
Yaya menggeliat dalam tidur nya, ia merabai bagian sebelah nya, kosong.
"Arlan?" yaya memanggil nama itu namun sang empunya tak kunjung menyahut.
Yaya turun dari kasur, ia menghidupkan lampu agar pencahayaan di kamar nya kembali terang menderang. Mata gadis itu menelisir sekitarnya, kosong, pria itu memang tak ada di kamar ini lagi.
"Jam dua?" yaya memijat pelipisnya sejenak, gadis itu sempat melirik jam di atas nakas yang menunjukkan pukul 02.00.
Masih sepagi ini, kemana Arlan pergi?
Yaya meraih hoodie dari dalam lemari, cuaca hari ini sedikit mendung, terasa sangat sejuk. Ia keluar dari kamar nya, berjalan menuju kamar Arlan yang berada tepat di sebelah kamar tidur yaya.
"Tidak disini juga?" gumam yaya kembali menutup pintu kamar Arlan, ia berjalan menuju lift suasana rumah mewah ini masih terang menderang, membuat yaya yang sempat takut kini tidak lagi.
"Selamat pagi, nona" sapa para pelayan yang di jumpai yaya saat baru saja keluar dari lift tersebut.
"Pagi, apa kalian melihat Arlan?" tanya yaya
Kegiatan mereka yang sedang membersihkan lantai sontak berhenti, mereka bingung. Haruskah mereka memberi tahu yang sebenarnya?
"Apa kalian tahu?" ulang yaya menatap penuh selidik wajah ke empat pelayan kebersihan itu.
Salah satu nya menunduk, ia yang berperawakan paling tua diantara yang lain "Tuan baru saja pergi, nona" Ujar nya pelan
"kemana?"
"t-tadi, ada rekan kerja tuan, yang datang kemari... Salah satu dari mereka ketakutan berlari mencari tuan bos. Saya tak tahu apa yang terjadi, tapi setelah wanita itu menelpon, tuan bos turun dari atas. Lalu mereka pergi.."
Hati yaya berdegup kencang, rasanya sakit saat mengetahui Arlan pergi bersama seorang wanita "Apa hanya berduaan?" tanya nya
Keempat nya menggeleng "ada seorang pria juga nona"
Yaya mengangguk, lalu gadis itu berjalan menuju ruang tengah, ia duduk disana, memikirkan tentang yang terjadi saat ini. Ada apa? Apa ada masalah pekerjaan? Tapi kenapa harus di luar jam kerja?!
Kaki yaya beranjak menuju ruang kerja pria itu, ia ingin mengetahui sesuatu, barangkali yaya bisa mendapat secuil informasi dari dalam ruang kerja Arlan yang sangat privasi itu.
Yaya membuka pintu nuansa cokelat itu, ia masuk ke dalam, tak lupa mengunci nya. Ia duduk di kursi kebesaran Arlan, sangat empuk dan nyaman. Yaya menatapi sekitaran nya, sangat banyak tumpukan berkas, buku tebal, beberapa laptop, dan alat tulis, memang seperti tempat kerja pada umum nya.
Yaya menatap berkas yang terletak rapih di atas meja, ia membuka nya. Disana ada beberapa tulisan aneh yang gadia itu yakini adalah tulisan khas orang jerman. Yaya membaca semua tulisan yang ia pahami, bahasa indonesia juga bahasa inggris.
"Proyek baru?" gumam yaya membalik ke halaman baru, yaya dapat melihat biodata seseorang disana. Ia tak tahu siapa orang itu, namanya Gavi, yaya beralih melihat-lihat berkas lain nya.
Yaya terkekeh menatap biodata pribadi milik Arlan "Dia lebuh tua tiga tahun?" ucap nya tak percaya
Ternyata tunangan nya itu pria yang lebih tua tiga tahun dari nya. Benar-benar tipe yaya sekali! Sedari dulu yaya selalu memilih ingin memiliki kekasih yang lebih tua ketimbang yang lebih muda darinya. Entahlah, bagi yaya orang yang memiliki kepribadian sabar dan dewasa adalah hal yang ia suka. Yaya sangat suka pada pria yang bisa membimbing nya ketimbang pria yang suka dibimbing.
"Bulan depan dia ulang tahun..."
***.
Yaya menatap layar handphone nya dengan mata membola sempurna. Bagaimana tidak?! Tadi yaya berpikir untuk video call tunangan nya, ingin menanyakan kabar pria itu, namun yang ia dapati justru orang lain yang ada disana.
Tampak seorang gadis sedang bergelayut manja di lengan Arlan yang sudah terlelap. Apa Arlan tidur dengan wanita lain?!
"Halo? Apa kau asisten baru Arlan?"
Yaya mematung, gadis itu bahkan menanggil tunangan nya dengan sebutan Arlan, bukan roverald seperti orang lain.
"Kau, siapa?"
Tampak gadis diseberang sana tersenyum lebar "Alina... Namaku, ah.. Sayang!"
Yaya melotot saat melihat Arlan bergerak memeluk wanita pirang itu. Dan apa tadi? Sayang?! Astaga yaya geram sekali mendengar nya. Ia mematikan sambungan secara sepihak. Ia bergegas kembali ke kamar nya.
Yaya mengemasi segala barang nya, namun seketika pergerakan nya terhenti "Ini semua bukan milik ku!" ya, barang-barang yang ia miliki saat ini adalah pemberian Arlan, bukan barang pribadi yang ia punya.
Yaya berdecih lirih menatap jemari nya, sakit sekali! Jadi begini rasanya patah hati? ia meneteskan air mata nya, perlahan tangan itu melepaskan cincin pertunangan nya bersama Arlan. Ia meletakkan cincin tersebut di atas meja nakas, lalu ia pergi dari tempat itu.
Yaya berbalik badan, ia menatap datar para bodyguard yang berlarian mengejar nya yang bahkan tidak memiliki gelagat ingin kabur "Kenapa nona? Apa nona ingin sesuatu?" tanya mereka beruntun membuat kepala yaya pusing.
"Aku bukan nona kalian lagi!, lihat!!!" yaya menunjukkan layar handphone nya pada para bodyguard itu, mereka melongo tak percaya.
"Dia lah, nona kalian" kemudian yaya berbalik pergi meninggalkan rumah itu.
Sedangkan kelima bodyguard itu masih cengo mengingat apa yang baru mereka lihat. Tampak di sana ada seorang wanita yang tak asing bagi mereka tengah berpelukan dengan tuan bos nya.
"Bukan kah, itu rekan kerja tuan?" Tanya salah satu nya mencoba menerka.
"Benar!" sahut yang satu lagi.
Kelima nya langsung menepuk jidat, mereka lantas menelpon tuan bos mereka dan dua yang lain pergi mengejar taxi yang di tumpangi yaya.
***
Selama di perjalanan yaya tak hentinya menangis, sampai-sampai si sopir taxi pria paruh baya berkumis tebal itu merasa iba "Nona, ini saya ada tissue" ia tetap fokus menyetir dengan sebelah tangan memberikan sekotak tissue mini miliknya pada yaya.
Yaya mengangguk, ia menerima pemberian pria itu "terimakasih pak, bisa Lebih cepat?"
si supir mengangguk, ia menancapkan gas hingga kini mereka melesat dengan kecepatan dua kali lipat dari sebelumnya.
"Terimakasih, pak" yaya memberikan dua ratus ribu pada supir itu, sang supir mengangguk "sama-sama"
Yaya beralih menatap rumah di hadapan nya saat ini, mengabaikan sang sopir yang bersiap pergi. Ia menatap bangunan kost nya yang dulu menjadi satu-satunya tempat yaya tinggal.
Tempat sederhana yang menjadi saksi bisu dimana yaya berjuang demi kehidupan nya, tempat yang juga menjadi saksi terang dimana yaya membawa Arlan dan membantu pria itu hingga masih hidup sampai saat ini. Sakit! Yaya kembali menangis, ia membuka pintu kamar nya, mengabaikan ketiga teman wanita yang sudah menerobos ikut masuk kedalam.
Roma memeluk tubuh yaya "ada masalah?"
Yaya terus menangis, ia mengangguk, mei mei dan Ella ikut mengelus surai panjang gadis yang sedang menangis itu. Sangat rumit hidup yaya, mereka bertiga sangat paham bagaimana perasaan gadis itu. Yaya yang mereka kenal bukan gadis cengeng, yaya sangat jarang menangis, namun sekalinya menangis sudah dapat dipastikan ada hal rumit yang terjadi.
Mei mei dan Ella tak banyak bertanya, mereka sudah mendengar sedikit banyaknya cerita kehidupan baru yaya dari Roma.
"Roma... Tolong aku, aku tak mau bertemu lagi dengan Arlan" ucap yaya dengan sesenggukan
Roma mengangguk "aku bisa, tapi tak yakin dalam waktu lama. Pria itu mafia gila, yaya.. Bahkan kakak ku takut saat mendengar nama nya"
Yaya mendesah lirih, bahkan seorang Luis pun mengenal sosok Arlan? Ah, bagaimana caranya yaya lepas dari Arlan!?
"aku membenci nya, dia bermain wanita di belakang ku! Brengsek!"
Ella jadi ikut menangis, ia pernah berada di posisi yaya saat ini, di dua kan. "Tak masalah, yaya. Aku bisa meminta tolong pada dadda—ku, ku yakin ia bisa membantu mu"
Mei mei ikut mengangguk "Dadda— nya Ella sangat kaya, dia juga tak begitu dekat dengan pengusaha gelap seperti kekasih mu" seru nya
Ella meraih handphone nya dari saku jaket yang ia kenakan, ia berbincang sejenak lewat sambungan telepon, dengan Ayah nya yang ia panggil dadda— saat ini pria itu sedang sibuk menghadiri acara bisnis baru keluarga nya di spanyol. Memang sekaya itu keluarga Ella ini.
"Bagaimana?" tanya Roma
Ella tersenyum, "Sebentar lagi anak buah dadda, akan datang. Mereka akan menjemput kita" ucap Ella.
Roma dan mei mei mengernyit bingung "kita?"
Ella memutar bola mata nya "Aku dan Yaya, kalian kira aku akan membiarkan yaya sendirian?!"
Yaya menggeleng "tak perlu, bagaimana dengan kuliah mu? Jangan merepotkan diri, dengan membantu ku pergi jauh dari sini saja sudah cukup, Ella" Tolak yaya halus
Ella berdecak "tidak, aku tetap ikut. Mulutmu bisa saja berkata begitu, tapi kau juga butuh teman yaya! Aku pernah berada di posisi mu, menyendiri bukanlah solusi" ia terkekeh geli mengingat dirinya dimasa lalu "kau bisa gila" lanjutnya pelan
Mei mei mengelus pundak Ella, "itu sudah berlalu, tak perlu diingat" bisiknya yang langsung diangguki Ella.
Ella maju mendekati yaya, ia menepuk dua kali pundak ringkih teman dekat nya itu "Kita akan bersenang-senang, sobat. Kau aman bersama ku"