuj mengusap sayang rambut yaya "baiklah, asalkan kau menurut aturan ku, aku akan membebaskan mu berkeliaran di rumah kita"
Yaya memaksakan senyum nya getir, apa katanya tadi? Rumah kita? Astaga, bulu kuduk yaya sampai naik mendengar itu! "Baiklah! Aku akan menurut!" yaya melompat turun dari kasur, ia berdiri tepat di depan Arlan seraya mendongak menatap Arlan yang sangat tinggi darinya
Arlan mengangguk "can i kiss you babe?" Tanya Arlan serak, tangan nya bahkan sudah hinggap di wajah yaya, mengelus sensual pipi berisi gadis itu lalu beralih turun ke bibir bawah yaya.
Yaya menggeleng "No!" gadis itu langsung mundur menjauhi Arlan "ciuman pertamaku ini hanya untuk suami ku kelak" serunya dengan lantang
Seketika wajah yaya memucat saat raut wajah Arlan berubah suram, tampaknya gadis itu telah salah berucap. Lihatlah singa itu sudah siap mengamuk!
Merasa sinyal berbahaya yaya lantas mengoreksi ucapan nya dengan kepala tertunduk "m-maksud ku, kalau kau sudah menjadi suamiku.. Baru boleh" cicitnya gugup bukan main.
Arlan yang awalnya sudah terbakar emosi langsung meredup dengan senyum tipis, ia mendekati yaya "aku akan menikahimu sayang, aku berjanji" bisiknya tepat di telinga gadis itu.
Yaya mendongakkan kepalanya, ia mengangguk kaku "Hum! N-nanti... Kalau s-sudah menikah, baru boleh" ujarnya dengan wajah pucat bukan main.
Arlan mengangguk "baiklah, kalau begitu sebagai ganti nya, peluk aku!" pinta nya dengan tangan yang telah direntangkan lebar.
Yaya mengangguk gadis itu memeluk tubuh kekar Arlan dengan erat, jujur saja tangan nya gemetaran saat ini, entah mengapa ia selalu benci atmosfer kelam yang ada dalam diri Arlan. Siapakah pria ini sebenarnya? Apa ia jelmaan hantu atau semacam nya?
"Kau bisa berkeliling, nanti dua pembantu akan menemani mu, jangan paksa mereka melakukan kesalahan" ucap Arlan mengelus punggung mungil yaya dengan lembut, ia menaruh dagu nya diatas kepala yaya dengan mata terpejam erat "cukup sekali kau memaksa mereka menyediakan sambal, kalau kau bertingkah nakal, dan ketahuan lagi... kau harus dihukum"
Yaya menegang dalam pelukan itu, bahkan Arlan bisa merasakan pundak yaya sedikit bergetar, ah gadis nya ini sangat lucu saat ketakutan.
Yaya memejamkan matanya erat, sial.ternyata Arlan tahu tentang sambal itu!
"Maafkan aku" cicit nya memper erat pelukan pada perut Arlan "aku benar-benar ingin makan sambal... Kau tahu Arlan? Bakso tanpa sambal itu tidak sempurna"
Arlan mengulum senyumnya, gadis itu ada-ada saja "terserah, intinya jangan diulangi, Atau kedua pembantu itu akan mati ditangan ku"
Yaya menggigit dada Arlan, tidak kuat hanya saja cukup untuk membuat Arlan merasa nyeri "Jangan berbicara begitu! Aku tak akan mau berhubungan dengan pembunuh, Arlan!" kecam yaya serius ia mendongak menatap tajam Arlan yang hanya menatapnya tanpa ekspresi.
Arlan melepas pelukan kedua nya, "maka dari itu, jangan nakal, agar aku gak menjadi pembunuh, sayang"
Yaya mengangguk malas, tak sengaja matanya menatap area dada Arlan bekas gigitan nya tadi, ia mengusap pelan dada itu "Sakit?" tanya nya tak digubris sang empu.
"Maaf, aku melukai mu" yaya mengelus elus dada itu berharap agar sakitnya cepat menghilang. Tidak tahu saja yaya kalau gigitan nya tadi tak berdampak apapun bagi Arlan, melainkan justru elusan tangan nya itu lah yang memiliki dampak buruk bagi jantung nya.
Yaya mendongak "sakit? Jawab aku! Jangan diam saja, kau membuat ku merasa jahat Arlan" Yaya mulai mengomel, wajahnya memerah entah mengapa.
Arlan mengangguk "sakit, tapi tak apa. Sudahlah, aku akan pergi" Arlan menangkap tangan yang sedari tadi bertengger di dada nya itu "jangan ulangi" ucapnya yang langsung diangguki yaya.
Yaya menarik Arlan mendekat "menunduk" perintah nya, Arlan menurut, pria itu sedikit membungkuk mensejajarkan wajah nya dengan gadis mungil itu.
"Berjanjilah kau jangan bermain wanita di bar sana" ucap yaya sembari merapihkan tatanan rambut Arlan dengan jari-jarinya "kita tak pernah tahu apa mereka penyakitan... Maksud ku, HIV, kau paham kan?"
Yaya menurunkan tangan nya, ia menatap Arlan yang sudah tampak lebih tampan lagi, rambutnya sudah rapih, ia tersenyum menatap wajah Arlan yang entah mengapa sangat indah, bak pahatan dewa. "Dan satu lagi, jangan terlalu banyak minum, alkohol tak baik untuk tubuh mu!" Peringat nya dengan wajah garang.
Lagi Arlan mengangguk "hm"
Yaya diam, ia menatap mata indah Arlan cukup lama, tangan nya terulur mengusap rahang tegas Arlan "Jangan berlama-lama disana" ucap yaya tiba-tiba membuat jantung Arlan berdegup tak karuan, entah mengapa ia senang di kekang oleh gadis ini.
"Hm"
Yaya mengangguk, gadia itu semakin mendekatkan wajah nya pada Arlan hingga akhirnya..
Cup.
"Bersenang-senanglah disana" yaya tersenyum tipis menatap wajah Arlan yang sudah memerah sampai telinga.
Arlan berkedip sekali, ia menatap yaya dengan seringai tipis. Gadis ini sangat berbahaya bagi jantung nya "lagi!" pinta Arlan memberikan pipi sebelah nya yang belum dikecup gadis itu.
Yaya terkekeh, ia menggeleng dengan senyum jahil terpatri di bibir nya "tapi aku tidak mau, bagaima itu? " ucapnya dengan wajah nelangsa membuat Arlan menggeram frustasi.
"Lagi yaya! Atau—"
Yaya langsung pias saat Arlan akan mengancam nya lagi, dengan cepat gadis itu mendekat.
Cup.
Cup.
Cup
"Sudah, aku bahkan memberikan dua bonus kecupan"
Arlan tersenyum lebar, ia mencubit gemas pipi yaya "setiap hari, kau harus memberiku kecupan di pipi seperti tadi, paham?"
Yaya bersedekap dada, ia memutar mata jengah "kau malah melunjak. Tidak, kata orang tua jaman dulu, tak baik menciumi orang sembarangan. Aku tak mau di cap murahan"
Arlan mengancuk acuh, ia menegapkan badan nya "penolakan mu tidak berlaku"
Yaya berdecak "terserah, intinya aku tak mau"
Arlan menaikkan sebelah alis nya, menatap kesal yaya dari atas hingga bawah "baiklah, kalau begitu kau akan ku kurung selamanya di kamar ini" Ujarnya santai.
"IYA! IYA! AKAN KU CIUM PIPIMU!" yaya mencak mencak tidak jelas di tempat nya, sungguh ia kesal sekali dengan Arlan.
Arlan mengangguk dengan seringai tipis "Begitu, baru gadisku"
"Yasudah sana pergi!"
"Kau mengusirku?"
Yaya langsung menggeleng ribut menatap wajah datar Arlan "b-bukan... Aaaa! Kenapa kau menyebalkan sekali!" yaya merengek kesal menggoyangkan tangan Arlan.
Sang pria hanya tersenyum tipis melihat tingkah menggemaskan yaya itu "Kalau bukan mengusir, lalu tadi itu apa?"
Yaya menggeleng ribut, gadis itu memeluk erat lengan kekar Arlan, ia menempelkan pipinya di sana "tadi katamu mau bersenang-senang di bar, bukan?" ucap yaya dengan bibir mengerucut lucu.
Arlan seketika meledakkan tawa nya, sungguh menggemaskan sekali yaya ini. Ia melepaskan pelukan yaya dari lengan nya, beralih mengelus kedua pipi yaya dengan amat lembut "kau sangat lucu sayangku" Ia menekan pipi yaya hingga bibir gadis itu maju membentuk lingkaran.
Sesaat ia menatap lekat bibir pink gadis itu, berharap bisa menyecapnya dengan rakus hingga bibir itu bengkak karena nya "Aku pergi dulu. Ingat.."
"Jangan nakal? Iya aku ingat itu!"
Arlan mengangguk ia memeluk yaya sebentar sebelum akhirnya meninggalkan kamar si gadis.
...****************...
[cuap-cuap author]
**wah, udah pt 19 aja nih...
gimana kalian suka? kalau suka jangan lupa like dan komen dong. jangan jadi pembaca bisu ya sobat, dukung karya ini karna tanpa dukungan kalian cerita ini tdk akan hyping :')
Karna jumlah Views dan like nya masih jomplang author jd sedi :"( ayo dong komen dan like jangan di biarin gitu aja.
sekian deh terimakasih**.